NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

My Cute Boyfriend

KRINGGGG!!!

JAM istirahat kedua belum genap lima menit, tapi ruangan OSIS SMA Nusa Cendekia sudah full sesak oleh pengurus OSIS yang rapat.

Di sudut ruangan, proyektor menyala menampilkan slide presentasi rapi dengan Aelira—Ketua OSIS—memimpin rapat.

“Guys, kita semua tahu event ini penting. SMA Nusa Cendekia akan menjadi tuan rumah, dan kita bakal kedatangan atlet-atlet dari berbagai sekolah besar. Turnamen ini bukan cuma ajang buat lomba, tapi juga pembuktian kita sebagai sekolah unggulan—terutama karena GOR kita satu-satunya di Jakarta yang memenuhi standar internasional yang menjadi kebanggaan Nuski.”

Beberapa pengurus mengangguk pelan.

Layar menampilkan rundown acara, sistem teknis, serta pembagian tugas panitia.

“Pastikan semua dekorasi selesai H-1. Konsumsi dan keamanan sudah konfirmasi. Tolong jaga nama baik sekolah, ya! Kita harus kasih kesan terbaik ke semua peserta dan tamu yang hadir.”

Suasana mulai hening dan fokus tertuju pada Aelira yang bicara dengan nada mantap.

“Kalau ada kendala, sampaikan langsung ke gue atau Adit—wakil Ketua OSIS. Jangan ditunda!”

"SIAP." Jawab mereka kompak.

Aelira menutup pointer, menatap mereka sekali lagi.

“Oke. Segitu dulu. Thanks udah hadir. Rapat selesai.”

“AELIRAAAAAA~!” seru Ziva.

Aelira menoleh kaget. “Astaga, lo ngagetin banget sih!”

Ziva nyengir lebar. “Nih, titipan seseorang yang sok-sok nggak peduli tapi beliin makan buat lo.”

Aelira memicingkan mata. “Seseorang?”

Ziva meletakkan kantong itu di meja Aelira dan menyodorkan catatan kecil.

"Yoi. Dari pujaan hati lo."

Aelira membuka lipatan kertas kecil itu. Tulisan tangan khas Ravian tertera di sana.

"Makan! Kalau lo pingsan lagi, bukan gue yang angkat. Tapi cowok lain. Mau?"

Aelira mengerjap.

“AW, romantis juga dia.” Ziva tersipu sendiri. “Dah ah, gue tinggal dulu. Gue belum sempat ke kantin soalnya.”

“Iya, makasih ya, Ziv.”

"Wokay." Ziva melambai dan keluar dari ruangan.

Aelira mengeluarkan isi kantong itu—sekotak nasi goreng dan teh kotak favoritnya.

Lalu dia memotretnya.

Aelira: [Send a photo]

Aelira: Ini dari kamu?

Pesan belum dibaca beberapa detik lalu centang biru.

Ravian: Nggak ngerti lo ngomong apaan.

Aelira terkekeh sambil menggeleng pelan.

Ravian: Nggak usah ketawa. Jelek.

Aelira spontan langsung menoleh ke arah jendela ruangan OSIS—dan di kejauhan, di bangku taman luar, ia melihat Ravian duduk sambil menunduk menatap HP-nya.

Aelira membuka jendela sedikit dan tersenyum.

Aelira: Makasih, ya! ^^

Ravian: Lo utang cium.

Aelira spontan terbatuk keras, nyaris tersedak meskipun mulutnya kosong. “Gila!”

Matanya menyipit ke arah jendela lagi. Ravian masih di sana, dan malah menyeringai nakal, mengangkat alis sambil menggerakkan bibir.

“Makan.”

Aelira mencibir malas.

"KAK RAVIAAAAANNN!!!"

Teriakan histeris cewek-cewek dari lapangan terdengar. Mata Ravian langsung melebar. Ia menoleh cepat—dan mendapati sekelompok siswi SMA berlari ke arahnya.

"KAKK!!! FOTO SATU DETIK AJA PLISSS!!!"

"Kak, minta nomor HP-nya!"

Ravian langsung bangkit dan kabur sekencang-kencangnya.

Aelira melihat semuanya dari balik jendela ruang OSIS, lalu tertawa kecil.

“Dasar.”

---

Aelira melangkah keluar dari ruang OSIS. Ia berjalan di lorong samping dan menggandeng Ziva—yang sudah menyerocos heboh soal Idol K-Pop.

“Sumpah ya Eli, kalau gue berhasil kawin sama Kim Mingyu, gue bakalan nraktir lo bakso Aci se-ember. Seriusan.”

"Stop halu!" Aelira menatapnya lelah.

"Gue nggak halu."

Pandangan Aelira mulai terganggu oleh suara-suara dari arah lapangan.

Teriakan kecil. Tawa cewek-cewek. Suara gitar samar yang menghibur para penggemarnya.

