NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

Setelah pintu itu tertutup rapat, menyisakan keheningan pasca-keributan yang dramatis, Pak Roni perlahan melangkah mendekati meja kerja Ningsih. Pria paruh baya itu merapikan kembali berkas-berkas hukum yang sempat berantakan.

"Saya yakin suami anda, maksud saya, pak Hendra pasti akan mencoba kembali lagi dan mengemis maaf kepada anda, Nyonya. Pria seperti dia tidak akan rela kehilangan seluruh kemewahan hidupnya begitu saja."

Ningsih yang sedang berdiri menghadap jendela kaca besar, menatap mobil patroli polisi yang perlahan bergerak pergi di bawah sana, hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepuasan. Ia membalikkan tubuhnya, menatap sang asisten dengan binar mata yang teramat dingin.

"Biarkan saja dia mencoba, Pak Roni," ucap Ningsih sembari melangkah bangkit, merapikan blazer hitamnya yang tanpa cela. "Justru dengan dia kembali merangkak dan mengemis di kakiku, aku akan semakin membuatnya sadar. Siapa dia sebenarnya di mataku. Dia tidak lebih dari sekadar benalu yang sudah aku beri kekuasaannya."

Pak Roni tersenyum tipis, mengagumi ketangguhan mental wanita di hadapannya. "Lalu, anda mau ke mana sekarang, Nyonya? Apakah perlu saya siapkan ruang rapat kecil untuk meninjau kembali laporan keuangan PT Buana?"

"Tidak usah sekarang," jawab Ningsih sembari menyambar tas tangan bermerek dan kunci mobilnya di atas meja. "Aku mau pergi menjemput Luna di sekolah."

"Menjemput Nona Luna? Bagaimana dengan jadwal pertemuan setelah makan siang nanti?" Pak Roni sedikit terkejut, melirik agenda kerja Ningsih yang cukup padat hari ini.

"Tolong nanti urus saja semua pertemuan dan meeting dengan klien untuk hari ini, Pak Roni. Delegasikan ke wakil direktur atau kamu yang mewakili ku langsung. Hari ini aku ingin fokus menemani putriku jalan-jalan. Dua tahun ini aku terlalu sibuk mengurus rumah tangga dan membiarkan tikus-tikus itu bermain di belakangku, sampai waktu senggang ku bersama Luna berkurang. Hari ini aku ingin menebusnya."

Pak Roni membungkuk hormat. "Baik, Nyonya. Segala urusan kantor hari ini akan saya selesaikan dengan bersih. Selamat bersenang-senang dengan Nona Luna."

Ningsih mengangguk sekilas, lalu melangkah keluar dari ruangan eksekutif itu.

*

*

Sementara itu, di area parkir luar gedung PT Adiwangsa yang terik, suasana justru jauh dari kata damai. Hendra dan Arumi ternyata tidak langsung dibawa ke kantor polisi karena status mereka baru sebagai terlapor dan masih menunggu proses penyelidikan resmi dari surat tuntutan.

Namun, harga diri mereka sudah diinjak-injak sampai ke dasar bumi setelah diusir paksa oleh petugas keamanan di depan banyak orang.

Hendra berjalan mondar-mandir di samping mobilnya dengan napas memburu, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Sial! Sialan! Aku masih tidak terima dan tidak percaya kalau Ningsih itu pemilik asli PT Adiwangsa! Ini pasti konspirasi! Bagaimana bisa wanita yang setiap hari mengulek sambal di dapurku turns out adalah bos dari raksasa properti itu?!"

Arumi yang berdiri di dekat pintu mobil, sibuk membetulkan gaunnya yang sedikit kusut akibat insiden seret-menyeret tadi, langsung mendengus sinis.

"Mas, sudahlah! Kenapa kamu masih memikirkan wanita kampung itu?! Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menyelamatkan aset PT Buana!"

Hendra mendadak menghentikan langkahnya, lalu menatap Arumi dengan pandangan tajam yang dipenuhi kecurigaan.

"Kamu, pulang dulu saja sekarang, Arumi! Naik taksi atau apa terserah kamu!"

Arumi membelalakkan matanya, tidak terima diusir begitu saja. "Apa?! Kamu menyuruh aku pulang duluan? Terus kamu mau ke mana, Mas?!"

"Aku harus menunggu Ningsih di sini! Aku harus mencegatnya saat dia keluar dari gedung ini!" bentak Hendra frustrasi. "Aku harus bicara berdua saja dengannya tanpa ada kamu di sampingku! Aku harus melunakkan hatinya agar dia mencabut tuntutan sepuluh miliar itu! Kalau tidak, perusahaan ku bisa bangkrut dan aku masuk penjara, Arumi!"

