NovelToon NovelToon
CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Office Romance
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!


Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.

Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.

Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.

Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.

Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. TUDUHAN

Ruangan itu kembali sunyi sesaat setelah Aiden menerobos masuk dengan napas terengah. Namun kesunyian itu tidak pernah benar-benar tenang, ia hanya jeda sebelum badai berikutnya.

Theo berdiri di tengah ruang kesehatan, tubuhnya tegak, wajahnya datar, tetapi ada kilatan tidak sabar di balik tatapan gelapnya.

Celina masih duduk di ranjang pemeriksaan, jari-jarinya menggenggam ujung seragam abu-abunya erat, seolah kain itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam pusaran masalah yang datang bertubi-tubi.

"Ada laporan apa lagi?" tanya Theo dingin.

Aiden mengusap keningnya, jelas kelelahan bercampur panik.

"Saat aku mengecek CCTV untuk memastikan kejadian di divisi keuangan tadi, aku melihat keributan lain. Di divisi IT," jawab Aiden.

Theo menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. "Keributan apa?" tanyanya kembali.

Aiden menoleh sekilas ke arah Celina, ragu, lalu kembali menatap Theo. "Cedric mengamuk," jawabnya.

Nama itu membuat alis Theo sedikit terangkat.

"Ketua IT?" konfirmasi Theo.

"Iya," jawab Aiden. "Katanya ... seseorang menghapus rumus coding untuk proyek baru. Di papan tulis ruangannya," sambungnya.

Ruangan terasa semakin sempit.

Theo perlahan menoleh ke arah Celina.

Tatapan itu tajam, dingin, dan penuh tekanan, membuat jantung Celina berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang berubah di udara. Baru beberapa menit lalu Theo memeringatkan gadis itu. Baru saja ia mengatakan tidak ingin mendengar keributan atas nama Celina lagi.

Dan kini ...

"Aiden," kata Theo pelan tanpa melepaskan pandangan dari Celina, "siapa yang dituduh?"

Aiden terdiam sepersekian detik. "Office Girl, Celina Dawson."

Kata itu jatuh seperti palu.

Celina refleks berdiri.

"Apa?" suara Celina meninggi tanpa ia sadari. "Tidak! Aku tidak-"

Theo mengangkat tangannya, menghentikan Celina bicara lebih jauh lagi.

"Kita belum menyimpulkan apa pun," ucapnya dingin. "Ceritakan kronologinya."

Aiden mengangguk lalu menjelaskan, "Setelah aku melihat CCTV divisi IT, aku langsung ke sana. Cedric benar-benar kehilangan kendali. Papan tulisnya bersih. Semua rumus algoritma inti proyek hilang. Dan menurut beberapa staf, yang terakhir masuk ke ruangan itu adalah Celina."

Theo memejamkan mata sesaat.

Hanya sesaat untuk mengambil napas dan memberi jeda untuk otaknya agar berpikir tenang.

Seolah hari ini Tuhan sedang menguji Theo dengan satu nama yang sama, berulang-ulang.

Celina menatap Theo, matanya membesar.

"Aku disuruh," kata Celina cepat, suaranya bergetar. "Aku disuruh menghapus papan tulis itu. Aku bersumpah."

Hening.

Theo membuka mata, menatap Celina lurus.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Theo.

"Seseorang dari divisi IT," jawab Celina. "Waktu aku mengepel lantai."

Theo menghela napas panjang. Tangannya terangkat, memijat pelipisnya.

"Baik," kata Theo akhirnya. "Kita tidak akan berdebat di sini."

Celina sedikit gugup sekarang karena masalah yang bertubi-tubi hari ini.

Theo menoleh ke Aiden. "Kita ke ruang monitoring."

Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju ke ruang monitoring untuk mendapatkan kebenaran.

Ruang monitoring berada di lantai bawah, dingin dan temaram, dipenuhi layar-layar yang menampilkan sudut-sudut gedung Morelli Corporation. Lampu LED biru menyala redup, membuat suasana terasa seperti ruang pengakuan dosa, tempat di mana kebohongan sulit bersembunyi.

Theo berdiri di tengah ruangan, Aiden di sampingnya, sementara Celina berdiri sedikit di belakang, kedua tangannya saling menggenggam.

