Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.
Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.
Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".
Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.
Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH PARA PENDIRI
Suara statis dari speaker dasbor yang mati mendadak menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kabin Iron Crawler 07. Raungan mesin diesel berdaya seribu tenaga kuda kini terdengar seperti ketukan lonceng kematian yang lambat.
Kian tidak memalingkan wajahnya dari kemudi, namun mata mekanis kirinya, The Probability Lens, terus mengunci siluet Viona di cermin reflektor kabin. Angka-angka digital berwarna biru berputar cepat, menghitung denyut nadi, pelebaran pupil, dan frekuensi napas gadis itu.
«[Analisis Fisiologis Target: Viona.]
[Tingkat Stres: 88%]
[Kecocokan Genetik dengan DNA Otoritas Menara Pusat: 99.8%]»
"Viona," Kian mengulangi pertanyaannya, nadanya sedingin dinding luar menara. "Siapa nama belakangmu yang sebenarnya?"
Viona mencengkeram tas kulitnya begitu erat hingga jemarinya memutih. Dia mundur hingga punggungnya menempel pada pintu besi kabin, menatap Kian dengan pandangan penuh ketakutan.
"Aku... aku hanya seorang mekanik magang dari Distrik Bawah, Kian. Aku sudah mengatakannya sejak awal!"
"Mekanik magang tidak memiliki darah yang bisa membuka enkripsi Gerbang Sektor Sebelas," potong Kian dingin. Dia menarik sebuah tuas, membuat kendaraan berat itu melambat secara drastis saat mereka mulai memasuki area bayangan dari struktur kolosal kuno di depan mereka. "Dan mekanik magang tidak akan membuat seluruh armada elit Inkuisitor Gideon turun ke sektor luar hanya untuk mengambil selembar plat besi."
Kaelos, yang sejak tadi terdiam sambil mengobati lukanya, mendadak berdiri. Sifat penyamunnya yang oportunis langsung bangkit kembali. Mata satunya berkilat tajam menatap Viona.
"Tunggu dulu... Darah Pendiri? Maksudmu, bocah ingusan ini adalah keturunan dari salah satu dari Sembilan Jenderal yang mendirikan Sovereign Spires?"
Kaelos melangkah mendekati Viona, memainkan belati kinetiknya yang bergoyang pelan.
"Pantas saja Dewan Oligarki panik! Silsilah Pendiri yang berada di luar menara adalah ancaman mutlak bagi legitimasi kekuasaan mereka. Kian... jika kita menyerahkan gadis ini hidup-hidup ke Menara Pusat, kita bisa meminta tebusan berupa wilayah, emas, dan bahan bakar seumur hidup!"
"Mundur, Kaelos," kata Kian tanpa menoleh.
"Pikirkan logikanya, Kian!" Kaelos menggeram, suaranya meninggi. "Kita tidak tahu apa yang ada di balik Koordinat Sebelas! Suara radio tadi sudah memperingatkan kita! Tempat itu mungkin jebakan maut! Mengapa kita harus bertaruh nyawa menembus badai petir ini jika kita memegang tiket emas untuk hidup mewah di dalam menara?"
Kaelos melompat maju, tangannya bergerak cepat hendak menyambar kerah baju Viona.
SHIING!
Sebuah gerakan secepat kilat memotong jalur pergerakan Kaelos. Ujung tajam tombak titanium Kian sudah berada tepat satu milimeter di depan biji mata satu-satunya milik Kaelos. Kecepatan gerakan Kian begitu ekstrem hingga menciptakan embusan angin kecil yang menerbangkan beberapa helai rambut Kaelos.
Mata kiri Kian yang memancarkan cahaya biru menatap Kaelos dengan tatapan membunuh yang mutlak.
"Aku sudah katakan di bentengmu," bisik Kian, suaranya sangat rendah namun sarat akan ancaman. "Aku adalah kapten di kapal ini. Aturan kedua: jika kau mencoba bergerak di luar rencanaku, lensaku akan memastikan kematianmu mendahului niatmu."
Kaelos menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia perlahan menurunkan tangannya dan mundur dua langkah, mengangkat kedua telapak tangannya tanda menyerah, meskipun kilat dendam masih tertanam di matanya.
"Baik... baik, Kapten. Kau yang pegang kendali."
Kian menarik kembali tombaknya, lalu menatap Viona yang kini mulai terisak pelan.
"Namaku... Viona Sovereign," gadis itu akhirnya membuka suara, air mata mengalir di pipinya yang pucat. "Kakek buyutku adalah Arsitek Utama yang membangun Menara Pusat. Tapi keluargaku dibantai oleh Dewan Oligarki sepuluh tahun lalu karena kami menolak rencana mereka untuk mengorbankan seluruh populasi Distrik Bawah demi mempertahankan pasokan energi Menara Inti. Aku melarikan diri ke parit bawah... membawa cetak biru ini. Kian, tolong... kita harus membuka gerbang itu. Itu satu-satunya cara untuk memulihkan dunia."
