NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05 [ Sanggupkah Untuk Bertahan ]

Gadis itu lalu tersenyum lebar melihat kedatangan Victor, ia berfikir Papanya tak akan sejahat itu mengabaikan nasib Cantika antara hidup dan mati, namun melihat kehadirannya, ia mampu tersenyum lepas kelegaannya terpancar jelas diraut wajah cantik Cantika.

"Papa ...kalian akan menolongku?" tanya Cantika tak percaya.

Alih-alih memberikan balasan atas pertanyaannya, Cantika dikejutkan jabatan tangan antara Adrian dan Victor yang amat mengejutkannya, lalu segepok uang sudah Adrian terima, berbalik kali ini senyuman mengembang amat terpancar jelas diraut wajah lelaki itu, tapi tidak dengan Cantika, senyumannya kini seketika meredup.

"Ini ...apa maksudnya?"

Cantika menanyakan, namun lagi-lagi tak ada balasan antara mereka.

"Rias dia secantik mungkin!" permintaan Victor pada juru make up yang sudah ia siapkan.

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan Adrian lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminang mu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu, sayang...."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Manusia mana yang sanggup merasakan derita seorang anak yang dijual oleh ayah kandungnya sendiri.

Cantika merasa hampa, hina, dan terbuang, seperti sampah yang tidak memiliki tempat di dunia ini. Papa... mengapa sesosok Papa tega melakukan ini semua pada Putri kandungnya sendiri?

Mengapa sosok Papa tega menjual putri kandungnya sendiri kepada seseorang yang sama sekali tidak ia kenal hanya demi keuntungan pribadi?

Mengapa sosok pria itu tega menghancurkan hati dan mimpi-mimpi pada sosok putri kandungnya hingga sekeji ini? Gadis itu hanya bisa meratapi nasib, meratapi nasib sebagai anak kandung yang terbuang dan dijual oleh Papa kandungnya sendiri.

Ijab kabul dengan cepat telah terlaksana, keduanya kini telah terikat menjadi sepasang suami-istri. Yang bisa Cantika lakukan hanyalah menangis dan menangis, sadar statusnya yang dulunya perawan kini dalam hitungan menit, status itu sudah berubah menjadi istri dari seseorang.

Tanpa pengenalan dan mengenal latar belakang suaminya, yang bisa Cantika lakukan hanyalah meratapi nasibnya yang malang..

Tak ada pengenalan bahkan ungkapan cinta romantis untuk keduanya biarpun menit ini mereka sudah terikat dalam ikatan suci.

Tak ada pula pesta resepsi untuk perayaan. Bahkan ijab kabul yang hanya dihadiri wali dan juga beberapa orang telah mengulas jelas jika pernikahan yang terjalin hanya sebatas pernikahan paksa tanpa adanya cinta dari keduanya.

Sang kedua mempelai yang sama sekali tak dipoles make'up. Sang mempelai Wanita bahkan tak memakai kebaya layaknya pernikahan impian pada umumnya.

Sedari tadi air mata sang Gadis tak kunjung terhenti, setiap detik bahkan menit telah memperkeruh hatinya seperti apa dan apa yang akan terjadi pada kehidupannya selanjutnya.

"Sudahlah sayang kamu jangan menangis lagi, sekarang kamu anggap saja Tuan Adrian ini ialah sosok lelaki yang nantinya bisa membahagiakan dan menjadikan kamu wanitanya seutuhnya. Kamu harus bisa berfikir jernih Papamu melakukan semua ini atas dasar kasih sayangnya ke kamu, kamu janganlah membenci Papa... ya?"

"Aku sudah muak! Hatiku pula sudah rapuh! Aku lemah, tapi aku bakal buktikan untuk selanjutnya tak akan ada seorang pun yang bisa menindas ku termasuk itu kalian! Wanita ular!"

Cantika mengumpat dalam hati, ia sangat membenci wanita berstatus Mama tirinya yang pintar berakting baik didepan, tapi dibelakangnya sudah banyak bisa yang diberikannya, ia sudah kebal, ia pula sudah muak.

Hari yang bahkan belum genap 24 jam Cantika sudah menjadi istri dari Tuan Adrian, Cantika sengaja diboyong ke keluarga besarnya yang beranggota 5 salah satunya adalah dia, namun tak bisa dibayangkan seperti apa cara Cantika menghadapi tiga Wanita yang sangat disayangi Adrian dan hanya mereka bertiga yang Adrian punya.

Rumah besar dengan tembok yang menjulang tinggi berlantai tiga, mewah, megah, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata lagi jika keluarga ini sungguhlah kaya raya yang hidupnya telah bergelimang banyak harta.

