NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantu dari Masa Lalu

Malam itu, hembusan AC di kamar tamu keluarga Wijaya yang biasanya terasa sejuk, mendadak berubah jadi angin es yang menusuk tulang. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap layar laptop yang masih menampilkan email tanpa nama itu. Kata-katanya pendek, tapi efeknya lebih dahsyat daripada ancaman tuntutan hukum Bimo tempo hari.

"Jangan terlalu senang, Nara. Kontrakmu mungkin aman dari Kakek, tapi tidak dari masa lalumu sendiri."

Aku mencoba mengingat-ingat. Apa yang salah dengan masa laluku? Aku tumbuh di panti asuhan kecil di pinggiran kota, belajar mati-matian untuk dapet beasiswa, dan kerja serabutan sampai akhirnya bisa hidup dari menulis. Standar banget, kan? Nggak ada skandal korupsi, nggak ada catatan kriminal. Lalu, apa yang mereka maksud?

"Nara? Kamu masih melamun?"

Suara Bimo membuyarkan lamunanku. Dia masih di sana, duduk santai sambil menyesap minuman dinginnya. Aku buru-buru menutup layar laptop, berharap gerakanku nggak kelihatan mencurigakan.

"Eh, iya. Cuma mikirin plot buat bab besok," bohongku, lagi-lagi menggunakan alasan 'pekerjaan' sebagai tameng. "Bimo, kamu beneran nggak nemu sesuatu yang aneh waktu nyuruh orang selidiki aku? Kayak... hubungan sama orang-orang tertentu?"

Bimo menaruh botol minumannya di atas nakas, lalu menatapku intens. "Nara, tim keamananku itu sangat detail. Mereka tahu semua tempat tinggalmu sepuluh tahun terakhir, saldo rekeningmu yang sering mepet, sampai nilai skripsimu. Kalau ada yang aneh, aku nggak akan pernah bawa kamu ke sini."

Aku mengangguk pelan, mencoba menenangkan jantungku. "Ya, bener juga sih. Mungkin cuma email spam dari orang iseng yang sirik karena aku deket sama kamu."

Bimo berdiri, berjalan menuju pintu penghubung. "Istirahatlah. Besok kita harus ke panti asuhan tempatmu tumbuh besar. Kakek ingin kita melakukan semacam aksi sosial untuk memperbaiki citra keluarga setelah skandal kemarin. Dia ingin menunjukkan kalau cucunya memilih gadis yang punya jiwa sosial tinggi."

Aku tersentak. Ke panti asuhan? Tempat itu adalah satu-satunya rumah yang pernah kupunya, tapi kembali ke sana dengan status 'tunangan orang kaya' rasanya sangat canggung. Apalagi dengan adanya ancaman misterius ini.

"Besok jam sembilan pagi. Jangan telat," kata Bimo sebelum akhirnya menghilang ke kamarnya.

Keesokan paginya, suasana panti asuhan 'Kasih Bunda' tampak lebih ceria dari biasanya. Spanduk besar bertuliskan ucapan terima kasih kepada Wijaya Group terpasang di gerbang. Aku turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku senang bisa membantu tempat ini, tapi di sisi lain, aku merasa seperti penipu ulung yang sedang memainkan peran.

"Nara! Itu kamu, kan?"

Seorang wanita paruh baya dengan wajah keibuan berlari memelukku. Itu Ibu Sarah, kepala panti.

"Ibu... iya, ini Nara," balasku sambil memeluknya erat.

"Ibu bangga sekali melihatmu di berita. Kamu hebat, bisa mendapatkan pria sehebat Nak Bimo," bisik Ibu Sarah.

Bimo berdiri di sampingku, tersenyum sopan—senyum publiknya yang sangat meyakinkan. Dia menyalami Ibu Sarah dan mulai berbincang tentang bantuan renovasi gedung panti. Aku melihatnya dari kejauhan, merasa sedikit takjub betapa mudahnya dia beradaptasi.

Namun, saat aku sedang membagikan paket buku cerita untuk anak-anak, seorang pria bertopi hitam yang berdiri di luar pagar panti menarik perhatianku. Dia tidak memakai seragam staf panti atau baju dari Wijaya Group. Dia cuma berdiri di sana, menatapku dengan tatapan yang sangat dingin.

Saat mata kami bertemu, dia menunjuk ke arah ponselnya, lalu menghilang di balik kerumunan warga yang menonton.

Aku buru-buru merogoh tasku dan memeriksa ponsel. Ada pesan baru dari nomor yang tidak dikenal.

"Ingat Ayahmu, Nara? Ingat kenapa dia dipenjara? Kalau Bimo tahu kalau tunangannya adalah anak dari pria yang hampir menghancurkan perusahaannya dua puluh tahun lalu, apa dia masih akan tersenyum di sampingmu?"

Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalaku. Ayah? Ibu Sarah selalu bilang kalau orang tuaku meninggal dalam kecelakaan saat aku masih bayi. Itu alasan kenapa aku ada di panti ini.

Tanganku gemetar hebat sampai paket buku di tanganku jatuh berantakan ke tanah. Anak-anak di sekitarku mulai bingung melihatku.

"Nara? Kamu kenapa?" Bimo tiba-tiba sudah ada di sampingku, memegang bahuku.

"Aku... aku cuma pusing. Panas banget di sini," kataku dengan suara yang pecah.

