Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 30
“Gak juga sih, cuma ada kesalahpahaman kecil aja,” kelit Ayunda, enggan menceritakan tentang pertengkaran di unit gawat darurat.
Semenjak itu, Ayunda dan Seila putus komunikasi. Sama-sama tidak ada yang mencoba menghubungi.
Dengan Dwira juga sama, Ayunda sedang malas meladeni siapapun. Permasalahan kali ini lebih rumit dari biasanya, terlebih Daksa mulai mendominasi, padahal sisa masa perjanjian itu tinggal 4 bulan lagi, malah dirinya hamil.
Seberapa gigih seorang Ayunda mencari jalan keluar, berakhir pusing sendiri. Otaknya tidak sanggup diajak berpikir keras.
Sebenarnya Dwira masih mau menginterogasi lebih jauh, tapi sungkan ada Yusniar diantara mereka.
Pun, si suka gosip itu tidak bisa mengajak ghibah Ayunda. Sedikit banyaknya sudah mengetahui kalau sang sekretaris CEO anti bergosip.
Jadilah mereka sama-sama menikmati makan siang.
“Mbak, aku boleh minta sedikit soto Banjar yang kamu makan, gak?” tiba-tiba sebuah keinginan tidak dapat diabaikan sampai menelan ludah melihat air kuah menetes dari sendok Yusniar.
“Ih, kamu gak sopan banget sih, Yunda. Masa _”
Yusniar mendorong mangkuk sotonya ke samping, membungkam mulut Dwira. “Gantian aku yang cobain nasi goreng punyamu, ya?”
Tukaran makanan pun tidak terelakkan, mereka sama-sama mencicipi, tanpa peduli raut keruh Dwira merasa tak dianggap ada.
“Aku balik duluan ya, Yunda, bu Niar.” Dwira mengangguk sopan, berlalu dari sana.
“Kamu lagi ngidam, ya?”
Wajah Ayunda tertoleh ke samping. “Maksudnya, Mbak?”
“Tadi itu, saat kamu tiba-tiba kepingin makananku, bisa disebut ngidam, Yunda,” jelas Niar hangat.
Mimik wajah Ayunda sesaat murung, sedetik kemudian sumringah lagi. “Jam istirahat kita udah mau habis, ke atas yuk, Mbak?”
Niar tidak lagi membahas tentang kehamilan, memilih topik aman menemani langkah kaki ke lantai tertinggi perusahaan Wangsa group.
***
Pada sore hari sebelum jam pulang kantor, Ayunda meminta izin kepada Yusniar. “Mbak, biar aku aja yang nyerahin berkas ini ke tuan Daksa, ya?”
“Tumben?” Alisnya terangkat serasi dengan kerlingan mata.
Ayunda tersenyum jenaka. “Biasa, Mbak … mau cari muka biar disayang bos, terus lancar deh uang bonus.”
Yusniar terkikik sembari gelang-gelang kepala. “Sana gih masuk, berkasnya udah ditungguin.”
Dengan semangat membara, Ayunda bergegas ke ruangan direktur utama.
Daksa memperhatikan sang istri yang mendekap map, melangkah penuh percaya diri, melempar senyum manis kepadanya.
“Tuan, ini berkas yang tadi diminta.” Yunda meletakkan map di atas meja.
Mereka saling menatap, sama-sama menilai suasana hati satu sama lain.
“Katakan! Kamu gak mungkin mau masuk kesini secara sukarela tanpa maksud lain, kan?” Ia menyilangkan kedua tangan.
“Jangan sabotase hasil laboratorium!” percuma bermanis-manis, Daksa dengan mudah dapat menebak niatnya.
“Kamu mencurigai saya?” Ibu jari dan telunjuknya menuding dirin sendiri.
“Iya. Secara, gak ada yang bisa saya sembunyikan dari, Tuan,” akunya gamblang.
“Baguslah kalau kamu sadar,” katanya ringan.
“Anda belum berjanji!” Ayunda sedikit menuntut, tidak menghilangkan panggilan formal karena masih dikantor meskipun ruangan tertutup.
Hem.
“Karena kamu sudah ada disini, tolong buatkan segelas jus.” Daksa memeriksa berkas yang tadi dibawa Ayunda.
Hem.
Wanita bercelana khaki itu melangkah ke pantry, memeriksa isi pendingin lemari es. Mencari buah apa yang bisa dijadikan jus.
