Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.
" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.
Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.
_
Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Slametan gentong ( Abel )
Rumah makan sudah hampir tutup. Agus, Zuan, Nesya yang bersih-bersih.
Sore itu Rosa pake kebaya hitam polos. Nggak ada payet, nggak ada bordir. Tipis, nerawang dikit. Bahannya jatuh.
Lengan panjang, kancing depan sampe leher. Ketat di badan. Biar geraknya nggak ganggu pas ritual nyiram. Bawahannya jarik batik lawas. Motif parang rusak, warna coklat tua sama item.
Rambutnya disanggul kecil, ditarik kenceng sampe nggak ada anak rambut keluar. Ditancepin tusuk konde perak, tapi ujungnya runcing. Kayak senjata kecil.
Kakinya nyeker. Telapak kakinya nginjek lantai semen gudang yang dingin. Kuku kakinya menghitam, nggak pake kutek.
Di leher nggak pake kalung. Cuma ada bekas luka, kayak jeratan lama.
Rosa berdandan kayak orang mau kondangan ke alam kubur. Cantik, rapi, mati. kebaya hitam itu cuma dipake tiap ritual Slametan gentong.
'Ben gentong e seneng. Sing wedok ayu, sing lanang seger. Barange doyan.' Kata Pak Dermawan waktu pertama kali memberikan kebaya hitam kepadanya.
Rosa mengingat ritual pertamanya, yaitu tumbal pertamanya Dinda. Dan dia akan mengulangnya lagi untuk kesekian kalinya sekarang.
Rosa nuntun Abel yang kedua matanya sudah di tutup layaknya sandra lewatin tumpukan karung beras, kaleng bekas minyak, sama kursi patah.
Abel tak melawan namun menangis pasrah. Tubuhnya terlalu lemah. Seolah ada yang merasuki tubuh Abel untuk memudahkannya melakukan ritual.Mulutnya masih di lakban.
Rosa mendorong pintu kamar mandi yang ada di dalam gudang, kamar mandi keramat yang tak sembarang di pakai.
Di dalem kamar mandi, lantainya tanah, berlumut di pinggir. Dindingnya bata merah tanpa acian. Lembab. Bau tanah sama kemenyan apek kecampur.
Di tengah ada bangku kayu pendek. Di depannya ember seng item, udah penuh air kembang. Merah, kentel. Kembang melati, mawar, sama kenanga ngambang.
Di pojok, ada sumur tua. Bibir sumurnya dari batu kali, udah item. Tutupnya kayu jati tebel, diikat rante. Dari celah kayu, kecium bau anyir sama angin dingin yang nggak masuk akal.
Rosa nyalain satu lilin merah. Ditaro di atas bibir sumur. Bayangannya goyang-goyang di dinding.
Rosa buka kancing kebaya hitamnya satu-satu. Cuma bagian lengan. Dilinting sampe siku biar nggak basah. Jarik parang rusaknya dia naikin dikit, diiket. Kakinya nyeker. Kuku itemnya napak lantai dingin.
Abel duduk di bangku kayu. Telanjang dada. Celana kainnya udah dibuka Rosa dari tadi. Badannya gemeter. Matanya kosong, mulutnya ngeces.
Rosa jongkok. Ngambil air pake centong kayu yang biasa dipakai untuk mengaduk kuah di dapur.
Byur...
"Banyu kembang, adus rogo ya..." Rosa membacakan mantra.
Air ngalir dari kepala Abel. Kembang melati nyangkut di alis.
Byur...
Siraman kedua. Airnya makin hitam.
"Utang dunyo, ben ra loro ya..."
Abel berusaha keras ingin membebaskan diri namun dia tak bisa dan hanya memberontak saat di siram. Mulutnya di lakban, matanya di tutup pake kain, tangannya di lakban dan kakinya terasa nyatu dengan tanah.
Sumur di belakang Rosa bunyi.
Gluk... gluk...
Kayak ada yang haus. Rantenya getar sendiri.
Byur...
Siraman terakhir.
Rosa ngelap pelipis Abel pake kain lap yang biasa di pakai untuk melap meja. Melap tubuh Abel yang basah dengan kain lap lainnya yang juga biasa di pakai.
Rosa mengelus rambut Abel yang masih menangis terdengar dari desakan pilunya.
"Turulo, Bel... gentong ngenteni ya." Ucap Rosa lembut mencium kening Abel untuk terakhir kalinya.
_
00.00 WIB.
DI GUDANG BELAKANG RUMAH MAKAN DERMAWAN MARGONDA.
TENG!
Suara lonceng rumah makan berbunyi.
Di dalam gudang, gentong tanah liat, setinggi dada orang dewasa. Mulutnya lebar, muat satu badan. Item, basah, lumutan. Bau anyirnya nyengat sampai ke tenggorokan.
Pak Dermawan berdiri di depan gentong. Pake beskap item, blangkon. Tangannya megang kembang tujuh rupa.
Bu Minah di sebelah gentong. Kebaya putih lusuh, rambutnya diurai. Mulai menari, matanya putih semua, Tariannya patah-patah, kayak wayang putus talinya.
