Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Akbar melepas ikatan dasi dikerah kemeja dengan kasar hingga membuat benda itu bergelantungan dibahu kanan dan bahu kirinya. Ia juga melepas dua kancing kemeja teratas membiarkan udara ac menembus pori-porinya yang terbuka.
Luna yang melihat sikap Akbar dibuang bingung sendiri, ingin mendekat tapi hatinya masih sakit ketika mengingat apa yang sudah dilakukan Akbar dibelakangnya akhirnya ia mendekat perlahan tanpa melakukan apapun disana.
Akbar memandang setiap sudut didalam kamar Luna tempati sekarang ini, hotelnya memang sangat bagus dan cantik pantas Luna betah tinggal disini dan tidak mengabari dirinya.
"Apa kamu mau minum? aku bisa ambilkan dulu." ucap Luna berlalu menuju dapur yang tak jauh jaraknya dari sofa.
Di dalam dapur Luna mencoba menetralkan detak jantungnya, ia terlalu terkejut akan kedatangan Akbar mendadak sore ini, belum jelas kenapa pria itu datang kemari dan dari mana dia tahu hotel Luna tempati. Sambil mengira-ngira Luna membuatkan secangkir kopi panas untuk Akbar meski bukan kopi hitam layaknya kesukaan suaminya itu.
Luna mengaduk-aduk kopi dengan amat sangat pelan mengulur waktu untuk bertatap langsung didepan suaminya, Luna lagi-lagi menarik nafas panjang. Kenapa jadi begini? ini tak sesuai dengan rencana awalnya Luna pergi ke Bali. Tadinya ingin refreshing pikiran sekaligus ia menghindari suaminya tetapi Akbar justru menyusul dirinya hingga ke Bali.
Kopi telah siap dihidangkan, Luna membawa satu gelas ditangannya menuju ruang tamu dimana Akbar berada. Pria itu masih tetap duduk dan mengistirahatkan tubuhnya. Luna menaruh secangkir kopi diatas meja dan duduk berhadap-hadapan dengan Akbar, mereka sama-sama diam.
Situasi yang mendadak ini sangat membuat Luna tak tahu harus berbuat apa, menatap Akbar pun ia tak kuasa. Akbar sama sekali tak mengeluarkan suara sedikit pun, ia bahkan tidak memberitahu apa alasannya datang kemari.
"Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Luna yangs sedari tadi pertanyaan itu tak menemukan jawaban apapun dari suaminya.
Akbar menoleh dan menatap wajah istrinya, ada sesuatu yang bergetar dalam jiwa raga Akbar melihat wajah cantik Luna yang hanya mengenakan setelah dress, Luna terlihat anggun dan cantik dimatanya.
"Ada keperluan bisnis mendadak disini." jawab Akbar singkat.
Dengan hanya sekali mendengar Luna bisa tahu jika Akbar hanya sedang beralasan dan tak mengatakan jawaban yang sebenarnya.
"Tolong jangan bercanda Akbar! kamu tahu aku kesini ada urusan mendadak dengan temanku dan sekarang kamu malah datang dengan alasan yang tidak jelas." ucap Luna berani, ia benar-benar kesal dengan Akbar yang dengan santainya merusak rencana Luna.
"Aku tidak tahu ,kamu hanya bilang pergi karena ada urusan mendadak tidak memberitahu dimana sebenarnya." ucap Akbar yang langsung membuat Luna skatmat akan kalimatnya.
Perkataan Akbar kini menjadi boomerang tersendiri bagi Luna, apa yang Akbar ucapkan memang benar adanya. Tapi apakah itu penting? memberitahu Akbar dimana ia pergi bahkan Akbar tak peduli saat ia ada di rumah. Melihat Luna yang diam Akbar tersenyum miring, ia tahu wanita didepannya ini tak mampu membalas seruan Akbar.
Dengan santai Akbar mengambil kopi yang tersedia dimeja dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"Aku disini juga pengen liburan tanpa diganggu denganmu Akbar selain urusanku dengan temanku. Tolong mengertilah.." kata Luna memohon.
