Di masa lalu, Sheng Long adalah Kaisar Iblis Kuno terkuat yang pernah ada. Kekuatannya begitu mengerikan hingga seluruh ras bersatu hanya untuk satu tujuan—menyegelnya selamanya.
Menolak tunduk pada takdir, Sheng Long membelah jiwanya dan bereinkarnasi demi menghindari segel tersebut. Ia terlahir kembali sebagai putra Keluarga Shen, namun dengan harga yang kejam. Kekuatan masa lalunya tersegel, tubuhnya lemah, dan ia dicap sebagai tuan muda sampah yang sakit-sakitan.
Menganggap keberadaannya sebagai aib, keluarganya menikahkannya dengan seorang gadis sederhana yang tak memiliki latar belakang apa pun. Namun justru dari gadis itulah, Shen Long merasakan kehangatan dan ketulusan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan arti kebahagiaan.
Sayangnya, kebahagiaan itu menjadi dosa di mata keluarganya.
Didorong oleh iri dan kebencian, mereka merebut gadis itu dari hidupnya. Tindakan kejam tersebut menghancurkan segel yang membelenggu jiwa Sheng Long. Kaisar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Penghakiman Sang Kaisar
Kediaman utama keluarga Shen yang biasanya dipenuhi tawa sombong, kini berubah menjadi ladang keheningan yang menyesakkan. Para penjaga gerbang sudah tewas tanpa sempat berteriak—tubuh mereka hancur menjadi debu hanya karena dilewati oleh aura hitam yang mengikuti langkah kaki Shen Long.
BRAK!
Pintu aula besar hancur berantakan. Shen Po, Quinxi, dan Shen Mo yang sedang berkumpul seketika berdiri dengan wajah pucat pasi. Di ambang pintu, berdiri seorang pria yang mereka kenal sebagai sampah, namun kini membawa tekanan yang membuat tulang-tulang mereka berderak hampir patah.
"Kau... bagaimana mungkin..." Shen Po terbata-bata, memegangi dadanya yang sesak.
Shen Long tidak menjawab. Matanya yang merah menyala terkunci pada satu target: Shen Mo.
"Ayah! Cepat bunuh dia! Apa yang kalian tunggu?!" teriak Shen Mo histeris. Ia mencoba menghunus pedangnya, namun sebelum jemarinya menyentuh hulu senjata, Shen Long sudah berada di depannya.
Kecepatan yang tidak masuk akal.
"Kau suka menendang orang yang lemah, bukan?" suara Shen Long terdengar seperti geraman naga dari kedalaman neraka.
KRAK!
"AAAGHHHH!"
Jeritan melengking memenuhi aula saat Shen Long menginjak tulang kering Shen Mo hingga remuk sepenuhnya. Shen Long tidak berhenti di situ. Ia menjambak rambut adiknya itu, mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan Shen Po dan Quinxi yang terpaku ketakutan.
"Lepaskan anakku! Dasar iblis!" Quinxi mencoba menyerang dengan pisau perak, namun Shen Long hanya meliriknya sedikit. Tekanan gravitasi mendadak meningkat, membuat Quinxi terjerembap ke lantai hingga wajahnya mencium tanah dengan keras.
"Iblis?" Shen Long tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kalian belum melihat apa itu iblis yang sebenarnya."
Shen Long memutar tangan Shen Mo. Satu per satu sendinya dipatahkan dengan suara yang sangat renyah. Setiap teriakan Shen Mo adalah musik bagi telinga Shen Long yang masih terngiang tangisan terakhir Lin Er.
"Ini untuk setiap tetes air mata Lin Er." bisik Shen Long.
SRAK!
Ia merobek salah satu lengan Shen Mo tanpa menggunakan senjata, hanya dengan kekuatan murni tangannya yang kini dilapisi energi hitam. Darah memuncrat, membasahi wajah Shen Po yang hanya bisa menonton dengan tubuh bergetar hebat.
"Tolong... ampun... Kakak, tolong ampuni aku!" rintih Shen Mo di sela-sela kesakitannya yang tak tertahankan.
"Jangan panggil aku kakak dengan mulut kotormu itu," balas Shen Long dingin. Ia melemparkan tubuh Shen Mo yang sekarat ke tengah ruangan. "Kalian membunuh satu-satunya alasan bagiku untuk tetap menjadi manusia. Sekarang, jangan harap kalian akan mati dengan cepat."
Shen Long mengangkat pedang Pembantai Surga. Aura merah darah terpancar dari mata pedang itu, memenuhi seluruh ruangan dengan aroma kematian yang menyengat.
Shen Po berlutut, air mata ketakutan mengalir di wajahnya yang tua. "Apa... apa yang kau inginkan? Kami akan memberikan apa saja! Harta, kekuasaan, apapun!"
