NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Antara Bambu

Dua puluh delapan hari adalah waktu yang singkat bagi seorang kultivator. Bagi kebanyakan murid, waktu ini dihabiskan untuk meditasi tenang atau meminum pil suplemen. Namun bagi Ren Zhaofeng, waktu ini adalah siksaan fisik tanpa henti.

Hutan Bambu Ungu menjadi rumah keduanya. Setiap pagi sebelum matahari terbit, Zhaofeng sudah berada di sana, dan dia baru kembali saat bulan sudah tinggi.

Tap. Tap.

Suara langkah kaki Zhaofeng terdengar tidak teratur di atas tanah yang tertutup daun bambu kering. Terkadang langkahnya berat, menciptakan bunyi kresek yang keras. Terkadang langkahnya seringan bulu, nyaris tanpa suara.

Dia sedang melatih langkah pertama dari Tiga Langkah Pedang Hantu: Suara Palsu.

Konsepnya sederhana namun sulit: Menghentakkan kaki kiri dengan keras untuk memancing telinga musuh, sementara kaki kanan meluncur tanpa suara untuk memotong jarak.

"Masih salah," Zhaofeng menggerutu, menyeka keringat di dahinya. "Jeda antara suara palsu dan gerakan asli masih terlalu lama. Musuh yang pintar akan menyadarinya."

Dia mencoba lagi. Dan lagi.

DUG! (Kaki kiri menghentak tanah). Wush. (Tubuh meluncur ke depan).

Bambu di depannya menjadi sasaran.

Sring!

Pedang Karat menebas. Batang bambu ungu sekeras besi itu tergores dalam, tapi tidak putus.

Zhaofeng tidak kecewa. Dia tahu teknik ini bukan tentang kekuatan hancur, tapi tentang ritme.

Hari berganti hari.

Zhaofeng mulai memahami "Niat" dari pendekar tua penulis buku itu. Teknik ini diciptakan oleh seseorang yang frustrasi karena tidak memiliki kecepatan murni, jadi dia menciptakan kecepatan ilusi.

Pada hari ke-15, perubahan mulai terlihat.

Zhaofeng berdiri diam di tengah hutan. Di hadapannya, lima batang bambu berjejer tidak beraturan.

Dia memejamkan mata di balik kainnya. Dia menarik napas.

DUG!

Suara hentakan kaki terdengar jelas di sebelah kiri. Jika ada orang di sana, mereka pasti akan menoleh ke kiri.

Tapi tubuh Zhaofeng sudah tidak ada di sana.

Dia telah meluncur ke kanan seperti hantu, meninggalkan bayangan samar di retina.

Slash! Slash! Slash!

Tiga tebasan cepat. Tiga batang bambu tumbang hampir bersamaan.

"Langkah Satu: Dikuasai," Zhaofeng tersenyum tipis. Napasnya teratur.

Namun, latihan saja tidak cukup. Pedang butuh darah untuk menguji ketajamannya.

Tiba-tiba, telinga Zhaofeng berkedut.

Suara dengkuran berat terdengar dari balik semak belukar yang lebat, sekitar tiga puluh meter di depannya. Suara itu disertai bau tanah basah dan logam.

Babi Hutan Besi. Hewan Roh Tingkat 1 Puncak. Kulitnya tebal seperti baju zirah, dan serudukannya bisa merobohkan pohon besar. Ini lawan yang jauh lebih tangguh daripada Serigala Angin.

Zhaofeng tidak menghindar. Dia justru berjalan mendekat.

"Uji coba lapangan," bisiknya.

Babi Hutan itu terbangun karena bau manusia. Ia berdiri, matanya merah menyala. Melihat manusia kurus di depannya, hewan itu mendengus marah, mengorek tanah dengan kukunya.

GROAAKK!

Babi Hutan itu menyeruduk. Kecepatannya mengerikan untuk ukuran tubuh sebesar itu. Tanah bergetar di setiap langkahnya.

Zhaofeng berdiri diam. Dia menunggu.

Jarak sepuluh meter. Lima meter.

Angin dari serudukan babi itu sudah menerpa wajahnya.

Zhaofeng menghentakkan kaki kirinya ke tanah dengan keras. BLAM!

Suara itu mengejutkan si Babi Hutan. Secara insting, hewan itu memalingkan kepalanya sedikit ke arah sumber suara, mengira ada serangan dari sisi itu.

Itu adalah kesalahan fatal.

Dalam sepersekian detik perhatian hewan itu teralihkan, Zhaofeng meluncur ke sisi kanan babi itu tanpa suara. Tubuhnya miring ekstrem, nyaris menyentuh tanah.

Pedang Karat di tangannya bersinar dingin.

Langkah Dua: Bilah Senyap.

Zhaofeng tidak menebas kulit tebal di punggung babi itu. Dia menusuk ke atas, tepat ke bagian lunak di bawah leher babi yang terbuka karena hewan itu menoleh.

JLEB!

Pedang itu masuk sedalam setengah lengan.

