NovelToon NovelToon
Visionaries Of The Sacred Arc Ujian High Magnus

Visionaries Of The Sacred Arc Ujian High Magnus

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Slice of Life / Action / Fantasi / Anime
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Nakuho

melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.

kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.

setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.

arc ini juga memperkuat beberapa character

dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lihat aku Kakak sialan

Tiga hari berlalu.

Di sebuah gedung megah High Magnus, tepatnya di Divisi 1—divisi terkuat di generasi sekarang—tumpukan dokumen memenuhi meja kerja. Berkas kasus sihir tingkat tinggi berserakan, namun sosok di balik meja itu tetap tenang.

Elice Iglesias berdiri dari kursinya.

Rambut peraknya tergerai rapi, jubah High Magnus dengan lambang matahari berkilau tertimpa cahaya pagi. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap langit yang cerah tanpa emosi.

“Hari ini, ya…”

ucapnya dingin dan datar.

Tak ada senyum. Tak ada keraguan.

Sementara itu, di Akademi Sihir Agreta—

Asrama Lucyfer dipenuhi suara persiapan. Tongkat sihir dicek, pakaian dirapikan, dan ekspresi tegang tampak jelas di wajah semua orang.

“Teman-teman,” ujar Lucyfer tenang,

“setidaknya, kalau kita kalah… kita masih bisa mencoba lagi.”

Nada suaranya ringan, namun matanya serius.

“Benar,” sahut Klee sambil menggenggam tongkat sihir cintanya.

“Kalau gagal, kita ulang lagi.”

Mereka pun berangkat bersama menuju arena pertandingan High Magnus.

Gedung arena itu masif—dinding batu

berlapis sihir penguat, lantai arena berkilau, dan udara penuh energi magis. Begitu masuk ke ruang tunggu, Lucyfer duduk diam, menenangkan napasnya.

Namun—

Langkah kaki berat mendekat.

Seorang pemuda berambut kuning dengan mata kuning berdiri di depan mereka.

Senyumnya miring, tatapannya sinis.

“Eeh?” katanya cepat dan provokatif.

“Jadi ini murid bangsawan manja yang katanya terkenal itu ya? Iglesias Lucyfer?”

Itulah Raviel Kronyx—penyihir manipulasi tangan raksasa.

"Ahahaha tak ku sangka kau datang ke ujian ini hanya untuk kalah yaa..." tawa varen mengejek teman teman Lucyfer

Lucyfer hanya menatapnya datar.

“Siapa lagi ini…”

“Hah?” Raviel mendekat sedikit.

“Kenapa? Takut kalah dengan kami sampai mau ngompol di—”

DUK!

Sebuah pukulan tepat di belakang leher Raviel membuat tubuhnya langsung limbung dan ambruk.

Seorang gadis dari belakang sudah memukul leher bagian belakang Raviel.

Dia berambut oranye dengan mata oranye.

Ia juga memakai pakaian akademi odler dengan lencana bintang.

Yang berarti dia adalah wakil komandan dari tim nya.

“Aduh, maaf sekali,” ujarnya sopan sambil menunduk.

“Dia Raviel Kronyx dari tim kami. Suka provokasi berlebihan.”

Ia mengangkat tubuh Raviel ke pundaknya dengan mudah.

“Oh ya,” tambahnya santai,

“kalau dia mulai macam-macam lagi, pukul saja bagian belakang lehernya atau tampar dia dengan sedang saja. Dijamin langsung tumbang.”

“Aku Maevra Solenne,” katanya.

"Wakil komandan dari tim ini, maafkan kami ya sekali lagi."

Maevra pergi sambil membawa Raviel yang tak sadarkan diri.

"Ya ampun, kau ini bikin aku darah tinggi saja, hilang sebentar sudah provokasi tim lain."kata nya sambil menjewer telinga Raviel

Raviel setengah sadar dan mulai mengangkat kepala nya.

"Maaf..."kata nya dengan nada lemas

Varen menelan ludah.

“Serem banget… akademi Odler emang beda.”

Sorak sorai menggelegar dari luar arena.

Ribuan penonton memenuhi tribun—anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dari berbagai kerajaan. Aura antusias dan tegang bercampur menjadi satu.

tapi ada satu orang yang duduk dengan rambut hitam dengan mata merah yang menatap dengan tatapan sayu dan menggaruk leher dan kemudian pergi.

Seorang juri berdiri di podium tertinggi.

“Para penonton dari seluruh penjuru kerajaan!” suaranya menggema.

“Hari ini kita akan menyaksikan para kandidat penyihir muda menuju gelar High Magnus!”

“Silakan serahkan koin emas bintang kalian!”

Satu per satu, murid menerbangkan koin emas ke udara. Koin-koin itu masuk ke tabung sihir penghitung.

“Jumlah total!” seru juri.

“320 koin bintang! Hmmm... Jumlah yang sempurna!”

Sorak sorai kembali pecah.

Juri kembali mengangkat microphone nya.

"baiklah hadirin sekalian."kata nya dengan meraih

“Kita juga kedatangan tamu kehormatan!”

“Mereka adalah benteng terakhir para generasi muda ini untuk jadi high magnus.”

juri langsung menunjuk ke arah sebuah pintu.

“Mereka adalah penyihir yang lebih tinggi dari siapapun.“

“Dan mereka tak akan berlutut pada kejahatan.”

juri mulai bersuara lantang sekali dan para tribun mulai bergemuruh.

“Mereka adalah...”

“Para High Magnus Divisi 1—Silahkan masukkk!"

Tribun bergemuruh.

Elice Iglesias.

Seraphina Lyricelle.

Vermila Serguire.

Nerissa Amphira.

Ignavia Roestra.

Violet Zhinchad.

Julian Bernhard.

Daziel Harmonis.

Delapan sosok legenda duduk di kursi tertinggi.

Tatapan Elice langsung tertuju pada Lucyfer.

Juri mengangkat tangan.

“Baiklah! Ujian akan segera dimulai!”

Lucyfer membalas tatapan itu, rahangnya mengeras.

“Lihat aku, kakak sialan,”

batinnya dingin.

“Aku akan melampaui dirimu.”

Elice tetap diam.

Namun di balik matanya, ada satu pikiran yang mengganggu—

Lucyfer belum tahu…

betapa kejam dan berbahayanya dunia High Magnus yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!