Mendengar niat Hendra yang ingin kembali mendekati Ningsih, ego dan ketakutan Arumi langsung memuncak. Sikap gatal dan posesifnya kembali keluar. Ia melangkah maju, mencengkeram kemeja Hendra dengan erat.

"Tidak boleh! Aku tidak mau! Aku tidak akan membiarkan kamu kembali pada Ningsih, Mas! Enak saja! Kamu sudah berjanji mau menceraikan dia dan menikahi ku! Kalau kamu mengemis lagi padanya, lalu posisi aku sebagai calon nyonya besar di rumahmu bagaimana?!"

"Berhenti bersikap egois, Arumi! Jangan cuma mikirin status!" Hendra menyentak tangan Arumi hingga terlepas, wajahnya memerah padam karena emosi. "Kalau aku dipenjara dan miskin, kamu juga tidak akan dapat apa-apa! Sadar tidak sih?!"

"Tapi tidak dengan cara mengemis pada mantan istrimu yang sok kuasa itu, Mas! Aku tidak sudi melihatmu berlutut di depannya!" jerit Arumi histeris, air mata egoisnya mulai mengalir.

"Cukup, Arumi! Kamu egois sekali! Pulang!" bentak Hendra lagi, benar-benar sudah berada di puncak kesabaran.

Melihat Hendra yang kali ini benar-benar keras kepala dan tidak bisa dikontrol dengan bentakan, Arumi langsung mengubah taktiknya. Wanita itu mendadak memegangi kepalanya dengan dramatis, matanya berputar, dan napasnya dibuat tersengal-sengal.

"Aduh... Mas... kepalaku..." rintih Arumi dengan suara yang mendadak melemah. Tubuhnya sengaja dibuat limbung, dan dalam hitungan detik, ia menjatuhkan dirinya ke atas aspal parkiran tepat di hadapan Hendra, pura-pura pingsan.

"Arumi?! Arumi, kamu kenapa?!" Hendra yang dasarnya memang pria bodoh dan mudah dimanipulasi langsung panik setengah mati.

Segala ketegasannya malam dan pagi tadi menguap begitu saja. Ia langsung berlutut, mengangkat kepala Arumi ke atas pangkuannya.

"Arumi, bangun, Sayang! Maafkan aku... maaf aku membentak mu tadi!"

Di balik mata yang terpejam, Arumi menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat licik. Ia tahu persis bahwa Hendra tidak akan pernah bisa lepas dari jeratannya selama ia menggunakan taktik kelemahan wanita seperti ini.

Hendra dengan terburu-buru mengangkat tubuh Arumi masuk ke dalam mobil, melupakan niatnya untuk menunggu Ningsih.

Ningsih yang baru saja keluar dari lobi samping gedung seketika menghentikan langkahnya. Di balik kacamata hitam besarnya, sepasang matanya menatap lurus ke arah area parkir luar.

Dari kejauhan, ia menyaksikan dengan jelas bagaimana Arumi berakting pingsan secara dramatis dan bagaimana Hendra langsung panik menggendong wanita gatal itu masuk ke dalam mobil.

Sebuah senyuman jijik sekaligus sinis terukir di bibir merah Ningsih.

"Astaga, drama wanita itu benar-benar menggelikan," gumam Ningsih, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kebodohan sang suami. "Menyesal aku pernah mencintaimu, Mas! Bagaimana bisa dulu aku sebodoh itu memberikan seluruh hidupku pada pria berotak udang sepertimu?"

Ternyata, sejak awal melangkah keluar gedung, Ningsih memang sudah memperhatikan seluruh drama pertengkaran hingga aksi pingsan palsu mereka berdua. Bukannya merasa cemburu atau sakit hati, Ningsih justru merasa sangat bersyukur karena kedok busuk Hendra telah terbuka lebar sebelum terlambat.

Ningsih membuang muka dengan enggan, lalu bergegas masuk ke dalam mobil mewahnya yang sudah dibukakan oleh sang sopir pribadi. Tujuan utamanya sekarang hanyalah menjemput Luna, putri semata wayangnya yang menjadi sumber kekuatannya saat ini.

Sembari mobilnya meluncur mulus membelah jalanan kota, Ningsih menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang teramat dingin dan tajam. Ia bertekad kuat di dalam lubuk hatinya, apa pun yang terjadi nanti, bahkan jika Hendra sampai bersujud di kakinya hingga menangis darah sekali pun, ia tidak akan pernah sudi menerima pria pengkhianat itu kembali ke dalam kehidupannya.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!