Zhaofeng tidak berhenti. Dia menggunakan momentum lari babi itu sendiri untuk membelah lehernya memanjang saat dia berlari melewatinya.

Sreeeet!

Darah menyembur seperti air mancur. Babi Hutan Besi itu masih berlari beberapa langkah ke depan karena inersia, sebelum akhirnya jatuh berguling dan menabrak pohon besar.

Bruk!

Hening.

Zhaofeng berdiri tegak, mengibaskan darah dari pedangnya.

"Sempurna," katanya datar.

Jika dia menggunakan kekuatan murni, dia tidak akan pernah bisa menembus kulit babi itu. Tapi dengan memanipulasi perhatian lawan, dia menciptakan celah fatal.

Zhaofeng berjalan menghampiri bangkai itu. Dia mengambil Inti Monster-nya—kali ini sedikit lebih besar dan berwarna coklat tanah.

"Dengan ini, persiapan ujian selesai."

H-1 Ujian Murid Luar.

Suasana di Sekte Awan Hijau terasa tegang. Ribuan Murid Pelayan sedang melakukan persiapan terakhir. Ada yang mengasah pedang, ada yang bermeditasi, ada yang menangis karena gugup.

Di alun-alun sekte, sebuah panggung besar telah didirikan. Spanduk-spanduk berkibar. Para Tetua Sekte akan hadir menonton. Ini adalah satu-satunya kesempatan bagi pelayan rendahan untuk mengubah nasib menjadi naga.

Zhaofeng sedang duduk di gubuknya, membersihkan Pedang Karat-nya dengan kain halus.

Tiba-tiba, pintu gubuknya diketuk kasar.

Dok! Dok! Dok!

"Ren Zhaofeng! Keluar kau!"

Itu suara Li Dong. Dan dia tidak sendirian. Zhaofeng mendengar setidaknya lima pasang langkah kaki lain.

Zhaofeng menyarungkan pedangnya dan membuka pintu.

Di luar, Li Dong berdiri dengan angkuh, diapit oleh beberapa murid penjilatnya. Tapi yang menarik perhatian Zhaofeng bukanlah Li Dong, melainkan pria yang berdiri di sampingnya.

Pria itu tinggi, aura Qi-nya stabil dan kuat. Jauh lebih kuat dari Li Dong.

Wang Gang. Murid Luar Peringkat 10 Besar. Kultivasi Penempaan Tubuh Tahap 5.

"Ada perlu apa, Kakak Senior?" tanya Zhaofeng tenang.

Li Dong menyeringai licik. "Aku dengar kau mendaftar ujian besok. Sebagai senior yang baik, aku membawa Kakak Wang Gang untuk memberikan... 'bimbingan' terakhir. Kami tidak ingin kau mempermalukan sekte di atas panggung besok."

Wang Gang melangkah maju, menatap Zhaofeng dengan tatapan merendahkan.

"Jadi ini si buta yang mempermalukan Li Dong?" suaranya berat seperti batu. "Dengar, Nak. Ujian besok bukan tempat bermain. Aku sarankan kau mundur sekarang. Patahkan satu jarimu sendiri sebagai tanda hormat, dan kami akan membiarkanmu hidup tenang sebagai penyapu selamanya."

Ini adalah intimidasi klasik. Menghancurkan mental lawan sebelum bertanding.

Zhaofeng tersenyum tipis. Senyum yang membuat Li Dong merasa tidak nyaman.

"Terima kasih atas sarannya, Kakak Senior Wang," kata Zhaofeng sopan. "Tapi saya lebih suka menyimpan jari saya untuk memegang pedang."

Wajah Wang Gang menggelap. "Kau menolak kebaikan hati?"

"Kebaikan hati?" Zhaofeng memiringkan kepalanya. "Saya hanya mendengar suara anjing yang menggonggong."

Suasana membeku.

Wang Gang meledak dalam amarah. "BAJINGAN!"

Dia mengangkat tinjunya yang dilapisi Qi, siap menghajar Zhaofeng di tempat.

"BERHENTI!"

Sebuah suara wibawa menggelegar dari langit.

Seorang pria paruh baya dengan jubah Tetua mendarat di antara mereka. Tetua Pengawas Ujian.

"Dilarang bertarung pribadi sehari sebelum ujian!" bentak Tetua itu. "Siapapun yang melanggar akan didiskualifikasi!"

Wang Gang menurunkan tinjunya dengan enggan, tapi matanya memancarkan niat membunuh yang kental.

"Kau beruntung, Buta," desis Wang Gang. "Berdoalah kau tidak bertemu denganku di arena besok. Karena di sana, tidak ada Tetua yang akan menyelamatkanmu."

Rombongan itu pergi dengan sumpah serapah.

Zhaofeng kembali masuk ke gubuknya. Wajahnya tetap tenang, tapi tangannya mengepal erat.

"Tahap 5..." gumamnya. "Dia kuat. Tapi dia terlalu percaya diri."

Besok. Semuanya akan ditentukan besok.

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!