Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 5
Apakah salah jika aku berharap kepada keluarga ku sendiri?
Seperti biasa, hari ini aku kembali berangkat kerja setelah kemarin libur.
Kemarin setelah aku mendengar ucapan ibu, aku sadar kalau keluargaku sendiri tak menyayangiku selayaknya keluarga. Mereka hanya butuh tenagaku untuk bekerja.
Kalaupun benar begitu, aku bisa apa? Pergi dari rumah lalu mencari kerjaan yang jauh dari rumah? Memutuskan tali keluarga begitu saja?
Aku tak seberani itu untuk melakukannya. Bahkan tanda pengenal pun aku belum punya karena memang usiaku belum cukup untuk membuatnya. Aku masih takut untuk melakukannya. Entah, nanti kalau aku sudah punya keberanian yang cukup.
"Manda. Maaf mba ga kasih tau kamu kalau hari ini warung ada yang booking nanti siang. Jadi hari ini agak sibuk."
Mba Nia yang sudah repot dengan kerjaannya di warung.
"Sama siapa mba yang booking?" Tanyaku sembari ikut membantu mba Nia.
"Itu, orang yang mau beli tanah."
Aku mengangguk. Sebisaku aku mengerjakan pekerjaan dengan cekatan.
Pukul 11 siang semua sudah matang. Tempat pun sudah di setting sama mba Nia. Katanya lumayan banyak orang nanti yang datang jadi mba Nia juga membuat lesehan. Jaga-jaga karena warungnya juga minim tempat.
"Manda bawakan teko itu ya. Sama pecahin es batu juga."
Aku segera bergegas untuk melakukan apa yang mba Nia suruh.
"Manda! Cepetan! Orangnya udah mau kesini." Itu teriakan mba Nia dari luar warung. Mungkin dia melihat sekelompok orang yang akan datang.
Setelah aku keluar membawa teremos dan teko, benar saja. Mereka sudah datang. Tidak terlihat kendaraan yang mereka tumpangi. Apa mungkin mereka berjalan kaki?
Sekali lihat saja, aku tahu mana orang yang membeli tanah itu. Masih muda menurutku. Bukan bapak-bapak tua dengan perut buncit seperti kebanyakan pejabat di desa ini.
"Manda antarkan ini." Bisik mba Nia disampingku.
Aku menerima nampan berisi mangkok-mangkok bakso. Mengantarkannya dengan hati-hati. Karena menurutku ini cukup berat dan rawan tumpah.
"Bos!Tukang mau ambil dari desa sini apa gimana enaknya?"
Manda mendengar percakapan mereka. Ah! Jika saja dia perempuan pasti akan lebih mudah mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi bukan?
Tapi, kakaknya saja yang katanya sudah mulai mencari pekerjaan tetap saja belum mendapatkan pekerjaan.
"Manda! Kamu tau kan bos muda itu mau bikin toko di desa kita?"
Aku mengangguk. Ibu-ibu yang sering datang ke warung bakso sudah sering bergosip seperti itu.
"Kalau tokonya sudah jadi, kamu buru-buru lamar kerja disana. Bukannya mba mau ngusir kamu biar ga kerja disini lagi. Tapi, katanya gajinya nanti lebih mending dari disini man."
"Baru katanya kan mba. Belum pasti."
Kulihat mba Nia menghembuskan nafas. Lalu berpindah duduk ke depanku.
"Iya man. Tapi siapa tau bener kan? Mba cuma kasian sama kamu. Mba tau kamu benar-benar pengin lanjut sekolah kan?"
Aku menunduk lesu. Dikasihani oleh orang mala nambah membuatku jadi lebih sedih.
"Iya mba. Nanti tolong kabarin lagi aja kalau udah jadi ya."
Tinggal di-iyakan kan? Siapa tau memang rejekiku nanti. Akupun ingin segera melanjutkan sekolah. Tak apa nanti kalau harus kerja juga.
Waktu berlalu begitu cepat. Mungkin karena hari ini warung benar-benar disewa oleh bos muda itu. Mereka duduk di warung sampai sore.
