"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepergian yang mengecewakan
Sena tersentak mendengar teriakan Arunika yang sudah kesal, langkah Aru mendekatinya dengan cepat. Arunika melempar layangan itu hingga dengan kasar mendaratdi kepala Sena
"sudah Aru jelaskan! Bapak gak salah!! Sena kalau mau marah ya marah aja, tapi jangan hina Bapak.. jangan hina keluarga Aru!!" bentak Arunika dengan mata yang mulai merah karena berair
"Bapaknya Aru aja bunuh Mama Sena, kenapa Sena gak boleh hina bapak Aru?" celetuk pelan Sena dengan wajahnya yang datar
"karena Sena bodoh! karena Sena tuli!! Aru benci Sena!" teriak Arunika, dadanya naik turun menahan amarah beberapa kali dirinya menjelaskan Sena tak pernah percaya padanya
"tapi.. gimana janji Sena? Sena mau ingkar janji?" tanya Arunika pelan di sela isak tangisnya
"janji apa? Sena gak pernah janji!" jawab Sena menyangkal membalikkan badannya, tangis Arunika mulai pecah bahkan sampai sesenggukan. marah, kecewa bercampur menjadi satu
"Ar.. Aru.. sayang Se.. na.. kenap.. pa.. Sena bohong?" tanyanya putus-putus, tangisnya mulai tak terdengar lagi karena nafasnya mulai sesenggukan
"Sena gak pernah sayang Aru.. Sena bohong, Sena benci sama Aru!! Sena gak pernah janji sama Aru" sahut Sena yang membelakangi Arunika itu, pipinya yang basah karena air mata berusaha dia sembunyikan dari gadis di belakang nya
"kalau gitu.. mulai sekarang.. Aru juga gak kenal sama Sena, Sena pembohong!! Sena anak nakal!!" pekiknya keras
"Aru gak mau liat Sena lagi, Sena pergi saja sama nenek Sena yang jahat itu!" lanjut Arunika berlari meninggalkan Sena sendiri disana.
Sena berjalan memasuki rumahnya dengan langkah lemas, teriakan Arunika yang begitu kesal padanya membuat hatinya semakin terpuruk, seharusnya Arunika tak marah dan terus mengganggunya! bukan malah pergi..
"Sena.. baru pulang sayang? kemana aja?" tanya Merry tersenyum ramah, tampilannya jauh lebih ringan dari sebelumnya
Sena tak menjawab apapun, terakhir kali wanita tua didepannya itu benar-benar mengecewakan nya bahkan menyirat setitik trauma dalam benaknya
"Sen.. ayo masuk" suara papanya memanggil dari dalam, terdengar dingin dan datar
"maaf.." ucap Maja pada putranya itu setelah duduk di sampingnya, Sena menatap papanya bingung
"Sena mau ikut Papa pindah? kita tinggal di kota ya?" lanjutnya dengan senyum yang di paksakan
"Sena gak mau! Sena mau disini.. disini ada Mama" lirih Sena menggelengkan kepalanya. Maja tak kuat menahan sakit jika terus tinggal di desa itu, bayangan Utari yang penuh luka dengan baju tak utuh itu selalu menghantuinya setiap menit
"Mama dengar kan? Sena tidak mau pergi dari sini begitupun dengan Maja!" ucap Maja berat
"kamu pikir aku rela menerima anak dari wanita desa itu? heh.. jika kamu tidak kembali biarkan dia tinggal jauh dari kamu!!" ucap Merry mengancam
"Eko.. bawa Sena, kita pulang sekarang!" perintahnya tegas, pria dengan tubuh kekar itu masuk menggendong paksa Sena dan membawanya ke mobil tak peduli dengan teriakan Sena yang memberontak, tak peduli dengan amarah Maja juga
"lepas!! Sena tidak akan pergi!! dia putraku, jika Mama berani menyakitinya.."
