"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Aroma Parfum Mahal di Baju Sekolah
Sedang berada di ujung tanduk yang sangat tajam, Gwenola hanya bisa menunduk pasrah di bawah tatapan guru yang nampak sangat murka tersebut. Seluruh isi kelas menahan napas saat suara dentuman kursi kayu yang jatuh tadi masih menyisakan gema yang sangat mencekam di telinga. Teman sebangkunya, Maya, menyeringai tipis sambil terus mengamati gerak-gerik Gwenola yang nampak sangat mencurigakan pagi ini.
Gwenola segera mengangkat kembali kursinya dengan tangan yang masih gemetar sangat hebat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bisa merasakan keringat dingin merembes keluar dari balik seragam sekolah menengah atas yang ia kenakan dengan sangat kaku. Aroma parfum kayu cendana yang sangat maskulin itu kini terasa seperti jerat leher yang semakin lama semakin mencekik pernapasannya.
"Duduk kembali dan jangan membuat keributan lagi atau kau akan saya hukum di luar kelas," tegur sang guru dengan suara yang sangat dingin.
Gwenola segera duduk dengan posisi tubuh yang sangat membungkuk, berusaha keras agar bahunya tidak bersentuhan dengan Maya. Ia menarik napas dalam-dalam namun justru kembali menghirup aroma Xavier yang menempel sangat kuat di serat-serat kain bajunya. Rasanya seolah pria pimpinan perusahaan itu sedang berdiri tepat di belakangnya dan sedang mengawasi setiap gerakannya dengan mata yang sangat tajam.
"Gwen, parfum pria yang kau pakai ini benar-benar membuatku sangat penasaran," bisik Maya sambil mendekatkan hidungnya ke arah kerah baju Gwenola.
Gwenola segera menutup lehernya menggunakan telapak tangan kanan, namun hal itu justru membuat kilauan kecil dari dalam sakunya terlihat oleh Maya. Gadis itu terbelalak saat menyadari ada sesuatu yang sangat berkilau di balik kain tipis rok sekolah Gwenola yang usang. Maya segera menarik tangan Gwenola secara paksa di bawah meja kelas yang sangat gelap dan sunyi tersebut.
"Lepaskan tanganku sekarang juga, Maya, atau aku akan melaporkanmu kepada guru!" ancam Gwenola dengan bisikan yang sangat penuh amarah.
Maya tidak memedulikan ancaman tersebut dan justru berhasil menyentuh permukaan cincin berlian yang sangat besar yang sedang disembunyikan oleh Gwenola. Wajah Maya seketika berubah menjadi sangat pucat karena ia tahu persis bahwa benda itu memiliki nilai yang sangat fantastis. Kecurigaannya kini berubah menjadi sebuah kepastian yang sangat mengerikan sekaligus sangat menggiurkan untuk dijadikan bahan pembicaraan.
"Seorang siswi miskin seperti dirimu mustahil bisa memiliki benda semahal ini jika tidak melakukan sesuatu yang sangat menjijikkan," tuduh Maya dengan tatapan yang sangat menghina.
Gwenola merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan hati itu keluar dari mulut teman sebangkunya sendiri. Ia ingin membela diri namun ia teringat pada ancaman Xavier tentang keselamatan ayahnya yang sedang berada di ujung tanduk hukum. Air mata mulai menggenang di sudut mata Gwenola saat ia menyadari bahwa martabatnya kini sedang dipertaruhkan di depan umum.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku, jadi sebaiknya kau tutup mulutmu yang sangat berisik itu," sahut Gwenola dengan suara yang sangat tercekat.
Maya tertawa kecil tanpa suara, sebuah tawa yang mengandung racun yang siap disebarkan ke seluruh penjuru sekolah menengah atas mereka. Ia segera mengeluarkan telepon genggam miliknya dari dalam laci meja dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak terlihat oleh guru. Gwenola panik dan mencoba merebut benda tersebut, namun Maya jauh lebih cepat dalam menyembunyikan tangannya yang lincah itu.
"Aku akan mencari tahu siapa pria kaya yang sudah membelikanmu perhiasan mewah ini," ancam Maya sambil mulai mengetik pesan rahasia kepada teman-teman mereka yang lain.
Sepanjang sisa jam pelajaran, Gwenola merasa seolah dirinya sedang duduk di atas bara api yang sangat panas dan sangat membakar kulit. Ia terus menatap jam dinding sekolah, berharap waktu segera berputar dengan sangat cepat agar ia bisa lari dari tekanan yang sangat menyesakkan ini. Namun, ia juga takut jika Xavier benar-benar menjemputnya di gang gelap dan Maya mengikuti gerak-geriknya dari belakang secara diam-diam.
Ketika bel istirahat berbunyi, Gwenola segera berlari menuju kamar mandi sekolah untuk membasuh wajahnya yang nampak sangat kuyu dan lelah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang sudah mulai retak, melihat seorang gadis yang tidak lagi ia kenali karena beban rahasia yang terlalu berat. Ia menggosok kerah bajunya berkali-kali menggunakan air sabun, berharap aroma parfum Xavier bisa menghilang dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
"Kenapa aroma ini tidak mau pergi, seolah pria itu benar-benar ingin menandai diriku sebagai miliknya?" isak Gwenola sambil terus menggosok kain seragamnya.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi sekolah terbuka dengan sangat keras hingga menghantam dinding beton yang ada di belakangnya. Sekelompok siswi yang dipimpin oleh Maya masuk dengan ekspresi wajah yang sangat meremehkan dan penuh dengan niat yang sangat buruk. Mereka mengepung Gwenola di depan wastafel, menghalangi jalan keluar bagi gadis malang yang kini nampak sangat ketakutan itu.
"Tunjukkan pada kami cincin yang kau sembunyikan itu, Gwenola, atau kami akan merobek saku rokmu sekarang juga!" perintah Maya dengan nada yang sangat penuh ancaman.
Gwenola memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tembok yang sangat dingin dan sangat lembap. Ia mendekap tas sekolahnya dengan sangat erat, mencoba melindungi sisa-sisa harga dirinya yang kini sedang berada di ambang kehancuran total. Di luar sana, suara langkah kaki pria yang sangat berat terdengar mendekati area kamar mandi siswi dengan penuh wibawa yang sangat mengintimidasi.