Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
BAB 7: TIDAK DIINGINKAN
Setelah kejadian di meja makan itu, suasana di rumah keluarga Wijaya makin parah.
Tidak ada kata sapa. Tidak ada bantingan pintu. Tapi diam yang ditinggalkan jauh lebih menusuk. Setiap langkah Liana di koridor terasa diawasi. Setiap tegur sapa dari pelayan terdengar setengah hati, seolah mereka menunggu perintah diam dari atas.
Ibu Darmi semakin dingin dengan Liana. Padahal sejak awal, ia memang tidak pernah benar-benar menginginkannya.
Di matanya, Liana hanya perempuan desa yang beruntung. Beruntung karena dipilih Tuan Wijaya untuk menyelamatkan kerja sama dua keluarga. Beruntung karena bisa memakai nama Wijaya di belakang namanya. Tapi keberuntungan itu tidak cukup untuk membuat Ibu Darmi membuka pintu hatinya.
"Status sosial itu bukan sekadar uang, Liana," ucapnya pelan saat pertama kali bertemu, di ruang tamu dengan aroma melati yang terlalu tajam.
"Keluarga Wijaya dibangun dari tiga generasi nama baik. Kami tidak bisa sembarangan memasukkan orang ke dalam silsilah ini."
Liana hanya mengangguk waktu itu. Ia tahu posisinya. Ia datang sebagai istri kontrak. Sebagai solusi bisnis. Bukan sebagai menantu yang dinanti.
Tapi menjadi tidak diinginkan setiap hari, itu rasanya berbeda.
Sejak kejadian kemarin malam, Ibu Darmi bahkan tidak lagi berpura-pura sopan. Sarapan untuk Liana sering terlambat diantar. Pakaian yang sudah disetrika asisten rumah tangga tiba-tiba "terselip" dan tidak sampai ke kamar. Undangan makan malam keluarga besar yang biasanya dicatat asisten pribadi, sekarang hanya disampaikan sekilas, tanpa detail waktu dan tempat.
"Kalau kamu memang ingin bertahan di sini, kamu harus belajar menyesuaikan diri," kata Ibu Darmi pagi ini, suaranya datar saat mereka tidak sengaja bertemu di ruang makan kecil.
Liana sedang mengaduk teh tawar yang sudah dingin. Ia mengangkat wajah, menahan diri untuk tidak membalas.
"Saya sudah berusaha, Tante," jawabnya pelan.
"Berusaha tidak cukup kalau asal-usulnya tidak sesuai," balas Ibu Darmi sambil meletakkan cangkir porselen dengan suara pelan tapi tegas.
"Arka butuh pendamping yang bisa berdiri di sampingnya di acara duta besar, di gala amal, di pertemuan direksi. Bukan seseorang yang harus diajari cara memegang garpu dengan benar."
Kata-kata itu seperti tamparan halus. Tidak keras, tapi membuat pipi terasa panas.
Liana lahir di desa. Ayahnya sudah meninggal, ibunya juga. Ia hanya sebatang kara. Sekolahnya hanya sampai SMA, lalu bekerja paruh waktu sebagai buruh tani untuk menyambung hidup.
Tapi ia tahu membaca situasi. Tahu kapan harus diam, kapan harus tersenyum. Tahu bagaimana menjaga harga diri meski tidak punya nama besar.
Sayangnya, bagi Ibu Darmi, itu tidak cukup.
"Arka sudah lelah," lanjut Ibu Darmi, matanya menatap lurus.
"Ia tidak pernah memilihmu. Ia hanya menuruti permintaan ayahnya. Kalau kamu punya hati, kamu seharusnya mengerti dan tidak membuatnya semakin sulit."
Liana mengepalkan tangan di bawah meja. Dadanya sesak. Ia ingin bilang bahwa ia juga lelah. Lelah berpura-pura kuat. Lelah menjadi boneka di foto keluarga. Lelah dicap tidak pantas hanya karena ia tidak lahir di keluarga yang sama.
Tapi ia tidak bicara.
Karena ia tahu, di rumah ini, suara perempuan desa tidak sekeras nama Wijaya.
Setelah Ibu Darmi pergi, Liana duduk diam. Tehnya sudah dingin sepenuhnya. Di luar jendela, taman yang rapi terlihat terlalu sempurna untuk dihuni manusia yang sedang retak.
Kata-kata Arka dulu yang membuatnya berani datang.
Sekarang, kata-kata Ibu Darmi yang membuatnya berpikir untuk pergi.
Hari berlalu dengan ritme yang sama. Arka tetap sibuk di kantor cabang. Tuan Wijaya tetap sibuk di kantor pusat. Ibu Darmi tetap sibuk menjaga jarak. Dan Liana, tetap sibuk berpura-pura baik-baik saja.
Siang itu, ada tamu penting datang. Istri dari salah satu investor asing. Ibu Darmi buru-buru memanggil Liana.
"Kamu temani aku di ruang tamu. Jangan banyak bicara. Cukup tersenyum dan angguk. Jangan membuat malu nama Wijaya."
Liana mengangguk. Ia berganti kebaya krem yang sudah disiapkan asisten. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya dipulas tipis. Ia terlihat sempurna untuk dilihat, tapi kosong untuk dirasakan.
Saat tamu itu datang, Ibu Darmi memperkenalkannya dengan bangga.
"Ini Liana, menantu saya. Ia membantu mengurus acara amal yayasan kami."
Liana tersenyum. Ia mengulurkan tangan, mengucapkan salam dalam bahasa Inggris yang fasih. Tamu itu terkesan. Ibu Darmi tersenyum tipis, puas karena tidak ada kesalahan.
Tapi begitu tamu itu pergi, senyum itu hilang.
"Kamu beruntung. Kalau tidak, hari ini kamu sudah mempermalukan kami," ujar Ibu Darmi pelan.
Liana hanya menunduk.
Ia tidak marah lagi. Ia lelah marah.
Ia hanya bertanya dalam hati, sampai kapan aku harus membayar kesalahan karena lahir di tempat yang salah?
Malamnya, Liana kembali ke kamar tamu yang dingin. Ia membuka jendela. Angin malam masuk, membawa aroma mawar dari taman. Ia memejamkan mata.
Di luar sana, dunia melihatnya sebagai Nyonya Wijaya.
Di dalam sini, ia hanya Liana dari desa.
Seorang istri kontrak yang tidak pernah diminta hadir.
Dan mungkin, itu adalah beban paling berat yang harus ia pikul.
Lebih berat dari semua kontrak bisnis yang pernah ditandatangani keluarga Wijaya.
Bersambung...