maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam ketika kunci apartemen berputar dengan sangat pelan. Maizy melangkah masuk dengan tubuh yang gemetar, basah oleh sisa gerimis, dan seragam Winterhall-nya yang penuh noda lumpur. Lututnya yang lecet terasa sangat perih setiap kali digerakkan. Di tangannya, dia mendekap kacamata yang lensanya sudah retak seribu.
Sifatnya yang tidak enakan membuat Maizy sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Dia berniat langsung menyelinap ke kamarnya di dalam kegelapan.
Namun, begitu dia melewati ruang tengah, lampu mendadak dinyalakan.
Klek.
Maizy tersentak dan langsung membeku di tempat. Di bawah pendar lampu gantung yang terang, Paman Michael sudah berdiri di dekat meja makan. Dia masih mengenakan kemeja putih masinisnya, hanya dasinya saja yang sudah agak dilonggarkan. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak lelah setelah seharian memimpin jalannya kereta api, namun matanya yang tajam langsung mengunci sosok Maizy.
Michael sudah pulang lebih cepat malam ini. Dan kali ini, pria dingin itu tidak bisa lagi tinggal diam.
"Dari mana saja kau jam segini, Maizy?" tanya Michael. Suaranya berat, datar, dan sedingin es, sukses menggema di keheningan apartemen.
"P-Paman Michael..." Maizy refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan pipinya yang agak lebam dan kacamata retaknya di balik rambut coklat pendeknya. "Aku... aku habis kerja kelompok di rumah Rachel, lalu tidak sengaja tersandung di jalan karena gelap. Maaf membuatmu menunggu..."
Michael tidak menjawab. Dia hanya diam, namun langkah kakinya yang tegas perlahan mendekati keponakannya. Michael adalah pria yang sangat jeli. Dia melihat tas Maizy yang basah kuyup, robekan di bagian lutut seragamnya, dan bagaimana tubuh gadis itu gemetar menahan tangis. Bohong kalau Michael tidak peduli; dia sebenarnya sangat perhatian sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki Maizy. Hanya saja, kerasnya tuntutan pekerjaan sebagai masinis kereta cepat sering kali merenggut waktu dan energinya, membuatnya tampak menjauh.
Tanpa membalas kebohongan Maizy, Michael tiba-kira mengulurkan tangannya yang kokoh. Dengan gerakan yang tak terduga, dia menarik dagu Maizy ke atas secara perlahan agar gadis itu menatap matanya.
Begitu melihat luka memar di sudut bibir Maizy dan kacamata yang hancur di tangannya, rahang tegas Michael seketika mengeras. Matanya yang mirip dengan Maizy berkejap tajam, memancarkan kemarahan yang tertahan di balik ekspresi dinginnya.
"Tersandung tidak akan membuat kacamatamu retak seperti diinjak, Maizy," ucap Michael rendah, nadanya berubah menjadi sangat mengintimidasi. "Dan noda di seragammu ini bukan dari trotoar biasa. Siapa yang melakukannya?"
"Paman, tidak apa-apa... aku hanya..." Maizy mulai terisak, sifat tidak enakannya membuat dia masih mencoba melindungi kedamaian rumah ini agar pamannya tidak stres.
"Duduk," potong Michael mutlak, tidak menerima bantahan sama sekali.
Michael menuntun Maizy untuk duduk di sofa ruang tengah. Pria dingin itu kemudian berjalan cepat ke kamar mandi, lalu kembali dengan membawa sebuah kotak obat P3K dan sebaskom kecil air hangat lengkap dengan handuk bersih.
Tanpa sepatah kata pun, Michael berlutut di lantai di hadapan Maizy—sebuah pemandangan yang membuat Maizy tertegun. Dengan jemarinya yang biasa kaku memegang kemudi kereta, Michael mulai mengusap lecet di lutut Maizy dengan handuk hangat secara sangat telaten dan hati-hati, memastikan dia tidak menyakiti keponakannya.
"Aku memang tidak selalu ada di rumah karena jadwal shif yang padat," ucap Michael perlahan sambil meneteskan obat antiseptik ke luka Maizy, suaranya masih sedatar papan talenan namun nadanya melembut. "Tapi itu bukan alasan bagimu untuk menyembunyikan hal seperti ini dariku. Kau keluargaku, Maizy."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut pamannya yang super dingin, pertahanan Maizy runtuh total. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang lebam. Rasa takut, trauma dari teror Paul, dan rasa lelah karena menahan semuanya sendirian akhirnya meledak malam itu dalam bentuk tangisan pilu di depan Michael.
