Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditemukannya saksi kunci
Setelah kepergian Rani dan drama pagi yang melelahkan, Evan bersiap menuju kantor. Namun, suasana hatinya benar-benar berantakan. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, fokusnya bukan pada materi rapat yang akan ia pimpin, melainkan pada seraut wajah yang terus membayangi pikirannya, 'Kamila'.
Sesampainya di ruangan kantor yang luas dan dingin itu, Evan menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran. Ia memutar kursi menghadap jendela besar yang menampilkan panorama kota, namun pikirannya terbang kembali ke Mansion Chendana.
Ia teringat momen saat ia berdiri sangat dekat dengan Kamila di depan pintu kamarnya. Ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana tubuh Kamila menegang dan napas gadis itu yang memburu karena gugup. Namun, yang paling mengganggu konsentrasi Evan adalah aroma tubuh Kamila, wangi bayi yang bercampur dengan aroma vanila yang lembut dan menenangkan.
Tanpa sadar, sudut bibir Evan terangkat. Ia tersenyum tipis sendirian. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya, sebuah perasaan protektif yang lebih dari sekadar majikan kepada pengasuh anaknya.
Plak! Plak!
Evan tiba-tiba menepuk kedua pipinya dengan cukup keras. Ia menggelengkan kepala dengan kuat seolah ingin mengusir bayangan Kamila dari kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan, Evan? Sadarlah!" gumamnya pada diri sendiri. Wajahnya yang semula melembut kini berubah menjadi penuh rasa bersalah. Ia meraih bingkai foto di meja kerjanya, foto mendiang istrinya.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Tidak... cintaku hanya untuk Jingga. Aku tidak mungkin mengkhianatinya," bisik Evan dengan suara parau. "Jingga, maafkan aku. Aku tidak seharusnya memikirkan wanita lain seperti itu."
Ketegangan batin Evan terputus saat pintu ruangannya diketuk dengan terburu-buru. Kevin, asisten sekaligus tangan kanannya, masuk dengan napas yang sedikit tersengal namun matanya berbinar.
"Tuan, saya membawa berita besar. Jaka berhasil ditemukan," ujar Kevin tanpa basa-basi.
Evan langsung berdiri tegak, matanya menajam. "Di mana dia? Apa dia sudah diamankan?"
"Tim kita menemukannya di sebuah desa terpencil di luar Pulau Jawa. Keadaannya sangat memprihatinkan, Tuan. Dia disekap di dalam sebuah gudang tua selama lebih dari satu minggu. Tubuhnya kurus kering, kekurangan nutrisi, dan dalam kondisi sekarat saat ditemukan. Saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat di bawah pengawalan ketat kita," lapor Kevin.
Evan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sempat mereda kini tersulut kembali dengan api yang lebih besar.
"Siska..." desis Evan. "Aku tahu dia licik, tapi aku tidak menyangka dia senekat ini. Melakukan penculikan dan penyekapan hingga hampir membunuh orang? Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya."
"Benar, Tuan. Jaka adalah saksi kunci. Begitu kondisinya stabil, dia akan memberikan pernyataan yang bisa menjebloskan Siska ke penjara untuk waktu yang sangat lama," tambah Kevin.
Evan berjalan mondar-mandir di ruangannya, mencoba mencerna kegilaan ini. Siska bukan hanya sekadar wanita yang terobsesi padanya, tapi dia adalah ancaman nyata bagi siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Pastikan Jaka mendapatkan perawatan terbaik. Jangan sampai ada orang luar, terutama kaki tangan Siska, yang mendekatinya. Dan Kevin..." Evan menatap asistennya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Siapkan pengacara terbaik kita. Aku tidak ingin Siska hanya sekadar menjauh, aku ingin dia hancur secara hukum."
Di sebuah apartemen mewah yang kini terasa seperti penjara, Siska mondar-mandir dengan gelisah. Kuku-kukunya yang dicat merah kini mulai rusak karena ia gigit terus-menerus. Ponselnya bergetar hebat di atas meja kaca, membuat jantungnya hampir melompat keluar.
"Halo! Bagaimana?!" bentak Siska sesaat setelah mengangkat telepon.
"Gawat, Nyonya... Jaka berhasil ditemukan oleh orang-orang suruhan Evan," lapor suara berat dari seberang telepon.
Wajah Siska seketika pucat pasi. "Bagaimana bisa?! Bukankah tempat itu sudah sangat terpencil?! Lalu... bagaimana kondisinya?"
"Korban saat ditemukan sudah dalam keadaan sekarat, Nyonya. Sudah lebih dari tiga hari kami tidak memberi makan dan minum agar dia mati perlahan, sesuai dengan instruksi dari Nyonya Siska!"
Siska terdiam, dadanya naik turun karena napas yang memburu. Alih-alih merasa kasihan, ia justru merasa terancam. Jaka adalah bom waktu. Jika pria itu membuka mulut, maka seluruh skenario busuk yang ia bangun akan meledak dan menghancurkan dirinya sendiri.
"Bodoh! Kenapa kalian tidak memastikannya mati lebih cepat?!" Siska berteriak histeris, lalu mencoba menenangkan diri. "Berpikir, Siska... berpikir! Evan pasti membawanya ke rumah sakit terbaik. Dia tidak mungkin membiarkan saksi kuncinya mati."
Siska kembali menempelkan ponsel ke telinganya. "Cepat kau kerahkan seluruh anak buahmu untuk mengecek rumah sakit di daerah Jakarta, aku yakin manusia sialan itu ada di sana! Temukan dia sebelum dia sempat sadar atau bicara. Lakukan apapun untuk melenyapkannya!"
Sementara itu, derit ban mobil Evan terdengar nyaring di lobi sebuah rumah sakit swasta. Evan keluar dengan langkah lebar, diikuti oleh Kevin dan beberapa pengawal berbadan tegap.
"Kevin, perintahkan tim keamanan untuk menutup akses ke lantai ini. Jangan biarkan siapapun masuk tanpa izin dariku, termasuk staf medis yang tidak terdaftar dalam jadwal perawatan Jaka. Aku yakin Siska tidak akan tinggal diam," perintah Evan dengan nada tegas dan penuh wibawa.
"Baik, Tuan. Penjagaan super ketat sudah saya instruksikan," jawab Kevin sigap.
Saat Evan memasuki ruang ICU, langkahnya melambat. Di balik dinding kaca, ia melihat Jaka yang terbaring lemah. Tubuh pria itu tinggal tulang terbungkus kulit, wajahnya pucat pasi dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Luka-luka lebam yang mulai mengering terlihat jelas di lengan dan lehernya.
Evan mendekat ke sisi tempat tidur. Ia menatap sosok pria yang dulu adalah salah satu orang kepercayaannya, kini hancur hanya karena keserakahan seorang wanita.
Evan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Tega sekali dia melakukan ini..." gumam Evan, suaranya rendah namun bergetar karena emosi. "Hanya demi obsesi gilanya, dia rela menyiksa manusia sampai seperti ini."
Evan menoleh ke arah jendela, menatap bayangan dirinya sendiri dengan sorot mata yang menakutkan.
"Siska... kau sudah melewati batas kemanusiaan. Aku bersumpah, bukan hanya jeruji besi yang akan menantimu, tapi aku akan memastikan kau merasakan kehancuran yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang dialami Jaka. Kau akan segera meringkuk secepatnya."
Bersambung...
kopi untuk mu👍