Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Terbuang dari silsilah keluarga
Terbuang dari silsilah keluarga adalah kenyataan pahit yang harus ia telan mentah-mentah sebelum memulai langkah pertamanya di dunia luar yang sangat kejam. Anindira meraba permukaan dinding batu yang dingin saat ia merangkak keluar dari lubang pembuangan di ujung gudang belakang rumahnya.
Tubuhnya gemetar hebat bukan hanya karena udara malam yang menusuk tulang tetapi juga karena hancurnya martabat yang selama ini ia jaga.
Ia menatap bangunan megah yang kini nampak seperti raksasa hitam yang siap menelan siapa pun yang berani kembali ke sana. Di lantai atas, lampu kamar utamanya masih menyala terang benderang seolah sedang merayakan pengusiran sang pemilik aslinya.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia berdiri dan membetulkan letak ransel kecil yang berisi seluruh sisa hidupnya.
"Mulai malam ini, aku tidak lagi memiliki ayah ataupun rumah untuk pulang," bisik Anindira dengan suara yang nyaris hilang terbawa angin.
Sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul dari balik pohon kamboja besar yang tumbuh di dekat gerbang samping yang jarang digunakan. Anindira tersentak dan segera menyembunyikan kotak kayunya ke dalam pelukan yang sangat erat karena rasa was-was.
Matanya membelalak saat melihat sosok pria berseragam penjaga keamanan yang sedang memegang sebuah senter besar.
"Nona muda, apa yang Anda lakukan di sini dalam keadaan seperti ini?" tanya penjaga itu dengan nada bicara yang penuh dengan kecemasan.
"Pak Jaka, tolong jangan beritahu siapa pun bahwa Anda melihat saya keluar dari sini!" mohon Anindira sambil menahan isak tangis yang mulai menyerang kembali.
Pak Jaka menatap wajah Anindira yang kotor terkena debu lorong rahasia dengan tatapan mata yang sangat iba dan prihatin. Ia tahu mengenai keributan besar yang baru saja terjadi di dalam rumah utama melalui alat komunikasi radio miliknya tadi.
Tanpa banyak bicara, pria paruh baya itu merogoh saku celananya dan menyerahkan beberapa lembar uang yang nampak sudah sangat lecek.
"Ambillah ini untuk biaya perjalanan Anda menuju tempat yang lebih aman dari jangkauan tuan besar," ujar Pak Jaka sambil mematikan senter miliknya agar tidak menarik perhatian.
"Saya tidak bisa menerima ini, Pak, Anda sudah cukup banyak membantu keluarga kami selama ini," tolak Anindira dengan halus meskipun ia sangat membutuhkan bantuan tersebut.
"Anggaplah ini sebagai bakti terakhir saya kepada almarhumah ibu Anda yang sangat baik hati itu," paksa Pak Jaka sambil menyelipkan uang tersebut ke tangan Anindira.
Anindira hanya bisa mengangguk lemah sambil menghapus air mata yang kembali membasahi pipinya yang sudah mulai membeku karena hawa dingin. Ia segera berlari meninggalkan area perkebunan rumah keluarga Adiguna menuju jalan raya yang nampak sangat sepi dan mencekam.
Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti sedang memutus satu per satu benang takdir yang mengikatnya pada masa lalu yang indah.
Suara sirine mobil polisi tiba-tiba terdengar dari kejauhan dan membuat jantung Anindira berdegup kencang karena rasa panik yang meluap. Ia takut jika ayahnya benar-benar melaporkannya atas tuduhan pencurian perhiasan seperti yang difitnahkan oleh ibu tirinya tadi.
Ia bersembunyi di balik sebuah halte bus yang gelap sambil berusaha mengatur napas yang tersengal-sengal karena kelelahan yang luar biasa.
"Aku harus pergi sejauh mungkin dari kota ini sebelum fajar benar-benar menyingsing di ufuk timur," tekad Anindira di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Ia melihat sebuah bus antarkota yang baru saja berhenti di depan halte dengan suara mesin yang sangat menderu-deru keras. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menaiki bus tersebut dan duduk di kursi paling belakang yang tidak terjangkau oleh cahaya lampu.
Di sana, ia kembali membuka kotak kayu pemberian ibunya dan menatap selembar surat yang berisi alamat perlindungan di kota seberang.
Cahaya kilat tiba-tiba menyambar di langit malam yang mendung disusul dengan suara guntur yang sangat menggelegar dahsyat. Hujan mulai turun dengan sangat lebat seolah alam ikut menangisi nasib tragis yang sedang dialami oleh wanita muda yang malang ini.
Anindira memejamkan mata sambil memeluk perutnya yang kini menjadi satu-satunya alasan baginya untuk terus bertahan hidup di tengah badai.
"Maafkan ibu karena tidak bisa memberimu kehidupan yang layak mulai saat ini, wahai anakku," rintihnya sambil mengusap perut yang masih nampak rata.
Bus mulai bergerak menjauh meninggalkan batas kota yang penuh dengan kenangan pahit dan intrik keluarga yang sangat menjijikkan. Anindira menatap ke luar jendela yang buram karena rintik hujan sambil membayangkan wajah ayahnya yang penuh dengan amarah yang mematikan.
Ia bersumpah di dalam hati bahwa suatu saat nanti ia akan kembali untuk menuntut keadilan atas semua rasa sakit ini.
Namun, di tengah perjalanan yang sunyi, bus tersebut mendadak berhenti secara tiba-tiba karena sebuah pohon besar tumbang menutupi badan jalan raya. Semua penumpang terbangun dan mulai mengeluh karena perjalanan mereka terhambat oleh bencana alam yang tidak terduga tersebut.
Anindira merasa ada sesuatu yang tidak beres saat ia melihat beberapa orang pria berbadan tegap sedang mendekati bus tersebut.
"Semua penumpang harap tenang dan tetap berada di tempat duduk masing-masing!" teriak sang sopir bus dengan suara yang nampak sangat ketakutan.
Anindira mencengkeram tas miliknya dengan sangat kuat saat melihat salah satu pria itu mulai masuk ke dalam bus sambil membawa selembar foto.
Ia menyadari bahwa foto yang dibawa oleh pria itu adalah foto dirinya yang sedang mengenakan baju kelulusan sekolah menengah atas. Berjalan di bawah hujan deras mungkin jauh lebih baik daripada harus tertangkap kembali oleh orang-orang suruhan ayahnya malam ini.