Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
Zoya tercengang.
“Kenapa…?”
Necki meliriknya, ekspresinya jelas mengatakan bahwa Zoya pasti sudah lupa.
Melihat tatapan itu, Zoya mulai mengingat keras-keras dalam kepalanya. Lalu…
Oh.
Astaga, bagaimana bisa ia sampai lupa. Bulan Agustus ini, ia sedang berada di semester tiga nya, jurusan MIPA di Universitas SS… salah satu universitas ternama di negaranya.
Seharusnya ia berada di kelas dosen perempuan yang mengajar Matematika. Namun sejak awal, ia sudah berencana lebih fokus ke dunia syuting. Ketika dosen itu mengetahuinya, reaksinya sangat keras… terutama saat Zoya meminta izin absen jika ada jadwal syuting, dengan janji nilainya tidak akan turun.
Jawaban dosen itu masih terngiang jelas di kepalanya:
“Memangnya ini kampus milik nenekmu?”
Di kampus Zoya memang jarang masuk kelas. Meski begitu, dosen lain tidak pernah mempermasalahkan karena nilainya selalu yang tertinggi.
Tapi dosen perempuan itu… pengecualian.
Dan sekarang tiba-tiba kelasnya diganti?
Zoya menghela napas panjang, akhirnya menyerah.
“Baiklah… aku mengerti.”
Ia bersandar di kursi, lalu bergumam pelan, hampir seperti berharap:
“Semoga kali ini… dosennya orang yang tidak suka absen.”
Keesokan paginya, Zoya dibangunkan oleh asistennya untuk pergi kuliah.
Ia mengeluh dalam hati… ia sudah terbiasa tidur larut kemudian bangun sesuka hatinya, mengikuti ritme tubuhnya sendiri. Pagi seperti ini terasa asing… dan ia merasa tidak menyenangkan.
Dengan suasana hati yang sudah tidak bersemangat, Zoya semakin kehilangan minat.
Hari ini, ia harus masuk ke kelas baru… bersama mahasiswa yang sama sekali tidak ia kenal. Tidak ada wajah familiar ia merasa tidak nyaman.
Saat sampai di ruang kelas, Zoya hampir terkejut. Ruang berundak yang mampu menampung tiga ratus orang itu tampak penuh sesak.
Ia sempat berhenti sejenak, menatap papan tanda di depan ruangan, memastikan dirinya tidak salah tempat. Namun, seberapa kali pun ia melihatnya… ini memang ruang yang benar.
Baru kali ini ia melihat kelas sepadat ini.
Alisnya sedikit berkerut. Masih ada kursi kosong, tidak ya…?
Tanpa membuang waktu, ia pun berjalan lebih cepat.
Namun pemandangan di dalam membuatnya makin tak nyaman… kursi-kursi strategis di baris ketiga hingga kelima sudah penuh. Bahkan barisan belakang, tempat “aman” dari jangkauan pertanyaan dosen, juga sudah dipenuhi mahasiswa lain.
Hanya baris pertama yang masih kosong.
Dengan sedikit enggan, Zoya tidak punya pilihan selain duduk di sana… tepat di bawah jangkauan pandangan Profesor Arlo.
Posisi yang terkenal paling berbahaya.
Baru saja ia duduk, bisik-bisik para mahasiswi di sekitarnya mulai terdengar. Zoya tidak berniat menguping… tapi suaranya terlalu jelas untuk diabaikan.
Dari potongan percakapan yang ia dengar, ia mulai menyimpulkan sesuatu.
Profesor Arlo… seorang pria bujangan, yang terkenal dingin dan tidak ramah, namun… sangat tampan. Selain itu, ia juga berasal dari institut penelitian nasional.
Tak heran kelas ini penuh. Bahkan mahasiswa dari jurusan lain pun sengaja datang hanya untuk melihatnya.
Zoya melirik sekilas ke sekeliling. Ada beberapa wajah yang ia kenal, namun lebih banyak yang asing baginya.
Saat ia menunduk, merapikan buku di atas meja, Zoya baru menyadari sesuatu… ruangan itu mendadak sunyi.
Ia pun mendongak.
Tatapannya langsung tertuju ke podium… dan seketika ia tertegun.
Jadi rumor itu benar.
Profesor ini… terlalu tampan untuk sekadar disebut dosen. Fitur wajahnya tajam dan proporsional, dengan garis rahang tegas yang memberi kesan dingin sekaligus berwibawa. Rambut hitam pekatnya ditata dalam gaya comma hair, bervolume, sedikit berantakan.