"maka kembalilah! dia tidak akan ku lukai. bagaimanapun dia juga darah keturunan keluarga Atmaja!" potong Merry tak terbantahkan
"Mama tunggu di rumah, jika kamu tidak pulang dalam waktu tiga hari maka Mama akan bawa Sena tinggal di luar negeri!" lanjutnya memasuki mobil mengabaikan putranya yang sudah begitu marah
"gak mau!! Sena mau sama papa aja! PAPA!!!" teriak Sena memberontak ingin membuka pintu mobil
"Diam!!!" bentak Merry yang setres dengan Sena yang tak bisa diam, bahkan tak sengaja menendang wajahnya saat dirinya berusaha menarik bocah itu untuk melepaskan pintu mobil
"ck! Sena dengar!! Oma gak akan pisahin kalian.. Oma cuma mau Putra Oma pulang sayang" ucap Merry berusaha lembut
"Oma bukan orang jahat sayang.. Oma udah lama gak ketemu sama Papa kamu dia selalu hindarin Oma bahkan saat kamu lahir pun dia gak mau Oma menjenguknya menjenguk kamu menjenguk kalian! kamu sayang kan sama Mama kamu? Oma pun sama.. Oma juga sayang sama Papa kamu, Oma mau dia pulang" lanjutnya menahan air mata kemarahan
"nenek mau Papa pulang? lalu kenapa nenek culik Sena?" tanya Sena yang menangis keras
"Oma gak culik Sena.. Oma cuma mau ajak Sena pulang duluan biar Papa nanti nyusul ya nak?" jawab Merry dengan wajah sok bersalahnya
Sena melihat keluar jendela, matanya berbinar saat melihat Arunika duduk di ayunan bermain sendiri tanpa dirinya. ingin berteriak memanggil, namun teringat dengan bentakan gadis itu sebelumnya membuatnya mengurungkan niat. Sena tak lagi memberontak, tenaganya habis karena terus menangis
"Nenek bawa Sena kemana?" tanyanya pelan
"pulang.. kerumah yang seharusnya" jawab Merry
dua hari berlalu, desas desus tentang Maja yang akan kembali ke kota menyebar hampir ke semua telinga warga desa. Surya menemui pria itu siang ini untuk menjelaskan kesalahpahaman yang begitu dalam itu, namun Maja sudah tau kebenarannya hanya tak sempat meminta maaf padanya karena menyalahkan dirinya tanpa ingin mendengar kejelasan dan bahkan tak sempat berterima kasih juga
Surya menepuk pundak Maja untuk memberinya rasa kuat dan tabah.
"saya titip makam Tari.. entah bagaimana takdir mempermainkan saya kedepannya, jika waktu bisa terulang saya tetap akan menikahinya dan membawanya pergi jauh dari neraka ini" ucap Maja menyeka air matanya
"Maja.. saya mengerti apa yang kamu rasakan.. jaga diri baik-baik, jalani hidup dengan tenang jangan terus terpuruk dan jangan biarkan diri kamu selalu terjebak dalam masa lalu.. kamu masih memiliki Sena, kalian harus hidup dengan baik!" sahut Surya, Maja menganggukkan kepala lalu memeluk lelaki yang sudah menganggapnya keluarga selama hampir 12 tahun lamanya itu
"lain kali mampir lah kemari.. jangan lupakan kami juga" lanjut Surya
"pasti!" jawab Maja berusaha untuk tersenyum
setelah kepergian Surya, Maja masuk kerumah nya kembali mengemasi barang-barang nya untuk di bawa sore ini.
langkah kaki Arunika seakan berat memasuki pekarangan yang hampir dua minggu ini tak di masuki nya lagi. kedua tangannya memeluk bunga matahari
"Sena.. Sena beneran mau pergi ya?" gumamnya pelan, matanya mulai lembab melihat dua mobil hitam terparkir di depan rumah itu, ada lebih dari empat orang keluar masuk rumah dengan membawa barang-barang milik Maja dan Sena. Arunika berdiri di sana menunggu Sena keluar dari rumah
"sekali aja ya Sena? Aru mau liat Sena sekali aja.. Sena harus temui Aru, Aru mau minta maaf sama Sena" gumamnya terus berdiri menunggu untuk melihat Sena yang terakhir kalinya
sayangnya, bahkan setelah Maja keluar dari rumah dan menutup pintu, Sena sama sekali tak dilihatnya, Maja pun tak melihat gadis yang membawa bunga itu berdiri menatap kearahnya berharap di sapa olehnya. Adam dan Uswati pun tak memperhatikannya, sibuk menatap pergi menantunya yang sudah seperti putra nya itu
sampai mobil meninggalkan tempat, Arunika hanya diam menatap pergi bayang-bayang itu bersama mobil hitam yang menjauh, bunga yang sejak tadi di peluknya pun jatuh ke tanah tangisnya mulai pecah berteriak memaki Sena yang tak ingin menemuinya meski hanya satu kali, Uswati berlari memeluk gadis itu dan menenangkannya, dia tau jika gadis itu sangat sedih dengan kepergian Sena dan Maja
rasa kecewa yang untuk kesekian kalinya, Bisma datang menjemput adiknya melihat Aru yang menangis Bisma tentu terkejut berlari memeluk dan memenangkan nya. sejak hari itu, Arunika tak lagi mengucapkan nama Sena, meski hati kecilnya sangat rindu namun benci dan kecewa juga menghantam nya begitu dalam