Setibanya Cantika menginjakkan kaki dilantai granit yang mewah, Adrian tercengang, namun hatinya tidaklah pernah lega apalagi merasakan kebahagiaan biarpun saat ini dia sudah menjadi istri dari seseorang yang kaya raya dan banyak uang.

"Tuan... ruangan manakah yang akan ditempati nyonya Cantika?" Wajah Adrian berubah tajam tak sudi mendengar ada orang berani menyebut Cantika dengan sebutan Nyonya. Tak segan-segan Lelaki itu memberikan tamparan, sang asisten bersimpuh memohon ampunan.

"Sekali saya mendengar kata nyonya yang keluar dari mulut kalian semua maka imbasnya tidaklah main-main, biarpun dia sudah menjadi istriku, sangatlah tidak pantas sebutan itu untuknya, paham!"

Mereka tertunduk patuh dan memahami perintah dan teguran dari Tuannya.

"Antarkan dia ke kamar pembantu! Disitulah tempat yang cocok untuk seorang pembunuh, seperti dia!"

"Baik, Tuan."

"Mari ikut saya."

Cantika mengangguk, sesungguhnya hatinya sangatlah sakit diperlakukan tak manusiawi seperti ini. Jam yang bahkan belum genap satu hari sudah ditampakkan semua sifat asli dan tujuan pertama kenapa ia dinikahi.

Ruangan yang bahkan menampakkan layaknya seperti gudang menjadi tempat ganti ia akan beristirahat disetiap malamnya.

Ruangan tanpa adanya lantai hanya ada berbatuan lantaran ruangan ini dirancang khusus untuk ditempati orang-orang yang suka melanggar peraturan tuannya.

Wanita tua yang mengantarnya sedikit memiliki rasa iba. Bahkan wajahnya menunjukkan memelas tak tega Wanita secantik Cantika harus menempati ruangan yang bahkan tak layak untuk ditempati.

"Sekali lagi maafkan saya tidak bisa melakukan apa-apa, Tuan sangat keras, jika perintahnya dilanggar saya yang bahkan sudah lama kerja disini besar kemungkinan bisa ikut dihukum, sekali lagi maafkan saya tidak bisa membantu nona... maafkan saya....."

"Tidak apa-apa Bik, saya paham, saya juga sadar, bibik tidak perlu merasa bersalah tidak apa-apa kok."

"Nona kalau mau membersihkan diri kamar mandinya ada disamping sana, ada bak mandi kecil dan ada juga shower nya, baiklah kalau begitu saya ijin permisi takutnya tuan marah saya lama."

"Iya Bik tidak apa-apa, sekali lagi terima kasih."

Perginya sang asisten rumah tangga diruangan yang bahkan tak ada jendelanya, tubuh Cantika perlahan mulai memasuki kamar mandi, langkahnya pelan tanpa bertenaga, ia menyalakan shower yang akhirnya tubuh lemahnya itupun merosot kebawah.

Air yang sangat dingin itu terus menerus mengalir tanpa henti terus mengguyur tubuh wanita itu dari atas ujung kepala hingga ujung kaki.

Hari pernikahan pertama yang biasanya akan jadi hari yang sangat indah bagi kaum pengantin baru. Kini semua itu hanya akan jadi bayang-bayang.

Tertidur di ruangan yang sangat tak pantas disebut kamar, itulah tempat yang akan menjadi teman disetiap tidur malamnya.

Malam pertama yang menjadi dambaan setiap kaum pasangan muda, namun malam-malam itu hanyalah sebuah malam yang berupa mimpi indah semata.

Lagi dan lagi air mata yang tak terhitung berapa jumlah tetesannya kini mulai menjatuhi pipinya.

Pipi yang tadinya kering, kini berubah menjadi basah setelah Cantika yang melampiaskan semuanya untuk ia keluarkan hanya untuk malam ini, namun malam-malam nantinya ia berjanji akan kuat dan tabah.

"Jujur Hamba tidak tau kesalahan apa yang sudah hamba perbuat sampai derita dan nasib hamba akan menderita ini? Hamba masih memiliki Papa kandung, tapi kenapa tidak ada belas kasihannya kepada putri kandungnya? Bahkan sosok Papa yang harusnya menjadi tiang untuk kebahagiaan utama bagi Putrinya kenapa papaku berbalik malah sengaja menjerumuskan aku? Kenapa!"

Cantika membatin dalam hatinya yang amat hancur lebur, ia menangis tanpa adanya suara sungguh rasa sakitnya yang sungguh sangat menyakitkan.

Menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak ia kenal. Bahkan menjadi istri kedua sungguh Cantika tidak membayangkan semua ini akan terjadi dalam hidupnya.