"Aku tidak akan mengganggumu, kamar di hotel ini sudah penuh jadi aku terpaksa harus menginap di kamar hotelmu, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, aku janji tidak akan mengganggu Luna." ucap balas Akbar
Luna hampir putus asa mendapat berbagai alasan yang diajukan oleh Akbar,, entah kenapa suaminya sangat aneh dirasanya.
"Kamu seharusnya tetap tinggal dirumah apalagi ibu dirumah sendiri, ia pasti kesepian." ucap Luna.
Akbar meletakkan kembali kopi itu diatas meja dan memposisikan tubuhnya dengan tegap.
"Bukankah dirumah ada asisten rumah tangga yang biasanya juga menemani ibu, tak perlu terlalu mengkhawatirkan ibu nanti bisa ku panggilkan Dita untuk menemani ibu." jawab Akbar
Mendengar jawaban Akbar akan memanggil Dita buat menemani ibu dirumah seolah dunianya runtuh, hatinya semula sedikit membaik malah semakin membuka lebar luka hatinya. Akbar pun diam membisu ia terus menatap lurus ke arah Luna, manik bening itu memang membuat Akbar sedikit goyah untuk tetap melakukan tujuan utama ia datang.
"Jadi kamu benar-benar ingin aku pergi dari sini?' tanya Akbar pada Luna.
Luna tak menjawab, ia sangat ingin bilang 'iya' namun hati dan otaknya tidak seimbang satu sama lain. ia pun mengalihkan pembicaraan.
"Disini hanya ada satu kamar." ucap Luna memalingkan pandangan ke sembarang arah.
"Tak masalah, aku bisa tidur disofa ini." balas Akbar
Mendengar itu Luna menatap kembali wajah Akbar dengan tatapan tajam.
"Terserah kamu, jangan menggangguku." ucap Luna tegas.
"iya aku tak akan mengganggumu sayang." jawab Akbar
ceess....
Jawaban Akbar membuat Luna bertanya-tanya suaminya memanggilnya sayang, apa ia tak salah dengar selama ini dirinya tak satu pun mendengar ucapan itu dari suaminya selama pernikahan 4 tahun ini. Kini ia tidak hanya merasa bingung pada suaminya, Luna juga merasa aneh dibuatnya. ia memutar bola malas lalu bangkit dari sofa.
"Terserah kamu saja! yang penting jangan ganggu aku." ucap balas Luna
Setelah berbicara demikian Luna berlalu dan berjalan kearah kamar. Saat ia akan menutup pintu kamar tiba-tiba pintu itu justru terbuka menampakkan Akbar yang juga ikut masuk kedalam sana.
"Apa yang kamu lakukan?' tanya Luna
"Aku ingin mandi, kamar mandinya pasti ada didalam sana. Aku harus membersihkan tubuhku dulu." jawab Akbar
Luna terbengong tak habis pikir, Akbar dengan tidak tahu malunya masuk kedalam kamar lalu membuka pakaian dan menyisakan celana panjang yang menutupi kaki jenjang itu. Luna melamun sambil terus menatap AKbar, waktu tidurnya kian terganggu dengan adanya sang suami disini.
"Oh iya, bisakah ambilkan barang-barangku di lobby selagi aku mandi? aku ingin mengganti bajuku." ucap Akbar memohon ke Luna.
Luna yang tengah melamun tanpa sadar mendengar apa yang diminta suaminya, pintu kamar mandi pun menutup Luna pun tersentak dan tersadar kembali.
Luna hanya menghela nafas, mau tidak mau ia pun turun ke bawah mengambil barang milik suaminya yang berada dilobby hotel.
Lima belas menit kemudia Luna kembali ke kamarnya dengan membawa barang yang Akbar maksud, ternyata pria itu tak membawa banyak barang hanya satu barang koper dan itu pun tidak besar.
Luna masuk kembali kedalam kamarnya, disana Akbar terlihat sedang duduk ditepi ranjang dengan memakai selembar handuk di pinggangnya sembari memainkan ponsel berlogo buah tersebut.
AKbat yang menyadari kedatangan istrinya langsung menyimpan ponselnya dan beranjak mendekat.
"in..ini barang-barangmu, cepatlah memakai pakaian, Aku ingin segera tidur." ucap Luna tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