Para gadis-gadis menatap Ravian jatuh cinta.

"OMG suaranya bikin gue meleleh."

"KAK RAVIAN!!! Gue nggak kuat!!"

"Suara dia tuh kayak obat stres gue sumpah!!"

"Gila tuh fans cewek-cewek bisa ngerubung secepat ini..."

Aelira hanya berdiri di lorong, tidak ikut maju.

"Lo yakin nggak cemburu apa Eli, cowok lo di pepetin cewek-cewek gitu?" heran Ziva.

Aelira melirik. "Biarin aja. Itu kan fans dia, bukan selingkuhan."

"Ya iya, sih. Tapi masa sih, lo biasa aja cowok lo dideketin mereka??? Kalau Ravian naksir salah satu dari mereka gimana coba?"

Aelira merapatkan bibir.

Mata Ravian sempat menyapu kerumunan—hingga tatapannya berhenti ke arah koridor.

Mereka saling bertatapan.

Hanya sepersekian detik.

Ravian tidak tersenyum. Tapi dia sempat mengedipkan sebelah mata genit ke arahnya, lalu kembali menunduk memainkan gitarnya.

"Gue percaya dia. Ayo!"

Aelira menarik tangan Ziva dan meneruskan langkah. Dia sempat membalas beberapa sapaan junior atau senior dengan ramah.

"Eh Ziv—gue ke toilet dulu, ya! Lo duluan aja ke kelas nanti gue susul."

"Oke, deh. Bye!"

Mereka berpisah di belokan dan Aelira memasuki toilet.

---

Setelah selesai, Aelira beranjak keluar—namun tangannya tiba-tiba ditarik dari samping.

"Eh?!"

Dia nyaris terseret ketika seseorang menariknya cepat ke arah belokan koridor belakang yang sepi.

"Ravian?? Kamu ngapain sih—"

"Lo udah senyum ke empat cowok hari ini. Termasuk satpam." Nada suaranya tajam.

Aelira melotot heran. "Satpam aja kamu cemburuin?!"

Ravian mendesah kasar. "Dia tetep cowok."

"Pak Kamal bahkan udah punya cucu." Aelira gatal sekali ingin mencekiknya.

"Gue nggak peduli. Gue tetep marah." Lalu Ravian mencolek dagu Aelira dan berdiri semakin dekat.

Gadis itu bisa mencium aroma parfum Ravian—campuran kayu sandal dan jeruk yang khas. Matanya yang gelap menatap Aelira dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya merinding, tapi juga anehnya... membuatnya merasa aman.

"Nggak ada yang boleh nikmatin senyum lo selain gue. Paham?"

Aelira hanya bisa menutup wajah memakai tangannya—jengah. "Kamu tuh lebay banget, sih? Masa gara-gara senyum?!"

"Oh, berani ngelawan gue? Mau gue cium lo sampai nangis di sini...?"

"Enggak gitu..." cicit Aelira menatapnya horor.

Ravian mengangkat alis—sinis. Tangannya yang satu bersandar di tembok di samping kepala Aelira—wall position sempurna yang membuat Aelira benar-benar terkurung.

Detak jantung Aelira berdebar kencang. Bukan karena takut—tapi karena Ravian terlalu dekat, terlalu hangat, dan terlalu... Ravian.

Lalu, dengan gerakan cepat, Aelira menangkup pipi Ravian dengan dua tangan—menekan-nekan pipinya hingga bibir cowok itu mencuat ke depan seperti ikan Koi yang lucu.

"Upuun suh lu?" Ravian melotot geram, tapi suaranya terdengar lucu karena bibirnya maju.

Bibirnya mengerucut tidak karuan. Alisnya bertaut, tapi gagal terlihat galak karena pipinya yang ditekan membuat wajahnya menggemaskan.

Aelira hampir tertawa.

"Arvergan Possessive Boyfriend," panggil Aelira dengan nada yang ditekankan. "Dengerin aku dulu, ya! Oke?"

Ravian kali ini diam. Mengerjapkan mata satu kali—lalu dua kali. Wajahnya berusaha tetap datar, tapi telinganya sudah memerah merona.

Aelira melanjutkan, suaranya lembut tapi tegas. "Nggak ada cowok berani deketin aku. Soalnya pacar aku galak kayak macan. Dan aku nggak bakalan selingkuh karena aku nggak punya energi buat jatuh cinta—soalnya hidup aku udah capek banget ngurusin kamu. Trust me!"

Ravian mengangkat alis. Bibirnya yang tadi sempat mencuat karena pipinya ditekan—tiba-tiba sedikit tertarik naik.

Tersenyum kecil.

Nyaris tidak kentara.

Tapi Aelira melihatnya.

Aelira mencibir. "Itu senyum, ya?"

