NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengawasi dari jauh

Nara menepuk-nepuk bedak tipis di pipinya dengan tangan gemetar. Pantulan wajahnya di cermin tidak menunjukkan gadis ceria yang biasa ia kenal. Mata itu tampak redup, menyimpan lelah dan luka yang belum sempat ia pahami sepenuhnya. Setelah beberapa menit merapikan diri, ia menghela napas pelan, mencoba menerima penampilannya hari ini.

Untuk ke kampus, Nara memilih blus putih dengan detail renda halus dan potongan bahu lembut. Kainnya jatuh anggun, memberikan kesan polos sekaligus manis. Ia memadukannya dengan celana jeans longgar berwarna biru tua yang terasa nyaman saat dipakai berjalan. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi, hanya disematkan dua jepit kecil berwarna merah muda di sisi kepala. Di tangannya, sebuah tas hitam sederhana dengan gantungan lucu bergoyang pelan setiap kali ia bergerak.

Nara membuka pintu kamar lalu melangkah keluar. Rumah itu terasa sunyi, terlalu sunyi. Ia berjalan menuju dapur, namun tidak menemukan sosok bundanya di sana. Ingatan tentang kemarahan semalam kembali menghantam dadanya. Kata-kata kasar, tamparan, serta tatapan penuh kekecewaan masih terbayang jelas.

Ia tahu, bundanya sengaja menghindar. Seperti yang diminta—tidak saling berbicara.

Nara menarik napas panjang. Jika pada akhirnya semua akan menjadi seperti ini, ia hanya bisa menerima. Ia menyesal telah berniat membantu pria asing itu, namun penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Nasi telah menjadi bubur.

Dengan langkah pelan, Nara keluar dari rumah. Udara pagi menyentuh kulitnya, namun tidak mampu menenangkan pikirannya. Biasanya ia akan mengendarai motor Scoopy miliknya, tetapi kali ini tenaganya tidak cukup. Tubuhnya masih lemah, matanya perih akibat menangis sejak semalam.

Ia berdiri di depan rumah, menunggu taksi.

Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di hadapannya.

“Dengan Neng Nara?” tanya sopir itu sambil menurunkan kaca.

“Iya,” jawab Nara singkat, tersenyum sopan sebelum masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan menuju kampus, Nara menatap ke luar jendela. Pemandangan kota berlalu tanpa benar-benar ia perhatikan. Pikirannya kosong, tetapi dadanya terasa sesak. Ia membayangkan kemungkinan terburuk. Jika teman-teman kampusnya tahu apa yang terjadi, nama baik yang selama ini ia jaga akan hancur dalam sekejap.

Air matanya nyaris jatuh.

Aku bodoh, batinnya.

Kenapa aku tidak melawan lebih keras waktu itu?

Lamunannya terhenti ketika suara sopir memanggilnya.

“Kita sudah sampai, Neng.”

Nara tersentak pelan. Ia meraih tasnya lalu menyerahkan uang pembayaran.

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama.”

Mobil itu berlalu, meninggalkan Nara berdiri sendiri di depan gerbang kampus. Ia menelan ludah sebelum melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya menolak untuk maju.

Saat berjalan menuju gedung jurusannya, sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahunya.

“Naraaa!”

Suara ceria itu membuatnya terkejut. Ia menoleh dan mendapati Tasya berdiri di sampingnya, sahabat yang selalu membawa energi hangat ke mana pun ia pergi.

“Kok muka lo pucat banget?” tanya Tasya sambil mengamati wajah Nara dengan cermat. “Biasanya lo kan ceria, senyum ke semua orang. Ini beda.”

“Enggak apa-apa,” jawab Nara cepat, memaksakan senyum yang terasa palsu.

“Bohong,” Tasya mendengus kecil. “Gue kenal lo. Pasti ada yang lo sembunyiin.”

Nara terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku cuma kecapekan. Kemarin begadang bikin kue pesanan.”

“Oh,” Tasya mengangguk. “Lain kali jangan maksain diri. Lo tau kan, kita mau ngadain Festival Kampus minggu depan. Bakal ribet.”

“Oh iya, bener juga,” ucap Nara lirih. “Makasih udah ngingetin.”

“Makanya,” Tasya tersenyum. “Yuk ke kantin dulu. Gue belum sarapan. Lo udah makan belum?”

“Belum.”

Mereka berjalan berdampingan menuju kantin kampus. Di antara keramaian mahasiswa, tawa, dan suara langkah kaki, Nara merasa kecil. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya. Tidak ada yang menyadari bahwa senyum yang ia pakai hari ini hanyalah topeng rapuh.

Namun di balik langkah pelannya, ada sepasang mata yang kelak akan selalu mengawasinya.

Dan Nara belum menyadari itu sama sekali.

