NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana malam di kantor pusat Thorne Corporation begitu tenang, hanya diselingi oleh bunyi lembut pendingin ruangan dan sesekali ketikan dari keyboard. Lampu-lampu di beberapa ruangan telah dipadamkan, menyisakan cahaya dari lantai eksekutif tempat ruangan CEO berada.

Di sana, Elena masih duduk di depan komputernya, memeriksa ulang laporan dan proposal yang diminta Alexander sejak siang tadi. Ia sempat heran mengapa pekerjaan yang biasanya bisa dikerjakannya di pagi hari, tiba-tiba harus diselesaikan malam ini.

“Padahal hari ini aku ingin pulang lebih awal,” gumamnya pelan sambil merapikan tumpukan dokumen.

Pintu ruang kerja Alexander terbuka, dan pria itu melangkah ke luar dengan langkah tenang. Kemeja hitamnya masih tampak rapi, dasi sedikit longgar, namun tetap menunjukkan wibawa. Ia menatap Elena yang masih sibuk, lalu berkata pelan, “Kau belum selesai?”

Elena tersentak kecil, menoleh cepat. “Maaf, Tuan. Saya sedang memastikan data ini sesuai dengan permintaan Anda tadi.”

Alexander mengangguk kecil, lalu melangkah ke arah jendela besar ruangannya. Ia menatap keluar, ke arah gemerlap kota yang masih hidup meski malam semakin larut.

Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum akhirnya ia bersuara lagi, datar namun jelas, “Kau tidak keberatan bekerja lembur malam ini, bukan?”

Elena sedikit ragu, namun kemudian mengangguk dengan senyum tipis. “Tidak, Tuan. Selama pekerjaan ini harus segera diselesaikan, saya tidak keberatan.”

Alexander mengalihkan pandangannya kembali pada wanita itu. Tatapannya sulit ditebak. “Bagus. Karena saya ingin semua laporan dan pengajuan kontrak untuk proyek teknologi baru diselesaikan malam ini.”

Elena mengangguk lagi meskipun dalam hati ia merasa ada yang aneh. Proyek ini bukan prioritas mendesak, namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.

Sementara itu, Alexander kembali masuk ke ruangannya. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di kursinya dengan wajah dingin namun tatapannya tajam. Di layar komputernya, terlihat profil seseorang, Steve Hamilton.

"Apa hebatnya pria ini?" Alex tersenyum penuh arti. "Jadi kau ingin bertemu dengannya malam ini? Tidak akan, Elena."

***

Elena menatap layar monitornya dengan mata lelah. Tumpukan file digital dan dokumen kertas memenuhi meja kerja yang biasanya sudah rapi sebelum jam lima sore. Ia menghela napas panjang, lalu menengok jam dinding. Sudah pukul delapan lewat dua puluh malam.

Tangannya mulai bergerak lambat di atas keyboard, tidak secepat biasanya. Pikirannya mulai kabur oleh rasa lelah dan kekhawatiran. Ia melirik layar ponselnya yang diletakkan di samping laptop. Tidak ada pesan dari Leon. Anak itu memang jarang mengganggunya saat bekerja, tapi malam ini terasa berbeda.

“Apa tidak bisa besok saja?” gumam Elena dengan nada jengkel, menggerutu tanpa suara yang besar.

Ia memutar tubuhnya ke sisi kanan, menatap tumpukan dokumen yang baru saja dikirimkan oleh bagian keuangan atas perintah Alexander. Pekerjaan ini jelas bukan sesuatu yang harus diselesaikan malam ini. Beberapa dokumen bahkan bertanggal minggu depan.

“Kenapa harus malam ini? Bukankah proyek ini belum urgent? Ini semua bisa ditangani besok pagi,” desahnya pelan, menyandarkan tubuh sejenak ke sandaran kursi. Kepalanya sedikit tengadah ke belakang, mata memejam sesaat.

Namun hanya sejenak.

Pikirannya langsung tertuju pada Leon. Anak itu pasti sedang menunggunya di rumah. Ia sudah berjanji untuk tidak pulang larut malam. Bahkan tadi pagi, Leon tampak begitu ceria saat Elena mengatakan bahwa mereka akan makan malam bersama lagi, seperti kemarin.

“Tuhan… aku bukan marah karena harus lembur,” ucap Elena dalam hati, menatap kosong ke arah dokumen. “Tapi karena Leon pasti akan sendiri lagi malam ini.”

Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa kecewa yang pelan-pelan merayap di dadanya. Bukan hanya karena dirinya merasa bersalah sebagai seorang ibu, tapi karena ia tahu betapa berharganya waktu itu bagi Leon, terlebih anak itu tidak pernah menuntut apa-apa darinya.

Dalam diam, Elena menatap ruangan Alexander yang tertutup rapat.

Ia tahu ini bukan tentang pekerjaan.

