NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35: Hanya Kamu, Satu-satunya Rumahku

Suara gemuruh air terjun masih terdengar samar, tapi di telinga Raga dan Lira, semuanya sudah sunyi. Dunia ini hanya milik mereka berdua, duduk bersandar di batu besar yang dingin, di sisa tempat yang aman, menjauh dari keramaian dan bahaya. Lira masih duduk di pangkuan Raga, kepalanya bersandar nyaman di dada kiri suaminya, mendengar detak jantung yang selalu menjadi lagu terindah baginya.

Lengan kiri Raga sudah dibalut kain bersih, darahnya sudah berhenti mengalir, tapi rasa perih di kulitnya tidak ada apa-apanya dibanding rasa hangat yang ia rasakan saat tubuh Lira menempel erat padanya.

Lira mengusap pelan perban di lengan Raga, jari-jarinya bergerak lembut seolah takut lukanya akan sakit hanya karena sentuhan kecil itu. Matanya masih berkaca-kaca, sisa air mata masih ada di sudut matanya, wajahnya masih pucat karena rasa takut yang tadi sempat menghampiri.

“Masih sakit?” bisik Lira pelan, suaranya lembut sekali, seperti bisikan angin yang menyentuh kelopak bunga.

Raga menggeleng pelan, lalu menangkupkan tangannya ke atas tangan kecil istrinya, menggenggamnya erat.

“Tidak sakit sama sekali. Rasa sakit ini hilang begitu kamu ada di dekatku. Kamu itu obatku, Lira… Semua luka, semua lelah, semua beban, semuanya hilang begitu kamu menyentuhku.”

Lira mengangkat wajahnya, menatap mata Raga yang dalam dan hangat, mata yang hanya memantulkan bayangan dirinya saja, tidak ada orang lain. Ia tersenyum tipis, senyum yang sedikit sedih namun penuh kebahagiaan.

“Kamu selalu bicara begitu… Padahal aku tidak bisa apa-apa. Aku cuma bisa menemanimu, cuma bisa menangis kalau kamu terluka, cuma bisa diam saat kamu yang bertarung menghadapi bahaya besar. Kadang aku merasa tidak berguna, Raga… Aku merasa cuma jadi beban yang harus kamu lindungi terus-menerus.”

Wajah Raga seketika berubah, tatapannya lembut namun tegas. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi halus Lira, mengusapnya perlahan dengan ujung jari.

“Jangan pernah bicara begitu, sayang. Dengar baik-baik, ya? Kamu bukan beban. Kamu bukan sekadar orang yang harus kulindungi. Kamu adalah alasan aku bertahan. Kamu adalah tujuan dari semua perjuanganku. Kalau tidak ada kamu, untuk apa aku bertarung? Untuk apa aku hidup?”

Ia diam sejenak, lalu menarik napas panjang, suaranya menjadi lebih pelan, lebih dalam, penuh kenangan yang menyayat hati.

“Kamu ingat waktu itu? Saat aku jatuh miskin, saat semua teman dan kerabat menjauh, saat aku tidur di gubuk reyot tanpa makan sehari pun? Saat itu aku merasa dunia sudah berakhir, aku merasa hidupku sudah hancur total. Tapi kamu datang. Kamu datang membawa sepotong roti, membawa selimut tipis, lalu duduk di sebelahku dan bilang: ‘Raga, meskipun kamu tidak punya apa-apa, bagiku kamu tetap orang paling berharga. Aku mau hidup susah sama kamu, asal sama kamu.’”

Air mata perlahan keluar lagi dari mata Lira, ia ingat hari itu dengan sangat jelas, hari yang menjadi titik balik hidupnya dan hidup Raga.

“Waktu itu aku berjanji dalam hati,” lanjut Raga, suaranya sedikit bergetar karena emosi, “Bahwa apa pun yang terjadi, seberat apa pun beban yang harus kupikul, sebanyak apa pun darah yang harus kucurahkan, aku akan membuatmu bahagia. Aku akan membuatmu tidak pernah menyesal sudah memilihku saat aku tidak punya apa-apa. Lira… Kamu yang mengangkatku dari keterpurukan. Kamu yang memberi arti pada hidupku. Jadi jangan pernah merasa kamu tidak berguna, karena bagiku, kehadiranmu saja sudah cukup untuk melengkapi seluruh duniaku.”

Lira tidak tahan lagi, ia kembali memeluk leher Raga erat, menempelkan wajahnya di leher suaminya, menghirup aroma tubuh yang selalu membuatnya merasa aman dan tenang, aroma rumah, aroma cinta, aroma keabadian.

“Maafkan aku… Maafkan aku selalu merasa kurang, padahal kamu sudah memberiku segalanya. Kamu benar, Raga… Tanpamu, aku juga bukan siapa-siapa. Dulu saat aku hilang ingatan, saat aku merasa bingung, kesepian, merasa ada bagian dari diriku yang hilang… itu karena aku tidak ingat kamu. Begitu ingatanku kembali, begitu aku ingat wajahmu, ingat janji kita, aku merasa utuh kembali. Kamu separuh jiwaku, Raga. Tanpamu, aku hanya tubuh kosong yang berjalan tanpa tujuan.”

Raga membalas pelukan itu, tangannya mengelus punggung halus istrinya dengan gerakan lambat dan penuh kasih, seolah sedang memegang benda paling rapuh dan berharga di dunia.

