NovelToon NovelToon
A

A

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Perperangan / Thriller / Tamat
Popularitas:174.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danu Banu

"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."

Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Warung Seberang Jalan

i

Bel tanda istirahat kedua berbunyi memaksa guru menyudahi pelajaran saat itu. Semua siswa tampak gembira dan bergegas keluar. Di raut wajah mereka, aku bisa menebak, pasti perut mereka sudah keroncongan. Apalagi pelajaran sejarah barusan sangat membuat frustasi, menurutku.

Kenapa? Tentu saja karena membosankan.

Kelvin mendadak menghampiriku dan mengajakku pergi ke kantin. Aku bilang duluan. Tapi dia memaksa menunggu.

Aku membiarkannya. Dan mulai membereskan perlengkapan sekolah agar saat pelajaran terakhir nanti, sudah rapi. Jadi aku bisa memerhatikan dengan seksama.

Akhirnya, karena terlalu lama menanti. Kelvin beranjak dari duduknya dan meminta maaf namun tak kutanggapi.

Tak lama kemudian aku melihat dari sudut mataku, Gilang bangun dari tidurnya. Merapikan seragam dan menatapku tajam. Aku langsung yakin kalau dia akan mengajakku pergi berdua, karena memang tinggal aku dan dia di kelas.

Nyatanya tidak. Padahal aku sudah menyiapkan berbagai alasan untuk menolak ajakannya.

"Kamu mau pulang?"

Aku tersentak kaget. Lalu tertawa sedikit karena menyadari tingkahku yang memang jelas terlihat sedang berkemas.

Beberapa detik kemudian aku berkata: "Ga."

"Oh, jadi mau ke kantin?"

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala yang bagiku sangat judes, terlebih karena aku tidak menoleh kepadanya. Harusnya itu cukup untuk membuat dia tahu bahwa aku sedang tidak ingin diganggu.

Heran, biasanya aku tetap bertingkah biasa jika ditanya orang lain. Terlebih olehnya. Lebih tepatnya, itulah kali kedua dia menanyakan sesuatu kepadaku. Tapi, entah mengapa hari itu, aku merasa seperti sedang berubah dalam menilainya.

"Aku ikut," katanya lalu bangkit dan membalik badan. Sangat terkesan menungguku.

Aku menyelerek resleting tas dan beranjak dari dudukku. "Ikut apa?"

"Ke kantin."

"Ga usah." Melangkah melalui meja-meja yang berderet.

"Kan kantin buat siapa aja." ujarnya dengan melangkah di sisiku.

Benar juga sih. Tapi aku ga mau ke kantin bareng kamu tahu! Nanti orang-orang ngira kita pacaran. Ya, kan?

Aku berhenti di depan pintu kelas. Memandang ke arah lain. "Biasanya juga kamu tidur terus."

Tanpa perlu menunggu jawabannya aku kembali menggerakan kedua kakiku.

"Lihat kamu jadi laper."

"Aku bukan makanan!" kataku ketus tanpa menatapnya.

"Tapi mirip bakpao."

Tak kurespons, karena ga penting.

Tapi dia berbisik, suaranya kudengar sangat pelan memanggilku: "Fi,"

Aku diam. Tak kutanggapi.

"Ada yang mau aku omongin,"

Mendengar dia bicara gitu, rasanya aku ingin langsung bilang padanya: "Dari tadi juga ngomong. Udah deh, ga usah basa-basi. Mau ngomong apa sih?"

Tapi, kata-kata yang keluar malah: "Iya,"

"Tapi ga sekarang."

Deg! Aku merasa situasi berubah seketika. Apakah ini waktunya? Apakah ini saat yang tepat buat dia nembak aku? Aduh, aku benar-benar gugup. Ga tau harus jawab apa selain nolak dia, atau mungkin bakal diem aja, soalnya kan belum kenal. Mungkin saat itu aku memang tidak sabar ditembak olehnya.

"Terus?"

"Ga tau nanti malem, apa besok, atau masih lama."

"Eh?"

