🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa getir
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Yura mengikat plastik sampah, lalu mengangkatnya dengan satu tangan.
"Aku buang sampah dulu," katanya sambil melirik Rose.
Rose mengangguk, senyum nakalnya belum hilang.
Pintu menutup pelan.
Tangga kosan diterangi lampu kuning redup. Yura menuruni anak tangga satu persatu, plastik sampah bergoyang pelan di tangannya. Suara langkahnya menggema ringan.
Ia baru sampai di lantai bawah ketika suara pintu terbuka.
"Oh—"
Yura refleks berhenti.
Rendra berdiri di ambang pintu, mengenakan kaus rumah dan celana santai. Di tangannya ada lap dapur. Wajahnya tampak kaget, lalu langsung berubah santai.
"Kirain kalian sudah tidur," katanya. "Aku tadi mau manggil, tapi takut ganggu."
Yura mengangkat plastik sampah sedikit.
"Belum. Ini… lagi bersih-bersih sedikit, Kak."
Rendra tersenyum. Senyum yang sama, yang selalu membuat Yura lupa alasan logis untuk tidak jatuh cinta. "Jam segini masih beres-beres?"
"Mejanya sudah protes, Kak," jawab Yura. "Katanya mau pensiun dini."
Rendra terkekeh. "Rose?"
"Ada di atas."
Rendra melirik jam dinding. "Aku baru masak spageti. Kebanyakan. Kalian mau?"
Yura menelan ludah. "Spageti?'
"Iya. Aku kira kalian sudah tidur, jadi hampir aku simpan semua."
Yura tersenyum tanpa sadar. "Oh."
Rendra memiringkan kepala. "Kenapa oh nya panjang?"
"Tidak apa-apa," jawab Yura cepat. "Cuma… kagum saja, Kakak bisa masak apa saja."
Rendra tertawa kecil. "Kalau mau, aku ambilkan piring."
Yura ragu satu detik. "Rose—"
"Panggil saja. Biar makan bareng."
Yura menggeleng ringan. "Tidak usah."
Rendra mengangkat alis. "Kenapa?"
"Dia sudah makan mi. Banyak," jawab Yura cepat. "Dan kelihatannya mau tidur."
"Yakin?"
"Yakin," kata Yura terlalu cepat. Lalu menambahkan, "Kalau dipanggil, nanti malah bangun lagi."
Rendra tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu… kau saja?"
Yura mengangguk. "Kalau tidak merepotkan."
"Tidak sama sekali."
Rendra berbalik ke dalam rumah. "Buang sampahnya dulu. Nanti spagetinya keburu dingin."
Yura mengangguk, lalu melangkah ke tempat sampah luar. Tangannya sedikit gemetar saat menjatuhkan plastik itu. Ia menarik napas panjang.
"Tenang," gumamnya pada diri sendiri. "Ini cuma makan spageti."
Yura melangkah masuk ke rumah Rendra, cucu pemilik kosa-kosan itu. Rumah minimalis yang selalu terasa hangat, tapi malam ini justru terasa terlalu lengang. Lampu dapur menyala terang, aroma saus tomat dan bawang putih masih menggantung di udara.
Yura menoleh ke sekeliling, lalu bertanya pelan, seolah takut salah dengar oleh rumah itu sendiri.
"Kak… nenek ke mana?"
Rendra yang sedang membuka lemari mengambil piring, berhenti sejenak. Ia menoleh, lalu menjawab dengan nada ringan yang berusaha terdengar biasa.
"Tadi sore dia pulang kampung."
"Oh," ucap Yura. "Sendirian?"
"Iya."
"Kenapa Kakak tidak mengantarnya?"
"Ada keluarga yang jemput kesini," jawab Rendra singkat. Ia lalu menaruh dua piring di meja. "Duduklah dulu."
Yura duduk, tapi matanya masih mengamati ruang tamu kecil yang biasanya selalu ada suara televisi tua atau batuk kecil sang nenek. "Rumahnya jadi sepi," katanya jujur.
Rendra tersenyum tipis. "Biasanya juga begitu kalau nenek pulang kampung."
"Kalau kali ini, berapa lama nenek akan pergi?"
"Belum tahu. Bisa dua hari, bisa seminggu."
Yura mengangguk pelan. "Kakak tidak takut sendirian? Aku bisa temani Kakak kalau mau?"
Rendra berhenti bergerak.
Tangannya yang sedang meraih sendok menggantung di udara satu detik lebih lama dari seharusnya. Ia menoleh pelan ke arah Yura, seolah memastikan barusan tidak salah dengar.
“Kau… temani?” ulangnya.
