Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Pindah Ruangan
Kini Hanna sudah dipindahkan dikamar VIP dengan fasilitas lengkap. Saat ini dirinya sedang menikmati makan siang lengkap dan bergizi. Sedangkan Murat entahlah, suaminya kemana sejak tadi.
Murat sedang melamun dikantin Rumah Sakit. Dirinya tadi langsung pergi setelah perawat memindahkan Hanna keruang VIP.
Hatinya benar benar tidak nyaman dan sedikit kesal setelah ayahnya ikut campur. " kenapa berlebihan sekali memperlakukan dia". Murat menggeleng gelengkan kepalanya merasa tidak setuju dengan sikap ayahnya.
Sementara itu disebuah kamar mewah Rumah Sakit, Hanna sedang menyusui putrinya dan ditemani oleh kedua mertuanya.
Kedua pasangan paruh baya itu merasa miris, karena sejak tadi putranya tidak terlihat setelah istrinya pindah kamar. Padahal Hanna butuh dukungan serta perhatian dari suaminya saat ini.
"tok..tok...tok.." Suara derit pintu dibuka, terlihat Mahmet berjalan mendekati Tuan besar. " Tuan perwakilan dari Taiwan sebentar lagi sampai". Mahmet memberitahu dengan sopan.
Tuan Ahmet mengangguk dan berdiri. Hanna terlihat sudah selesai menyusui putrinya. " Papah pergi dulu, sebentar lagi akan ada perawat disini yang menemanimu". Tuan Ahmet membelai kepala menantunya.
"Terima kasih pah, maaf merepotkan". Hanna tampak sungkan dengan kebaikan ayah mertuanya.
"Hmmm". Tuan Ahmet melihat istrinya. " Iya pah sebentar lagi mamah pulang, tapi mamah tunggu Murat dulu kasihan Hanna sendirian". Perasaan Hanna semakin menghangat, dia tidak menyangka dengan perhatian ibu mertuanya.
Setelah kepergian ayah mertuanya, Ny. Amel memindahkan cucu perempuannya kedalam box. Tidak lama setelah itu Murat datang.
"Kemana saja kamu?". Ny.Amel memberondong pertanyaan pada putranya. " Dari Luar". Murat menjawab dengan singkat tanpa mau menambah apapun.
Wanita paruh baya itu menarik napas lelah melihat sikap anaknya. "Ya sudah, mamah pulang dulu Keanu pasti sedang mencari Omanya".
Murat hanya diam tanpa menggubris ibunya. "Mamah pulang dulu, sebentar lagi perawat akan datang". Suaranya sangat datar tapi sarat perhatian pada menantunya.
"Iya mah, terima kasih". Hanna tidak sakit hati dengan sikap dingin ibu mertuanya. Dia memaklumi kenapa ibu mertuanya begitu.
Wanita cantik itu mendesah melihat sikap suaminya yang acuh. Murat tampak duduk menonton televisi tanpa menghiraukannya.
Hanna pun berbaring membelakangi suaminya. Dia tidak mau terlalu berharap dengan perhatian dari suaminya. Cukup harapan itu disimpan saja didalam hatinya.
Murat mematikan televisi dan melihat pembaringan istrinya. Ada rasa nyeri dihatinya entah kenapa, padahal dia sendiri yang mengacuhkan istrinya.
"Apa yang telah kulakukan, kenapa aku begitu kejam padanya?" Pertanyaan itu hanya berputar dikepalanya. Tanpa tahu kenapa sikapnya bisa seperti itu. Murat hanya mengikuti egonya, tapi kenapa? entahlah.
"Tok..tok...tok.." Suara ketukan memecahkan lamunannya. Derit pintu dibuka pun terdengar" Permisi pak saya perawat yang ditugaskan disini, Nama saya suster Nindi". Dengan sopan suster Nindi memperkenalkan diri.
Pria tampan itu hanya mengangguk. " Kalau begitu biar saya lihat dede bayinya". Lagi lagi Murat hanya mengangguk. "Oh sepertinya ade cantik ini mengompol, biar suster ganti dulu, okey".
Setelah mengganti pakaian si bayi. Suster Nindi menimang nimang bayi cantik itu. tapi sepertinya si baby gelisah karena haus. " Sebentar yah sayang, Bundanya sedang tidur sama suster dulu, yah".
"Biar saya saja Sus". Murat mendekat dan mengambil alih bayinya. " Anak manis papah Zahra sabar yah, mamahnya sedang bobo". Murat menimang nimang putrinya.
" Nak, Kalau sudah besar kamu harus pintar dan baik seperti mamah Zahra yah, karena nama kalian sama". Suster Nindi yang mendengar itu terkejut.
"Bukankah nama ibunya Hanna". Suster Nindi hanya bertanya dalam hati, pikirannya bingung. Tetapi itu bukan kapasitas dia untuk tahu.
"Permisi pak, saya mau membawa kain kotor ini untuk dicuci". Meskipun penasaran tetapi suster Nindi tetap sadar diri. Dia bergegas undur diri agar tidak terlalu banyak mendengar kehidupan orang lain.
Murat masih menimang nimang putrinya tanpa mau membangunkan istrinya. Padahal sejak tadi Hanna sudah bangun dan mendengar apa yang Murat katakan pada putrinya.
Tetapi hatinya belum siap, dia takut Murat melihat air matanya lagi. Biarlah dia menenangkan dirinya dulu. Meskipun tetap saja air mata tumpah dari sudut matanya.