Mba Nia tak masalah. Katanya uang sewanya juga lumayan. Setara ia buka satu hari penuh.
Walaupun pendatang yang lain juga berdatangan. Mereka tak mau makan di tempat. Padahal, bos muda itu bilang tak apa jika ada yang mau makan di tempat, mereka bisa berbagi tapi orang-orang yang segan sepertinya. Para pelanggan yang lain lebih memilih dibungkus.
Mba Nia dari tadi saja senyam-senyum. Aku paham pasti pendapatannya jadi meningkat walaupun pelanggan yang datang tidak ramai.
Akupun ikut senang. Senang karena pasti gajinya juga akan nambah. Walaupun tak seberapa setidak masih sisa untuk ia tabung.
"Biar manda yang angkat mba." Aku mengambil alih ember berisi mangkok dan gelas kotor ke dalam.
Setelah beres pekerjaanku di dalam aku keluar. Keadaan luar warung juga sudah bersih. Mba Nia memang cekatan.
"Ini gaji kamu hari ini. Karena lumayan pendapatannya, jadi ada tambahannya."
Aku tersenyum senang menerima uang dari mba Nia. "Terimakasih mba. Aku pulang dulu ya mba."
Setelah mba Nia mengijinkan, aku bergegas pulang. Mengemasi barang-barangnya terlebih dahulu.
Seperti biasa, sebelum pulang aku membeli nasi. Yap! Tiga bungkus nasi seperti biasa.
Setelah menerima pesananku dan membayar aku bergegas pulang. Bukan karena apa-apa, tapi tubuhku lelah ingin istirahat.
"Assalamualaikum."
Setelah pintu terbuka, aku mendengar perdebatan antara ibu dan kakakku. Apalagi yang sedang mereka ributkan. Gumamku dalam hati.
"Mau cari kerjaan yang bagaimana lagi, Toni? Semua kerjaan ya begitu, capek. Kalau mau ga capek ya bikin usaha sendiri."
Ah! Tentang kakaknya lagi ya.
"Kalau gitu minta duit buat bikin usahaku sendiri."
Ibuku menoyor kepala kakakku. Inginku tertawa terbahak-bahak, tapi kutahan. Pasti kalau aku tertawa bakal memperkeruh keadaan.
"Makanya kerja Toni! Dapet duit baru bikin usaha." Ibu duduk di kursi. Mungkin lelah dengan drama anaknya.
"Manda!"
Aku kena! Aku mendekat pada ibu.
"Carikan kerjaan untuk kakakmu. Ibu sudah capek sekali."
"Kerjaan apa saja?" Aku melirik kak Toni.
"Yaa.. apa saja nanti aku coba."
"Yang niat Toni! Ibu malu kalau kamu cuma kelayapan di rumah!"
"Kenapa ibu harus malu?"
"Kenapa kamu tanya?" Geram ibu. Ya kalau aku jadi ibu yang punya anak seperti kakak juga geram.
"Ya sudahlah bu! Aku capek!" Kak Toni mengakhiri. Tapi sepertinya ibu belum puas mengomel karena dia mengikuti kakakku ke dalam kamar.
Menurutnya, kakaknya ini benar-benar lelaki yang tidak memiliki pikiran seperti lelaki. Dia seperti bocah SD yang masih ingin terus main.
Bayangkan saja kerjaan apa yang tidak membuat capek? Jadi bos pun juga pasti ada lelahnya kan? Buktinya saja bos nya, mba Nia juga malah terlihat lebih lelah dibandingkan dirinya yang sebagai karyawan.
Sudahlah! Aku ingin istirahat. Biarkan besok dia tanya mba Nia lagi apakah ada pekerjaan untuk laki-laki. Mau apa tidak terserah, yang penting dirinya sudah berusaha.
Saat aku sudah selesai bersih-bersih badan, akupun masih mendengar omelan ibunya. Ibunya memang tipe ibu yang cerewet kepada anaknya. Apalagi dengan kakaknya, ibu akan cerewet sekali. Dari dia kecil juga sudah seperti itu.