"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warna Baru di Paket Sang Prajurit
Tentu, ini adalah revisi Bab 18. Dalam versi ini, Adinda tetap mempertahankan jati dirinya yang tomboi dan pragmatis. Transformasinya lebih ke arah "elegan dan tajam" daripada "feminin dan manis", serta julukan masa lalunya dihapus.
Perisai Hati Tuan Bagaskara
Bab 18: Warna Baru di Palet Sang Prajurit
Studio seni lukis kampus siang itu riuh oleh suara tawa dan aroma kopi murah. Di sudut ruangan, di depan kanvas yang didominasi warna merah dan hitam, Adinda Elizabeth sedang membersihkan kuasnya.
Ia mengenakan "seragam" andalannya: kaos oblong hitam, celana kargo banyak saku (tempat strategis menyimpan pisau lipat dan pepper spray), serta sepatu boots militer yang solnya sudah mulai tipis. Rambut panjangnya diikat cepol asal-asalan dengan pensil yang ditusukkan sebagai penahan.
Bagi Adinda, penampilan adalah tentang fungsi. Baju longgar untuk menyembunyikan gerak tubuh, warna gelap untuk membaur dengan bayangan, dan sepatu kuat untuk lari atau menendang.
"Din, gue boleh ngomong jujur nggak?"
Adinda menoleh. Siska dan Reni, dua teman sekelasnya yang paling modis, berdiri di belakangnya sambil memegang undangan pameran. Arthur duduk di meja sebelah, menyeringai jahil.
"Kenapa? Lukisan gue terlalu suram?" tanya Adinda, alisnya berkerut.
"Bukan lukisan lo," Siska maju, menyentuh lengan kaos Adinda yang kusam. "Tapi lo. Maksud gue... lo itu punya struktur wajah yang tegas dan badan atletis. Tapi lo mendandani diri lo kayak mau pergi perang gerilya di hutan."
Arthur tertawa. "Siska sadis, tapi bener, Din. Nanti malam ada pameran seni senior di Grand Indonesia. Itu acara formal. Banyak kolektor dan kurator datang. Masa lo mau pake celana kargo yang ada noda olinya ini?"
"Gue nggak ikut deh," tolak Adinda cepat. Keramaian elit mengingatkannya pada dunia William, dunia yang berusaha ia hindari.
"Eits, nggak bisa!" Siska menarik tangan Adinda. "Ini wajib buat nilai apresiasi seni. Lo harus ikut. Dan kita bakal bantu lo cari baju yang layak. Nggak usah yang heboh, yang penting... manusiawi."
Adinda hendak menolak, tapi ia ingat janjinya pada William. Hidup normal. Mahasiswi normal tidak pergi ke pameran seni membawa pisau lipat di saku celana kargo.
"Oke," desah Adinda berat, menyerah. "Tapi ada syaratnya. Tidak ada rok pendek. Tidak ada warna pink. Dan tidak ada sepatu hak tinggi yang bikin gue nggak bisa lari."
Siska dan Reni bertukar pandang sambil tersenyum miring. "Deal."
Dua jam kemudian, Adinda merasa sedang berada di ruang interogasi, bukan di butik mal.
"Coba yang ini, Din. Flowy banget, cantik!" seru Reni menyodorkan gaun sifon bermotif bunga.
Adinda menatap gaun itu dengan horor. "Itu bahan gorden. Dan terlalu tipis. Kalau angin tiup, selesai sudah."
"Ya ampun, susah banget sih," keluh Siska. Ia kembali membawa gantungan baju lain. "Oke, gimana kalau jumpsuit ini?"
Adinda memeriksa jumpsuit hitam berbahan tebal itu. Potongannya tajam, tanpa lengan, dengan celana pipa lebar. Terlihat formal tapi tetap memungkinkan kakinya bergerak bebas untuk menendang—jika diperlukan.
"Ini boleh," gumam Adinda. "Warnanya taktis. Hitam."
Setelah memilih pakaian, giliran wajah. Adinda menolak keras pergi ke salon. Ia tidak mau ada orang asing menyentuh wajah atau lehernya dengan alat-alat tajam. Akhirnya, Siska yang mendandaninya di toilet mal.
"Jangan pake maskara," Adinda menepis tangan Siska. "Nanti mata gue kelilipan, visibilitas turun."
"Din, please deh. Dikit aja biar mata lo makin tajem," bujuk Siska.
Akhirnya, mereka mencapai kompromi. Riasan minimalis. Hanya pelembab, sedikit bedak untuk menutupi bekas luka kecil di pelipis, eyeliner tipis untuk mempertegas mata elangnya, dan lipstik warna nude yang tidak mencolok.
Rambutnya tidak dikeriting atau disanggul rumit. Hanya digerai lurus dan disisir rapi, dibiarkan jatuh di punggungnya.
Saat Adinda keluar dari toilet, Arthur yang menunggu di luar bersiul pelan.
"Nah, ini baru Adinda versi 2.0," komentar Arthur. "Tetep serem, tapi serem yang classy."
