Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan ke Pulau Pribadi
Suara ayam jantan berkokok pertanda pagi telah tiba. Nampak seorang gadis, yang sejak dari tadi terus berkaca di depan meja rias. Dari raut wajahnya sih, sepertinya ia sedang bingung, sambil terus memperhatikan pakaian mana, yang cocok untuk ia kenakan pagi ini.
Ya siapa lagi kalau bukan Luna Aulia Syafira. Sudah hampir 30 menit, ia terus saja mengeluarkan semua baju yang dia punya dari lemari pakaian. Hingga tempat tidurnya kini dipenuhi tumpukan baju, bahkan ada yang berceceran dimana-mana, membuat kondisi kamarnya seperti kapal pecah.
"Ish, aku harus pake yang mana ini? Masa pake ini? Tapi warnanya hitam kek mau melayat aja,"
"Apa pake ini? Warna ijo. Alamak entar dikira aku pengawal Nyi Roro Kidul,"
"Atau pake ini aja? Tapi warna putih, cerah banget lagi, kek mbak kun-kun. Dih ogah!"
Luna terus saja menggerutu kesal, karena dari tadi belum juga menentukan pakaian mana yang akan dia pakai. Berulang kali Luna mengambil satu pakaian, lalu melihat ke arah cermin, setelah itu membuangnya karena merasa tidak cocok.
Sampai-sampai ia tidak sadar jika waktu sudah menunjukan pukul ...
"Jabang bayi! Udah jam 04.45," Luna terkejut bukan main. Itu artinya 15 menit lagi ....
"Aaahhhhh!!!" Luna langsung berlari terbirit-birit meninggalkan kamarnya yang masih berantakan. Ia harus segera mandi, dan bersiap-siap sebelum Kak David menjemputnya.
Sementara disisi lain, mobil David ternyata sudah tiba di depan apartemen Luna. Ia duduk di kursi pengemudi, ditemani Lisa yang berada disampingnya.
"Jadi ini tempat tinggal adik angkat lo, Vid?" tanya Lisa sambil memperhatikan bangunan apartemen.
"Iya, ini tempatnya. Nanti gue kenalin lo sama dia. Anaknya lucu kok, gemesin lagi," balas David tersenyum menatap Lisa.
"Oh jadi dia gemesin gitu? Terus kenapa lo gak pacaran aja sama dia?" tanya Lisa membuat raut wajah tidak suka, mendengar David memuji cewek lain di depannya.
"Hahaha, kamu cemburu ya hmm?" David merasa gemas mencubit pipi Lisa.
Lisa yang masih terlihat kesal, mencoba menjauhkan tangan David dari pipinya, "Siapa juga yang cemburu? Gak usah kepedean lo, cowok playboy!"
"Kok playboy sih? Aku kan udah gak nakal lagi. Setia aku tuh sama kamu," balas David sedikit merapikan rambut Lisa.
"Karena yang namanya udah ketemu sama pawang. Bakalan anteng sampai menuju pelaminan," lanjutnya menatap tulus ke arah Lisa, dan sukses membuat ...
"Kalau tau gini mending gue bawa mobil sendiri," sahut Rendra yang ternyata berada di kursi belakang.
Rendra memang berada satu mobil bersama David, dan Lisa. Ia sengaja tidak membawa mobil sendiri, karena sedang merasa malas untuk menyetir. Namun sekarang ia semakin malas, melihat 2 orang di depannya sedang asik pacaran, tanpa tau malu ada dirinya di belakang mereka.
"Suruh siapa lo gak mau bawa mobil sendiri hmm? Ngenes kan lo? Liat gue sayang-sayangan ama gebetan gue," balas David dengan gaya meledek, membuat Rendra hanya menghela napas kasar, dan memilih memalingkan wajah ke arah kaca mobil.
"Udah lo tenang aja, Ren. Bentar lagi ayang lo juga datang."
Lisa mengernyitkan alisnya, "Maksudnya Nona Muda Selvi juga ikut liburan, Vid?"
"Bukan dia, Lis. Tapi itu si Luna," balas David.
"Hah! Kok bisa?"
