Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Ipar Posesif
"Iya, aneh kan? bahkan Reva aja sampe ngelarang Aku ketemu sama adeknya Dia. sampe akhirnya Reva sama Aku pindah rumah dengan penjagaan yang ketat biar adeknya gak bisa datang ke rumah Kami seenaknya. Oh ya, nama adik ipar Aku Anya Kak"
"Oh... Terus sekarang Anya dimana?"
"Setelah Reva meninggal, Aku sengaja makin jaga jarak sama Dia. Terakhir sih Aku denger Dia ada di UK buat ngelanjutin study nya, Aku nggak pernah nyari tahu juga. Cuma, Mamanya Reva masih sering ngomong kalo Beliau pengen Aku nikahin Anya, Aku nggak mau, nggak suka"
Ucap Dewangga panjang lebar. Tiba-tiba saja Nurmala merasa lucu. Saat mengatakan nggak mau, nggak suka, Dewangga persis seperti Ergi.
"Ya udah, kalau Kamu nggak mau ya tinggal tolak aja. Kalau Dia maksa ya bilang aja Kamu udah punya yang lain, Aku yakin, perempuan manapun kalau tahu laki-laki yang disukainya udah punya pacar, bakalan berhenti deh"
'Tapi nggak berlaku buat Anya, soalnya Anya agak sakit jiwa' Sahut Dewangga dalam hati. Namun didepan Nurmala Dia hanya bisa tersenyum kaku.
Melihat wajah Dewangga yang terlihat tidak senang, sepertinya sosok Anya ini memang sangat tidak di sukai oleh Dewangga. Nurmala pun berpikir untuk mengganti topik pembicaraan saja,
"Anya pernah hampir mencelakai Reva pas hamil Ergi dulu, nggak ada yang tahu fakta itu selain Aku sama Reva dan Mba Yuliana, Kakakku. Itu sebabnya Aku sama Reva pindah rumah tanpa sepengatahuan keluarga Reva, bahkan Mamanya pun nggak di kasih tahu Kak. Jujur aja, sampe sekarang Aku masih curiga dengan kematian Reva yang mendadak"
Deg!
Maksudnya? Nurmala mendelik karena terkejut mendengar penuturan Dewangga. Maksudnya istri Dewangga meninggal tidak wajar begitu?
"Aku selalu bilang kalau Reva meninggal karena demam nifas, tapi sebenarnya enggak. Reva jatuh dari balkon kamar Kami. Sayangnya, di kamar Aku nggak ada cctv, jadi Aku nggak bisa lihat apa yang terjadi sebelum Reva jatuh. Tapi dari cctv luar kamar, orang yang terakhir masuk ke kamar itu adalah baby sitter Ergi sama... Anya. Tapi yang paling mendekati waktu Reva jatuh adalah Anya..."
"Maksud Kamu... Adik ipar Kamu yang...."
"Ya, Aku menduga Dia melakukan sesuatu sama Reva. Sayangnya Aku nggak punya bukti kuat, dan nggak ada saksi mata. Mama mertuaku juga melarang Aku untuk mengusut ini, Aku marah banget sampe nggak bisa ngomong apa-apa saat itu. Reva anak Mereka juga kan? Tapi Mereka bahkan nggak mau mengusut kematian anak Mereka yang meninggal dengan cara yang janggal. Itu sebabnya, Aku jarang berhubungan dengan keluarga Reva, terutama Anya"
"Dewangga...."
"Kalau suatu saat Kak Nurma ketemu Anya di rumah sakit, tolong cuekin aja dan jaga jarak. Dia itu berbahaya"
"Ok. Kamu yang kuat ya, Aku nggak tahu harus ngomong apa buat menghibur Kamu"
"Nggak Kak, keberadaan Kak Nurma di hidup Aku adalah kebahagiaan yang nggak terkira buat Aku"
"Ya?"
"Kita udah sampai. Ayo turun...." Ucap Dewangga yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Tapi Dia juga tidak berbohong karena Mereka memang sudah sampai di restaurant seafood yang Mereka tuju.
"Bahkan dari sini aja wanginya udah kecium... Hmmmm jadi makin laper" Kata Nurmala, Dia juga berusaha untuk mencari topik baru yang lebih menyenangkan.
"Seafood disini emang enak banget. Aku sama Kak Yuliana dan Putri sering banget kesini ngajak Ergi juga" Sahut Dewangga.
"Emang enak sih, Aku udah lama nggak kesini, terakhir kali kayaknya pas abis wisuda deh, soalnya Aku pindah ke Jakarta" Sambung Nurmala.
