NovelToon NovelToon
Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Dokter Genius
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: prasetiyoandi

Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.

Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.

Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.

​Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.

Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.

​Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KADO ULANG TAHUN PALING BERDARAH

​Langit di atas Kota A malam itu seolah sedang mengekspresikan murka ilahi. Awan kumulonimbus hitam pekat menggantung rendah, menelan cakrawala dan memadamkan cahaya bulan yang biasanya menyinari deretan mansion mewah di kawasan elit Green Diamond.

Hujan tidak turun dalam bentuk tetesan; ia turun sebagai tirai air yang masif, menghantam permukaan bumi dengan kekuatan yang mampu menulikan telinga. Suara guntur menggelegar secara periodik, menciptakan getaran yang terasa hingga ke dasar tulang.

​Di dalam Mansion Mahendra, sebuah mahakarya arsitektur neoklasik yang melambangkan kekuasaan dan kemewahan, suasana justru terasa mencekam di balik dinding-dinding marmernya yang dingin.

Aura Mahendra berdiri di ujung lorong lantai dua, bayangannya memanjang di bawah lampu gantung kristal yang berpendar redup.

​Di tangan kanannya, ia mencengkeram sebuah kotak beludru kecil berwarna biru midnight. Di dalam kotak itu tersimpan sebuah jam tangan Patek Philippe edisi khusus, yang bagian belakangnya telah ia grafir dengan inisial "A&A" beserta tanggal pernikahan mereka.

Aura telah menghemat setiap sen dari hasil kerja kerasnya sebagai ilustrator lepas selama tiga tahun terakhir hanya untuk memberikan hadiah ini kepada Adrian. Ia ingin membuktikan bahwa meskipun ia berasal dari latar belakang yang sederhana, cintanya tidak kalah berharga dari saham atau aset perusahaan mana pun.

​Namun, yang lebih berharga dari jam tangan itu adalah sebuah amplop putih yang terselip di saku gaunnya. Sebuah hasil tes laboratorium dari Rumah Sakit Pusat yang menyatakan bahwa ia positif hamil delapan minggu.

​Ini akan mengubah segalanya, pikir Aura dengan jantung yang berdebar kencang. Adrian mungkin bersikap dingin karena tekanan pekerjaan, tapi anak ini... anak ini akan melembutkan hatinya.

Kami akan menjadi keluarga yang utuh.

​Aura melangkah maju, kakinya yang tanpa alas kaki tidak menimbulkan suara di atas karpet Persia yang tebal. Namun, saat ia mendekati pintu kamar utama mereka, langkahnya terhenti secara tiba-tiba.

​Pintu kayu jati yang diukir indah itu tidak tertutup rapat. Celah kecil setebal beberapa sentimeter membiarkan cahaya kuning temaram dari dalam kamar meluncur keluar, membelah kegelapan koridor. Dan bersama cahaya itu, muncul pula aroma yang tidak seharusnya ada di sana. Aroma parfum Jo Malone Peony & Blush Suede yang sangat tajam dan manis—parfum yang selalu digunakan oleh Sisca, adik tirinya.

​Lalu, suara itu muncul. Sebuah tawa kecil yang genit, disusul oleh suara napas yang memburu.

​"Adrian, kau benar-benar tidak sabar malam ini," suara Sisca terdengar begitu jelas, begitu akrab, namun terasa seperti sembilu yang menyayat gendang telinga Aura.

​"Jangan banyak bicara, Sisca. Kau tahu betapa membosankannya menghadapi wajah pucat dan ekspresi datar Aura setiap hari. Hanya bersamamu aku bisa bernapas," jawab sebuah suara bariton yang berat.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Aura. Tubuhnya membeku, darahnya terasa seperti es yang mengalir di pembuluh nadi. Pria yang baru saja berbicara itu adalah Adrian Mahendra. Suaminya. Pria yang ia puja, pria yang ia layani dengan penuh kesabaran selama dua tahun terakhir meski hanya mendapatkan tatapan dingin sebagai balasan.

​Dengan gerakan yang terasa seperti ribuan ton beban, Aura mendorong pintu itu. Creeak...

​Pemandangan di dalam sana adalah visualisasi dari neraka paling murni bagi Aura. Di atas ranjang pernikahan yang sprei sutranya baru saja ia ganti pagi tadi dengan aroma lavender yang menenangkan, dua orang manusia sedang terjalin dalam pengkhianatan yang paling menjijikkan.

​Cring!

​Kotak beludru di tangan Aura jatuh ke lantai. Jam tangan mewah itu terpelanting keluar, kacanya retak saat menghantam lantai marmer, sama seperti hati Aura yang hancur berkeping-keping di detik yang sama.

​Adrian dan Sisca tersentak. Adrian segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, namun gerakannya tidak menunjukkan kepanikan atau ketakutan. Setelah keterkejutan singkat itu berlalu, wajahnya justru mengeras, memancarkan aura permusuhan yang luar biasa.

​"Berani sekali kau masuk tanpa mengetuk, Aura?" Adrian bertanya, suaranya sedingin kutub utara.