"Udah ceritanya panjang, entar lo tau sendiri kisah cinta CEO dingin, dengan Bocil micin," David dibuat terkekeh dengan perkataannya sendiri. Sementara Rendra memilih acuh, tanpa ingin membalas perkataan sahabatnya itu.
"Ya udah, Ren. Lo turun sana, samperin Bocil lo!" ucap David yang lebih terkesan memerintah.
Rendra mendengus kesal, "Enak aja lo suruh gue turun. Lo aja sana turun, samperin adik lo. Gue ini CEO! Mana ada CEO di perintah?"
"Yaelah, ni orang sombong banget. Gue jadi penasaran, kenapa si Luna bisa-bisanya suka sama lo?" David sedikit heran, sambil melepas seatbelt dan turun dari mobil.
Sedangkan Lisa yang masih berada di dalam, merasa canggung harus berada 1 mobil dengan Rendra sendirian. Terlebih ia melihat pantulan sorot mata dingin Rendra, dari kaca spion bagian dalam.
Glek
Lisa menelan ludah susah payah. Daripada ia harus menunggu di mobil bersama CEO dingin, mending Lisa ikut turun saja, dan mengejar David yang terlihat sudah masuk ke apartemen.
Tinggal Rendra seorang diri, yang berada dalam mobil BMW-M5 berwarna putih. Ia tidak terlalu ambil pusing, jika dirinya di tinggal sendirian di mobil. Rendra lebih memilih mengecek handphonenya, yang beberapa saat lalu, terdengar seperti ada notif chat yang masuk.
Ia menghidupkan handphonenya, dan satu notif chat langsung muncul di layar. Membuat raut wajahnya terlihat memerah, dan rahangnya mengeras seperti ingin mengamuk.
(Selvi)
Aku tidak mau tau apapun, Rendra. Kita harus menikah 2 minggu lagi! Kalau gak, aku bakal lakuin hal nekat, yang bakal bikin kamu menyesal seumur hidup.
"Huff!" Rendra menghela napas panjang, dan sedikit memijat kepalanya. Chat dari Selvi, yang lebih terkesan mengancamnya, membuat Rendra semakin pusing. Tapi bukan berarti ia takut, apalagi khawatir jika Selvi bertindak macam-macam. Ia hanya frustasi, dan tidak habis pikir dengan sikap obsesi Selvi, yang semakin berlebihan.
Ia bingung, bagaimana cara mengatakan, jika dirinya sudah benar-benar tidak mencintainya. Selvi hanya masa lalunya, cuma mantan yang dulu pernah dicintai secara tulus. Namun Selvi sendiri malah mempermainkan cintanya. Jadi jangan salahkan Rendra, jika sekarang ia sangat membencinya.
Ting
Satu notif terdengar sekali lagi, dan sudah bisa ditebak jika itu dari orang yang sama.
(Selvi)
Rendra, kenapa lo gak baca chat gue? Padahal lo lagi online. Sengaja banget lo cuekin chat gue gitu?Rendra tidak ingin menggubris chat Selvi.
Memang sejak awal ia hanya membaca chat Selvi, lewat notif tanpa masuk ke aplikasi tersebut. Baginya tidak terlalu penting untuk membaca chatting dari dia.
(Selvi)
Oke lo nantang gue, Ren. Tunggu aja besok! Gue bakal bikin lo menyesal karena udah cuekin chat gue.
Rendra menghela napas entah berapa kali, membaca notif chat terakhir dari Selvi. Ia memilih untuk mematikan handphonenya, terlebih ia melihat David, lisa, dan juga ....
Deg
Apa ini?
Serangan jantung?
Atau detak jantungnya berdetak lebih cepat, karena melihat penampilan Luna yang ...
"Ehem!" sebisa mungkin ia menetralkan perasaannya. Namun semakin ia bersikap biasa, semakin jantungnya berdetak lebih cepat.
Padahal selama 5 tahun ini, Rendra belum pernah merasakan getaran itu lagi. Apa hatinya mulai menghangat kembali?
Melihat tampilan Luna yang terlihat sangat cantik, meski tampil sederhana. Tanpa memakai pakaian kurang bahan, apalagi seksi.