Senyum Ravian langsung memudar, berganti ekspresi jutek. "Nggak. Lo halu."

Aelira terkekeh. "Iya, deh. Padahal barusan udah senyum-senyum kayak orang habis dikasih permen..."

"Gue nggak."

"Iya, kamu nggak."

"Beneran nggak."

"Iya, beneran nggak."

Ravian mendengus kesal—tapi ujung bibirnya kembali naik sedikit. Dia menunduk, menyembunyikan senyumnya dengan menatap lantai.

Kenapa sih cewek ini bisa bikin gue lumer kayak es krim? batin Ravian.

"Pokoknya lo jangan senyum ke cowok lain," gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar—seperti anak kecil yang merengek.

Aelira menahan tawa. "Iya, Vano."

"Panggil gue Vano juga nggak akan membuat gue luluh."

"Tapi pipi kamu merah."

"ITU KARENA PANAS."

"Panas dalam ruangan?"

Ravian menghela napas frustasi. Dia meraih tangan Aelira—tangan kecil yang hangat itu—dan menggenggamnya erat. "Gue capek, Eli. Hari gue melelahkan."

"Kenapa?"

"Karena dari tadi pagi gue nyari-nyari lo. Tiap kali ada yang mirip-mirip lo dari belakang, gue datengin. Ternyata bukan. Sepuluh kali, Eli. Sepuluh kali gue kecewa."

Aelira terdiam.

Ravian melanjutkan, "Dan ketika gue akhirnya nemu lo di ruang OSIS lewat jendela, lo malah sibuk rapat galakin anggota OSIS yang notabene cowok semua. Lo terlihat luar biasa... dan gue cuma bisa liat dari kejauhan."

"Van..."

"Dan sekarang, setelah seharian berusaha jadi Ravian yang fans inginkan—gue cuma pengin jadi Ravian yang lo inginkan." Dia menatap Aelira lurus. "Yang boleh ngelus rambut lo. Yang boleh megang tangan lo. Yang boleh denger lo bilang 'aku sayang kamu'."

Aelira menggigit bibir. Hatinya meleleh. "Tadi aku udah bilang, kok."

"Bilang lagi."

"Aku sayang kamu."

"Kurang keras."

Aelira mendelik. "Ravian, kita di sekolah!"

"Gue nggak peduli." Ravian mendekatkan wajahnya. "Bilang lagi."

Aelira menghela napas. Lalu, dengan suara pelan tapi jelas, "Aku sayang kamu, Ravian."

Ravian diam sejenak. Matanya berbinar. Tapi ekspresinya tetap berusaha datar—meskipus jarimu.

"Utang lo bertambah."

"Hah? Utang apa?"

"Utang cium. Sekarang jadi dua."

Aelira spontan memukul dada Ravian. "Gila lo, Vano!"

Ravian tertawa—tertawa sungguhan, suaranya berat dan hangat. Matanya menyipit bahagia. Wajahnya yang biasanya dingin dan jutek kini berubah menjadi sesuatu yang sangat langka: Ravian yang bahagia.

"Gue suka liat lo gemas," katanya. "Muka lo merah, napas lo ngos-ngosan, dan lo nggak bisa kabur karena gue pegang tangan lo."

"Lepas!"

"Nggak mau."

"Ravian!"

"Nggak. Mau." Ravian menggenggam lebih erat. Jempolnya mengusap punggung tangan Aelira pelan. "Gue mau gandeng lo balik ke kelas."

"KAMU GILA! Nanti dilihat orang!"

"Biarkan." Ravian mengangkat bahu. "Gue mau semua orang tahu lo punya gue. Dan gue punya lo."

Aelira hampir menangis—antara kesal dan haru. "Kamu tuh..."

"Cute boyfriend lo?" Ravian menyeringai.

Aelira membuang muka, tapi sudut bibirnya naik. "Dasar."

---

Ravian berbalik pergi—setelah melepas tangan Aelira, tapi tidak setelah mencubit pipinya pelan.

"Nggak usah geer."

Aelira mengusap pipinya. "Buat makanannya tadi, makasih, ya! Aku suka."

Ravian menghentikan langkah dan berbalik lagi—menatapnya tajam dengan mata menyipit. "Pede. Gue kasih ke elo karena nggak suka makannya." Ketusnya mengelak, tapi telinganya merah.

"Iya, aku percaya." Aelira mengangguk dengan senyuman.

Dia berbalik badan ke arah berlawanan dengan Ravian—melangkah tiga langkah... lalu berhenti.

"Ravian!"

Cowok itu masih berdiri di tempatnya sambil mengangkat alis. "Apa?"

"Aku sayang banget sama kamu!" kata Aelira tulus—matanya berbinar, senyumnya lebar, dan pipinya merona.