​Aura tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, air mata mulai mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Ia menatap Sisca, adik tiri yang selalu ia lindungi, adik yang selalu ia beri bagian terbaik dari makanannya saat mereka masih kecil dan hidup susah setelah ibu mereka menikah lagi dengan ayah Aura.

​"Sisca... kenapa?" bisik Aura, suaranya bergetar hebat.

​Sisca tidak menunduk malu. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya di bahu telanjang Adrian, memberikan tatapan yang penuh kemenangan dan kebencian yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi di balik topeng kepolosan.

​"Kenapa? Karena aku bosan melihatmu berlagak sebagai nyonya besar di rumah ini, Kak," jawab Sisca dengan nada meremehkan. "Kau pikir kau pantas untuk Adrian? Kau hanyalah anak dari seorang pria yang bangkrut. Kau menikahinya hanya karena wasiat kakeknya yang bodoh itu. Aku dan Adrian... kami sudah menjalin hubungan bahkan sebelum kalian mengucapkan janji pernikahan."

​Aura merasa mual. Jadi, selama dua tahun ini, ia hidup dalam sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh dua orang yang paling ia percayai di dunia ini.

​"Adrian, katakan padaku itu tidak benar," Aura menatap suaminya dengan sisa-sisa harapan yang hancur. "Katakan padaku bahwa kau setidaknya pernah mencoba mencintaiku. Aku istrimu. Dan sekarang... aku sedang mengandung anakmu."

​Adrian terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian, ia tertawa. Bukan tawa bahagia seorang calon ayah, melainkan tawa mengejek yang merobek sisa martabat Aura.

​"Anak?" Adrian bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandinya dengan gerakan yang sangat santai, lalu berjalan mendekati Aura. Ia berdiri begitu dekat sehingga Aura bisa mencium aroma pengkhianatan yang melekat pada tubuhnya.

"Bagaimana aku bisa yakin itu anakku? Wanita yang bisa dengan mudah memberikan tubuhnya pada pria yang tidak mencintainya demi status, pasti bisa melakukan hal yang sama dengan pria lain untuk mengamankan posisinya."

​PLAK!

​Aura menggunakan seluruh tenaganya untuk menampar wajah Adrian. Telapak tangannya terasa panas, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih membara. "Kau binatang! Aku tidak pernah membiarkan pria lain menyentuhku! Aku mencintaimu, Adrian! Aku memberikan segalanya untukmu!"

​Wajah Adrian memerah karena tamparan itu. Matanya berkilat dengan amarah yang mematikan. Tanpa peringatan, ia mencengkeram leher Aura dan mendorongnya hingga punggung wanita itu menghantam dinding dengan keras.

​"Jangan pernah berlagak suci di depanku!" desis Adrian tepat di depan wajah Aura. "Kau ingin tahu kebenarannya? Aku menikahimu hanya untuk mendapatkan akses ke dana perwalian kakekku yang hanya bisa cair jika aku memiliki istri dari garis keturunan keluargamu. Sekarang, kakek sudah meninggal, dan dana itu sudah berada di bawah kendaliku. Kau tidak lagi memiliki nilai guna."

​Adrian melepaskan cengkeramannya, membuat Aura jatuh terduduk di lantai, terbatuk-batuk mencari udara. Adrian kemudian mengambil sebuah map dari laci mejanya dan melemparkannya ke arah Aura. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan.

​"Itu adalah surat cerai dan dokumen pengalihan sisa saham kakekmu atas namaku. Tanda tangani itu, dan aku akan memberimu beberapa ratus ribu dolar untuk menghilang dari kota ini. Jika tidak..." Adrian merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang menyeramkan, "Jangan salahkan aku jika 'anak' di dalam perutmu itu tidak pernah sempat melihat dunia."

​Aura menatap dokumen itu dengan pandangan kabur. Amarah, kesedihan, dan rasa jijik bercampur menjadi satu. Ia meraih dokumen itu, namun bukan untuk menandatanganinya. Ia merobek kertas-kertas itu menjadi serpihan kecil dan melemparkannya kembali ke arah Adrian.

​"Aku tidak akan pernah memberimu apa pun! Aku akan menuntutmu! Aku akan membiarkan seluruh dunia tahu betapa busuknya CEO Mahendra Group!" teriak Aura histeris.

​Wajah Adrian menjadi sangat gelap. "Kau memilih jalan yang sulit, rupanya."

​Ia menoleh ke arah pintu dan berteriak, "Penjaga! Bawa wanita gila ini keluar!"

​Dua orang pria berbadan besar masuk ke dalam kamar. Mereka tidak ragu-ragu untuk mencengkeram lengan Aura yang kurus dan menyeretnya keluar dari kamar. Aura meronta, berteriak, namun tenaganya tidak sebanding.

Sisca hanya menonton dari atas ranjang sambil menyesap segelas wine yang ada di nakas, tersenyum lebar melihat kakaknya diperlakukan seperti sampah.