Adinda berjalan mendekati cermin besar di koridor mal.
Ia tidak terlihat feminin seperti boneka. Ia terlihat... kuat. Jumpsuit hitam itu membalut tubuhnya dengan elegan, menonjolkan bahu tegap dan lengan yang terbentuk karena latihan fisik. Ia tidak memakai heels runcing, melainkan ankle boots kulit hitam yang bersih dan mengkilap.
Di cermin itu, Adinda tidak melihat "tuan putri". Ia melihat wanita yang siap memimpin rapat direksi atau melumpuhkan lawan dalam tiga detik.
"Nyaman?" tanya Reni.
Adinda menggerakkan bahunya, mengetes jangkauan gerak. "Lengan bebas. Kaki bisa kuda-kuda. Sepatu solid. Lumayan."
Teman-temannya tertawa. Bagi Adinda, "nyaman" artinya "siap tempur". Tapi bagi orang lain, Adinda malam itu terlihat sangat memukau dengan auranya yang dingin dan misterius.
Malam harinya, di pameran seni Grand Indonesia.
Adinda berjalan masuk bersama teman-temannya. Ia menegakkan punggungnya—kebiasaan lama sebagai bodyguard—namun kali ini postur itu membuatnya terlihat anggun dan percaya diri.
Beberapa pengunjung pria menoleh ke arahnya. Bukan tatapan meremehkan seperti saat ia memakai baju gembel, tapi tatapan segan bercampur kagum. Adinda memiliki kharisma yang tidak dimiliki wanita-wanita sosialita di sana: ia tidak berusaha mencari perhatian, dan justru ketidakpedulian itulah yang menarik perhatian.
"Tuh kan, banyak yang ngelirik," bisik Arthur.
"Mereka ngelirik karena curiga gue bawa senjata," balas Adinda datar, matanya tetap memindai pintu keluar darurat dan posisi CCTV. Kebiasaan lama sulit mati.
Mereka berhenti di depan sebuah lukisan abstrak besar. Sambil mendengarkan Arthur menjelaskan teknik kuas, Adinda melihat bayangan dirinya di kaca pelindung lukisan.
Pikirannya melayang pada William.
William selalu dikelilingi wanita-wanita seperti Celine atau Laura—wanita yang lembut, wangi, dan penuh hiasan. Adinda selalu merasa dirinya hanyalah "batu karang" kasar di antara bunga-bunga itu.
Tapi malam ini, melihat dirinya yang rapi namun tetap tajam, Adinda mulai berpikir lain.
Mungkin aku bukan bunga mawar, Pak, batin Adinda. Mungkin aku adalah pedang yang disarungkan dalam beludru. Tidak lembut, tapi berharga dengan caraku sendiri.
Adinda mengeluarkan ponselnya. Ia ingin memotret lukisan itu, tapi jarinya malah membuka kamera depan.
Di layar, wajahnya terlihat tenang. Eyeliner itu memang membuat sorot matanya makin tajam, mirip tatapan William saat sedang serius bekerja.
Ada dorongan aneh di hatinya. Ia ingin William melihatnya seperti ini. Bukan sebagai bawahan yang berdarah-darah, bukan sebagai mahasiswi seni yang kucel, tapi sebagai wanita yang berdiri tegak dengan kakinya sendiri.
"Din, ayo foto bareng!" ajak Siska.
Adinda tersentak, menyimpan ponselnya. "Oke."
Ia berpose bersama teman-temannya. Tidak dengan gaya imut atau jari membentuk tanda peace. Adinda hanya berdiri tegak, tangan disilangkan di dada, dagu sedikit terangkat, dan senyum tipis yang misterius.
"Gila, lo fotogenik banget kalau nggak pasang muka mau membunuh," puji Reni melihat hasilnya. "Lo kayak model majalah vogue edisi mata-mata."
Adinda mendengus geli. "Ada-ada saja."
Malam itu, Adinda belajar satu hal baru. Memperbaiki penampilan bukan berarti menjadi lemah atau menjadi orang lain. Itu adalah strategi adaptasi. Bunglon berubah warna untuk bertahan hidup. Adinda "berubah warna" menjadi lebih rapi untuk membuktikan bahwa dia bisa masuk ke dunia mana pun—dunia jalanan yang keras, atau dunia galeri seni yang wangi—tanpa kehilangan jati dirinya.
Saat pulang ke apartemen, Adinda melepas boots-nya dan menatap jumpsuit hitam yang tergantung di lemari.
"Tidak buruk," gumamnya.
Ia mengambil buku sketsanya. Malam ini, ia tidak menggambar wajah William. Ia menggambar sketsa dirinya sendiri. Sosok wanita dengan pakaian hitam, berdiri di tengah badai, tidak membawa perisai, tapi menjadi badai itu sendiri.
Dan di sudut hati kecilnya, Adinda berharap, jika takdir mempertemukan mereka lagi, William akan melihat sosok baru ini. Sosok yang bukan lagi sekadar pelindung bayaran, tapi wanita yang setara.
Bersambung....
terimakasih