"Kapan kau disuruh menghapus papan tulis itu?" tanya Theo tanpa menoleh.

Celina menarik napas dan menjawab, "Sekitar setengah jam sebelum aku masuk ke ruang rapat pagi tadi. Waktu aku membawa kopi dan snack."

Aiden mengernyit. "Setengah jam sebelum rapat?"

Celina mengangguk.

"Rapat itu ... hampir dua jam berlangsung, kan?" ucap Aiden.

Theo menoleh tajam ke arah Aiden. "Siapa saja yang ada di rapat pagi?"

Aiden menjawab cepat, "Semua ketua divisi. Termasuk Cedric."

Hening.

Theo menatap layar monitor. "Putar rekaman divisi IT. Waktu itu," perintah Theo

Aiden segera bekerja, menyuruh operator CCTV untuk melakukan apa yang diperintahkan.

Layar berganti. Sudut kamera menampilkan lorong divisi IT. Waktu di pojok layar menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas pagi.

Dan di sanalah Celina terlihat.

Gadis itu sedang mengepel lantai, gerakannya teratur, kepalanya sedikit tertunduk. Beberapa staf IT berlalu-lalang tanpa memerhatikannya.

Kemudian ... seorang pria menghampirinya.

Celina mencondongkan tubuh ke layar.

"Itu dia. Dia yang bicara padaku," beritahu Celina seraya menunjuk layar.

Dari rekaman CCTV, pria itu berdiri di sisi Celina, berbicara singkat. Tidak terdengar suara, hanya gerakan tangan yang menunjuk ke arah ruangan Cedric.

Celina di rekaman itu mengangguk.

Lalu ia berjalan menuju ruangan ketua IT.

Papan tulis terlihat jelas di kamera kedua. Celina masuk, berdiri cukup lama di depan papan tulis sebelum akhirnya mengambil penghapus, dan dengan gerakan ragu, namun tetap patuh, menghapus papan tulis itu.

Satu baris.

Dua baris.

Semua rumus hilang.

Setelah itu, Celina keluar, kembali mengepel lantai, seolah tidak ada yang terjadi.

Rekaman berhenti.

Ruangan monitoring sunyi mencekam.

Theo memijat kepalanya lebih keras.

"Kenapa aku terus berurusan denganmu hari ini?" gumam Theo pelan.

Celina menunduk, ia sendiri tidak tahu kenapa hari ini seperti hari sial untuk gadis itu. Ia ingin membela diri, tapi fakta di layar terlalu jelas, ia memang yang menghapus papan tulis itu.

"Bukan salahnya," kata Aiden akhirnya. "Dia jelas disuruh."

Theo menegakkan tubuh. "Kita ke divisi IT," kata Theo akhirnya.

Suasana di antara Theo, Celina, dan Aiden benar-benar tegang dan dingin. Membuat Celina seperti hendak berjalan menuju ke hukum pancung.

Setibanya di tempat tujuan ....

Divisi IT lebih ramai dari biasanya.

Begitu Theo, Aiden, dan Celina melangkah masuk, suasana yang tadinya riuh langsung berubah tegang.

Cedric Sanders berdiri di tengah ruangan, rambut gondrongnya diikat asal, rahangnya mengeras. Begitu melihat Celina, matanya langsung menyala.

"Itu dia!" seru Cedric langsung.

Dalam hitungan detik, Cedric melangkah maju dan mencengkeram kerah seragam Celina.

"Kenapa kau menghapus papan tulisku?!" bentak Cedric.

Celina tersentak, napasnya tercekat.

"Cedric!" Theo bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan sang Ketua IT yang juga adalah sahabat baik Theo itu dan mendorongnya mundur. "Tenang!"

Cedric menoleh ke arah Theo, napasnya memburu.

"Kau tahu apa yang dia hapus? Itu inti proyek, Theo! Minggu-minggu kerja!" seru Cedric yang sepertinya memang telah kehilangan ketenangannya.

"Aku tahu," jawab Theo tegas. "Dan aku juga tahu dia disuruh."

Cedric membeku. "Apa?"

"Aku sudah cek CCTV," lanjut Theo. "Celina tidak bertindak atas inisiatif sendiri."