____

Pada sore hari, Nara dan Tasya berdiri di pinggir jalan dekat kampus. Deretan pedagang kaki lima berjajar rapi, menjajakan berbagai perintilan tas, gantungan kunci, hingga aksesoris kecil yang menarik perhatian mahasiswa yang lalu-lalang.

Tasya berhenti di salah satu lapak dan mengangkat sebuah gantungan berbentuk tengkorak berwarna hitam dengan detail putih di bagian mata.

“Lucu nggak kalo ini dipake di tas gue?” tanya Tasya sambil tersenyum lebar, memperlihatkan gantungan itu ke arah Nara 💀

Nara melirik sekilas lalu menggeleng pelan. “Bukannya lucu, malah serem,” ucapnya jujur. “Kok kamu suka sih warna hitam-putih gitu? Nggak mencerminkan kepribadian kamu yang ceria tau.”

Sambil berkata demikian, Nara sibuk mencoba beberapa bando yang digantung rapi di depan lapak. Ada yang berbentuk pita kecil, ada pula yang dihiasi manik-manik sederhana. Ia memilih satu bando berwarna krem dengan detail bunga kecil.

Tasya terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil—senyum yang kali ini tak sepenuhnya cerah.

“Gak semua orang bisa dinilai dari luarnya aja, Nar,” ucap Tasya pelan. “Emang sih, dari luar gue kelihatan ceria, ketawa mulu, gampang akrab. Tapi dari dalam…” Ia berhenti sejenak, menatap gantungan tengkorak di tangannya. “Ada luka yang gak gampang pudar.”

Nara berhenti bergerak. Ia menoleh, menatap sahabatnya dengan ekspresi serius.

“Warna hitam sama putih itu buat gue melambangkan hidup,” lanjut Tasya. “Hitam itu masa lalu, rasa sakit, hal-hal yang gak bisa gue ubah. Putih itu harapan, kesempatan baru, sama keinginan buat tetep jalan walau capek. Keduanya saling berdampingan, gak bisa dipisahin.”

Nara terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Aku ngerti sekarang,” ucapnya lembut. “Maaf ya kalo aku asal ngomong.”

Tasya tersenyum, kali ini lebih tulus. “Santai aja, Nar.”

Pandangan Tasya lalu tertuju pada Nara yang masih mengenakan bando pilihannya. “Nar, lo cantik deh pake bando itu.”

Nara refleks tersenyum malu. “Jangan gitulah, takut aku terbang karena kepedean,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Kacanya sedikit terbuka, memperlihatkan sosok pria dengan rahang tegas dan tatapan tajam yang tak pernah lepas dari satu titik.

Nara.

Sejak gadis itu keluar dari area kampus, Raviel tak sekali pun mengalihkan pandangannya.

“Cantik,” gumam Raviel pelan, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

Ethan yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa memperhatikan tuannya dari sudut mata. Ia tahu, tatapan seperti itu bukan sekadar ketertarikan biasa—itu obsesi.

Namun senyum Raviel perlahan memudar ketika seorang pria lain mendekati Nara dan Tasya. Pria itu terlihat akrab, tertawa ringan, dan berbicara cukup dekat dengan mereka.

Raviel melihat jelas bagaimana Nara tertawa kecil mendengar ucapan pria itu. Meski senyumannya singkat, itu sudah cukup membuat dada Raviel terasa panas.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

“Siapa dia?” ucap Raviel dingin.

“sepertinya salah satu mahasiswa, tuan. teman nara." awab Ethan tenang

Raviel mendengus pelan. “Terlalu dekat.”

Ethan bisa merasakan aura cemburu yang semakin pekat memenuhi mobil.

“Apakah aku harus menikahinya sekarang juga,” ucap Raviel tiba-tiba, suaranya rendah dan berbahaya, “atau mengurungnya agar dia terus berada di sampingku?”

Ethan menegang. “Itu akan membuat Nara takut, tuan. Saya pikir mereka hanya bercanda.”

Sementara itu, Reza—pria yang tadi mendekati mereka—tersenyum ramah.

“Gimana, kalo kalian mau, kalian bisa hubungi gue,” ucap Reza. “Untuk saat ini gue kekurangan tim buat jadi panitia festival minggu depan. Siapa tau kalian mau ikut, gak masalah.”

Tasya saling pandang dengan Nara. “Nanti deh kita pikir-pikir dulu.”

“Yaudah kalo gitu, kita duluan ya, Rezz,” ucap Tasya.

“Siap. Hati-hati,” jawab Reza.

“Babai,” ucap Nara sambil melambaikan tangannya.

Dari balik kaca mobil, Raviel menatap pemandangan itu dengan mata gelap.

Tak ada lagi senyum di wajahnya.

Dalam pikirannya, hanya ada satu kesimpulan—

Dunia terlalu bebas untuk Nara.

Dan Raviel tak berniat membiarkan siapa pun merebut apa yang sejak lama ia anggap miliknya.

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!