Aku benar-benar bingung bagaimana harus menanggapinya. Sungguh mendengar itu rasanya aku marah, kesal, dan mau ketawa. Lucu sih tapi ngeselin, tahu!

Dan aku terus berjalan tanpa bisa menghentikan Gilang yang berada di sisiku.

Ketika hampir sampai aku berhenti karena melihat kerumunan siswa yang membludak di kantin. Rasanya aku harus memaksa perutku untuk menahan lapar sampai pulang sekolah.

"Kamu mau makan di luar?"

Aku kaget hingga memaksaku memandangnya.

"Ada tempat makan enak di seberang jalan, tapi agak masuk gang dikit."

Dengan cepat aku melengos dan meninggalkannya. Aku bergegas memaksa diri menuju masjid, berharap bisa melupakan rasa laparku.

Tapi, Gilang tetap melangkah di sisi kananku dan kembali berkata: "Nanti juga kamu ingin. Tunggu aja."

Tak kutanggapi. Bagaimanapun sebelumnya aku sudah berniat untuk menjauhi Gilang. Dan tentunya, aku tidak mau lebih dekat dengan orang malas sepertinya. Ga mau. Apalagi makan bareng. Sorry!

"Kamu tahu, semua siswa di sini itu sombong?"

"Kenapa?" tanyaku. Aku merasa dia sedang menyindir sikapku padanya hari itu.

"Siapa yang mau nyamperin satpam terus ngajak makan bareng?"

"Siapa?"

"Cuma aku."

"Oh."

Aku senyum tapi sedikit.

* * *

ii

Ketika sampai di depan masjid. Gilang mendadak pergi dan nyamperin satpam yang memang sedang melangkah ke mari.

Merasa penasaran, aku mencoba menguping.

“Mang Budi!”

“Iya mas Gilang, kenapa?”

“Sudah makan?”

“Sudah kalau pagi, tapi siangnya belum. He he he.”

“Mau makan bareng?”

Mendengar dia ngomong gitu, demi Tuhan, aku sangat-sangat kaget sekaligus tidak menyangka. Apa yang sebelumnya dia bilang ke aku benar-benar dilakuin.

Awalnya aku cuma menganggap Gilang hanya cari sensasi, tapi setelah mendengar jawaban pak satpam semua prasangka itu lenyap seketika.

“Loh, kok ngajak makan lagi? Ini sudah kesepuluh kali loh, mas Gilang ngajak makan bareng, bayarin lagi. Kan Mamang yang ga enak.”

“Ga papa Mang. Hari ini perayaan kelahiranku.”

Hah?! Hari ini perayaan kelahiranmu? Kamu ulang tahun?

Rasanya ada sedikit penyesalan menolak ajakannya. Dan semua itu makin besar setelah mendengar Gilang kembali berkata.

“Tapi di warung mie ayam seberang ya Mang?”

Mie ayam! Hatiku berseru. Itu adalah salah satu makanan favoritku. Aduh, aku nyesel deh.

“Siap mas, pokoknya kalau dibayarin mah, Mamang nurut. Tapi jangan lama-lama ya, kan Mamang lagi kerja. Nanti bisa dipecat kalau kelamaan ngilang.”

“Beres.”

“Itu juga mas.”

“Iya,”

“Jangan pedas-pedas yah, Mamang ga kuat pedas soalnya.”

“Siap.”

“Ga kayak mas Gilang. Hih! Naruh sambal kok banyak banget.”

“Kalau ga pedas, ga mantap Mang.”

Benarkah Gilang suka pedas? Apa iyalah? Pasti ga sepedas levelku. Aduh-aduh, aku jadi makin ngiler.

Semua seruan hanya sampai di hatiku tanpa bisa kuungkapkan padanya hingga sekarang, sepuluh tahun ke depan.

Saat itu aku hanya bisa menahan rasa lapar sembari menunggu waktu shalat Dzuhur. Dan tanpa sadar, aku membuat janji: “Mulai sekarang, aku ga bakal nolak kalau diajak Gilang.”

Setelah sadar, aku hanya bengong karena heran lalu senyum-senyum sendiri.

