“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Rania baru saja selesai melipat beberapa helai pakaiannya ke dalam lemari ketika pintu kamar diketuk, lalu didorong terbuka secara kasar.
Harsa masuk dengan wajah yang masih menyiratkan sisa-sisa amarah dari rumah sakit tadi siang. Sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Bagas tampak sudah dibersihkan, meninggalkan bekas lebam keunguan.
“Rania, aku mau bicara sebentar denganmu. Duduklah,” ucap Harsa berjalan mendekati ranjang, menatap istrinya yang masih sibuk membelakanginya.
Rania menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia membalikkan tubuh, menatap Harsa datar tanpa ada ketakutan sedikit pun di matanya.
“Mau bicara apa lagi, Mas? Kalau ujung-ujungnya soal Wulan, maaf, aku malas mendengarnya. Kamu urus saja dia sendiri. Bukankah dia sudah nyaman di kamar tamu lantai bawah?” balas Rania dengan teramat tenang sembari melirik suaminya sekilas, lalu duduk di depan meja rias dan memainkan ponselnya.
“Jangan mulai lagi, Rania! Aku ingin mengajakmu bicara baik-baik malam ini. Kenapa setiap kali aku membuka suara, kamu selalu memancing kemarahanku?”
Harsa melangkah maju dua langkah, lalu dengan cepat merenggut ponsel yang sejak tadi digenggam oleh Rania.
“Memangnya siapa yang sedang kamu hubungi dari tadi? Sampai asyik sendiri di depan ponsel dan mengabaikan suamimu?!”
Harsa yang dirundung rasa curiga mendalam langsung mengecek ponsel Rania, sesuatu yang tak pernah Harsa lakukan sebelumnya sepanjang tiga tahun pernikahan mereka.
Selama ini, Harsa selalu menaruh percaya yang teramat besar pada Rania. Ia tahu Rania adalah wanita penurut yang tidak akan macam-macam. Namun, setelah melihat kedekatan Rania dengan dokter tampan bernama Bagas di rumah sakit tadi, serta bagaimana Jonathan menyindirnya habis-habisan, perasaan Harsa menjadi tidak tenang.
Pikiran-pikiran negatif mulai berkelana liar di isi kepalanya, membakar egonya sebagai seorang kepala keluarga.
“Aku nggak menghubungi siapapun, Mas. Sini, kembalikan ponselku!” ucap Rania, mencoba merebut kembali benda pipih itu.
Jauh di dalam hatinya, Rania menarik napas lega. Beruntung sekali, semua pesan dari Jonathan maupun Tasya soal konsultasi perceraian dan berkas-berkas sakit leukemianya sudah ia hapus beberapa menit yang lalu. Ponsel itu bersih dari jejak medis yang bisa memicu kecurigaan Harsa.
“Bohong!” seru Harsa, mulai meneliti layar ponsel Rania yang masih menyala.
Dahi Harsa seketika berkerut dalam. Alih-alih ruang obrolan dengan pria lain, layar ponsel itu ternyata sedang menampilkan sebuah video aplikasi daring yang terjeda.
Rania baru saja menonton sebuah video motivasi pernikahan tentang hubungan suami-istri, di mana narator di dalam video itu membahas betapa hancurnya hati seorang istri ketika suaminya jauh lebih memedulikan wanita lain ketimbang istrinya sendiri.
Rania tersenyum kecut melihat kerutan di dahi Harsa. Ia memang sengaja membuka video itu saat tahu Harsa mendekatinya. Rania hanya ingin melihat bagaimana ekspresi suaminya. Jika Harsa masih bersikap biasa saja dan menganggap video itu angin lalu, berarti asumsinya selama ini benar, hati Harsa sudah tertutup rapat dan hanya dipenuhi oleh bayang-bayang Wulan serta Gavin.
“Untuk apa kamu menonton video motivasi sampah seperti ini? Sama sekali nggak ada gunanya, hanya merusak pikiran!”
Harsa mendengus kesal, sengaja mengalihkan pembicaraan sembari melempar ponsel itu ke atas kasur. Jauh di lubuk hatinya, ginjal Harsa sedikit tersentil. Kalimat-kalimat dari video itu entah mengapa terasa menampar wajahnya. Tetapi, Harsa buru-buru menepis rasa bersalah itu. Ia merasa tindakannya tidak salah, karena ia sudah terlanjur mengikat janji suci pada Bima untuk menjaga janda dan anak adiknya.
Melihat respon Harsa, kini Rania benar-benar yakin bahwa keputusannya untuk bercerai adalah jalan yang paling tepat. Percuma mempertahankan sebuah rumah tangga jika ada wanita lain yang bertahta di hati suaminya. Meskipun Harsa selalu berdalih itu bukan rasa cinta melainkan tanggung jawab, tetap saja rasanya teramat sakit bagi Rania karena selalu diduakan di setiap keadaan.