​Aura diseret menuruni tangga megah mansion itu, melewati foto-foto pernikahan mereka yang kini tampak seperti ejekan visual. Para pelayan yang biasanya bersikap sopan padanya kini hanya menunduk atau berpaling, tidak ada yang berani membela sang nyonya yang sedang digulingkan.

​Di pintu utama, para penjaga itu melempar Aura keluar. Tubuh Aura mendarat keras di aspal driveway yang dingin dan basah. Hujan langsung membasahi gaunnya dalam hitungan detik.

​"Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi, atau aku akan memastikan kau berakhir di rumah sakit jiwa!" teriak salah satu penjaga sebelum membanting pintu besar mansion itu.

​Aura tergeletak di aspal, terisak di bawah guyuran hujan badai. Rasa sakit di perutnya mulai terasa—nyeri yang tajam dan berdenyut. Ia memeluk perutnya dengan tangan yang gemetar.

​"Jangan... jangan sekarang, Nak... Ibu mohon..."

​Di tengah deru guntur, Aura tidak menyadari bahwa di ujung jalan masuk mansion, sebuah mobil hitam dengan lampu dimatikan sedang memperhatikannya.

Adrian tidak hanya ingin mengusirnya; ia tahu bahwa selama Aura masih hidup dan memegang status sebagai istrinya secara hukum, posisinya di perusahaan masih terancam.

​Malam itu, pengkhianatan di dalam kamar hanya merupakan awal. Di tengah kegelapan badai Kota A, rencana untuk menghapus keberadaan Aura dari muka bumi baru saja dimulai.

1
Nor Azlin
semoga mereka menjadi keluarga yang utuh yah ...aku harap si Arlan pun mencuba formula teratai juga agar mereka bisa membantai para musuh-musuh mereka dengan mudah ...semoga mereka selamat sampai ke tujuan nya yah ...Alana kembali lagi deh di mana Pulau rahsia mu kan masih ada yah ...di sana kalian bisa membentuk satu Tim yang lebih baik lagi juga setia yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
kasihan Leo kerana terpaksa di berkhianat pada Alena namun pada akhirnya dia berkorban demi Alena sama anak2 nya ...semoga mereka semua terselamat dari musuh2 mereka yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
siapa agak nya yang berkhianat yah tidak mungkin si Leo tapi siapa yah🤔🤔🤔 semoga cepat ketahuan orang nya deh...lanjutkan thor
Osie
eh msh continue yaaa...waah lg seruuu ini..moga msh ada lanjutannya 🙏🙏🙏
Lili Inggrid
lanjut
Osie
waaw makin kesini makin kompleks alur nya...kereeeennn
Osie
fuuuiiihh deg deg an aku bacanya..alana n anak anak nya best banget dah
Osie
balas dendam yg sangat apik👍👍👍👍👍
Osie
siapa atlan hingga dia terlalu ikut campur urusan hidup alana
Osie
hmmm menarik..tapi aku kok curiga ya kalau anak alana bukan anak Adrian tapi anaknya arlan syeilendra....bisa jd kan..siapa tau ada insiden di masa lalu yg bikin Alan tidur dgn arlan..
Osie
waaaaawww amazing...kereeenn abiizzzz😍😍😍
Osie
mampir nih..ku baca sipnosisnya..sepertinya bagus walau diawali menyakitkan tp ku suka kelanjutannya aura bangkit jd wanita tangguh dan moga gak menge menye..dan kalau lht judul soti cerita transmigrasi ya🙏🙏
Nor Azlin
dasar orang gila ni semua demi harta sanggup membunuh darah dagingnya demi merebut warisan yang Aura dapat dari kakek nya ...kalau begitu hancurkan usaha nya itu biar hancur lebur deh biar jadi pengemis & terlunta2 di jalan2 biar dia tau rasa ... lanjutkan thor
Nor Azlin
sudah tentu dia lah kerana ingin saham2 yang kakek nya berikan pada Aura harta bisa membuat orang jadi gila ...bukan nya sisca sama Andrian itu pacar sedari mula yah kerana ancaman juga saham2 itu dia pura2 menerima pernikahan itu setelah kakeknya meninggal ini lah masa nya mereka berbuat onah kembali kan sudah tidak ada halangan untuk menjalin kasih kembali kan ancaman nya sudah tidak ada ertinya lagi kerana sudah dikalang tanah ...orang yang sudah meninggal bisa apa jadi yang hidup ini jadi masalah nya kalau dia pun mati nah tidak ada curiga di kalangan masyarakat kan 😂😂😂lanjutkan thor
shabiru Al
wow,, tanpa basa basi alana langsung menabuh genderang perang dengan adrian
shabiru Al
tdkah terlalu dini melibatkan anak kembarnya dalam misi balas dendam,, bagaimana pun adrian adalah ayah kandung sikembar
shabiru Al
kenapa aura di habisi... benarkah adrian ada dbalik kecelakaan aura ?
shabiru Al
mampir thor,, belum bisa komen banyak ya... nyimak dulu jalan ceritanya..😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!