* * *

iii

Sepulang sekolah, aku melangkah menuju kost. Berjalan menyusuri trotoar seorang diri. Dari arah belakang, kudengar suara sepeda. Suaranya pelan, namun aku tahu itu berasal dari pedal sepeda nenek yang dikayuh.

Ketika sepeda itu sudah sejajar denganku, jalannya melambat. Seperti sengaja menyamakan dengan kecepatanku berjalan. Dan tampak, dia datang lagi.

Siapa? Ya Gilang!

“Kamu mau pulang?”

Kujawab dengan anggukan kepala dan tanpa menoleh padanya.

“Aku ikut.”

“Ga usah.”

“Lah, kalau pelajaran selesai berarti boleh pulang, kan?”

Ih kesel! Iya kamu benar. Tapi maksudnya kamu ga boleh ikut aku pulang.

Diam. Aku, dia, diam. Ini lebih baik buatku. Meski lama kelamaan jadi terasa canggung.

Sebenarnya aku ingin bertanya di mana dia makan mie ayam sama satpam istirahat tadi. Tapi masa aku yang nanya, nanti dikira ngarep.

Ga bakal!

“Ini hari pertama kita pulang bareng.”

Tidak kutanggapi karena ga penting. Jujur, aku juga sedang merasa sangat lapar dan risih diganggu-ganggu. Terlebih, aku pengin makan mie pedas. Aduh.

Tak lama kemudian Gilang kembali berkata: “Ada surat.”

“Buat siapa?” tanyaku judes.

“Lutfi.”

“Dari siapa?”

Gilang memberiku surat.

Aku meraihnya tanpa menghadapkan wajah padanya.

“Jangan lupa.”

“Apa?”

“Ingatan.”

Tak kutanggapi, meski sebenarnya itu lucu.

Sampai di pertigaan, aku khawatir dia akan mengikutiku sampai ke kost. Jika benar, aku akan sebisa mungkin berusaha melarangnya. Pokoknya jangan sampai terjadi!

Syukurlah tidak. Gilang pamit, dan berbelok ke arah sebaliknya.

Ketika dia pergi, muncul perasaan bersalah karena sudah bersikap judes kepadanya. Terlebih, hari itu, untuk pertama kali dia banyak bicara kepadaku daripada di hari-hari sebelumnya. Aku sangat ingat, dia cuma bilang: “Absen.”

Dua kalimat lain yang lumayan panjang: “Guru piket nyuruh kamu masuk.”; dan “Dasar Ratu Absen, mau telat sampai kapan?”.

Aku yakin, pastilah dia sedih. Tentunya dia kesal. Aku juga akan merasakan hal yang sama kalau diperlakukan orang seperti aku kepadanya.

* * *

iv

Sesampainya di kost, aku segera membuka isi surat yang kudapat dari Gilang dengan perasaan berdebar tiada bisa kujelaskan alasannya. Yang pasti, aku penasaran.

Duduk di kasurku dan kubaca:

“Pemberitahuan: Jangan suka menguping pembicaraan orang,—“

Segera aku menutup kertas itu karena merasa sangat bersalah. Apa yang kulakukan hari ini rasanya memang sangat tidak pantas kulanjutkan.

Menghembus napas panjang. Aku kembali membukanya dan mengulang dari awal.

“Pemberitahuan:Jangan suka menguping pembicaraan orang, nanti kamu jadi iri, kan? Tapi tenang, kamu pasti bakal makan mie ayam di warung seberang. Hari ini. Tunggu aja.—Gilang.”

Apa? Hari ini? Aku langsung bisa nebak: isi suratnya pasti salah. Aku sendiri saja tidak tahu tempatnya.

Dari awal, aku sudah yakin, dia cuma sotoy tentang hidupku. Meski aku akui, dua pesannya sebelumnya memang tepat. Tapi, itu pasti karena dia lagi beruntung, ga bakal keulang lagi, kan?

Dan, dugaanku ternyata salah.

Mendadak pintu kamarku diketok. Spontan aku bertanya: “Siapa?”