Bimo menatapku curiga. Dia melihat ponsel yang masih menyala di tanganku, tapi aku segera mematikannya. "Ayo masuk dulu. Kita istirahat di dalam."

Di ruang tamu panti yang sederhana, aku terduduk lemas. Bimo menyuruh semua orang keluar agar kami bisa bicara berdua.

"Ada apa sebenarnya, Nara? Jangan bohong. Aku tahu bedanya antara pusing karena panas dan pusing karena ketakutan," tuntut Bimo.

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Haruskah aku jujur? Kalau benar ayahku punya sejarah buruk dengan keluarga Wijaya, ini bukan cuma soal kontrak yang batal. Ini soal nyawa dan reputasi. Tapi kalau aku diam, orang misterius itu akan terus menekanku.

"Bimo... Ibu Sarah bilang orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Apa tim kamu menemukan hal yang berbeda?" tanyaku pelan.

Bimo mengernyit. "Timku menemukan catatan kematian mereka sesuai dengan apa yang kamu tahu. Kenapa? Apa ada yang bilang sesuatu padamu?"

"Ada orang yang kirim pesan... dia bilang ayahku masih hidup, dipenjara, dan dia punya masalah sama keluarga kamu dua puluh tahun lalu," kataku jujur. Aku lelah dengan rahasia ini.

Bimo terdiam. Wajahnya yang tadi terlihat peduli, perlahan berubah jadi sangat serius dan dingin. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Panji, cari arsip lama perusahaan tahun 2005. Cari nama penggelap dana yang melibatkan proyek infrastruktur di Jawa Barat. Dan cari hubungannya dengan Panti Kasih Bunda. Aku butuh datanya sekarang."

Bimo menutup telepon, lalu menatapku kembali. "Kalau ini benar, Nara... kita berdua dalam masalah besar. Kakekku tidak pernah lupa pada orang yang pernah mengkhianatinya. Dan dia pasti tidak akan membiarkan anak dari orang itu masuk ke dalam keluarganya, meskipun cuma kontrak."

Aku menunduk, air mata jatuh ke pangkuanku. "Aku nggak tahu apa-apa, Bimo. Sumpah. Aku baru tahu ini sekarang."

Bimo mendesah panjang. Dia berjalan mendekat dan, untuk pertama kalinya, dia melakukan sesuatu yang tidak ada di dalam kontrak: dia menarikku ke dalam pelukannya. Bukan pelukan akting, tapi pelukan yang terasa seperti dia sedang berusaha menahan badai agar tidak menghancurkanku.

"Tetap diam. Jangan balas pesan itu. Biar aku yang urus," bisiknya.

Tapi di balik bahu Bimo, aku melihat ke arah jendela. Pria bertopi hitam itu kembali muncul, kali ini dia memegang sebuah map besar dan melambaikannya ke arahku dengan senyum kemenangan.

Aku menyadari, bab tentang cinta kontrak ini baru saja berubah menjadi cerita investigasi masa lalu yang sangat kelam. Dan sebagai penulis, aku tahu satu hal pasti: karakter utama biasanya harus kehilangan segalanya sebelum mereka menemukan kebenaran.

Apakah aku siap kehilangan Bimo sebelum aku benar-benar memilikinya?

Aku melepaskan pelukan Bimo perlahan. "Aku harus menemui dia, Bimo. Dia ada di luar."

"Jangan gila, Nara!"

"Dia punya bukti! Kalau kamu yang maju, dia bakal kabur. Biar aku yang samperin dia," aku nekat. Aku tidak mau hidup dalam ketakutan.

Aku berlari keluar panti, mengabaikan teriakan Bimo. Aku mengejar pria bertopi hitam itu ke arah gang sempit di samping panti.

"Siapa kamu?!" teriakku saat sudah berada di belakangnya.

Pria itu berbalik. Dia melepaskan topinya, menunjukkan wajah yang penuh bekas luka bakar. "Kamu mirip sekali dengan ibumu, Nara. Terlalu berani... dan terlalu bodoh."

Dia menyodorkan map itu padaku. "Baca ini. Dan putuskan sendiri, apakah kamu mau tetap tinggal di rumah pria yang ayahnya sudah membunuh ayahmu di penjara?"

Duniaku runtuh seketika. Bukan ayahku yang mengkhianati Wijaya, tapi keluarga Wijaya yang menjebak ayahku?

Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi terdengar mendekat. Pria itu tersenyum kecut. "Bimo memang cepat. Tapi kebenaran jauh lebih cepat, Nara."

Pria itu lari menghilang di gang-gang sempit tepat saat Bimo dan Panji sampai di lokasiku. Bimo melihat map di tanganku, wajahnya tampak sangat pucat.

"Nara, berikan map itu padaku," perintah Bimo dengan nada memohon yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Aku memeluk map itu erat-erat. "Kamu sudah tahu, kan? Kamu tahu sejarah ini, makanya kamu pilih aku? Kamu pilih aku karena kamu merasa bersalah?"

Bimo tidak menjawab. Kebisuannya adalah jawaban yang paling menyakitkan yang pernah kuterima sepanjang hidupku.

Aku mundur selangkah, menatap pria di depanku seolah dia adalah orang asing yang paling berbahaya di dunia. "Jangan mendekat, Bimo. Kontrak kita... selesai sampai di sini."

Aku berbalik dan berlari sekencang mungkin, membawa rahasia yang sanggup menghancurkan kerajaan Wijaya dalam semalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!