Shen Long menatapnya datar. "Aku hanya ingin satu hal. Aku ingin melihat kalian memohon untuk mati, namun aku tidak akan membiarkannya terjadi hingga matahari terbit."
Aula utama keluarga Shen yang biasanya megah kini terasa seperti liang lahat. Udara di dalamnya membeku, bukan karena suhu, melainkan karena niat membunuh yang begitu padat hingga terasa mencekik paru-paru.
"Tadi kau bilang Ampun? Harta?" Shen Long mengulangi kata-kata Shen Po dengan nada yang sangat datar, namun setiap kata itu jatuh seperti dentuman lonceng kematian. "Kau pikir emasmu bisa membeli kembali satu helai rambut Lin Er yang telah kalian sakiti?"
Shen Long melangkah pelan di atas lantai marmer yang kini licin oleh darah Shen Mo. Setiap langkahnya meninggalkan jejak api hitam yang membakar lantai.
"AAAGH! SAKIT! AYAH, IBU, TOLONG AKU!" Shen Mo meraung, mencoba merangkak dengan satu tangan yang tersisa, namun ia tampak seperti serangga yang kehilangan kaki di bawah tatapan predator.
"Diamlah, adikku yang malang," bisik Shen Long. Ia menghentakkan kakinya ke udara, dan seketika puluhan pedang energi hitam muncul dari bayang-bayang ruangan. Pedang-pedang itu melesat, memaku pakaian Shen Po dan Quinxi ke dinding hingga mereka tidak bisa bergerak, membiarkan mereka menonton pertunjukan horor ini dari baris terdepan.
"Jangan tutup matamu, Ayah, Ibu. Lihatlah hasil dari didikan kalian." perintah Shen Long dingin.
Shen Long kembali menoleh pada Shen Mo. Ia menjentikkan jarinya, dan energi hitam mulai merayap masuk ke dalam luka terbuka di bahu Shen Mo yang putus. Energi itu tidak menyembuhkan, melainkan merangsang saraf agar rasa sakitnya berlipat ganda seribu kali lipat tanpa membiarkan korbannya pingsan.
"Ini untuk setiap tamparan yang kau berikan padanya." ucap Shen Long.
KRAK!
Ia mematahkan satu jari Shen Mo.
"Ini untuk setiap kata hinaan yang kau lontarkan padanya."
KRAK!
Satu jari lagi hancur. Suara tulang yang pecah bergema di aula yang sunyi, diiringi jeritan yang sudah tidak terdengar seperti suara manusia lagi. Shen Po dan Quinxi hanya bisa menangis histeris, memohon hingga suara mereka habis, namun Shen Long tetap bergeming. Hatinya sudah menjadi batu sejak Lin Er menghembuskan napas terakhirnya.
"Kau ingin mati, bukan?" Shen Long menunduk, menatap mata Shen Mo yang mulai kehilangan cahaya. "Tapi kematian terlalu indah bagi orang sepertimu. Aku adalah penguasa jiwa. Aku bisa membuatmu mati ribuan kali, dan menghidupkanmu kembali ribuan kali hanya untuk mengulangi rasa sakit ini.Tapi sayangnya aku tidak dapat membangkitkan istriku karena kalianlah yang membunuhnya. Tapi ketika kekuatanku kembali sepenuhnya itu semua tidak berlaku"
Shen Long mengangkat pedang Pembantai Surga. Aura merah darah dari pedang itu mulai menyedot esensi kehidupan di sekitar ruangan.
"Satu nyawa untuk satu dunia... itu adalah janji yang kubuat," gumam Shen Long. "Dan kalian adalah hidangan pembukanya."
Tiba-tiba, langit di atas kediaman Shen meledak. Sambaran petir merah menghantam atap aula, menghancurkannya hingga mereka kini berada di bawah langit malam yang semerah darah. Penduduk kota di kejauhan melihat ke arah gunung dengan ketakutan, menyadari bahwa sesuatu yang jauh lebih kuno dan berbahaya dari sekadar kultivator telah terbangun.
Shen Long menatap Shen Po yang sudah tak berdaya. "Besok pagi, keluarga Shen akan dihapus dari sejarah. Bukan hanya tubuh kalian, tapi setiap jejak keberadaan kalian di alam semesta ini akan aku hapus hingga tidak ada yang mengingat nama kalian lagi."
Ia mengangkat tangannya, dan energi hitam mulai membentuk pusaran raksasa yang siap menelan seluruh kediaman itu.
"Selamat menikmati malam terpanjang dalam hidup kalian."
Saat Shen Long hendak memberikan serangan terakhir, tiba-tiba sebuah cahaya keemasan turun dari langit. Seorang pria tua dengan jubah putih bersih dan aura suci muncul, mencoba menahan energi hitam Shen Long.
"Berhenti, anak muda! Kau telah melampaui batas hukum alam!"