“Ateg.”

Aku senang mendengarnya. Jadi dia benar-benar datang dan mulai akan berteman denganku di sini.

Aku bergegas membuka pintu dan mempersilahkan dia masuk. Kemudian kami duduk di sisi ranjang.

“Kamu laper ga?”

Aku mengangguk semangat. “Iya, aku baru sarapan nasi goreng tadi pagi di kantin.”

“Kalau gitu, kamu mau ga makan bareng? Aku juga lagi pengin makan nih.”

“Boleh, mau makan apa?”

“Mie ayam, mau?”

Aku tersenyum lebar. “Itu makanan kesukaanku.”

Wah syukurlah. Ada mie ayam enak di seberang jalan SMA, tapi masuk gang dikit. Gimana?”

“Boleh.”

“Ya udah, aku siap-siap dulu.” katanya penuh semangat lalu keluar dari kamarku dan menutup pintu.

Aku sangat senang mendapat ajakan dari Ateg. Selain ramah, ternyata dia benar-benar mengerti aku. Meski mungkin tidak dia sadari.

Aku bangkit menuju almari. Terkejut setelah melihat pantulan cermin. Tampak tumpukan kertas di atas meja. Itu adalah surat-surat yang kudapatkan dari dia, Gilang.

Benar! Isi suratnya yang terakhir kali, kalau aku akan makan mie ayam di seberang jalan SMA hari ini, benar-benar terwujud.

Aku tidak menyangka dan tidak dapat menebak. Bagaimana dia bisa membuat pesannya jadi nyata?

* * *

v

Di warung seberang jalan, tepatnya di warung mie ayam. Harus kuakui, ini adalah salah satu tempat yang membuat mie ayam enak di Purwoketo.

Mienya halus, kuahnya segar dan terasa kaya rempah-rempah. Sambal yang disediakan juga asli, bahkan sangat menyatu dengan mie ayamnya.

Tempatnya juga bersih. Kakek-kakek yang membuat mie ayam sangat rajin dan bersihan. Bajunya saja tidak bernoda. Aku juga melihat dia sangat sering mengelap keringatnya, juga gerobaknya—tempat dia membuat mie ayam.

Aku seperti tersikap ketika mengingat isi pesan Gilang. Meski dalam kenyataannya Ateg yang mengajakku, tapi aku terus-terusan merasa sedang makan sama dia.

Dan dia, menurutku, hari itu, harus bertanggungjawab, karena sudah berhasil membuat tiap suapanku memunculkan raut wajah dan suaranya.

* * *

vi

Malamnya, ibu kost ngetuk pintu, manggil-manggil, katanya ada telpon untukku. Pas aku nanya dari siapa, katanya dari pembawa pesan, ga tahu deh. Pokoknya aku yang harus dikasih pemberitahuan penting, langsung darinya.

Aku keluar dan menuju ruang tengah buat nerima telpon.

“Hallo?” kusapa yang nelepon.

“Selamat malam.” katanya. Tapi aku merasa tidak asing dengan si pemilik suara.

“Malam,”

“Bisa bicara dengan Lutfi?”

“Iya, saya Lutfi.”

“Aku, Gilang.”

“Hey.”

Mendadak jantungku langsung deg-degan entah gimana. Padahal seharusnya aku masih sebal karena dia mengabaikanku pas di kelas. Ga tahu deh.

“Lutfi, bisa bicara sama aku?”

“Iya. Ada perlu apa?”

“Perlu?” Dia nanya.

“Iya, kata ibu kost aku dapat telpon dari pembawa pesan.”

Gilang ketawa, tapi aku cuma dengar “He,”. Terus dia nanya: “Apa katanya?”

“Kata ibu kost, pokoknya aku yang harus dikasih pemberitahuan penting, langsung darinya.”

Gilang ketawa lagi sekali. Benar-benar aneh.

“Terus?” tanyaku.

“Terus?” tanyanya.

“Iya, terus pemberitahuannya apa?” Aku nanya agak sebal.

“Oh, oke.”