Yura tersadar ucapannya barusan terdengar terlalu spontan. Ia buru-buru melambaikan tangan. "Maksudku bukan sekarang. Maksudku kalau… kalau Kakak butuh teman ngobrol. Atau kalau rumah terlalu sepi."
Rendra tersenyum kecil. "Tenang. Aku tidak salah paham."
"Oh," Yura mengangguk. "Bagus."
Rendra menarik kursi, duduk berhadapan dengannya. "Takut sih," katanya jujur. "Tapi bukan karena sendirian. Lebih ke… takut nenek capek."
Yura mencondongkan tubuh sedikit. "Nenek kenapa?"
Rendra belum sempat menjawab.
Dentingan pelan terdengar dari ponsel di samping piringnya. Getarnya singkat, tapi cukup memotong suasana.
Rendra refleks menoleh, lalu meraih ponsel itu. Layarnya menyala, memantulkan cahaya tipis ke wajahnya. Ia hanya membaca sekilas, alisnya sedikit berkerut, lalu menghela napas pendek.
Yura terdiam.
Matanya sempat melirik tanpa sengaja, lalu buru-buru dialihkan ke piringnya sendiri. Ada rasa penasaran yang mengganjal, tapi ia menahannya rapat-rapat.
Rendra menaruh kembali ponsel itu dengan posisi layar menghadap ke bawah.
Seolah pesan itu tidak pernah ada.
Namun hening yang tersisa terasa berbeda.
......................
Rose menunggu dengan waktu terasa lambat. Yura lama sekali keluar, dan rasa penasaran mulai merayap. Ia membuka pintu dan keluar, di sana tidak ada tanda Yura di luar.
Dengan langkah pelan, hampir tanpa suara, Rose menuruni tangga, setiap gerakan dibuat hati-hati agar tidak terdengar.
Saat ia hampir sampai lantai bawah, suara dari luar terdengar samar. Tanpa sengaja, ia menoleh ke arah jendela rumah pemilik kos-kosan itu.
Dari sana, ia bisa melihat Yura dan Rendra sedang berbicara. Akrab. Santai. Senyum Rendra yang selalu membuat Rose merasa… getir sekaligus hangat, membuatnya menahan napas.
Ia berdiri di balik jendela, menatap mereka beberapa saat. Ada senyum tipis yang muncul di bibirnya, tapi juga rasa getir yang sulit dijelaskan.
Perasaan itu mencampur aduk bangga melihat Yura nyaman, tapi juga sedikit cemburu dan tidak nyaman.
Rose memutuskan untuk kembali. Langkahnya tetap pelan, hati terasa aneh. Setibanya di kamar, ia menutup pintu dengan lembut, membiarkan suara langkahnya hilang di lantai atas.
Rose langsung masuk, berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Nama My Love terpampang di layar. Dengan jari-jari yang lincah, ia menulis,
"Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja. Tolong hibur dia, dia lagi-lagi bertengkar dengan atasan kalian."
Rose tersenyum, meletakkan ponsel di samping bantal, menaruh kepalanya, dan memejamkan mata.
......................
Yura menatap Rendra hati-hati. "Kakak… ada kerjaan?"
Rendra menoleh, tersenyum biasa-biasa saja. "Tidak. Santai saja."
Yura menunduk sebentar, ragu. "Benar-benar… tidak ada?"
"Benar," jawab Rendra ringan. "Tidak ada yang mendesak."
Yura menarik napas. "Kalau begitu… aku tidak mengganggu, kan?"
Rendra mengangkat alis, sedikit terkekeh. "Tidak sama sekali. Kau tenang saja."
Yura tersenyum tipis, menatap piringnya. "Ah… aku cuma takut… Kakak sibuk, jadi aku malah mengganggu."
Rendra menatapnya sejenak. "Kalau aku sibuk, aku pasti bilang."
Yura menelan ludah, kemudian mencoba tersenyum lagi. "Baik… kalau begitu, aku bisa makan tanpa rasa bersalah."
Rendra tersenyum ringan. "Itu baru benar."
Yura mencondongkan tubuh sedikit, suara pelan. "Kakak… selalu tenang ya… bahkan kalau sendirian."
Rendra menatapnya, senyumnya mengembang tipis. "Ketenangan itu bisa menular."
Yura menghela napas panjang. "Kalau begitu… aku ingin menular sedikit ketenangan Kakak."
Rendra tertawa pelan. "Kalau begitu, mulai dari sekarang, tahan emosi, dan bersikaplah sesantai mungkin."
Yura menunduk lagi, tersenyum tipis, dan akhirnya mulai mengambil sendok.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