Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi datang dengan suara yang berbeda, bukan lebih ramai namun lebih teratur, Albi sudah duduk di meja makan itu baru saja datang dari rumah anaknya di kampung sebelah.ketika Nara keluar dari dapur, Piringnya sudah terisi. Bukan penuh berlebihan, tapi cukup. Dan yang paling membuat Nara berhenti melangkah adalah ini:
Albi sudah mulai maka Nara menatapnya beberapa detik, seolah takut itu hanya kebetulan.
“Bi?” panggilnya pelan.
Albi menoleh. “Iya.”
“Kok wis mangan?”
(Kok sudah makan?)
Albi mengunyah pelan, lalu menjawab tenang, “Wingi… ana sing ora iso turu nek Pak durung mangan.”
(Kemarin… ada yang tidak bisa tidur kalau Ayah belum makan.)
Nara terdiam. Dari arah kamar, Arbani keluar. Ia berhenti di ambang pintu, matanya langsung mencari meja makan.
Melihat piring ayahnya yang sudah berkurang, langkahnya melambat. Bukan terkejut, lebih seperti lega yang ditahan, anak itu memang sepengertian itu, pada Albi yang sudah dianggap sebagai rumah yang nyaman.
“Pak…”
“Iya, Le?”
“Wis mangan?”
(Sudah makan?)
“Wis. Iki lagi,” jawab Albi sambil mengangkat sendok sedikit.
Arbani mendekat. Tidak duduk. Tidak bicara lagi. Ia hanya berdiri sebentar, memastikan.
Lalu mengangguk kecil. “Ojo ditunda maneh, Pak.” (Jangan ditunda lagi, Pak.)
Albi tersenyum. “Inggih.” (Iya.)
Itu saja, dan tidak ada pelukan, ataupun air mata, tapi pagi ini Nara tahu, sesuatu yang berat sedikit tergeser, Albi yang awalnya ngeyel, kini sudah mulai luluh, bukan karenanya tapi karena seorang anak kecil.
"Ban mangane seng okeh," ucap Nara. (Ban makannya yang banyak.)
"Inggih Bu," sahutnya (Iya Bu)
Mereka pun sarapan tanpa banyak drama, setelah sarapan Arbani berpamitan pada kedua orang tuanya, sebenarnya dalam hati anak itu, ingin sekali diantar oleh kedua orang tuanya, namun sayang, kondisi sang ayah masih belum membaik.
"Pak ... Buk, Bani pamit riyen nggih." (Pak Ibu, Bani pamit dulu ya)
Keduanya mengangguk lalu Arbani meraih kedua tangan orang tuanya, setelahnya ia melangkah keluar dengan perasaan yang mantap, meskipun harus mengesampingkan keinginannya sendiri.
"Semoga Bapak cepat sembuh," inginnya sambil menyusuri jalanan desa yang dipenuhi dengan tanaman bunga.
☘️☘️☘️☘️
Bel berbunyi panjang. Anak-anak berhamburan keluar kelas, sebagian berlari, sebagian masih sibuk merapikan buku dengan wajah lelah bercampur lega.
Arbani keluar terakhir. Bukan karena lambat, tapi karena ia selalu memastikan bukunya rapi dulu di tas.
“Ban, kok kowe rapi terus, sih?” celetuk Joko sambil menarik tali tasnya sendiri.
(Ban, kok kamu rapi terus, sih?)
Arbani tersenyum kecil. “Yen buku rusak, Bapak sedih,” jawabnya polos.
(Kalau buku rusak, Ayah sedih.)
“Lah, bapakmu guru?” tanya Rendi.
Arbani menggeleng. “Dudu. Ning Bapak seneng yen barang dirumat.”
(Bukan. Tapi Ayah senang kalau barang dirawat.)
Mereka berjalan beriringan keluar kelas.
Di halaman sekolah, anak-anak lain sudah bermain. Ada yang kejar-kejaran, ada yang jajan, ada juga yang duduk di bawah pohon mangga.
“Kowe ora jajan?” tanya Sari sambil memamerkan es lilin.
(Kamu nggak jajan?)
Arbani menggeleng pelan. “Ngko wae. Aku wes mangan neng omah.”
(Nanti saja. Aku sudah makan di rumah.)
“Kok manut tenan, sih?” Joko tertawa.
(Kok nurut banget, sih?)
Arbani tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu kecil.
Di bangku kayu dekat lapangan, ia duduk membuka kotak bekalnya. Isinya sederhana nasi, telur dadar, dan sayur bening, anak itu memang sedikit pemilih, ia hanya bisa makan dari masakan ibunya saja.
Rendi melongok. “Wah, ibumu pinter masak.”
Arbani mengangguk bangga. “Ibuku alus. Bapakku… luwih meneng.”
(Ibuku lembut. Ayahku… lebih pendiam.)
“Pendiam tapi galak?” Joko menyeringai.
Arbani cepat menggeleng. “Ora. Yen nesu, Bapak mung meneng luwih suwe.”
(Tidak. Kalau marah, Ayah cuma diam lebih lama.)
Anak-anak terdiam sesaat.