“Oke, apa?!” tanyaku sedikit berseru.

“He.” Dia ketawa. “Pemberitahuannya, ada telpon buat kamu.”

“Telpon, buat aku?”

“Iya,”

“Dari siapa?”

“Dari Gilang.”

“Itu sih kamu.” jawabku ketus.

“He,”

Waktu Gilang ketawa, sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Gengsi dong!

“Di mana?” kutanya.

“Siapa?” Dia balas nanya.

“Kamu.”

“Kamu?”

“Iya.”

“Kamu siapa?”

“Kamu, Gilang.”

Akhirnya, kusebut juga namanya. Ah, itu adalah hari pertama aku menyebut namanya secara langsung kepadanya. Sebagai seorang fans, dia harusnya senang karena aku memanggil namanya, dan memang, dari tawanya, aku yakin, dia sangat senang. Semoga.

“Aku, aku di depan kost-mu.”

Kupikir dia ngelawak, ternyata engga. Dari balik gorden, aku mengintip ke arah luar. Kulihat seorang pemuda sedang berdiri menghadap ke mari dan menelpon.

“Ngapain kamu di situ?”

“Ngapain kamu ngintip-ngintip?”

“Gilang!”

“He.” Dia ketawa.

“Kamu ngapain di situ, Gilaaang?” tanyaku sambil masih menatap Gilang dari kejauhan. Samar, aku melihat dia memakai celana levis warna gelap, kaos hitam polos, jaket hitam dengan penutup kepala yang ga dipakai, dan syal putih. Mirip kayak penampakan, memang.

Aku jadi mikir, mungkin Gilang suka makai itu, syal, jadi tiap kali dia makai dasi, pasti selalu dislempangkan.

“Aku mau bilang sesuatu.”

“Dari tadi juga ngomong.”

“He.” Dia ketawa. Lama-lama mendengar ketawanya yang aneh bikin aku ikutan ketawa.

“Ga perlu datang juga, kan?”

“Harus!” katanya hampir berseru.

“Emang, mau ngomong apa?”

“Ini soal pesan penting, tadi.”

“Iya. Apa isinya?”

“Lutfi,”

“Iya.”

“Aku cinta kamu.”

“Hah?!” Aku berseru terkejut. Pasti mukaku memerah.

Aku kira dia nelpon cuma buat bahas pesannya sebelumnya, dan mastiin kalau aku sudah makan mie ayam di seberang SMA. Tapi ternyata tidak. Dia justru mengungkapkan rasanya yang buatku sulit berkata-kata.

“Jangan teriak, nanti yang lain bangun.” katanya tetap tenang, makin membuat jantungku berdebar dengan cepat.

“He he he. Iya maaf.” kataku memelankan suara. “Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu?”

“Aku Cuma ngasih pesan penting aja.”

“Dari kamu, kan?”

“Iya.”

“Terus?” Aku nanya sekaligus memancing dia untuk lebih mengungkapkan apa yang dia sembunyikan dari aku. Mungkin, saat itu, bisa dibilang, aku pengin ditembak.

“Udah.”

“Udah?”

“Iya, udah.” jawabnya tetap tenang.

“He he he.”

Ah, Gilang selalu bisa membuatku senyum.

“Nanti, kalau mau tidur.” katanya. “Percayalah, aku ga tidur bareng kamu.”

“He he he.”

Aku yakin, maksud Gilang, aku kepikiran soal dia bilang, kalau dia cinta sama aku, jadi aku lagi ngerasa sama dia. Tapi, engga kok, Gilaaaang. Tenang aja. Meski aku ga tenang, saking senangnya.

“Ya sudah, aku pamit.”

“Iya, hati-hati dijalan.”

“Makasih.”

“Sama-sama.”

“Aku harap,” Dia berkata dengan nada serius, membuatku risau. “angin menyampaikan ucapan selamat tidur darimu, untukku.”

“He he he.”

“Dan, semoga dia menyampaikan ucapan selamat tidur dariku, untukmu.”

“Aamiin.” kataku mengamini begitu juga Gilang. Lalu telfon ditutup olehnya.