Dulu ia sangat mendambakan dirinya akan berlabuh dalam ikatan pernikahan bersama dengan sosok lelaki yang sangat ia cintai yaitu Gantara.

Gantara- lelaki yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 3 tahun, namun siapa sangka takdir meleset sangatlah jauh dari dugaan dan mimpi-mimpinya.

Terjerat dalam pernikahan paksa dan rela meninggalkan bahkan mencampakkan seseorang yang sangat mencintainya dan sangat ia cintai, dengan cara apakah ia akan menjelaskannya nanti.

"Gantara... Aku yakin jika kamu memang sangat tulus mencintaiku, aku sangat yakin kamu akan menunggu jandaku..., aku sangat yakin."

Cantika menangis dalam kepiluannya yang tak yakin apa akan benar-benar tercapai semua impiannya.

Berbeda dengan Cantika, Gantara kakinya yang sudah menginjakkan lantai kediaman dari Cantika, wajahnya menunjukkan sangat berseri-seri, tangannya menggenggam buket bunga sekaligus cincin permata yang digadang-gadang akan diberikan untuk sang kekasih yaitu Cantika, namun takdir yang membelok.

Cantika yang sudah menjadi Istri dari seseorang yang bukan dirinya, akankah hatinya bisa menerima dengan lapang dada, ataukah malah berbanding balik lelaki itu akan menyimpan dendam berfikir ia dicampakkan dengan mudahnya.

"Cantika... tunggulah, aku akan segera melamar kamu... aku akan mengabulkan impian kita... aku datang...."

Tok

Tok

Tok

Ia mengetuk pintu itu, terbuka tapi bukan seseorang yang sangat ia harapkan, melainkan....

"Nayla?" Wajah Gantara berubah tak seceria tadi sebelum datangnya Nayla yang membukakan pintunya.

"Gantara? Apa kamu cari Cantika?"

Gantara hanya mengangguk melas, Lelaki itu bersikap dingin pada Nayla karena Cantika sudah banyak bercerita mengenai wajah asli wanita yang ada dihadapannya ini.

"Apa Kekasihku ada di Rumah?" Namun pertanyaannya itu tak terbalas.

"Kenapa diam?"ketus Gantara.

"Ini sebenarnya akan sangat menyakitkan, tapi aku memang harus jujur alangkah baiknya kamu lupakan Cantika jika kamu mau melanjutkan hidup kamu." Gantara tersenyum kekeh mendengar perintah Nayla.

"Dengan alasan dan tujuan apa kamu memerintahkan aku untuk melupakan Cantika? Apakah kamu iri pada saudara tiri kamu?"ketusnya yang semakin memberinya tantangan.

"Gantara... Kamu bicara apa? Aku tidak tau apa yang dikatakan Cantika mengenai aku, tapi disini aku hanya ingin membantu kamu kalau Cantika bukanlah Wanita sebaik seperti yang kamu kira, Cantika... Wanita yang sudah kamu anggap baik dan tulus mencintaimu kamu... Ia telah berkhianat! Ia berkhianat jika dia lebih memilih menikah dengan Pria kaya raya yang bahkan sudah memiliki Istri, kamu harus sadar."

"Bohong! Aku sama sekali tidak percaya dengan tipuan bohong kamu! Bilang saja kamu iri kan?"

"Iri? Untuk apa pula aku harus iri?"

"Gantara... Stop! Apa kamu se'cinta itu sama Cantika sampai-sampai Nayla yang sudah menunjukkan kebenaran kamu masih belum bisa menerima kenyataan ini?"timpal Selly yang datang tepat waktu membantu sang Putri memprovokasi Gantara.

"Apa maksud Tante?"

Wanita licik itu menunjukkan satu buah video gimana didalamnya ada Cantika dan Adrian yang sedang melakukan ijab Kabul.

Hati Gantara retak sudah, buket bunga yang tadinya ia bawa seketika terjatuh, bunga mawar putih yang menjadi bunga kesukaan Cantika kini kelopak demi kelopaknya mulai berhamburan terurai.

"Tidak! Ini tidak benarkan? Tidak mungkin Cantika mengkhianatiku kan?"

"Tante hanya bisa memberimu semangat, kamu Lelaki yang cukup sempurna, semua sudah ada dalam dirimu akan lebih baik kamu lupakan Cantika, ini demi kebaikan kamu, kamu lupakan dia, ya?"

Gantara tak membalas ia masih sangat syok, ia pula tak ingin mempercayai, namun apa daya adanya bukti video yang sudah sangatlah jelas.

"Kamu kenapa setega itu mengkhianatiku Cantika... Kenapa!"

BERSAMBUNG.

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!