“Sekarang, Mas mau bicara apa denganku? Katakan dengan cepat,” ucap Rania sembari menyambar kembali ponselnya dari atas kasur.
Harsa menatap Rania lekat-lekat, menyilangkan kedua tangan di dadanya. “Siapa laki-laki di rumah sakit tadi? Kenapa dia berani memukulku dan bilang kalau dia adalah dokter pribadimu? Sebenarnya kamu sakit apa, Rania, sampai harus punya dokter pribadi?!”
Rania menatap lurus ke dalam manik mata Harsa, lalu menyunggingkan senyum getir.
“Aku sakit hati, Mas!" ceplos Rania.
Harsa mengernyitkan dahi.
“Sakit hati? Karena Wulan lagi? Sudah berulang kali aku bilang padamu, Rania, aku dan Wulan itu tidak ada hubungan apa-apa! Dia hanya—”
“Aku tidak mau mendengarkan penjelasan yang sama berulang kali darimu, Mas. Telingaku sudah panas mendengarnya,” potong Rania cepat, memutus kalimat Harsa yang sudah ia hafal di luar kepala. “Dan untuk menjawab pertanyaanmu, aku tidak punya hubungan spesial apa pun dengan dokter Bagas. Dia murni dokter yang memeriksaku di rumah sakit tadi.”
Harsa tersenyum kecut.
“Memeriksa? Kalau cuma memeriksa, kenapa kalian harus terlihat semesra itu di koridor? Sampai tertawa lepas di depannya?”
Mesra katanya?
Rania rasanya ingin tertawa mendengar tuduhan konyol itu. Bukankah Harsa jauh lebih mesra saat bersama Wulan? Bahkan membopongnya?
“Sudahlah, Mas. Kalau kamu mengajakku bicara malam-malam begini hanya untuk berdebat tidak bermutu dan menuduhku yang tidak-tidak, aku malas. Aku lelah dan mau tidur,” ucap Rania final.
Ia membalikkan tubuhnya, merebahkan diri di atas ranjang dan menarik selimut hingga sebatas dada, membelakangi Harsa sepenuhnya sebagai tanda penolakan.
Harsa berdiri mematung di sisi ranjang. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ada rasa sesak yang asing menjalar di dadanya. Malam ini, ia merasa jarak di antara dirinya dan Rania terasa teramat jauh. Sangat jauh hingga ia merasa tidak lagi mengenali wanita yang berstatus sebagai istrinya ini.
Didorong oleh rasa takut kehilangan yang mendadak menyeruak, Harsa ikut naik ke atas ranjang. Dari arah belakang, ia merapatkan tubuhnya dan memeluk erat pinggang Rania, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri yang terasa dingin.
“Rania... Maafkan aku. Maaf kalau sikapku menyakitimu. Tapi tolong mengertilah, aku tidak bisa mengingkari janjiku pada mendiang Bima. Sampai kapan pun, Wulan dan Gavin akan tetap menjadi tanggung jawabku, Ran. Aku tidak bisa melepaskan mereka.”
Rania memejamkan matanya rapat-rapat Air matanya kembali mengalir tanpa suara, membasahi bantal. Pelukan Harsa yang dulu selalu menjadi tempat ternyamannya, kini terasa seperti tali yang mencekik lehernya perlahan.
Rania menepis pelukan itu dengan kasar hingga terlepas.
“Terserah kamu, Mas. Lakukan apa pun yang menurutmu benar dengan janji sucimu itu. Aku tidak peduli lagi. Karena aku sudah memutuskan, kita akan tetap bercerai. Besok aku akan menemui pengacaraku.”
“Rania!" bentak Harsa, langsung bangkit dan kembali tersulut mendengar kata cerai keluar lagi dari bibir istrinya.
Tok! Tok! Tok!
“Harsa! Harsa! Cepat keluar, Nak! Cepat ke kamar Wulan. Dia menjerit kesakitan!”
Mendengar teriakan ibunya, Harsa seketika menegang. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung melompat turun dari ranjang, bersiap untuk berlari keluar kamar demi menolong adik iparnya.
“Sana, samperin Wulan, Mas. Sekalian saja kamu tidur di kamarnya malam ini. Kelonin dia sampai pagi supaya kakinya tidak bengkak lagi. Bukankah itu bagian dari tanggung jawab besarmu pada mendiang adikmu?”
Harsa sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu dan menoleh sekilas ke arah Rania. Namun, gedoran pintu dari ibunya kembali terdengar, membuat Harsa akhirnya memilih melangkah keluar.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu