Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan peringatan.
"Coba kamu katakan sekali lagi dengan benar, apa yang dilakukan oleh guru pembimbing Pangeran Zian kepadanya?" tanya Ling Xu-mei. dia yang dari tadi mendengar pembicaraan beberapa pelayan itu entah mengapa telinganya merasa terusik. Seorang putra kaisar dipermainkan di istananya sendiri? tentu saja sebagai seorang ibu Ling Xu-mei tidak akan membiarkan hal itu.
pelayan mulai menceritakan kepada Ling Xu-mei mengenai apa yang terjadi di istana, apa saja kebenaran yang ada di istana dan Kaisar Qin yang selalu sibuk dengan urusan kerajaan hingga jarang memperhatikan anak-anaknya. Orang-orang kepercayaan sang Kaisar selalu membohonginya, bahkan mereka seolah ingin menjadikan ketiga putra kaisar sebagai bidak catur mereka untuk mengamankan posisi dan membuat ketiga putra kaisar Qin menurut pada mereka.
"Jadi seperti itu ya...," ucap Ling Xu-mei yang kemudian meminta Yura untuk menuangkan teh untuknya, dia nampak memutar gelas yang ada di tangannya sembari menghirup perlahan bau teh yang begitu khas, tak ada gula di dalam teh tersebut hingga membuat Ling Xu-mei terkadang tidak suka.
"Oh ya, di manakah dayang yang selalu menemani permaisuri yang dahulu?" tanya Ling Xu-mei kepada si pelayan.
Pelayan itu langsung tersentak, mulutnya menutup rapat dengan wajah sedikit pucat. "Kenapa kamu diam saja? di mana dayang kepercayaan permaisuri Lin dahulu?" tanya Ling Xu-mei kembali.
Pertanyaan itu membuat pelayan itu tubuhnya sedikit gemetar. "Kamu jangan khawatir, aku bukanlah orang lemah yang akan mudah ditindas atau mudah dipermainkan orang lain, aku akan melindungi mu, aku pasti akan menjagamu juga orang-orang yang ada di sampingku." ujar Ling Xu-mei yang kemudian mengulurkan tangannya. dia menggenggam erat tangan pelayan wanita yang bernama Mumu.
Mumu kemudian menceritakan mengenai dayang kepercayaan permaisuri Lin yang sudah keluar dari istana, wanita yang begitu dipercayai oleh permaisuri Lin istri Kaisar Qin yang pertama.
"Baiklah kalau begitu, untuk saat ini aku akan menyelesaikan masalah mengenai Pangeran Zian, kalau masalah ini sudah selesai Aku akan mengajakmu juga Yura untuk menemui dayang Bong." kata Ling Xu-mei yang kemudian langsung meneguk teh hangat yang ada di tangannya dia kemudian berdiri menepuk bajunya perlahan. "Setelah ada aku tidak ada yang boleh menyakiti orang-orang yang ada di sekitarku, kalau mereka berani melakukan hal itu maka mereka harus menerima hukuman dariku." ujar Ling Xu-mei yang kemudian pergi ke tempat Pangeran Zian.
Di sebuah tempat atau di sebuah bangunan yang di mana tempat itu digunakan sebagai tempat mengajar untuk anak-anak bangsawan. Di tempat itu Pangeran Zian berada dia bersama dengan beberapa Putra bangsawan, pejabat dan para menteri. Mereka berkumpul di sana untuk mendapatkan pengajaran dari seorang guru yang katanya sangat termasyhur dan dia sangat pandai.
Di tempat yang sedikit jauh Ling Xu-mei memperhatikan setiap apapun yang dilakukan oleh sastrawan tua tersebut, seorang pria tua yang umurnya sekitar 50 tahun itu memberi pengajaran kepada anak-anak yang ada di tempat itu.
"Haissss..., pria tua itu benar-benar mau mencari mati ya, lihatlah dia memaki putraku seperti itu." ucap Ling Xu-mei ketika melihat sastrawan tua itu menjewer telinga Pangeran Zian.
Dari kejauhan Ling Xu-mei nampak geram, kedua tangannya mengepal dengan begitu kuat, matanya tajam menatap kepada sastrawan tua itu. Sesaat kemudian langkah kakinya berjalan dengan amat perlahan hingga tak akan ada siapapun yang bisa mendengarnya. Setiap pelayan ataupun prajurit yang ada di tempat itu mereka langsung diberi perintah untuk diam dan tidak menyerukan kedatangannya.
Di depan pintu ruang kelas atau ruang belajar itu Ling Xu-mei mendengarkan sastrawan tua itu memaki Pangeran Zian. "Walaupun kamu seorang pangeran, tapi kenapa kamu bodoh sekali, kamu seharusnya lebih pandai dari tuan muda Yun." kata sastrawan.
"Tapi guru, aku belum pernah mendapatkan pelajaran itu, pelajaran itu tidak pernah aku dapatkan." Pangeran Zian nampak memegang telinganya yang dijewer oleh sastrawan tua itu.
"Bilang saja kalau kamu bodoh, walaupun kamu itu anak Kaisar tapi kenapa kamu bodoh sekali, kamu bahkan tidak mengerti apa yang aku katakan. Kamu bahkan tidak mengerti pelajaran yang aku berikan." bentak sastrawan tua.
Mendengar itu Ling Xu-mei sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, pintu ruangan itu dibuka dengan sangat kasar. "Dasar kurang ajar! beraninya kamu membentak putraku!" teriak Ling Xu-mei setelah dia membuka pintu.
sastrawan tua yang bernama Guru Man itu nampak terdiam, dia menatap seorang wanita cantik yang sudah berdiri di depan pintu tersebut. "Siapa kamu, beraninya kamu masuk ke ruangan ini, dasar lancang!" seru guru Man.
Salah satu prajurit langsung melotot kepada guru Man. "Tidak sopan! dia adalah permaisuri Ling, istri dari Kaisar Qin!" seru si prajurit.
Seketika guru Man langsung terdiam, dia menatap wanita yang beberapa hari lalu dinikahi oleh kaisar kerajaan Qinzu, senyum sang guru nampak penuh dengan ejekan kepada Ling Xu-mei, ketika dia melihat permaisuri baru itu.
"Maaf permaisuri, ini adalah wilayah tempatku mengajar, tidak boleh ada seorangpun yang ikut campur dalam pengajaranku." ujar guru Man.
Ling Xu-mei menatap pria tua yang ada di depannya itu, entah mengapa wajah pria itu seperti wajah pria cabul yang dulu mengajar di sekolahnya yang ada di masa depan dahulu. Guru yang dihajar habis-habisan oleh Ling Xu-mei hingga dia di rawat di rumah sakit. "Pria tua ini kenapa wajahnya mirip dengan guru yang ada di duniaku sana, pria tua yang aku hajar habis-habisan karena tangannya suka menyentuh tubuh murid perempuan." gumam Ling Xu-mei dalam hati yang kemudian mencoba untuk menahan amarahnya.
Namun ketika melihat senyum menjengkelkan dari pria tua itu, seketika Ling Xu-mei sudah tidak tahan.
Pangeran Zian yang melihat ibu sambungnya datang, dia berpikir kalau wanita itu tidak akan bakal membantunya, guru Man adalah pria yang sangat dihormati bahkan oleh kaisar sendiri. Pangeran Zian menunjukkan kepalanya, dia hanya bisa pasrah ketika setiap hari dia terus diajak oleh guru Man.
Buk.
tanpa memberi aba-aba atau perkataan apapun tangan Ling Xu-mei yang memang terkenal ramah itu, dia langsung memberikan tinju mentah di wajah guru Man.
prajurit dan para murid yang ada di tempat itu mereka benar-benar dibuat terkejut, bahkan Yura dan Momo langsung menutup mulut mereka, mereka melihat permaisuri Ling sudah memberikan pukulan mentah kepada guru tua yang dari tadi membentak Pangeran Zian.
"Tidak ada yang boleh membentak putraku! dan tidak ada yang boleh mengatakan putraku bodoh! sebagai guru kamulah yang bodoh!" bentak Ling Xu-mei tepat di depan wajah guru Man.
Hal itu membuat guru Man serasa mendapatkan serangan jantung, pria tua itu menatap kepada wanita yang ada di depannya antara syok, terkejut dan kebingungan guru Man dibuat tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
"Dengarkan saya permaisuri, permaisuri tidak bisa mencampuri urusan saya mengajar." ucap gurun Man.
Mendengar perkataan seperti itu lagi tentu saja otak Ling Xu-mei seperti mengeluarkan asap, dia melotot tajam kemudian mengangkat kedua tangannya yang sudah mengepal erat itu. "Jangan pernah mengatakan hal itu padaku lagi, dengan mata dan telingaku aku mendengar dan melihat bagaimana kamu berbuat kasar kepada putraku!!!" teriak Ling Xu-mei dengan suara yang begitu menggelegar. hal itu membuat guru Man seperti mendapatkan teriakan petir tepat di depan wajahnya.
*bersambung*
semangat berkaryaa