“Kita sama, sayang… Kita sama-sama tidak utuh kalau tidak bersama. Kita diciptakan untuk saling melengkapi. Dulu, sekarang, dan selamanya.”

Angin sore bertiup lembut, menerbangkan rambut hitam panjang Lira, membuatnya beterbangan dan menyentuh wajah Raga. Raga mengusap rambut itu, membelai setiap helainya dengan lembut, lalu mencium ujung rambutnya dengan rasa hormat dan cinta yang tak terhingga.

“Raga…” bisik Lira pelan, suaranya terdengar ragu namun penuh harapan.

“Ya, sayang? Ada apa?”

“Kalau… kalau nanti semua ini selesai, kalau kita sudah aman, tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi bahaya… Apa yang akan kita lakukan? Apa mimpimu yang paling kamu inginkan?” tanya Lira, matanya menatap lurus ke depan, membayangkan masa depan yang damai itu.

Raga tersenyum lembut, lalu menatap langit yang mulai berwarna jingga keemasan.

“Mimpiku sangat sederhana, Lira. Sangat sederhana sampai orang lain mungkin menganggapnya remeh.”

Ia berhenti sebentar, lalu menoleh kembali menatap mata Lira, dengan pandangan yang penuh impian manis.

“Aku cuma mau bangun pagi, membuka mata, dan hal pertama yang kulihat adalah wajahmu tidur di sebelahku. Aku mau kita masak bersama di dapur kecil, bikin kopi hangat, makan nasi sederhana tapi rasanya paling enak di dunia karena kita makan bareng. Aku mau kita duduk di teras sore-sore, melihat matahari terbenam, memegang tanganmu sampai kulit kita sama-sama keriput, sampai jari kita sama-sama bengkok dimakan usia.”

Suara Raga menjadi semakin lembut, seolah sedang membacakan puisi cinta yang paling indah.

“Aku mau menemani kamu sampai tua. Aku mau melihat kamu punya uban sedikit demi sedikit. Aku mau mengobati kamu kalau kamu sakit, aku mau memapah kamu kalau kakimu sudah mulai lemas. Aku mau mati di usia tua, di rumah kita sendiri, di tempat tidur kita sendiri, dan saat napasku habis, tanganmu masih ada di genggamanku. Itu saja. Itu semua yang aku inginkan. Tidak butuh harta banyak, tidak butuh kekuasaan, tidak butuh kemenangan besar… cuma mau hidup biasa, tapi hidup itu ada kamu di dalamnya.”

Air mata Lira mengalir deras, tapi kali ini air mata itu adalah air mata kebahagiaan murni, air mata yang manis, yang mengalir karena hatinya penuh sampai meluap. Ia tidak pernah membayangkan Raga punya mimpi yang begitu sederhana namun begitu menyentuh hati.

“Raga… Itu juga mimpiku. Itu juga satu-satunya hal yang aku inginkan,” jawab Lira dengan suara gemetar bahagia. “Aku tidak mau jadi istri orang kaya, aku tidak mau jadi orang terkenal. Aku cuma mau jadi istrimu. Cuma mau jadi orang yang bisa menemani kamu dari muda sampai tua, dari sehat sampai sakit, dari hidup sampai mati. Itu saja.”

Lira mengangkat tangannya, lalu menyusun jari-jarinya dengan jari tangan Raga, saling mengunci erat, persis seperti janji yang tidak akan pernah terlepas.

“Dan aku janji, Raga. Kita akan dapatkan itu. Kita akan melewati semua ini, kita akan pulang, dan kita akan hidup seperti itu. Sampai tua, sampai rambut putih, sampai napas terakhir kita.”

Raga mencium punggung tangan istrinya, satu per satu jari tangannya, dengan penuh rasa hormat dan cinta.

“Aku percaya kamu, sayang. Karena kita punya satu sama lain, tidak ada hal yang mustahil. Tidak ada bahaya yang bisa memisahkan kita, tidak ada waktu yang bisa mengubah cinta kita. Karena cinta kita bukan cinta yang datang dan pergi seperti angin… cinta kita sudah tertanam di dalam darah, di dalam tulang, di dalam jiwa kita. Tidak akan pernah hilang, tidak akan pernah pudar, sampai selamanya.”

Di kejauhan, Eyang Kala dan pasukannya tidak lagi mendekat. Mereka melihat pemandangan itu, melihat cinta yang begitu murni dan besar, dan untuk sesaat, kekuatan jahat mereka terasa lemah tak berdaya. Mereka punya senjata, punya pasukan, punya kekuasaan… tapi mereka tidak punya apa yang dimiliki Raga dan Lira: kebahagiaan yang murni, kedamaian hati, dan cinta yang sejati.

Sore itu, di lembah terpencil yang penuh bahaya itu, bukan pertarungan yang menjadi pusat segalanya, melainkan dua hati yang saling berjanji, saling mencintai, dan saling menjadi satu-satunya rumah tempat mereka pulang, di mana pun mereka berada, apa pun yang terjadi.

Mereka duduk berdua sampai matahari benar-benar terbenam, sampai langit menjadi gelap dan bintang mulai bermunculan, tetap saling berpelukan hangat, berbagi kehangatan, berbagi mimpi, berbagi janji yang abadi.

 

(Bersambung ke Episode 36)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!