Cukup mengenakan kaos biru berlengan panjang, dipadukan dengan celana ankle berwarna abu-abu. Ditambah rambutnya yang dibiarkan tergerai bebas, dengan model Butterfly Cut Medium. Menambah kesan cantik, dan natural. Tanpa riasan wajah yang berlebihan.
David yang membuka pintu mobil, dan duduk di kursi pengemudi, sedikit tersenyum jahil melihat Rendra, sampai tidak berkedip melihat ke arah Luna yang sudah berada di dalam mobil, dan duduk disebelahnya.
"Kedip ngapa, Ren! Kek baru pertama kali liat Luna aja," ucap David menggoda sahabatnya itu.
Rendra yang terkejut mendengarkan perkataan David, sedikit gugup mulai memperbaiki postur tubuhnya. Sepertinya ia salah tingkah karena ketahuan terus menatap Luna.
"Nah kan salting. Ya elah, Ren. Kek masih muda aja, sadar umur woy!" David semakin asik menggodanya.
"Diem lo!" Rendra menatap tajam ke arah David.
"Hahaha," David tertawa merasa puas, sementara Lisa ikut tersenyum meski ia ingin sekali tertawa, karena baru pertama kali ini ia melihat Rendra yang biasanya dingin, sekarang menjadi salah tingkah.
Luna bertanya dengan wajah polos, "Kak Rendra terpesona ya liat penampilan aku?"
"Gak!" balas singkat Rendra.
"Ish, tapi bukannya tadi Kak Rendra terus menatapku sampai lupa berkedip. Jadi ada 2 kemungkinan," balas Luna.
"Apa aja tuh, Dek?" tanya David sambil menyalakan mesin mobil.
"Yang pertama, mungkin ada yang salah dari penampilanku," Luna membuat raut wajahnya seolah sedang berpikir keras.
"Tapi kalau dipikir-pikir, aku aja udah ngaca sampai kaca riasku pecah, jadi gak mungkin kalau penampilanku terkesan aneh,"
"Jadi emang pada dasarnya penampilanku hari ini terlihat cantik, dan bikin Kak Rendra enggan berpaling karena ingin terus menatapku," lanjutnya tersenyum manis menatap kearah Rendra.
Sementara Rendra hanya membalas dengan tatapan datar, seolah tidak percaya melihat tingkat percaya diri Luna, yang di atas rata-rata manusia normal.
"Hahaha, bisa aja lo Dek godain Rendra," sahut David mulai menginjak pedal gas.
Mobil BMW-M5 putih melaju kencang menyusuri jalanan perkotaan. Meski suasana masih pagi sekali, namun aktivitas kendaraan terlihat ramai melintas. David sedikit menambah kecepatan mobilnya, agar tidak terlalu lama berada di jalan, dan segera sampai ke pelabuhan.
Akhirnya setelah memakan waktu hampir 2 jam, mobil David sampai di pelabuhan. Disana sudah ada Luxury yacht pribadi milik Rendra yang sudah menunggu. Mereka semua turun dari mobil, dan disambut anak buah Rendra yang segera bergegas membawa barang-barang mereka, dan menaruhnya ke dalam Luxury yacht.
Luna yang sejak dari tadi terpana melihat Luxury yacht mewah di depannya, sedikit terkejut saat Rendra asal menarik tangannya, dan membawanya naik ke Luxury yacht.
"Ciee, mulai ada yang gandengan tangan," sahut David menggoda sahabatnya itu.
Sementara Lisa yang berada disampingnya, merasa terkejut melihat pemandangan ini. "Vid! Itu seriusan Tuan Muda pacaran sama Luna?"
"Mereka belum pacaran, tapi Luna udah bilang dia suka sama Rendra," balas David.
"Hah!" Lisa semakin terkejut mendengar itu. "Bukannya Tuan Muda udah di jodohkan sama Nona Muda Selvi?"
"Rendra sudah memutuskan perjodohan itu."
"Karena Luna?"
David menggelengkan kepalanya. "Bukan, emang si Rendra gak mau jalani perjodohan itu. Dan gue sebagai sahabatnya, cuma bisa memberinya dukungan,"
"Gue juga berharap mereka berdua pacaran, kalau perlu segera menikah," lanjutnya menatap ke arah Rendra, dan Luna yang sudah berada di Luxury yacht.