Aku masih terkesima dibuatnya. Rasanya, aku baru saja ditembak!

* * *

vii

Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan.

Haruskah aku menjauhinya, padahal dia baru saja mengungkapkan perasanya padaku? Haruskah aku menganggap semua itu hanya gombalannya saja? Haruskah aku mengira dia hanya mencoba bergurau?

Tidak! Aku yakin tidak. Dia bela-belain datang malam-malam jalan kaki ke kost, tanpa membuat masalah. Dia cukup menelpon melalui telpon kost, dan tidak membuat ibu kost marah. Bahkan ketika kututup telpon darinya, beliau justru senyum-senyum sambil nanya: "Barusan ditembak, ya?"

Aku cuma senyum-senyum menjawabinya.

Aku juga ga tahu kenapa, setiap kali ada sesuatu dari Gilang, ibu kost jadi baik banget. Lebih tepatnya, kayak balik ke zaman mudanya. Ga tahu deh, aku belum nanya ke beliau soalnya.

Perlahan, aku berpikir apa mungkin aku curhat ke Ateg, terus minta pendapatnya? Ah! Aku yakin, Ateg justru akan memaksaku untuk segera ngomong hal yang sama ke Gilang, biar kami jadian.

Sebenarnya, aku, sih, sekarang memang pengin jalin hubungan khusus sama Gilang. Tapi aku merasa, belum waktunya.

Ah, sudahlah, lebih baik, aku tidur.

Di luar, mulai turun hujan. Aku berharap dia tidak kehujanan, biar ga sakit. Jadi besok, aku bisa lihat Gilang lagi di sekolah.

Kututup mataku dengan bantal, lalu menggumam: "Selamat tidur Gilang."

Habis itu aku senyum bagai malu pada diriku sendiri.

1
Yanih Wahyuni
aku suka ceritanya😊
siska
kak author terakhir updet tanggal 08-06-2020 dah lama banget apa author hiatus atau pindah platfrom jika iya bisa saya tau kalo hiatus kapan akan kembali lagi membawa cerita novel ini jika pindah platfrom pindah kmana saya sangat penasaran dengan kelanjutan novel ini bukankah belum tamat masih ada 2 bagian lagi dan bagian 3 blum selesai
saya berharap author membalas nya
Penulis Noname: halo kak siska, untuk novel Lutfi Gilang sudah kembali lanjut dengan judul yang sama. Namun menggunakan akun yang berbeda.

bisa langsung dicek ya kak.
total 2 replies
siska
kak author lanjuuttt ceritanya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak


aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
Dan Banu: Sudah ada ya, bisa dibeli karena hanya ada di buku cetak saja
total 1 replies
v,v
aku mampir dan membawa like ya kak.

buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
Gribelion
bisa luang kan waktu anda untuk membaca novel ku Hidden Feeling 😁✌️
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Khusnul Maratus Soliah
menganti oowh menganti....
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Muhammad Ari
keren thor, ijin promo ya, jgn lupa mampir di novel dg judul "sudden kiss" 😇😇😇
Aku
💕👍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
😊
so sweat
😊: Pasti,,, semangat thor
total 2 replies
😊
bikin baper nihhhhh
😊: Ok Kaka
total 2 replies
Bu$u®🌼
novel yg indah, ga bikin halu
Dan Banu: terima kasih atas pujiannya.
Semoga selalu menikmati novel Lutfi Gilang
total 1 replies
Epron Putra
jngn lpa main ke crita aq ya kak ni udah aq tinggalin like dan komen jga smngt kak
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Aku
👍👍💕💕
Dan Banu
uhuy, siap
Tika
muncul lagi kata-kata baru. ga ngulang kata-kata yg sama jadi ga bikin bosen.

lanjuuuut!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Lutfi
gilang kan jago silat! hihihi
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Dinda
serem
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Nurrizky
bingung jomen apa. udah bagus
🆙🆙🆙🆙
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Mr. R
wohohooo menang!!!!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Black Sword
mantap berantemnya

up terus
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!