Alexander selalu objektif saat menyuruh bawahannya bekerja lembur, selama ini. Tapi hari ini, sikapnya berbeda. Tatapannya tadi seperti menyimpan sesuatu. Bukan urgensi pekerjaan, melainkan… niat pribadi?

Elena menggeleng pelan, menepis pikiran yang mulai liar. Ia tidak ingin berspekulasi.

Namun tetap saja, rasa kesal itu tetap ada. Terlebih ketika mengingat bahwa ia seharusnya sudah sampai di rumah saat ini, menyantap makan malam sederhana bersama Leon dan mendengarkan celotehan anak itu tentang komik atau eksperimen kecil yang ia buat.

“Sabar, Leon,” bisiknya lirih, jari-jarinya kembali menyentuh keyboard. “Mama akan cepat pulang…”

Tapi dalam hati, ia pun tidak yakin kapan bisa menyelesaikan semuanya. Karena jelas, pekerjaan ini dibuat seolah tak kunjung selesai.

Ponsel Elena bergetar pelan di atas meja. Ia melihat nama yang tertera di layar, Leon. Senyum tipis muncul di wajahnya meskipun rasa bersalah langsung menyusup ke dalam hatinya. Dengan cepat, ia mengangkat telepon itu dan menempelkan ke telinga.

“Halo, Sayang,” ujarnya lembut.

“Mama belum pulang?” terdengar suara Leon yang lembut.

Elena menahan napas sejenak. “Maaf ya, Sayang. Mama harus lembur malam ini. Tapi nanti kalau Mama pulang, Mama pastikan kamu sudah tidur nyaman, ya? Mama janji,” katanya pelan, berusaha menenangkan putranya meskipun hatinya terasa berat.

Di seberang ruangan, tanpa ia sadari, Alexander berdiri di balik pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Ia tak sengaja mendengar pembicaraan itu. Wajahnya mengeras, matanya menyipit. Ia mengira Elena sedang berbicara dengan Steve, pria yang ia curigai sejak siang tadi.

Begitu Elena menutup teleponnya dengan senyum sedih, suara dingin Alexander terdengar memanggilnya dari balik pintu, “Elena, masuk ke ruanganku sekarang.”

Elena menoleh cepat. Ada ketegangan di wajah pria itu yang membuatnya menelan ludah. Ia berdiri, membereskan beberapa kertas di mejanya, lalu melangkah masuk ke ruang kerja Alexander.

“Ya, Tuan?”

Alexander menatapnya tanpa ekspresi. “Saya punya beberapa laporan tambahan yang perlu direvisi malam ini juga. Dan tolong mulai susun draft kontrak baru untuk klien dari Tokyo.”

Mata Elena membelalak. “Tuan, maaf... tapi itu bisa dikerjakan besok pagi. Lagipula, laporan awalnya belum selesai dikirim oleh tim legal,” jawabnya pelan, berusaha tetap tenang.

“Kerjakan saja yang bisa dulu. Saya ingin semua catatan awal sudah ada sebelum saya rapat besok pagi,” tegas Alexander.

Itulah titik batas Elena.

Wajahnya memerah. Ia menegakkan badan dan menatap langsung mata Alexander. “Tuan Alexander, maaf, tapi saya bukan mesin! Semua tugas ini tidak mendesak dan bisa ditangani besok pagi. Apa Tuan tidak berpikir bahwa saya juga punya keluarga? Seorang anak yang sekarang sedang menunggu saya di apartemen sendirian!”

Alexander terdiam. Untuk sesaat, suasana di ruang itu membeku.

Tak pernah ada yang berbicara padanya seperti itu, setegas, seberani, dan sesakit itu. Kecuali... satu orang dari masa lalunya. Dan kini, Elena. Pria itu menatap wanita di depannya dengan pandangan yang berubah. Hatinya berdetak pelan.

“Anakmu?” gumamnya akhirnya. “Bukan... Steve?”

Elena mengernyit bingung. “Steve? Saya sudah membatalkan makan malam itu sejak siang. Saya bahkan tidak sempat memberitahunya alasannya.”

Sebuah kelegaan, anehnya, merambat di dada Alexander. Sorot matanya melembut, meski rahangnya masih mengeras menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia lalu menarik napas dalam dan bersandar di kursinya.

“Ambil tasmu,” katanya pelan.

“Apa?” Elena mengerutkan kening lagi, belum mengerti.

“Aku akan mengantar pulang.”

Kini giliran Elena yang tertegun. Ia tidak menyangka pria yang barusan nyaris membuatnya menangis karena beban kerja justru tiba-tiba berubah drastis.

Melihat kebingungan di wajah wanita itu, Alexander hanya berkata, “putramu tidak seharusnya menunggu lebih lama lagi. Aku yang membuatnya begitu malam ini. Biarkan aku yang menebusnya.”

Dan kali ini, Elena benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!