NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Dimas Tidak Diapresiasi Pihak Sekolah

Kepala sekolah SMA Al-Ikhlas memanggil Dimas di ruangannya. Demi peningkatan mutu sekolah, ia mempunyai rencana mengadakan kegiatan ekstrakulikuler English Conversation di sekolah tersebut.

"Assalamualaikum pak" sapa Dimas di ruang kepala sekolah.

"Walaikumus salam warohmatullahi wa barokatuh" jawab kepala sekolah.

"Begini pak Dimas, kemarin kami berdiskusi dengan pihak yayasan, agar sekolah kita maju, kami berencana mengadakan kegiatan ekstrakulikuler English conversation, menurut pak Dimas gimana ?" tanya bapak kepala sekolah.

"Wah bagus itu pak, melalui kegiatan ini nanti kita akan menemukan bibit siswa yang berbakat dalam bahasa inggris, apalagi dalam waktu dekat akan ada English competition tingkat kota, sekolah kita sebisa mungkin harus berpartisipasi pak" ujar pak Dimas.

"Pokoknya tiap ada informasi lomba bahasa inggris, pak Dimas harus kordinasikan dulu dengan saya, agar sekolah kita bisa selalu berpartisipasi" kata kepala sekolah.

"Siap pak, jadi rencana kegiatan ekstrakulikulernya kapan di mulai pak ?" tanya Dimas.

"Bagaimana kalau minggu depan, pak Dimas bisa kan ?" tanya kepsek kembali.

"Insya Allah, bisa pak"

"Kalau begitu sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada pak Dimas, silakan pak Dimas boleh kembali mengajar" ucap kepala sekolah.

"Sama-sama pak"

Seminggu kemudian, ekstrakulikuler bahasa inggris mulai di adakan. Para peserta didik yang mengikuti eskul ini terlihat begitu antusias. Ada sekitar 20 peserta didik yang mengikuti eskul tersebut. Pak Dimas mengajarkan bahasa inggris lebih detail khususnya adalah vocabularies dan pronunciation. Selain itu, pak Dimas juga membiasakan siswa-siswinya berlatih percaya diri dalam berbicara bahasa inggris.

Informasi English Competition beredar di media sosial, pak Dimas mencoba mengikut sertakan siswinya di perlombaan tersebut. Ada 2 siswi yang akan mengikutinya yaitu Ardila dan Dewi. Pak Dimas melapor dan minta ijin ke bapak kepala sekolah terlebih dahulu.

"Assalamualaikum pak" sapa Dimas.

" Walaikumus salam warohmatullahi wa barokatuh" jawab kepala sekolah.

"Mohon maaf pak mengganggu waktunya" ucap Dimas.

"Oh gak papa pak Dimas, silakan duduk dulu"

"Gimana pak Dimas, ada perlu apa ?" tanya bapak kepala sekolah.

"Saya ada rencana mau mengikutkan 2 siswi sekolah ini ikut lomba bahasa inggris pak, pertama ikut lomba pidato bahasa inggris dan yang kedua ikut lomba debat bahasa inggris, apakah di ijinkan pak ?" jawab Dimas.

"Tentu saja di ijinkan pak Dimas. Saya serahkan semua ke pak Dimas karna Pak Dimas yang paling tau perlombaannya" begitu kata bapak kepala sekolah.

"Kalau begitu saya permisi dulu pak, terimakasih" ujar Dimas kembali.

"Sama-sama, saya doakan semoga siswi kita bisa menang ya pak Dimas" ucap kepala sekolah lagi.

"Aamiin" respon Dimas.

Tiba lah saat nya perlombaan itu di mulai. Dimas mengantarkan kedua siswanya tersebut menggunakan transportasi online. Itu pun dia modal sendiri. pihak sekolah tidak memberikan sepeser uang pun untuk transportasi dan konsumsi selama mengikuti perlombaan.

Ardila dan Dewi menampilkan skill bahasa inggrisnya dengan percaya diri. Mereka tampil begitu memukau dewan juri. Usai menunggu selama 1 jam, Dewan Juri akhirnya mengumumkan pemenangnya. Tanpa di sangka-sangka Ardila mendapat juara 1 cabang English Speech Contest dan Dewi juara 3 cabang English debate. Mereka terlihat sangat bahagia atas kemenangan ini.

"Congratulation, Ardila and Dewi, two thumbs up for you" puji Dimas kepada muridnya tersebut.