Michael menghentikan gerakannya sejenak, menatap keponakannya yang menangis sesenggukan. Dia tidak memeluk Maizy—karena itu bukan gayanya—tapi dia tetap diam di sana, menyelesaikan perban di lutut Maizy dengan rapi, lalu berdiri dan menepuk puncak rambut coklat pendek Maizy sekali dengan canggung.
"Ganti bajumu dengan pakaian kering, lalu habiskan sup yang sudah kuhangatkan di dapur," perintah Michael sambil membereskan kotak obatnya, kembali ke mode dinginnya yang biasa. "Dan sebutkan namanya. Siapa bajingan di sekolah internasionalmu itu yang harus kuhadapi besok pagi?"
Mendengar pertanyaan Paman Michael, Maizy mendadak menahan napasnya. Ketakutan hebat kembali menyergapnya. Di satu sisi, ada rasa lega yang luar biasa karena ternyata pamannya yang sedingin es itu sangat peduli padanya. Namun di sisi lain, sifat "tidak enakan" Maizy langsung berteriak keras di dalam kepalanya.
Maizy tahu betul seberapa keras Michael bekerja sebagai masinis kereta cepat. Jadwal shif pamannya sangat padat dan menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Jika Michael harus datang ke Winterhall International School dan membuat keributan besar dengan Paul—yang merupakan anak emas sekolah dengan segala privilese dan gengnya—posisi Michael bisa saja terancam, atau setidaknya, waktu istirahat pamannya yang berharga akan tersita habis.
"P-Paman... tidak usah," bisik Maizy lirih sambil meremas ujung sweater rajutnya, matanya menatap lantai, menghindari tatapan tajam Michael.
Michael yang baru saja hendak melangkah membawa kotak obat, langsung menghentikan gerakannya. Dia berbalik perlahan, menatap Maizy dengan alis yang bertaut tajam. Keheningan di ruang tengah mendadak terasa semakin mencekam.
"Apa maksudmu tidak usah?" tanya Michael, suaranya beralih menjadi sangat rendah dan mengintimidasi. "Mereka merusak kacamatamu, membuat tubuhmu memar, dan kau masih mau menyembunyikan nama mereka?"
"Aku hanya tidak ingin merepotkan Paman!" seru Maizy akhirnya, air matanya kembali menggenang di pelupis mata. "Paman sudah lelah bekerja seharian. Jadwal kereta Paman sangat padat. Kalau Paman datang ke sekolah dan urusannya jadi panjang dengan pihak yayasan, aku takut... aku takut itu akan mengganggu pekerjaan Paman. Paul... Paul itu punya pengaruh besar di sekolah."
Michael terdiam. Dia menatap keponakannya yang tampak begitu rapuh namun masih saja memikirkan kepentingannya. Rahang tegas Michael mengeras. Baginya, harga diri dan keselamatan keluarganya adalah hal mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, bahkan oleh anak paling berkuasa di Winterhall sekalipun.
Michael mengembuskan napas panjang lewat hidung, mencoba meredam amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia meletakkan kotak obat di meja dengan hentakan pelan, lalu bersedekap dada sambil menatap Maizy lurus-lurus.
"Dengar, Maizy," ucap Michael dengan nada dingin namun penuh penekanan yang mutlak. "Pekerjaanku adalah urusanku. Dan melindungimu adalah kewajibanku. Aku tidak peduli seberapa besar pengaruh bocah bernama Paul itu di sekolah internasionalmu. Di kota Berlin ini, tidak ada satu pun orang yang boleh menyentuh keluargaku tanpa menerima balasannya."
Michael berjalan mendekati meja makan, mengambil ponselnya yang terletak di sana. "Malam ini kau istirahat. Bersihkan dirimu dan makan supmu. Besok pagi, aku sendiri yang akan mengantarmu ke sekolah dan menemui kepala sekolah serta anak bernama Paul itu."
Maizy hanya bisa terpaku di sofanya, tidak berani membantah lagi karena aura kepemimpinan Michael yang begitu kuat dan mutlak. Meskipun hatinya masih dipenuhi rasa cemas yang luar biasa tentang apa yang akan terjadi besok di sekolah, ada kehangatan kecil yang menyelinap di dadanya. Setidaknya malam ini, di balik dinding apartemen yang dingin, Maizy tahu dia tidak lagi sendirian menghadapi kejamnya dunia luar.