“Aku ini gak ubahnya office girl, bedanya berpakaian lebih keren tanpa seragam kebanggaan warna itu-itu aja.” Dikupasnya kulit Mangga sedikit tebal sampai mengenai bagian daging.
Dibalik meja, diatas kursi, senyum samar menghiasi bibir Daksa yang menyaksikan mulut Ayunda terus bergerak-gerak sama seperti kinerja sepasang tangannya.
Suara interkom mengganggu kesenangan pemilik perusahaan. “Katakan!”
“Nona Syafira ada disini, Tuan. Beliau meminta bertemu,” Niar mengkonfirmasi kedatangan tunangan Daksa.
“Biarkan dia masuk!”
Ayunda tetap menggerutu, bukan karena kedatangan tamu, melainkan melampiaskan kekesalan disuruh-suruh.
Pintu terbuka sedikit lebar, masuklah wanita tinggi semampai, berbusana menonjolkan kaki jenjang, bahu terbuka.
“Sayang ….” panggil manja pemilik bibir berlipstik peach.
“Ada kamu di sini? Ngapain?” Syafira tidak jadi menghampiri sang tunangan, lebih tertarik kepada wanita tengah menggunakan alat blender.
Ayunda mematikan mesin pelunak buah, mengguncang wadah kaca. “Biasalah, Nona … merangkap jadi bartender.”
“Nona Syafira mau mencoba minuman racikan saya, tidak? Siapa tahu cocok di lidah?” Senyum Ayunda terjaga, sopan sekaligus ramah.
Dari layar komputer, Daksa memperhatikan interaksi dua wanita memiliki status berbeda – istri, dan tunangan.
“Pekerjaan pelayan memang cocok untukmu,” sarkasnya mencemooh.
“Ya karena ini saya digaji, Nona,” jawabnya santai, menuang jus ke dalam gelas.
Syafira tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berduaan dengan Daksa Wangsa, memilih mengabaikan Ayunda.
“Sayang ….”
Daksa meletakkan pena dalam jepitan jemari ke atas kertas, kakinya menekan lantai supaya kursi bergerak mundur sedikit. “Apa keinginanmu kali ini?”
“Gak ada, cuma kangen.” Syafira duduk di tepi meja, kakinya sengaja diulurkan sebelah agar belahan gaun mencapai pertengahan paha terpampang tepat di depan mata Daksa.
Ehem …. “Maaf mengganggu sebentar. Tuan, ini jus nya siap dicicipi.”
“Katanya tadi kamu mau buatkan untuk aku juga, mana?” Syafira sepertinya sengaja mau menjatuhkan citra Ayunda didepan Daksa.
Ayunda menaruh gelas besar jus Mangga. “Ini, Nona. Sengaja saya banyakin porsi untuk tuan Daksa, biar bisa minum segelas berdua, kan kesannya jadi romantis.”
“Kamu boleh keluar!” usir suara rendah, tanpa menatap Ayunda. Daksa melihat jus segelas tinggi.
“Baik, Tuan. Nona Syafira, saya permisi.” Ayunda menunduk, melemparkan senyum manis, lalu berbalik badan. Langkahnya teratur, tidak terburu-buru.
.
.
“Kamu ketemu nona Syafira kan, Yunda?” Niar mencecar rekan kerjanya yang baru saja keluar dari ruang direktur.
“Ya ketemulah, Mbak. Malah kubuatkan jus.” Yunda meluruhkan bokongnya pada kursi kerja.
“Mereka ngapain aja?”
“Tumben mba Niar kepo, biasanya masa bodoh?”
Diam-diam Yusniar mencari sesuatu di sorot mata berbinar Ayunda. “Gak biasanya nona Syafira datang ke kantor, makanya aku penasaran.”
“Oh … ya gimana sepasang kekasih lah, Mbak. Pas ada aku kayak malu-malu, tapi gitu aku keluar, palingan main tabrak bibir … hahahaha.” Ayunda tertawa, khas dirinya yang ceria.
Kali ini tanggapan Yusniar lain dari biasanya, ikut terpingkal-pingkal, tapi tidak sampai mata.
***
“Daksa, kata papa – om dan tante mau pulang, dan mereka memutuskan untuk menetap di sini, ya?” kedatangannya selain ingin melepas rindu, juga memastikan sebuah informasi dari ayah kandungnya.
“Kamu punya nomor mereka bukan? Kenapa tidak bertanya sendiri, atau ada sesuatu yang sedang kalian rencanakan supaya nantinya seolah semua serba kebetulan. Tebakan saya benarkah?”
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