Garis wajah Ravian berubah seketika. Bibirnya tertarik membentuk seringai—tapi matanya... matanya meleleh. Dadanya terasa hangat. Seluruh kelelahan hari ini sirna dalam sekejap.

"Kenapa nggak sekalian cinta?" tanyanya—nada suaranya sedikit bergetar.

Aelira hanya tersenyum—tersenyum misterius yang membuat jantung Ravian berdebar tidak karuan. Gadis itu melambai kecil, lalu berbalik. Raut wajah Ravian berubah kesal—bukan kesal sungguhan, tapi kesal karena dia tidak mendapat jawaban yang dia inginkan.

"Kapan lo cinta gue?" tanya Ravian serius—kali ini suaranya tegas.

Aelira berhenti. Menoleh sedikit. "Emang kamu cinta aku?"

Alis Ravian terangkat tinggi. Bibirnya terbuka setengah, lalu tertutup lagi. Lalu mendengus kasar. "Nggak, sih."

"Yaudah." Aelira menggeleng geli. "Aku duluan ke kelas, ya! Bye!"

Gadis itu melangkah pergi—meninggalkan Ravian yang berdiri membatu di lorong sepi.

Ravian mendesah kasar. Tangannya mengepal sambil tersenyum sinis.

"Kirain mau bilang cinta," gumamnya pelan.

Dia mengusap wajahnya—masih hangat. Jantungnya masih berdebar. Dan senyuman bodoh itu masih menempel di wajahnya, tidak mau pergi.

"Cute boyfriend, katanya?" Dia menggeleng pelan—tapi senyumnya melebar. "Dia bilang aku cute..."

---

Sore harinya...

Aelira melompat turun dari motor Vespa Pink-nya dan langsung berlari memasuki warung makan Ayam Bakar Madu 88.

Sambil mendekati kasir—ia mengeluarkan ponselnya dengan napas memburu.

Ravian: Ayam bakar madu dua, sambel dipisah. Jangan lupa es jeruk, bukan teh. GUE BILANG JANGAN TEH.

Ravian: Kalo sambel lu lupa lagi, mending lo balik ga usah bawa apa-apa. Ngerti?

Jari-jarinya mengetik cepat sambil mengangguk ke pegawai warung.

"Mba, ayam bakar madu dua, sambel dipisah, es jeruk dua."

"Siap, Kak."

Ponselnya bergetar lagi.

Ravian: Cepet pulang. Gue laper.

Ravian: Dan kangen.

Ravian: Yang kedua jangan lo baca.

Aelira tertawa kecil—menatap layar dengan hati berdebar bahagia. Dia membalas pesan terakhir Ravian.

Aelira: Maaf, udah kebaca. 😊

Ravian: Sial.

Ravian: Lo utang tiga.

Aelira menggeleng—tapi senyumnya tidak bisa hilang. Dasar Vano.

"Pesanan Kakak sudah siap," kata pegawai warung.

"Ah, iya. Makasih ya, Mba."

Aelira meraih dua bungkus plastik besar—aroma ayam bakar madu langsung menyengat harum. Dia melangkah cepat ke luar warung, meletakkan pesanan di keranjang vespa, lalu duduk di atas jok.

Ponselnya bergetar lagi.

Ravian: Udah beli?

Aelira: Udah. OtW.

Ravian: Jalan pelan-pelan. Jangan ngebut.

Ravian: Kecelakaan dikit, lo gue kurung di rumah seumur hidup.

Aelira menghela napas—tapi tersenyum.

Aelira: Iya, Vano.

Ravian: Jangan panggil Vano kalo nggak ada di depan gue.

Aelira: Kenapa?

Ravian: Karena gue jadi pengen peluk lo. Sekarang.

Aelira memejamkan mata—menahan rasa hangat yang menyebar di dadanya.

"Dasar cowok nyebelin," gumamnya.

Tapi vespa pink itu melaju pelan—mengikuti perintah Ravian. Jalan pelan-pelan. Hati-hati.

Karena di rumah, ada seseorang yang menunggu.

Bukan hanya untuk makan malam.

Tapi untuk pelukan yang sudah ditahan seharian.

Aelira: Van.

Ravian: Apa?

Aelira: Aku juga kangen.

Ravian: ...

Ravian: Jangan baca.

Ravian: Gue juga sayang lo.

Aelira menatap layar—lalu tertawa kecil.

Ponselnya dimasukkan ke saku. Vespa pink melaju di jalan senja.

Dan di rumah, Ravian berdiri di depan pintu—menunggu.

Tangan di saku celana. Wajah datar.

Tapi matanya... matanya bersinar seperti anak kecil yang menunggu hadiah Natal.

Cepat pulang, Eli.

Gue nggak tahan sendirian lagi.

1
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Sampai tamat💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
mampir kesini Thor
anggita
novel baru👌moga lancar.
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat nulisnya kak /Smile//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!