Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Di lantai paling atas gedung perkantoran yang megah dan mewah itu, suasana ruangan kerja milik Darren Wijaya terlihat sama saja seperti biasanya.
Hening, dingin, berkarakter maskulin, dan penuh dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaan penting yang menunggu untuk diselesaikan.
Darren duduk tegap di balik meja kerjanya yang besar dan luas itu. Wajahnya tampak sangat serius, alisnya terkerut sedikit menandakan konsentrasi penuh, sementara tangannya sibuk menandatangani dokumen-dokumen penting dengan gerakan yang cepat, efisien, dan penuh wibawa.
Secara fisik, secara tampilan luar, semuanya terlihat normal dan berjalan lancar. Tidak ada satu pun hal yang berubah di ruangan ini.
Tapi... entah kenapa. Ada sesuatu yang terasa sangat ANEH. Ada sesuatu yang terasa sangat KOSONG. Dan ada sesuatu yang mengganjal di dada pria itu yang membuatnya tidak bisa fokus sepenuhnya seperti biasanya.
Darren sendiri menyadari hal itu. Suasana ruangan ini terasa terlalu hening. Terlalu sunyi senyap. Terlalu membosankan.
Biasanya... sebelum pukul sepuluh pagi, atau bahkan seringkali jauh lebih pagi saat matahari baru saja naik... pasti sudah terdengar suara langkah kaki ringan yang ceria menyusuri koridor.
Pasti sudah terdengar suara ketukan pintu yang pelan, ragu, namun penuh semangat.
Dan pasti sudah muncul wajah ceria milik seseorang yang selalu membawa aroma makanan hangat, aroma parfum manis, dan energi yang meluap-luap yang seakan bisa menghangatkan ruangan yang dingin ini.
Biasanya... Selly pasti sudah ada di sana.
Datang dengan senyum lebar yang tak pernah lepas, membawa bekal makan siang yang dimasak sendiri, membawa camilan, atau sekadar datang mampir cuma untuk menanyakan kabar, cuma untuk memastikan pria itu makan dan minum obat tepat waktu.
Dan biasanya... Darren akan menyambut kedatangan itu dengan wajah masam, dengan kata-kata ketus yang dingin, atau dengan tatapan tajam yang seakan sangat terganggu dan tidak suka.
Tapi hari ini? Dan hari-hari belakangan ini?
Selly tidak ada. Selly tidak datang. Selly tidak muncul sedikitpun di area kantor ini.
Dan yang paling parah, yang paling membuat Darren merasa tidak nyaman... tidak ada satu pun pesan singkat, tidak ada satu pun notifikasi chat, dan tidak ada satu pun tanda kehidupan dari gadis itu di HP-nya.
Hening. Sunyi. Sepi.
Awalnya Darren berpikir ini hal yang bagus. Berpikir ini hal yang sangat menyenangkan karena akhirnya dia bisa tenang, akhirnya dia bisa fokus kerja tanpa gangguan seperti yang dia teriakkan dan minta selama ini.
Tapi kenyataannya saat dijalani?
Rasanya justru sangat tidak enak. Sangat hampa. Dan sangat aneh di hati.
Tiba-tiba suara pintu ruangan terbuka pelan. Mbak Sita, sekretaris pribadinya yang setia, masuk ke dalam ruangan dengan wajah bingung, heran, dan penuh tanda tanya sambil memegang papan jadwal kerjanya.
"Permisi, Pak Darren..." panggil Mbak Sita pelan dan hati-hati.
Darren tidak mengangkat wajahnya, tetap fokus menatap layar monitor dan tumpukan kertas di depannya. "Ada apa lagi, Sita? Ada jadwal meeting mendadak atau ada tamu penting?" tanyanya singkat dan datar.
"Bukan itu, Pak..." jawab Mbak Sita ragu-ragu, matanya tanpa sadar melirik ke sekeliling ruangan seakan mencari sesuatu yang hilang, atau mencari sosok yang biasa ada di sudut ruangan.
"Mohon maaf sekali Pak, cuma mau tanya aja sebentar... soal Nona Selly..."
"Nona Selly hari ini kok gak datang ya Pak? Biasanya kan Nona Selly pasti udah dari tadi pagi ada di sini, bawain makanan hangat, atau nemenin Bapak sebentar biar gak sendirian."
Mbak Sita menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung sendiri.
"Anu Pak... tadi saya lewat lobi juga satpam sama resepsionis pada pada heboh dan nanya lho, 'lho kok hari ini cewek cantik yang biasa nengok Pak Darren gak kelihatan ya? Biasanya kan ceria banget'. Jadi saya pikir mungkin Nona Selly lagi sakit atau gimana, makanya saya berani lapor ke Bapak."
Mendengar nama 'Selly' disebut dengan jelas seperti itu...
