"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kecurigaan Teman Sebangku
Membawa balok kayu yang sangat tebal, para pria itu mulai memukuli kap mobil hitam milik Xavier dengan penuh amarah. Gwenola menjerit tertahan sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang berguncang sangat hebat. Di sampingnya, Xavier justru nampak sangat tenang dan malah menarik pelatuk senjata api miliknya dengan bunyi klik yang sangat tajam.
Xavier segera menurunkan kaca mobil sedikit saja lalu melepaskan satu tembakan peringatan ke arah udara malam yang mulai mendingin. Suara ledakan itu menggema di seluruh lorong sempit, membuat para penyerang tersebut seketika lari kocar-kacir karena rasa ketakutan. Pimpinan perusahaan itu kemudian memerintahkan sopirnya untuk segera melaju meninggalkan lokasi penghadangan tanpa memedulikan kondisi Gwenola yang hampir pingsan.
"Tenangkan dirimu, mereka hanyalah kerikil kecil yang sedang mencoba menguji kesabaranku," ucap Xavier dengan nada bicara yang sangat datar.
Gwenola menurunkan tangannya perlahan, menatap Xavier dengan pandangan yang penuh dengan rasa ngeri sekaligus rasa tidak percaya. Ia menyadari bahwa pria di sampingnya bukan sekadar pengusaha kaya, melainkan sosok yang sangat terbiasa dengan kekerasan fisik. Dunianya sebagai siswi sekolah menengah atas terasa semakin jauh tertinggal di belakang sejak ia masuk ke dalam mobil ini.
"Kau hampir saja membunuh seseorang di depan mataku sendiri," bisik Gwenola dengan bibir yang masih nampak sangat pucat.
Xavier tidak menanggapi protes tersebut dan lebih memilih untuk menyimpan kembali senjata api miliknya ke dalam laci dasbor yang tersembunyi. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan bayangan lampu jalanan yang menyinari wajahnya yang nampak sangat keras dan dingin. Mobil terus melaju menembus kegelapan kota menuju kediaman mewah yang kini menjadi penjara bagi Gwenola.
Keesokan paginya, Gwenola tiba di sekolah dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada hari-hari sebelumnya. Ia duduk di bangkunya dan mendapati teman sebangkunya sudah menatapnya dengan pandangan yang sangat penuh selidik. Temannya itu adalah sosok yang sangat jeli dan selalu tahu jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh orang lain.
"Gwen, kenapa matamu sangat sembab dan kau nampak seperti orang yang tidak tidur berhari-hari?" tanya teman sebangkunya sambil mendekatkan wajah.
Gwenola tersentak dan segera pura-pura sibuk membuka buku pelajaran sejarah yang sangat tebal di atas meja kayu. Ia berusaha keras untuk tidak melakukan kontak mata agar kebohongan yang ia susun tidak runtuh begitu saja dalam sekejap. Saku roknya kembali terasa sangat berat karena cincin berlian sepuluh miliar itu masih tersimpan rapat di sana.
"Aku hanya sedang terlalu banyak mengerjakan tugas sekolah hingga larut malam," jawab Gwenola dengan suara yang sedikit parau.
Teman sebangkunya tidak lantas percaya begitu saja, ia justru menarik tas sekolah Gwenola yang diletakkan di bawah meja. Sebuah aroma yang sangat kuat dan sangat maskulin seketika menyeruak keluar dari permukaan kain tas punggung yang sudah mulai usang tersebut. Temannya itu menghirup udara dengan dahi yang berkerut sangat dalam, seolah sedang mengenali sebuah aroma yang sangat mahal.
"Aroma parfum ini sangat tidak asing, ini adalah parfum pria yang harganya sangat fantastis di pusat perbelanjaan mewah," bisik teman sebangkunya dengan penuh rasa curiga.
Gwenola segera menarik kembali tas miliknya dengan gerakan yang sangat kasar hingga beberapa buku pelajarannya terjatuh ke lantai. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir saat menyadari bahwa aroma Xavier ternyata menempel sangat kuat di barang-barang miliknya. Ketakutan akan terbongkarnya rahasia pernikahan ini membuat Gwenola merasa ingin segera menghilang dari ruang kelas yang sangat pengap itu.
"Jangan ikut campur dalam urusan pribadiku, ini sama sekali bukan urusanmu," tegas Gwenola dengan nada yang terdengar sangat defensif.
Teman sebangkunya justru tersenyum tipis seolah baru saja menemukan sebuah petunjuk besar yang sangat berharga bagi sebuah penyelidikan. Ia melihat tangan kanan Gwenola yang selalu berada di dalam saku sejak tiba di kelas pagi tadi. Rasa ingin tahu yang sangat besar mulai menyelimuti pikiran sang teman sebangku yang dikenal sangat gigih dalam mencari kebenaran.
"Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu di dalam sakumu itu, Gwen?" tanya temannya sambil mencoba meraih tangan Gwenola secara tiba-tiba.
Gwenola segera berdiri dari bangkunya hingga kursi kayu di belakangnya terjatuh dan menimbulkan bunyi dentuman yang sangat keras. Seluruh siswa di kelas seketika menoleh ke arah mereka dengan pandangan yang penuh dengan rasa tanya yang sangat besar. Di ambang pintu kelas, seorang guru baru saja masuk dan menatap keributan itu dengan ekspresi wajah yang sangat marah.
"Gwenola, ada apa dengan perilakumu yang sangat tidak sopan pagi ini?" tegur sang guru dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan.
Gwenola hanya bisa berdiri mematung dengan napas yang terengah-engah dan jantung yang berdetak sangat kencang di balik dadanya. Ia melihat teman sebangkunya masih menatapnya dengan tatapan yang sangat licik dan penuh dengan rencana tersembunyi. Rahasia besar yang ia simpan dengan sangat rapat kini terasa seolah sedang berada di ujung tanduk yang sangat tajam.