Cedric menoleh tajam ke arah Celina. "Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya.

Celina menelan ludah, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk seseorang.

"Dia yang menyuruhku," tunjuk Celina.

Semua kepala menoleh.

Johan, pria berusia sedikit lebih tua dari Cedric itu kini membeku di tempatnya.

Cedric berbalik, mencengkeram kerah baju Johan dengan amarah yang jauh lebih mengerikan.

"Kenapa kau menyuruh office girl menghapus papan tulis itu?! Kau tahu aturannya! Sejak dulu, tidak ada yang boleh menyentuh papan tulisku!" bentak Cedric.

Johan menepis tangan Cedric. "Aku tidak pernah menyuruhnya menghapus papan tulis!Aku hanya bilang bersihkan ruangan dari sampah!"

Celina langsung menyela, suaranya gemetar namun tegas. "Tidak! Kau jelas bilang hapus papan tulis itu!"

Johan menoleh tajam. "Jangan memfitnah! Aku tidak mungkin sebodoh itu!" katanya.

Celina menggeleng kuat. "Aku tidak mungkin berani menyentuh apa pun di ruangan karyawan tanpa disuruh! Aku cuma office girl! Aku tahu batasanku!" balas Celina.

Keributan kembali pecah.

Suara-suara mulai meninggi. Staf IT berbisik. Tatapan-tatapan ragu tertuju pada Celina, sebagian percaya, sebagian mencurigai.

Gadis itu berdiri di tengah ruangan, sendirian.

Tidak ada bukti suara.

Hanya rekaman bisu.

Dan dua versi cerita yang saling bertabrakan.

Theo menatap mereka semua, rahangnya mengeras.

Satu hal jelas bagi Theo.

Hari ini bukan sekadar hari sial bagi seorang office girl bernama Celina Dawson.

Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Hal yang akan disadari oleh Theo nanti.

Namun untuk sekarang ...

Siapa yang berbohong; Johan, atau Celina?

1
Miss Typo
beritahu ayahmu Theo, biar langsung bertindak .
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
Archiemorarty: Jari othor sudah menyerah 😂
total 2 replies
Endah Lestary
ceritanya masuk akal .. penuturannya tidak membosankan...👍👍👍👍👍💝
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
q bacane dredeg thoooorrrr😟😟😟😟
Archiemorarty: Apa itu tenang soalnya 🤭
total 1 replies
Miss Typo
Theo pawangnya Celine 😁
Miss Typo
hayo lho hati² dgn Cedric ya Celine 🤣
A R
aduhh leo lucy diculik
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙘𝙧𝙖𝙯𝙮 𝙪𝙥 𝙩𝙝𝙤𝙧🤣🤣
mimief
ehhh...kata orang Betawi juga
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
Archiemorarty: Mereka yang mulai jadi harus siap adu jotos 🤭
total 1 replies
mimief
ga seruu dia, mainya aduan 😌🫣🤣
Archiemorarty: Kan kan 🤣
total 1 replies
mimief
🤣🤣🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
Archiemorarty: Siapa yang ngajarin dia hayo 🤭
total 1 replies
mimief
kelamaan di sekep sama keluarga Lorenzo begini ni...
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
Archiemorarty: Agak laen emang keluarga satu ini 🤣
total 1 replies
Miss Typo
karna keahlian kepintaran Celine
PengGeng EN SifHa
akhirnya...ADA TOMMY & JERRY kwwkwkkwkwkwkw


bagus

bagus

bagus

bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
Archiemorarty: selalu seru kalau udah ada yang modelan Tom Jerry itu ya 🤣
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
A R
😂😂😂
Wulan Sari
waaaah cerita ini sangat menarik dan selalu biat penasaran intrik2 di Kantor selalu ada yg berbuat jahat semoga nanti akhir cerita bahagia CEO nya dan tukang bersih2 yg nyamar, happy end ya Thor semangat 💪 salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
MODE BERUANG INGIN MENERKAM IKAN SALMON🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: iya juga ya 🤣
total 1 replies
Jelita S
ternyata Cedric punya tatapan maut jga🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Galak dia itu 🤭
total 1 replies
Dew666
🪸🪸🪸🪸
Archiemorarty: terima kasih udah baca ceritanya 🥰
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!