Tangan Darren yang sedang memegang pulpen itu tiba-tiba berhenti bergerak. Jari-jarinya mengepal sedikit mengeras, dan ada getar tipis yang tak terlihat di sana.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya. Wajahnya tetap terlihat datar, tetap dingin, tetap cool, dan tetap terlihat sangat tidak peduli sama sekali. Bahkan terlihat sedikit kesal dan malas membahas hal itu.
Dengan suara yang santai, datar, namun penuh dengan nada ketidakpedulian yang jelas-jelas dibuat-buat... Darren menjawab.
"Biarkan saja..."
Satu kalimat itu keluar begitu saja, dingin dan menusuk.
"Siapa juga yang peduli dia datang atau tidak? Dia itu kan cuma orang luar, bukan karyawan atau staf kantor ini. Mau datang atau mau berhenti datang selamanya, itu urusan dia sendiri kan?"
"Lagipula, kan emang udah berkali-kali aku bilang sama dia jangan ganggu aku terus, jangan nempel terus, aku butuh privasi dan ketenangan."
"Nah kan sekarang dia beneran sadar diri dan mau berhenti ganggu aku. Malah bagus dong? Justru aku jadi lebih tenang, lebih nyaman, dan lebih bisa fokus kerja di sini tanpa ada yang bikin pusing."
Darren membuang muka ke arah jendela, berusaha menyembunyikan ekspresi aslinya.
"Udahlah, ngapain juga harus dibahas dan dipikirin hal gak penting kayak gitu? Aku kan sibuk. Sudah sana keluar, tutup pintunya!" bentaknya sedikit ketus dan tidak suka.
Mbak Sita yang merasa ditegur dan salah bicara jadi langsung kaget dan takut.
"I-iya Pak! Maaf Pak! Saya keluar dulu! Mohon maaf sudah ganggu!"
Wanita itu segera pamit undur diri cepat-cepat, dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat kembali.
Saat ruangan kembali hening dan tinggal sendirian saja dengan bayangannya sendiri...
Topeng dingin dan kuat yang dipakai Darren Wijaya itu perlahan namun pasti mulai retak dan runtuh.
Wajahnya yang tadi terlihat tegas dan kesal... kini berubah menjadi wajah yang bingung, gelisah, dan tidak tenang.
Darren meletakkan pulpennya di atas meja dengan suara plak yang kasar. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mewah itu, lalu menghela napas panjang sekali... napas yang terdengar sangat berat, sangat lelah, dan penuh kekesalan yang tidak jelas tujuannya.
'Biarkan saja...' itu kata-kata yang dia ucapkan tadi pada Mbak Sita.
Tapi kenapa rasanya sesakit ini di dada? Kenapa rasanya kayak ada barang berharga yang hilang dicuri dari meja kerjanya? Kenapa rasanya dunia ini jadi sepi dan membosankan sekali hari ini?
'Aneh... sangat aneh dan gak masuk akal.' batin Darren bergumam sendiri bingung setengah mati.
'Kenapa sih rasanya sepi banget gini? Kenapa rasanya kurang lengkap dan kurang warm gitu?'
'Bukannya aku yang dari dulu minta dia pergi kan? Bukannya aku yang teriak-teriak suruh dia keluar dan jangan pernah muncul lagi kan? Terus kenapa sekarang pas dia beneran nurut, pas dia beneran pergi dan hilang gitu aja... aku malah ngerasa gak tenang dan ngerasa gelisah gini?'
Darren memijat pelipisnya yang terasa pusing dan berdenyut-denyut.
Bayangan wajah Selly yang selalu ceria, suara tawa gadis itu yang renyah, kehadirannya yang hangat, dan semua perhatian lebih yang dulu dia anggap sebagai gangguan dan beban... kini tiba-tiba terasa sangat berharga dan sangat dirindukan.
Ia sadar sekarang. Kebiasaan itu sudah tertanam terlalu dalam di darah dan dagingnya.
Selama bertahun-tahun Selly ada di sana, mengejarnya, memperhatikannya, mencintainya... sampai akhirnya kehadiran gadis itu menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas hidupnya.
Dan sekarang, saat bagian penting itu tiba-tiba hilang diganti oleh kehampaan yang dingin...
Darren Wijaya merasa dunianya jadi sepi, gelap, dan tidak ada semangatnya sama sekali.
"Hmph... dasar cewek gampang nyerah..." gerutu Darren pelan menyalahkan Selly, padahal dia sendiri yang mendorong gadis itu pergi jauh-jauh.
"Tadi nya yang ngejar-ngejar kan dia, eh baru dikit ditolak langsung hilang gitu aja. Emang beneran cinta apa cuma iseng doang sih..."
Tapi dalem hati yang paling dalem... dia mulai ngerasa kehilangan. Sangat kehilangan. Dan dia mulai ngerasa ada yang tidak beres dengan perasaannya sendiri.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