Entah kenapa, itu terdengar bukan menakutkan tapi hangat, di desa ini masih jarang anak-anak yang di didik lembut, mereka cenderung di didik keras namun hal itu berbeda dengan kedua orang tua Arbani yang memang selalu mendidik anaknya dengan cara lembut dan penuh kasih sayang.
Bel masuk berbunyi, anak-anak mulai berhamburan masuk, begitu juga dengan Arbani yang masuk paling akhir setelah temannya semua dapat duduk.
“Ban, lungguh kene!” teriak Sari sambil menarik kursi.
Arbani duduk, membuka buku tulisnya. Sebelum guru masuk, ia menulis sesuatu kecil di sudut halaman.
“Bapak, ojo lali mangan.”
(Ayah, jangan lupa makan.)
Rupanya meskipun di dalam sekolah anak itu tidak lupa dengan kondisi ayahnya. Setelah menulis ia menutup buku itu pelan, lalu menatap papan tulis dengan wajah serius.
Di kelas itu, Arbani hanyalah anak biasa. Tapi dari cara ia duduk, berbicara, dan mengingat
terlihat jelas:
ada rumah yang menjaganya dengan cinta, meski dari kejauhan. Dan hal itu membuatnya berbeda dari anak kebanyakan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Siang itu matahari sudah cukup terik, bel berbunyi dan anak-anak mulai berhamburan pulang, begitupun dengan Arbani, anak itu melangkah dengan pelan.
Langkahnya tetap teratur, tas masih di satu bahu, tapi matanya sesekali menoleh ke arah tikungan dekat balai desa.
Tempat itu, dan benar saja, di sana ada pria kemarin yang sempat bertabrakan dengan Arbani.
Pria itu bukan berdiri mencolok. Tidak menunggu terang-terangan. Ia berpura-pura memeriksa ponsel, tapi matanya terangkat begitu melihat sosok kecil mendekat.
“Kemarin…,” batinnya. “Anak itu lagi.”
Arbani yang pertama menyapa.
“Pak.” Suaranya sopan. Sama seperti kemarin.
Ardan mengangkat kepala, pura-pura terkejut kecil. “Eh… ketemu lagi.”
“Iya, Pak.”
“Kowe mulih sekolah?”
(Kamu pulang sekolah?)
Ardan tidak sadar ia memakai bahasa Jawa.
“Iya.” Arbani mengangguk. “Pak lagi apa?”
Pertanyaan itu sederhana. Terlalu sederhana untuk kecurigaan orang dewasa.
“Cuma… ngenteni wong,” jawab Ardan asal.
(Hanya… menunggu orang.)
“Oh.” Arbani tidak bertanya lagi. Ia memang tidak diajari mencampuri urusan orang.
Ardan memperhatikan caranya berdiri. Cara menaruh tas. Cara menatap orang dewasa tanpa takut tapi juga tanpa menantang.
“Kemarin… kamu jatuh bukunya,” ujar Ardan. “Sekarang aman?”
“Aman, Pak.”
Lalu setelah ragu sebentar, Arbani menambahkan. “Matur nuwun wingi wis nulungi.”
(Terima kasih kemarin sudah membantu.)
Kalimat itu menancap lebih dalam dari yang Ardan kira. Anak ini… tidak dibesarkan dengan kasar, batinnya.
“Kamu tinggal dekat sini?” tanya Ardan hati-hati.
“Iya. Omahku neng kono,” jawab Arbani sambil menunjuk arah rumahnya tidak tepat, tapi cukup memberi arah.
“Omah karo sapa?”
(Rumah dengan siapa?)
Arbani tidak langsung menjawab. Bukan karena curiga. Tapi karena ia selalu menjawab jujur.
“Karo Bapak lan Ibu.”
Ardan mengangguk. “Bapakmu… kerja apa?”
“Nanem kembang. Ning Bapak pinter,” kata Arbani dengan nada bangga kecil.
(Menanam bunga. Tapi Ayah pintar.)
Dada Ardan mengencang tanpa alasan jelas, entah kenapa hatinya merasa sinis disaat mulut kecil itu membanggakan pria lain dihadapannya.
“Pinter gimana?”
“Pinter meneng,” jawab Arbani polos.
(Pintar diam.)
Itu bukan pujian yang biasa. Tapi entah kenapa, Ardan merasa, itu pujian paling jujur yang pernah ia dengar.
“Ya wis,” kata Ardan akhirnya. “Ati-ati mulih.”
(Ya sudah, hati-hati pulang.)
“Iya, Pak.” Arbani menunduk sopan, lalu melangkah pergi.
Ardan tidak menahannya. Ia hanya berdiri di tempat itu lebih lama dari yang ia rencanakan.
Anak itu tidak tahu apa-apa, pikirnya. Tapi kenapa, rasanya seperti melihat bagian hidup yang tertinggal.
"Aku tidak tahu anak itu siapa? Tapi yang jelas sejak pertemuan kita kemarin, aku merasa ada hal yang lebih dari sekedar mirip," gumam Ardan dengan nada yang sedikit bergetar.
Bersambung ....
Sore semoga suka ya