NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUNTUHNYA PERTAHANAN DIRI

​Langkah kaki mereka terus berayun pelan membelah keheningan kompleks pemakaman. Suasana di sekitar begitu tenang, hanya ada petikan angin pagi yang menggoyang dedaunan pohon kamboja, menyebarkan aroma khas tanah basah dan bunga yang luruh.

Langkah kaki yang semula seirama itu perlahan mulai membelah jarak.

​Setelah berjalan beberapa meter menyusuri jalan setapak, ia akhirnya berbelok ke arah kanan, melintasi deretan nisan yang berjajar rapi.

Naya sempat menghentikan langkahnya sejenak, menoleh menatap punggung Zaki yang perlahan menjauh menuju sebuah gundukan tanah di bawah pohon peneduh.

kemudian, ia kembali melangkah lurus ke depan. Tak disangka, setelah berjalan beberapa belas langkah, ia tiba di depan makam kedua orang tuanya.

Naya tertegun saat menyadari bahwa ternyata makam yang mereka kunjungi tak begitu jauh. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bahkan masih bisa melihat lamat-lamat sosok Zaki yang mulai bersimpuh di dekat sebuah nisan, seolah mereka berada di bawah hamparan langit yang sama, memeluk rindu yang tak jauh berbeda.

​Naya perlahan ikut bersimpuh di antara dua makam yang berdampingan itu. Ia meletakkan dua buket bunga lili dengan lembut di atas tanah makam ibu dan ayahnya, lalu jemarinya mulai bergerak menyentuh nisan kedua orang yang dicintainya itu. Rasa sepi yang sempat membelenggunya semalam kini menguar, berganti menjadi keheningan yang menenangkan hati saat ia mulai memanjatkan doa-doa terbaiknya.

​Dan, di tengah kekhusyukan memanjatkan doa, kedamaian yang baru saja merayap mendadak buyar. Pikiran Naya justru mengkhianatinya, menariknya kembali pada pusaran kejadian-kejadian pahit yang selama ini ia lalui seorang diri. Rasa kesepian yang teramat sangat kembali menghantam dadanya, membangkitkan ingatan tentang badai emosi dari orang-orang di masa lalunya yang kini mendadak kembali dan mengusik ketenangannya.

​Bahkan, sisa rasa senang dan debaran halus saat bertemu dengan Zaki beberapa saat lalu seolah tersapu bersih, terhapus begitu saja oleh bayang-bayang Tian bersama senyum anggun istrinya yang ia lihat semalam.

Kilasan demi kilasan ingatan itu berputar kejam, tentang bagaimana ia selalu menjadi pihak yang berjuang lalu dibuang, tentang bagaimana setianya ia merawat luka sendirian sementara orang lain melangkah maju membentuk lembaran baru.

​Pandangannya mengabur menatap nisan di depannya. Pikiran-pikiran buruk mulai merongrong kewarasannya. Di luar sana, orang-orang seusianya hidup berpasangan, membangun keluarga kecil yang bahagia, dan memiliki tempat untuk bersandar. Tapi kenapa aku justru selalu ditinggalkan? Termasuk kalian. Kenapa takdir sekejam ini padaku? ratapnya dalam hati.

​"Ibu... Ayah... Aku rindu kalian," lirih Naya, suaranya bergetar menahan buncahan sesak.

​Air matanya yang sejak tadi ditahan pun kini mulai menetes satu per satu, jatuh membasahi tanah makam yang gembur.

Di tempat sunyi ini, Naya benar-benar tenggelam dalam pusaran kesepian yang pekat. Perasaan terasing dari dunia luar mencengkeramnya begitu kuat. Ia merasa seolah-olah ditarik ke dalam ruang hampa di mana tidak ada satu pun lengan yang bersedia memeluk atau menopang tubuhnya yang kian rapuh. Dunia terasa begitu bising dengan kebahagiaan orang lain, namun begitu senyap dan dingin bagi dirinya sendiri.

​"Semoga... kalian tenang di sana," sambungnya di sela isak tangis yang mulai lolos.

​Naya membiarkan dirinya larut dalam duka hingga waktu terasa berjalan begitu lambat. Sudah cukup lama ia berada di sana, bersimpuh diam meratapi nasibnya yang malang. Sangat lama, hingga ia tidak memedulikan lagi kedua kakinya yang mulai mati rasa dan kesemutan di balik balutan kain dress-nya yang anggun.

Di atas tanah makam itu, ia seolah sedang menumpahkan segala curahan hatinya, berdebat dan menggugat takdir yang dirasanya teramat tidak adil.

​"Nggak baik menangisi orang yang sudah lama pergi."

​Sebuah celetukan suara rendah dari arah belakang seketika mengejutkan Naya.

​Naya tersentak. Kesadarannya yang sempat melayang langsung ditarik paksa kembali ke realitas. Jantungnya berdesir hebat saat menyadari siapa pemilik suara barusan.

Dengan panik, ia segera mengusap kasar air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, berusaha menyembunyikan kerapuhannya. Ia tahu betul, suara serak-serak basah yang menenangkan itu.

​"Zaki..." gumam Naya lirih.

​Ia perlahan beranjak berdiri, mengabaikan rasa kebas yang menjalar di kakinya. Begitu ia berbalik, sosok Zaki sudah berdiri tegap di hadapannya. Pemuda itu menatapnya dengan sepasang mata teduh yang sarat akan pengertian.

Tanpa banyak bicara, Zaki mengulurkan tangannya, menyodorkan sebuah saputangan kain berwarna gelap yang bersih milik pribadinya kehadapan Naya. "Hapus air mata Ibu," katanya dengan nada suara yang teramat lembut, seolah sedang berusaha menenangkan badai yang sejak tadi berkecamuk di dalam dada gurunya itu.

Naya terpaku menatap lembaran kain di tangan Zaki. Alih-alih menerima saputangan itu, ia justru memalingkan wajah, menyembunyikan mata sembapnya yang masih basah. Ego dan gengsinya sebagai seorang guru mendadak bangkit, menolak terlihat sehancur ini di depan muridnya sendiri.

​"Ibu gak apa-apa, Zaki. Cuma... kemasukan debu sedikit," kilih Naya, suaranya serak dan bergetar, terdengar sangat tidak meyakinkan.

​Zaki tidak lantas menarik kembali tangannya. Ia justru melangkah satu pukulan lebih dekat, membiarkan bayangan tubuhnya yang tegap menghalangi terik matahari yang mulai menyengat pucuk kepala Naya.

​"Kalau Ibu gak kuat, boleh meluapkannya dengan tangisan. Tapi tidak baik untuk ditahan sendirian." Lugas Zaki, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Naya tertegun. Ia menatap saputangan di tangan Zaki, lalu beralih menatap sepasang mata pemuda itu yang tampak begitu bersungguh-sungguh. "Za-Zaki."

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!