NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Serangan Kopi Hitam

Pukul 06.55 WIB.

Kiera melangkah keluar dari lift lantai dua pukul Yudhistira Tower dengan segelas *americano* panas di tangan kanannya. Langkah kakinya terasa ringan, kontras dengan karyawan lain yang berjalan gontai lesu karena menderita *Monday Blues*. Bagi Kiera, hari Senin kali ini justru terasa seperti hari kemenangan nasional.

Ia meletakkan kopi hitam tanpa gula itu tepat di tengah meja kerja marmer milik Arsenio, lalu mundur dua langkah sambil bersedekap dada. Senyum miring penuh kemenangan terukir jelas di wajahnya. *“Jam tujuh kurang lima menit. Kopi siap, mental siap membully balik bos NPD siap,”* batin Kiera bersorak riang.

Tepat pukul 07.00 WIB, pintu kaca otomatis ruang CEO terbuka.

Sesosok pria dengan tinggi badan 185 sentimeter melangkah masuk dengan aura tiran yang kembali pekat. Arsenio Yudhistira hari ini tampil sangat memukau dengan setelan tiga lapis (*three-piece suit*) berwarna abu-abu arang, rambut yang ditata klimis sempurna, dan kacamata berbingkai tipis yang menambah kesan genius sekaligus dingin. Langkah kakinya tegap, dagunya terangkat angkuh, seolah-olah insiden tragis memalukan di toilet umum dua ribu perak dua hari lalu hanyalah mitos belaka.

Namun, begitu manik mata hitam Arsenio beradu pandang dengan Kiera yang berdiri di samping mejanya, langkah sang CEO sempat tersendat selama setengah detik. Warna kulit di sekitar telinganya mendadak berubah agak kemerahan, ingatan tentang teriakan "DADDY!" di depan ruang keluarga langsung berputar otomatis di otaknya bak kaset rusak.

Arsenio buru-buru berdehem berat, mengembalikan ekspresi datarnya secepat kilat.

"Selamat pagi, Pak Arsenio yang paling sempurna tanpa cela," sapa Kiera dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis gulali, namun sarat akan sarkasme tingkat tinggi.

"Selamat pagi," jawab Arsenio pendek dan ketus. Ia berjalan melewati Kiera begitu saja, mengibaskan jasnya sebelum duduk di kursi kebesarannya. Ia melirik cangkir kopi di hadapannya, lalu menatap Kiera dengan pandangan menyelidik. "Kamu tidak menaruh sesuatu yang aneh di dalam kopi saya, kan, Kiera? Seperti... bubuk cabai rawit sisa malam itu?"

"Aduh, tega sekali tuduhannya, Pak Bos. Saya ini asisten pribadi yang sangat menyayangi kelangsungan lambung Anda. Itu kopi hitam murni, higienis, diseduh dengan air mineral kemasan nomor satu, dan tanpa sentuhan kuman pasar induk," sahut Kiera dengan nada sok polos.

Arsenio mendengus ketus, mengambil cangkir kopi itu dan menyesapnya sedikit. Rasa pahit yang pas perlahan menjalar di lidahnya, membuat otot-otot tubuhnya yang tegang sejak masuk kantor tadi mulai sedikit rileks.

"Bagaimana dengan dokumen laporan kerja sama proyek properti yang saya minta kemarin?" tanya Arsenio, mendadak beralih ke mode profesional demi menutupi rasa canggungnya. "Pastikan semua margin, format, dan rangkuman datanya sudah disinkronkan."

"Sudah aman terkendali di meja Bapak," jawab Kiera sigap sambil menyodorkan sebuah map dokumen biru. "Semua data indikator performa dan target capaian tim sudah rapi. Sesuai perintah revisi Bapak yang super ketat itu, saya juga sudah memastikan semua poin indikator pencapaian positif dalam laporan dimulai dengan kata *'Mampu'*. Misal: *Mampu menunjukkan efisiensi kerja yang optimal*."

Arsenio membuka map tersebut, membaca baris demi baris dengan kening berkerut serius. Ego NPD-nya yang perfeksionis mulai memindai setiap huruf untuk mencari kesalahan kecil yang bisa ia jadikan bahan untuk mengomeli Kiera. Namun sial bagi Arsenio, pekerjaan Kiera kali ini benar-benar rapi, terstruktur, dan tanpa cacat celah sedikit pun.

"Hmm. Lumayan. Setidaknya otakmu tidak tertinggal di tenda pecel lele malam itu," ucap Arsenio dengan gengsi yang tetap bertahan di level tertinggi, menutup map tersebut dengan bunyi *plak* yang cukup keras.

"Terima kasih atas pujian terselubungnya, Pak. Oh, omong-omong..." Kiera mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja, menurunkan volume suaranya menjadi bisikan misterius. "Tadi pagi-pagi sekali, Ibu Alea mengirim pesan singkat ke ponsel saya."

Mendengar nama ibunya disebut, Arsenio yang baru saja hendak menyesap kopinya lagi langsung membeku di tempat. Matanya melotot menatap Kiera. "Apa? Mommy mengirim pesan apa kepadamu? Jangan bilang kamu—"

"Tenang, Pak Bos, tenang. Jangan serangan jantung dulu sebelum jam makan siang," potong Kiera sambil terkekeh geli melihat kepanikan instan sang tiran. "Ibu Alea cuma menanyakan apakah jas Tom Ford Bapak yang bau asap terasi kemarin sudah dikirim ke *laundry* khusus atau belum. Dan... beliau juga bilang titip salam buat 'calon mantu' yang rajin kerja."

*UHUK! UHUUKK!*

Pertahanan ego agung sang CEO runtuh seketika. Arsenio tersedak kopi hitamnya sendiri secara brutal hingga terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah padam sampai ke leher. Ia buru-buru mengambil selembar tisu dan mengusap bibirnya dengan gerakan panik yang sangat tidak estetis.

"Kiera Anandita! Keluar dari ruangan saya sekarang juga!" perintah Arsenio dengan suara bariton yang pecah dan bergetar hebat karena kombinasi rasa malu, kesal, dan debaran aneh yang mendadak menyerang dadanya secara bertubi-tubi.

"Hahaha! Baik, Pak Bos! Selamat menikmati kopinya dan selamat merona sendirian!" seru Kiera riang gembira. Ia berbalik badan dan melangkah cepat keluar dari ruangan dengan tawa kemenangan yang menggema renyah, meninggalkan Arsenio yang kini bersandar pada kursinya sambil memegangi dadanya yang berdegup gila.

*“Sialan... Mommy benar-benar keterlaluan. Dan asisten ugal-ugalan itu... kenapa dia harus terlihat sangat menggemaskan saat menertawakan saya?!”* jerit batin Arsenio frustrasi, meratapi nasib egonya yang kini pasrah dijajah oleh pesona Kiera Anandita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!