"Thank you Mr. Dimas" ucap Dewi.

"Thank you Mr. Dimas, you have been already teaching us so far, without you, we would not get it" ucap Ardila sembari tersenyum menatap wajah gurunya.

Ardila dan Dewi mendapatkan tropi dan uang pembinaan.

Esuk pagi di sekolah, bapak kepala sekolah mengapresiasi secara lisan kepada pak Dimas dan kedua siswi di sekolah yang ia pimpin.

"Selamat yah untuk kalian berdua atas prestasinya membanggakan sekolah" ujar bapak kepala sekolah kepada Ardila dan Dewi.

"Pak Dimas, terimakasih banyak sudah membimbing dan melatih hingga akhirnya bisa juara", ucap kepala sekolah kembali.

"Nggih pak, sama-sama" jawab Dimas.

Pihak sekolah meminta tropi tersebut dan memajangnya di sekolah sedangkan uang pembinaan di berikan sepenuhnya untuk pemenang lomba. Sementara itu, perjuangan Dimas tidak di apresiasi berupa materi oleh pihak sekolah, hanya sekedar ucapan terimakasih.

Sebagai manusia biasa, Dimas merasa kesal di dalam hatinya.

"Menjadi guru ternyata tak seindah yang aku bayangkan, banyak hal yang menuntut kita harus ikhlas" gerutu Dimas di dalam hati.

Dimas kembali ke ruang guru lalu duduk di kursi kerjanya, pak Fuad datang menghampiri Dimas.

"Selamat yah pak Dimas, aku dengar siswi yang di latih pak Dimas juara lomba bahasa inggris yah, wah keren banget pak" ucap pak Fuad kepada Dimas.

"Terimakasih pak" respon Dimas.

"Cie..cie..cie cair nih ?"  canda pak Fuad.

"Cair apaan ?" jawab Dimas.

"Loh loh loh gak dapat to ?" tanya pak Fuad.

"Iya dapat capeknya aja" respon Dimas sembari tertawa kecil.

"Seriusan nih, dari sekolah gak ngasih sama sekali ke pak Dimas ?" tanya pak Fuad penasaran.

"Iya duarius pak"

"Yang ada saya yg modal buat bayar transportasi online dan konsumsi selama di sana pak" sahut Dimas.

"Yang sabar yah pak Dimas, ngajar di sekolah swasta kadang begitu, tapi gak semua sekolah swasta begitu" petuah pak Fuad.

"Oh ya pak Dimas, banyak guru juga yang ngeluh, katanya kegiatan eskul terkadang juga gak di bayar" ujar pak Fuad.

"Masa sih pak ?"

"Ya kata teman-teman guru begitu, nanti pak Dimas bakal membuktikan sendiri kalau sudah mengampu eskul selama sebulan" ujar pak Fuad lebih lanjut.

Kegiatan eskul bahasa inggris telah sampai satu bulan, benar saja Dimas tidak di bayar sebagai guru ekstrakulikuler. Merasa di rugikan, Dimas kembali protes ke bendahara sekolah.

"Mohon maaf bu, mau tanya, kegiatan eskul itu, sebenarnya dapat honor atau tidak yah ?" tanya Dimas.

"Untuk eskul sebenarnya dapat honor pak Dimas, biasanya di ambil dari dana BOS tapi sampai sekarang dana BOS belum juga cair, jadi kemungkinan nanti honornya di rapel" jawab bendahara sekolah.

"Berarti dengan kata lain, untuk honornya gak selalu bisa tepat waktu setiap bulan ya bu ?" tanya Dimas kembali.

"Benar pak Dimas" ujar bendahara sekolah lagi.

"Baik, kalau begitu, terimakasih infonya bu" ujar pak Dimas.

"Sama-sama pak Dimas"

Dimas semakin menyadari bahwa menjadi seorang guru non PNS bukanlah hal yang mudah. Kesejahteraannya sangat minim bahkan sering di remehkan orang lain. Ada rasa ingin banting setir ke profesi lain namun dalam lubuk hatinya tetap menginginkan menjadi guru. Sesekali dia juga mengkambing hitamkan profesinya atas kandasnya hubungan percintaan dengan Nayla.

"Kalau saja, aku ini seorang manager di perusahaan, pasti om Jun bakal menerima aku menjadi menantunya" ujarnya dalam hati.

"Haruskah aku bertahan atau banting setir aja apa yah ?" suara hati Dimas kembali bergejolak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!