Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama yang Sunyi
Mobil melaju perlahan meninggalkan gedung resepsi yang masih terang oleh lampu. Aruna duduk tegak di kursi penumpang, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Kebaya ivory keemasan yang ia kenakan masih melekat sempurna di tubuhnya, buntut panjangnya kini terlipat rapi di kursi belakang. Veil yang tadi menjuntai anggun telah dilepas, tetapi sanggul rapi di kepalanya tetap utuh, seolah ia masih berada di altar pernikahan.
Di sampingnya, Revan duduk kaku dengan beskap ivory keemasan yang sama megahnya. Blangkon rapi masih terpasang, kain batik yang serasi dengan Aruna terjulur anggun di lututnya. Mereka tampak serasi pasangan pengantin yang sempurna dari luar. Namun di dalam mobil itu, keheningan membentang tebal, seperti dinding tidak terlihat yang memisahkan dua orang yang baru saja diikat oleh janji suci.
“Perjalanan ke rumah gak terlalu jauh, kok.” ujar Revan, suaranya datar.
Aruna mengangguk kecil. “Ok.”
Lampu-lampu kota berkelebat di balik kaca, memantulkan bayangan wajah Aruna yang tenang namun tertutup. Ia menatap lurus ke depan, mencoba mengatur napas. Dadanya terasa penuh bukan oleh kebahagiaan, melainkan oleh perasaan yang terlalu kompleks untuk diberi nama. Ia adalah istri Revan sekarang. Status itu nyata. Cincinnya melingkar di jari manisnya, dingin dan berat.
“Nanti sampai rumah, kamu langsung istirahat aja.” Kata Revan lagi, setelah beberapa saat hening.
“Iya,” jawab Aruna pelan dan singkat.
Rumah yang mereka tuju tidak jauh dari rumah orang tua Revan. Rumah dua lantai dengan desain modern, bersih, rapi, dan nyaris tanpa sentuhan personal. Gerbang terbuka perlahan saat mobil masuk ke halaman. Lampu taman menyala redup, menyambut mereka dengan cahaya yang hangat.
Mobil berhenti. Revan turun lebih dulu, membuka pintu untuk Aruna dengan gerakan formal. Tidak ada sentuhan yang tertinggal lebih lama dari yang perlu. Aruna turun dengan hati-hati, mengangkat sedikit kebayanya agar tidak terseret. Sepatu sandal satin berornamen mutiara menyentuh lantai halaman dengan bunyi pelan.
“Silakan masuk,” ucap Revan, memberi ruang.
“Terima kasih,” balas Aruna.
Revan membuka pintu utama. Aruna melangkah masuk, matanya menyapu ruang tamu yang luas. Sofa berwarna netral, dinding putih bersih, lampu gantung minimalis. Tidak ada foto. Tidak ada kenangan. Rumah itu seperti kanvas kosong dan entah mengapa, Aruna merasa kosong yang sama merambat ke dalam dirinya.
“Ada dua kamar di atas, dibawah kamar pembantu.” Ucap Revan akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi.
Aruna mengangguk, sambil matanya melihat sekeliling. “Ok.”
Mereka menaiki tangga bersama, tetap tanpa saling menatap. Revan berhenti di depan kamar utama, membuka pintu. Kamar itu luas, ranjang besar di tengah, seprai putih rapi, lampu tidur menyala lembut.
Aruna berdiri di ambang pintu. Ia tahu, secara logika, inilah kamar mereka. Namun Revan tidak mengijinkannya masuk.
“Ada kamar lain di ujung,” kata Revan pelan. “Kamu bisa pakai yang itu.”
Aruna menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
“Baik,” jawabnya singkat. Tidak ada protes.
Aruna berjalan menuju kamar yang dimaksud. Kamar itu sama luasnya dengan kamar utama, bersih dan rapi. Tempat tidur ukuran besar, lemari baju ukuran sedang, dan meja kecil. Ia masuk dan menutup pintu perlahan. Di dalam kamar itu, akhirnya ia membiarkan bahunya turun, napasnya bergetar tipis.