Kian mematikan mesin Iron Crawler. Kendaraan seberat dua puluh ton itu berhenti tepat di depan sebuah struktur yang membuat mereka semua mendongak dengan rasa takjub yang mencekam.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang baja melingkar setinggi dua ratus meter yang tertanam di kaki gunung batu obsidian. Di permukaan gerbang itu, terdapat ribuan sirkuit mekanis kuno yang mati, tertutup debu hitam berabad-abad. Di tengah gerbang, sebuah cawan logam berbentuk telapak tangan dengan simbol burung foniks—lambang dinasti Sovereign—menunggu untuk diisi.
Ini adalah Gerbang Batas Sektor Sebelas.
Kian turun dari kursi kemudi, meraih jubah hitamnya, dan membuka palka bawah.
"Kita sudah sampai. Viona, ikut aku."
Saat mereka bertiga melangkah keluar, hawa dingin Sektor Luar langsung menusuk tulang. Di langit atas, badai petir vertikal berwarna ungu pekat terus menyambar-nyambar, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Tekanan energi di tempat ini begitu padat hingga membuat mata mekanis Kian berdesis konstan akibat gangguan frekuensi.
Mereka berjalan mendekati cawan logam di tengah gerbang. Viona melangkah maju dengan tubuh gemetar. Dia menarik sebilah pisau kecil dari sakunya, lalu menggores telapak tangan kirinya tanpa ragu. Blood hangat kemerahan menetes, membasahi permukaan cawan logam kuno tersebut.
HUMMMMMMMM!
Seketika itu juga, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Sirkuit mekanis di seluruh permukaan gerbang raksasa itu mendadak menyala satu per satu dengan cahaya neon berwarna emas murni. Suara deru roda gigi raksasa yang berputar setelah tertidur selama ratusan tahun terdengar bergema, meruntuhkan batu-batu obsidian di sekelilingnya.
«[Otorisasi Darah Berhasil: Keturunan Sovereign Terverifikasi.]
[Membuka Enkripsi Protokol Gerbang Sebelas...]
[Peringatan: Kandungan Gas Beracun di Dalam Ruangan Melewati Batas Aman.]»
Gerbang baja seberat ribuan ton itu perlahan bergeser ke samping, terbuka sedikit demi sedikit, memperlihatkan sebuah lorong gelap gulita yang memancarkan angin dingin berbau busuk—bau seperti besi tua yang berkarat dan kematian yang pekat.
Namun, belum sempat mereka melangkah masuk, mata kiri Kian mendadak berkedip merah dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Layar pandangannya dipenuhi oleh untaian kode eror yang terbakar.
«[PERINGATAN MAUT: Prediksi Masa Depan Telah Mengunci Posisi Anda.]
[Musuh Berada di Titik Buta Visual.]
[Probabilitas Kelangsungan Hidup: 12%]»
"Taktik yang sangat rapi, Kian. Kau benar-benar membawakanku kunci gerbangnya tepat waktu."
Sebuah suara yang sangat dikenal terdengar dari arah atas tebing batu di samping gerbang. Dari balik kegelapan malam, sesosok pria dengan jubah putih bersih yang sama sekali tidak bernoda melompat turun dengan anggun, mendarat tepat di antara mereka dan pintu masuk gerbang.
Inkuisitor Gideon.
Di mata kanannya, lensa mekanis keemasan berputar dengan kecepatan penuh, memancarkan aura cahaya yang begitu terang hingga mengusir kegelapan di sekitar gerbang. Di belakangnya, puluhan robot pemantau tak berawak (Drone Sniper) melayang di udara, dengan moncong laser merah yang langsung mengunci kepala Kian, Viona, dan Kaelos.
Gideon tidak membawa pasukannya; dia hanya membawa kalkulasi mutlaknya.
"Kau berpikir goresan serpihan belati di pipiku waktu itu adalah sebuah kemenangan, Kian?" Gideon tersenyum tipis, menyeka bekas luka kecil di pipinya yang kini sudah mengering. "Tidak. Itu adalah variabel yang sengaja kubiarkan terjadi agar kau merasa berada di atas angin dan terus berlari menuju tempat ini. Aku sudah melihat masa depan lima menit dari sekarang... dan di masa depan itu, kau sendiri yang akan memohon padaku untuk menutup kembali gerbang ini."
Kian mengencangkan cengkeramannya pada tombak titanium, sementara Kaelos di sampingnya mulai melangkah mundur dengan pandangan mata yang liar, mencari celah untuk berkhianat atau melarikan diri.
"Aku tidak menerima perintah dari masa depan yang kau lihat, Gideon," desis Kian, matanya yang biru menyala menantang sepasang mata emas sang Inkuisitor.
"Kalau begitu, mari kita mulai hitung mundur kematianmu," jawab Gideon dingin sembari mengangkat rapier peraknya ke udara.