Sepasang mata coklat gelapnya menatap dengan tenang, tetapi menyimpan intensitas yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.
Kemeja putih bersih yang ia kenakan digulung rapi hingga pergelangan tangannya. Kancing kemejanya terpasang rapi hingga ke pangkal lehernya… itu terlalu rapi, bahkan nyaris kaku. Selain lekuk jakun yang samar terlihat saat ia menelan, tak ada sedikitpun kulit yang dibiarkan terekspos.
Bagian luar ia mengenakan rompi hitam dengan kancing ganda membungkus tubuhnya dengan presisi, mempertegas garis bahu dan pinggangnya. Celana bahan hitam formal jatuh lurus, menonjolkan kakinya yang jenjang dan proporsional.
Semuanya tampak sempurna.
Namun, saat diperhatikan lebih dekat, pesona itu mulai terasa… tidak ramah. Karena… Ekspresi wajah Arlo itu dingin, tatapannya tajam, tenang, tetapi menusuk… seolah mampu membedah siapa pun hanya dengan satu lirikan darinya.
Berada di bawah pandangannya memberi kesan… Seperti berdiri sendirian di tengah hamparan es dan salju… sunyi, dingin membeku.
Zoya sudah terlalu sering melihat pria tampan di industri hiburan… dari yang rapi sempurna sampai yang sengaja terlihat liar. Wajah-wajah seperti itu seharusnya sudah kebal baginya.
Namun pria ini… berbeda.
Saat pandangannya jatuh pada Profesor Arlo, ada sesuatu yang terasa ganjil di hatinya. Wajah tampannya bukan sekadar enak dipandang… ada kesan menggoda yang aneh, nyaris seperti tantangan diam-diam untuknya.
Seolah-olah pria itu berkata, coba saja dekati aku kalau bisa.
Sulit dijelaskan… Wajahnya itu seperti memiliki dua sisi yang bertolak belakang… tajam dan berbahaya, namun di saat yang sama… tenang dan terkendali.
Muncul dorongan tak masuk akal dalam diri Zoya… keinginan untuk merusaknya. Untuk melihat… apakah di balik lapisan itu, apakah ia sedingin yang ia tunjukkan.
Zoya menghela nafas pelan…
Sial..
Sepertinya kali ini dia benar-benar dalam masalah.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama… dia tertarik. Dan bukan sekadar tertarik. Ini tipe yang bisa membuatnya… kehilangan kendali.
Jadi benar juga, ya… Cinta pada pandangan pertama itu ada.
Dan, tentu saja itu dimulai dari visual.
Profesor Arlo mulai mengajar. Suaranya rendah dan berat, dengan sedikit serak yang samar… seolah lelah karena terlalu lama tenggelam dalam penelitian.
Namun justru itu yang membuat suaranya terdengar semakin dalam dan memikat.
Setiap kata yang diucapkan terasa jelas dan terukur, membuat orang tanpa sadar ingin terus memperhatikannya… bukan hanya karena materi yang disampaikan, tapi juga karena cara dia membawakannya.
Penjelasannya mengalir dengan runtut… dimulai dari konsep yang sederhana, lalu perlahan naik ke bagian yang lebih kompleks. Namun cara penyampaiannya membuat semuanya terasa mudah diikuti. Selama pemahaman dasar mahasiswa memadai, sebagian besar tidak mengalami kesulitan dalam menangkap penjelasan.
Ditambah lagi dengan pesona pribadinya yang tidak biasa, membuat orang tanpa sadar betah memperhatikan.
Zoya sendiri tak menyadari sejak kapan fokusnya berubah.
Yang awalnya hanya berniat mendengarkan seperlunya, perlahan berubah menjadi perhatian penuh.
Ia bahkan tidak lagi sekadar mencatat… lebih seperti tenggelam dalam cara pria itu berbicara, dalam ritme penjelasannya yang tenang namun tegas.
Dan ketika ia akhirnya kembali sadar, beberapa jam telah berlalu begitu saja.
Ketika semua orang masih sibuk menyimak pelajaran dan tanpa sadar mengagumi Arlo, Zoya justru tampak tenggelam dalam bukunya sendiri. Tangannya bergerak menulis, seolah ia benar-benar fokus pada catatannya.
Namun jika diperhatikan lebih saksama, sesekali matanya melirik ke arah podium.
Hanya sekejap.
Lalu ia buru-buru menunduk lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di balik helaian rambutnya, pipinya yang putih dan lembut tampak samar memerah… tidak ada orang yang menyadarinya.
Lalu muncul satu pertanyaan : Sebenarnya… apa yang sedang ia tulis?