Ia duduk di tepi ranjang, masih dengan kebaya dan kain batik yang sama. Riasan wajahnya masih utuh, tetapi matanya terasa perih. Malam pertama. Ia tersenyum pahit pada dirinya sendiri. Bahkan istilah itu terdengar asing malam ini.
“Tenangkan dirimu Aruna, sejak awal kamu sudah tahu resikonya.” Ujar Aruna, berusaha menenangkan diri.
Di kamar utama, Revan berdiri lama di tengah ruangan. Ia melepaskan blangkon, meletakkannya di meja. Beskapnya masih menempel di tubuh, terasa semakin berat. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk, mengusap wajah dengan kedua tangan.
Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan. Dan ia tahu, keputusan tidur terpisah di malam pertama, akan meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus.
“Lebih baik seperti ini, tidur di kamar terpisah. Ini sudah benar.” Gumam Revan.
Namun anehnya, ada bagian dalam dirinya yang justru merasa lega. Jarak itu terasa aman. Tidak ada tuntutan. Tidak ada perasaan yang harus ia hadapi malam ini.
Di kamar sebelah, Aruna berbaring dengan posisi menyamping. Kebaya masih membalut tubuhnya, kain batik belum dilepas. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka. Air mata tidak jatuh, tetapi dadanya sesak.
“Tapi kenapa rasanya sakit sekali,” Aruna berbicara sendiri, tanpa sadar air matanya menetes.
Ia masih mencintai Revan. Dan justru karena itu, ia memilih diam.
Malam merayap pelan. Dua orang berada di bawah atap yang sama, mengenakan busana pengantin yang sama, tetapi tidur dengan jarak yang nyata.
Di luar, hujan turun tipis, mengetuk jendela dengan ritme pelan seolah ikut meratapi malam pertama yang tidak pernah benar-benar dimulai. Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, malam ini bukan hanya tentang tidur terpisah.
“Tidak apa-apa,” bisik Aruna lirih pada dirinya sendiri, nyaris tidak bersuara.
Malam ini adalah awal dari jarak panjang yang akan menguji siapa yang lebih dulu lelah, cinta yang dipendam atau penyesalan yang kelak datang terlambat.
Aruna bangkit dari ranjang. Kebaya masih membungkus tubuhnya, terasa kaku dan dingin. Ia melangkah ke jendela, menarik gorden tipis. Lampu taman memantulkan bayangan hujan yang jatuh perlahan dan tenang, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.
“Aku bisa melewati ini,” gumamnya pelan, lebih seperti penguatan daripada keyakinan.
Di kaca, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Rapi, cantik, dan asing. Istri. Sebuah status yang terasa berat di dada. Ia memejamkan mata, berusaha mengingat alasan mengapa ia ada di sini.
Ia memilih menjalani. Napasnya diatur, bahunya ditegakkan. Jika jarak adalah harga yang harus dibayar, ia akan menanggungnya tanpa keluhan.
“Tenang, Aruna,” katanya lirih, kali ini lebih tegas. “Kamu tidak meminta apa pun.”
Di kamar utama, Revan berbaring telentang sambil menatap langit-langit. Beskap yang belum dilepas menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas lega. Ia memalingkan wajah ke arah pintu, lalu segera menoleh lagi.
“Aku melakukan hal yang benar, kan?” gumam Revan, tanpa benar-benar mengharapkan jawaban.
Ponsel di sakunya bergetar pelan. Revan meraihnya, pesan masuk dari Viona, “kamu dimana?”
Jarinya menggantung di atas layar, ia tidak membalas. Perlahan layar ponselnya padam, kemudian ia meletakkan ponselnya di atas laci samping tempat tidur.
Sementara di kamar ujung, Aruna menerima pesan yang mengejutkan. “Aruna, ini aku Daniel. Apa benar kamu sudah menikah? Sepertinya aku patah hati untuk kedua kali.” Aruna membaca pesan itu, ia hanya terdiam tanpa balasan.