Mereka kemudian berjalan bersama masuk ke dalam restaurant, sebelum satu panggilan dari seseorang menghentikan langkah Mereka.
"Kak Dewa!!"
'Ah sialan!' Dewa memaki dalam hati. Itu suara Anya. Kenapa Dia bisa disini tiba-tiba.
Gadis itu melangkah dengan ceria lalu merangkul lengan Dewangga, tanpa melirik Nurmala sama sekali. Malah terkesan memberikan tatapan sinis pada Nurmala.
'Nggak sopan kali anak ini' Nurmala membatin, tapi Dia juga tidak mau kalah. Dia pun membalas tatapan Anya tak kalah tajam.
"Apa sih" Dewangga melepaskan tangan Anya dengan sedikit keras, hingga gadis itu mundur 2 langkah.
"Kak Dewa..."
"Kok Kamu ada disini?" Tanya Dewangga, wajahnya langsung berubah dingin. Anya menelan ludahnya dengan jantung berdegup kencang. Sudah lama Ia tidak bertemu Dewangga, rupanya Pri ini semakin matang dan tampan!
"Tadi temenku ngajak Aku makan disini, terus nggak sengaja Aku lihat kak Dewa. Kalo gitu, Ayo Kita makan bareng, udah lama Kita nggak ketemu kan?" Tanya Anya dengan wajah penuh harap. Lagi-lagi, tanpa memperdulikan Nurmala disana.
Nurmala tidak heran, kenapa Dewangga tidak menyukai gadis di depannya ini. Nurmala mendapat kesan gadis ini memang tipe yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.
Buktinya, tanpa malu terus-menerus mencoba menyentuh Dewangga meski Pria itu tampak tidak nyaman dan bahkan sudah menolaknya.
Apalagi tatapannya yang berkilat setiap kali bertemu pandang dengan Nurmala.
'Kasihan, padahal masih muda' Batin Nurma tiba-tiba. Kalau orang normal, sudah ditolak pasti akan malu dan pergi. Tapi, Anya ini... Sepertinya mengalami gangguan kesehatan mental.
"Nurma, Ayo Kita masuk" Dewangga tiba-tiba menggenggam tangan Nurmala yang tengah melamun.
"Oh, Iya..." Dia menolah ke arah Anya yang wajahnya merah padam. Serem banget. Nurmala membatin, lalu segera mengalihkan pandangannya.
"Beneran nggak apa-apa, Dia ditinggal begitu aja?"
"Nggak apa-apa, ada temennya juga kan katanya? Kalau Dia ikut, Aku malah nggak nafsu makan"
"Iya udah... Jangan cemberut, hehehe, Kamu kalau lagi kaya gitu mirip banget sama Ergi"
"Masa sih? Tapi masuk akal lah, Aku kan Bapaknya"
"Hahaha, iya, iya. Ya udah Ayok pesen, aku mau ini...."
Mereka berdua pun memesan makanan favorit masing-masing. Dari jauh Anya memperhatikan bagaimana Dewa memperlakukan Nurmala dengan lembut dan penuh perhatian.
"Perempuan tua itu. Aku harus menyingkirkan Dia. Dewa itu punyaku!!" Ucapnya dengan tangan terkepal erat.
Setelahnya, Anya tidak jadi makan dan pergi dari restaurant itu dengan langkah penuh emosi. Dia berniat mengadukan kejadian ini pada Mamanya.
"Ngomong-ngomong Kak, pas reuni nanti, jadi pasangan Aku ya?"
"Kamu mau datang emangnya?"
"Datang dong... Gimana? Mau ya? Ya, ya, ya?"
"Hihihi, ya udah iya oke. Nanti berangkatnya bareng temenku ya, Dia datang dari Jakarta"
"Aku tahu, Kak Retno kan?"
"Kok Kamu tahu?"
"Apa sih yang nggak Aku tahu dari Kak Nurma... Aku tahu semua soal Kak Nurma..."
"Kamu kalo ngomong begitu, Aku jadi merinding loh"
"Hahahaha, Aku kan pengagum rahasia Kak Nurma dari jaman kuliah dulu"
Ucap Dewangga dengan percaya diri, sementara Nurmala sudah memerah entah karena malu atau karena senang?
Tidak, tidak. Aku nggak boleh terlena. Udah paling bener hidup sebagai single abadi. Aku nggak mau lagi kalau suatu saat harus patah hati untuk kedua kalinya. Nurmala membatin.
harus ada anti hero yang membuat cerita seruu🎸🎸