Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sabit di Barat dan Mahkota yang Tak Bertuan
1 November 700 Masehi — Istana Al-Khulud, Bagdad, Kekhalifahan Abbasiyah
Padang pasir yang membentang di luar Bagdad menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah. Raungan mesin jet dan deru motor trail militer memecah kesunyian padang pasir saat utusan Dinasti Rahmad tiba di jantung Kekhalifahan Abbasiyah. Mereka membawa misi diplomatik yang akan mengubah peta kekuatan dunia selamanya.
Khalifah Abbasiyah menyambut mereka di aula utama dengan rasa takjub yang tak bisa disembunyikan. Ketika utusan Yudi berdiri di depan Khalifah dan mengucapkan salam Islami dengan sempurna, sang Khalifah bangkit dari singgasananya.
"Subhanallah... Di dataran Timur yang jauh telah berdiri sebuah kerajaan yang bersujud kepada Allah? Ini adalah kabar yang lebih manis daripada madu terbaik di Persia," ucap Khalifah dengan haru.
Sebagai tanda persaudaraan seagama, utusan tersebut menyerahkan hibah militer masif dari Yudi yang membuat para jenderal Abbasiyah gemetar:
10.000 Senapan Laras Panjang, 2.000 Laras Pendek, dan 3.000 Pistol.
3 Miliar Butir Peluru untuk masing-masing jenis senjata.
1 Unit Armored Car & 1 Helikopter Tempur bermesin Jet.
2 Unit MLRS & 50 Unit Artileri Medan.
100 Unit Drone Tempur (Mata-mata langit yang mematikan).
"Kaisar kami menawarkan Aliansi Sabit," tegas utusan itu. "Sebuah aliansi suci antara dua pilar kekuatan Islam di dunia. Dengan senjata ini, tak ada satu pun musuh yang akan berani menyentuh jengkal tanah kaum muslimin dari Bagdad hingga Lhasa."
Khalifah Abbasiyah dengan mantap menerima tawaran itu. "Mulai hari ini, Dinasti Rahmad dan Kekhalifahan Abbasiyah adalah satu nafas. Aliansi Sabit akan menjadi pelindung kebenaran!"
Aula Agung Istana Luoyang, Dinasti Zhou
Di sisi lain benua, suasana di Luoyang tak kalah membara. Maharani Wu Lin duduk dengan anggun namun berwibawa di singgasananya. Di hadapannya, jajaran menteri bersiap mendengar keputusan penting. Hadir pula Menteri Besar beserta putrinya, Yue Qing, yang kecantikannya dengan mata merah delima dan bentuk tubuh G-cup yang proporsional seolah meredupkan cahaya lampion aula.
Agenda hari ini adalah penentuan Putra Mahkota. Mengingat Yudi telah memiliki Dinasti sendiri, maka mahkota Zhou harus jatuh ke tangan salah satu dari keempat adiknya.
"Para menteriku," suara Wu Lin bergema. "Putra sulungku, Yudi Rahmad, telah memilih jalannya sendiri sebagai kaisar di Barat. Aliansi kita dengan mereka, yang kini kita sebut Aliansi Bulan-Matahari, adalah nyawa bagi kekaisaran ini. Oleh karena itu, penunjukan Putra Mahkota harus dilakukan dengan sangat hati-hati."
Wu Lin menatap keempat putranya, terutama Zhou Long. "Bagaimana pandanganmu, Menteri Besar?"
Menteri Besar menjawab dengan suara berat dan bijaksana, "Yang Mulia, siapa pun yang memimpin Zhou nanti haruslah sosok yang bisa menjaga keharmonisan Aliansi Bulan-Matahari. Kita tidak bisa mempertaruhkan nyawa jutaan rakyat jika Putra Mahkota terpilih justru memiliki bibit permusuhan dengan Kaisar Yudi."
Yue Qing kemudian melangkah maju, memotong suasana dengan aura dominasinya yang tajam. "Jika aku boleh berpendapat, Yang Mulia Maharani... Siapa pun yang menjadi Putra Mahkota harus sadar bahwa tanpa bantuan baja dari Kakak Yudi, kita tidak akan bisa menahan serangan musuh. Seseorang yang sombong seperti Zhou Long hanya akan merusak aliansi suci ini."
Zhou Long mengepalkan tangan hingga kukunya memutih, menahan amarah karena disindir langsung di depan umum. Namun, ia hanya bisa menunduk saat Maharani Wu Lin mengangguk setuju dengan ucapan Yue Qing.
"Keputusan ditunda!" tegas Wu Lin. "Status Putra Mahkota tetap kosong hingga prosesi lamaran Yudi Rahmad tiba di Luoyang. Aku ingin melihat siapa di antara kalian yang pantas berdiri sejajar dengan kemuliaan Kakakmu."
Obsesi di Balik Tirai
Setelah rapat usai, Yue Qing berjalan di taman istana bersama Menteri Besar. Sang ayah menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau sangat keras pada Zhou Long, Qing-er. Kau benar-benar ingin Yudi segera datang, bukan?" tanya Menteri Besar.
Yue Qing menatap langit biru, matanya merah delimanya berkilat penuh obsesi. "Aku bukan hanya ingin dia datang, Ayah. Aku ingin dia mengambil apa yang menjadi miliknya. Aliansi Bulan-Matahari adalah segalanya bagiku. Jika ada yang berani menghalangi jalan Yudi—bahkan jika itu adalah adik-adiknya sendiri—aku akan memastikan mereka menyesal telah lahir ke dunia."
Menteri Besar menghela napas, menyadari bahwa putrinya telah menjadi pengikut fanatik dari visi besar Yudi.
Statistik & Hubungan Karakter (Bab 19)
Yudi (17 Thn): Meresmikan Aliansi Sabit dengan Abbasiyah dan mengukuhkan Aliansi Bulan-Matahari dengan Zhou. Fokusnya kini adalah mobilisasi iring-iringan lamaran yang akan membawa ribuan unit kavaleri bermotor ke Luoyang.
Maharani Wu Lin (36 Thn): Menggunakan status Aliansi Bulan-Matahari sebagai pelindung politik dan militer untuk menstabilkan kondisi internal Tiongkok.
Yue Qing (16 Thn): Bertindak sebagai "Wali" kepentingan Yudi di Luoyang. Kecantikan dan keberaniannya membuatnya menjadi wanita paling berpengaruh di istana Zhou saat ini.
Zhou Long (15 Thn): Merasa sangat terasing dan marah. Aliansi Bulan-Matahari dianggapnya sebagai penghalang utamanya menuju singgasana.
Statistik Militer Dinasti Rahmad (Global)
Aliansi Sabit (Barat): 15.000 Senjata api, 100 Drone tempur, dan 50 Artileri telah memperkuat pertahanan perbatasan Islam.
Aliansi Bulan-Matahari (Timur): Jalur logistik aman di bawah pengawasan Radar Aegis Yudi.
Persentase Islam di Tibet: Meningkat ke angka 15%, didukung oleh fasilitas pendidikan modern yang dibangun di samping masjid-masjid Lhasa.
Di Lhasa, Yudi sedang memeriksa barisan 1.000 kavaleri bermotor yang akan mengawalnya ke Luoyang. "Persiapkan perhiasan terbaik," perintah Yudi pada Galuh. "Kita tidak hanya pergi untuk melamar, kita pergi untuk menunjukkan bahwa dunia kini memiliki satu pemilik."