Rosa cuma berlutut. Di tengah, antara gentong sama Abel. Kepalanya nunduk. Kebaya itemnya basah kena keringet dingin. Tangannya gemetar megang mangkok kecil isi garam kasar.
Abel duduk di bangku. Kain yang menutup matanya udah dibuka paksa sama Pak Dermawan. Mulutnya juga. Bekas lakban sobek masih nempel di pipi.
Kedua mata Abel yang sudah sangat bengkak karna menangis terus menerus melihat Rosa yang berlutut dengan matanya terpejam. Liat Bu Minah yang menari muter-muter seolah merayakan sesuatu. Liat Pak Dermawan yang berdiri di depan gentong, mengelusnya dengan hikmat.
Pak Dermawan mulai. Suaranya nembang, "Hong... wilaheng... sekaring bawono langgeng... Sukmo timbal... nyowo bayar..."
Bu Minah jerit. Melengking. Terus ketawa. Tangannya kejang.
Rosa, tanpa di suruh, nyodorin mangkok garam ke Bu Minah. Tangannya nunduk, kayak ngasih sesajen.
Bu Minah nyambar. Sekepel. Matanya nggak kedip natap Abel.
" Makanan Setan!" Teriak Bu Minah kepada Abel yang semakin tersiksa dalam tangisannya namun tubuhnya tak bisa bergerak bahkan mulutnya tak bisa berbicara. Hanya bola matanya yang dapat dia kendalikan.
Prakk!
Garam dilempar ke muka Abel. Masuk mata, masuk mulut yang mangap.
Abel jerit.
Jeritannya keras karena garam.
"Aaaa!" Teriak Abel. Badannya kejang. Tapi tangan sama kakinya nggak bisa gerak. Kayak dipaku ke tanah.
"Manganen, Le... Dosae asin..." Pak Dermawan menarik rante di tutup gentong. Kreeeek...
Tutup kayunya kebuka. Dari dalem gentong, asep item keluar. Bau bangkai, bau darah lama, bau kembang busuk jadi satu. Ada suara ngorok. Berat. Laper.
Abel dipaksa berdiri oleh Pak Dermawan dan melihat ke dalem. Matanya melotot. Dia liat apa, cuma dia yang tau. Tapi dia jerit lebih kenceng. Jerit orang gila. Namun suaranya tak keluar.
TENG...! TENG...! TENG...!
Lonceng nggak tau dari mana bunyi sendiri. Pelan, terus cepet.
Bu Minah kesurupan beneran. Badannya melengkung ke belakang.
"Te...ko... Te...ko...!"
Dia nyekar garam lagi.
Prakk!
Kena dada Abel. Kulit Abel langsung merah kayak kebakar.
Abel meraung. Terus diem. Matanya balik. Putih semua. Tangannya naik sendiri nyekik lehernya sendiri.
"EEKK..!" Suara Abel kehabisan nafas, semakin kuat tangannya mencekik, dan semakin kuat.
Krek... krek... krek...
Kuku Abel nancep ke lehernya. Darah netes ke lantai tanah.
Rosa masih nunduk. Bibirnya komat-kamit, membaca mantra.
Pak Dermawan teriak makin kenceng. "SLAMETAN GENTONG... TUMBAL DADI REJEKI...!!"
TENG!"
Suara lonceng lagi. Begitu keras.
BUG!
Tubuh Abel jatuh. Kepalanya ngegantung. Lidahnya ngejulur. Mati. Dicekik sama badannya sendiri.
Hening sedetik.
Terus dari gentong keluar suara ngisep.
Sruuuup...
Kayak sedotan raksasa.
Jiwa Abel sudah hilang di telan oleh gentong yang masih terbuka.
Rosa berdiri. Dia sama Pak Dermawan segera mengangkat kaki Abel. Bu Minah ngangkat kepala.
1... 2... 3...
Blup!
Abel masuk gentong. Kepalanya dulu. Terus badan. Terus kaki. Muat. Pas.
Gentong goyang.
Gluk... gluk... gluk...
Kayak ngunyah.
Pak Dermawan nutup gentong. Rantenya terlilit sendiri.
Bu Minah langsung rebah. Pingsan. Tariannya selesai.
Rosa jongkok. Ngambil kain lap yang biasa di pakai ngelap meja yang biasa kini dia pakai untuk mengelap darah di lantai. Di gentong, ada rembesan merah netes dari sela kayu. Setetes. Netes. Netes.
Pak Dermawan ngusap keringet. Noleh ke Rosa. Senyum.
"Besok rumah makan bakal lebih rame, lari manis." Ujar Pak Dermawan puas.
Rosa ngangguk. "Nggeh, Pak."
Jam 00:13.
Dari dalem sumur belakang gentong, ada suara kakek-kakek kumur-kumur.
Terus ketawa. "Hik... hik... hik..."
"Eyang Dhahar kesenangan dapat daging muda." Jelas Pak Dermawan.
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