"Tapi sambil menunggu mereka pacaran, gimana kalau kita pacaran terlebih dulu. Kamu mau kan?" tanya David sambil tersenyum menggoda Lisa.
"Mau," balas Lisa.
David menatap tidak percaya, "Serius kamu mau?"
"Iya serius. Mau lempar lo ke laut, biar dimakan hiu," ucap Lisa dengan nada kesal.
"Iya sayang. I love you," David mengedipkan sebelah matanya, dan membuat pipi Lisa sedikit merah.
"Ck! Apaan sih! Dah ah, lo gak jelas!" Lisa memilih segera naik ke Luxury yacht, meninggalkan David yang sudah puas menggodanya.
********************************
Selvi sedang menggerutu kesal melempar bantal ke sembarang arah, dan mengacak-acak tempat tidurnya. Ia merasa kecewa karena sudah mengirim puluhan chat, bahkan hampir genap seratus. Namun masih belum ada balasan dari Rendra.
"Ih gue gak bisa diginiin!" Selvi semakin kesal, merasa tidak dianggap sama sekali oleh Rendra. Padahal sedikit lagi mereka akan segera menikah. Tapi tiba-tiba saja Rendra memutuskan pernikahan ini.
Ia menghela napas kasar, dan merasa mulai hilang akal. "Gak! Lo harus nikah sama gue, Ren. Mau gak mau, gue bakal bikin lo nikah sama gue." Selvi beranjak dari tempat tidurnya, untuk menemui ayahnya yang berada di ruang kerja.
"Ayah," panggilnya sedikit memelankan suara, karena melihat ayahnya sedang menerima panggilan di telepon.
Lucas yang mendengar itu, memberi kode ke arah Selvi untuk menunggunya sebentar, sampai ia menyelesaikan urusannya.
"Oke, nanti jangan lupa semua berkas dikirim lewat email saya," ucap Lucas menutup panggilan, dan segera menghampiri Selvi yang menunggunya di sofa ruang kerjanya.
"Ada apa, sayang? Kenapa raut wajahmu terlihat pucat seperti ini? Apa kamu sakit?" tanya Lucas memeriksa dahi putrinya.
Selvi menurunkan tangan ayahnya, "Ih Ayah.. bukan itu yang sakit."
"Terus?"
"Hatiku Ayah... aku pengen nikah sama Rendra," Selvi merengek seperti anak kecil, membuat ayahnya menghela napas.
"Selvi, apa tidak ada cowok lain yang kamu suka selain Rendra? Dia itu tidak mencintaimu, Nak. Dan Ayah gak mau kasih anak Ayah, sama orang yang gak punya rasa sayang, apalagi cinta seperti Rendra," ujar Lucas mencoba memberi pengertian.
"Gak! Aku gak mau! Aku mau Rendra yang menjadi suamiku!"
"Selvi!"
"Atau Ayah mau liat aku nekat mengakhiri hidup," ancam Selvi.
Lucas mengeraskan rahangnya, "Jangan coba-coba bertindak bodoh! Kamu tau, cuma kamu yang Ayah punya, setelah Mamamu meninggalkan ayah 5 tahun yang lalu."
"Yaudah, turuti keinginan Selvi yang ingin menikah dengan Rendra."
"Ayah harus gimana, Nak?"
"Terserah Ayah harus gimana. Terlebih ini semua gara-gara Ayah, yang membuat Rendra membenciku. Ayah masih ingatkan kesalahan Ayah 5 tahun lalu?" tanya Selvi menatap dingin kedua mata ayahnya.
Deg
Jantung Lucas langsung berdetak lebih cepat. Ia tidak pernah menyangka kesalahannya 5 tahun lalu, membuat putrinya menjadi seperti ini.
"Sepertinya Ayah masih ingat. Bagus kalau gitu aku tidak perlu lagi mengingatkan kesalahan Ayah dulu," ucap Selvi yang langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Lucas yang masih duduk terdiam, sambil meremas kasar kedua tangannya.
"Maafkan kesalahan Ayah dulu, Nak. Sampai-sampai kamu harus menanggung konsekuensi, dari kesalahan Ayah 5 tahun yang lalu," gumam Lucas merasa bersalah.