NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: (Skenario Sang Buah Hati)

Langit Jakarta di ufuk barat mulai melukis semburat warna jingga keemasan saat mobil Rolls-Royce hitam milik Mike Raharja bergerak pelan membelah gerbang besi tinggi kediaman utama Menteng. Setelah seharian penuh terjebak di dalam ruang rapat korporat yang dingin, memilah dokumen-dokumen taktis, dan memperketat barikade hukum bersama tim intelijen, kepulangan ke rumah ini adalah satu-satunya momen yang mampu meruntuhkan seluruh ketegangan di pundak tegap sang CEO.

Begitu pintu mobil dibukakan oleh pengawal, pandangan mata elang Mike langsung menyapu ke arah taman dalam yang asri. Sudut bibirnya yang biasanya terkunci rapat dalam garis dingin, perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat hangat.

Di sana, di dalam gazebo kayu jati berukir klasik yang dikelilingi oleh hamparan rumput hijau dan gemercik air kolam ikan koi, sosok Alisha sedang duduk dengan anggun. Istrinya mengenakan gaun rumah berbahan katun lembut berwarna hijau toska yang longgar, membuat kulit putih bersihnya tampak semakin bersinar diterpa cahaya senja. Alisha terlihat begitu menikmati suasana sore yang menenangkan sembari sesekali menyuapkan irisan buah mangga muda yang segar ke dalam mulutnya menggunakan garpu kecil.

Namun, di balik ketenangan visual sore itu, sebuah sistem pengamanan berlapis yang tak kasat mata telah bekerja dengan sangat ketat. Di sekeliling koridor taman, tampak beberapa ajudan berpakaian safari hitam berjalan berkeliling dengan sikap siaga penuh, mata mereka awas memantau setiap sudut pekarangan. Tak jauh dari gazebo, dua orang pelayan wanita berdiri dengan posisi membungkuk hormat, siap sedia melayani setiap kebutuhan sang Ratu Raharja tanpa sedetik pun membiarkannya sendirian.

Mike melangkah perlahan menyusuri selasar koridor kaca. Sebelum menuju ke gazebo, langkahnya membelok ke arah teras dalam yang dibatasi oleh dinding kaca besar. Di sana, duduk Kakek Surya Raharja di atas kursi goyangnya. Sebuah koran bisnis sore terbentang di hadapannya, namun sepasang mata tuanya yang sarat akan kebijaksanaan sesekali melirik ke luar jendela, mengawasi cucu menantunya dengan pandangan yang penuh dengan rasa protektif dan kasih sayang.

"Kakek," sapa Mike dengan suara baritonnya yang rendah, membungkuk hormat di samping pria tua itu.

Surya menurunkan korannya, lalu menoleh dan mengulas senyuman tipis saat melihat cucu tunggalnya telah kembali. "Kamu sudah pulang, Mike."

"Iya, Kek. Bagaimana kondisi Alisha hari ini? Apa mualnya kambuh lagi?" tanya Mike, menatap lurus ke arah gazebo melalui dinding kaca.

"Hari ini dia jauh lebih tenang. Udara sore di taman ini sepertinya sangat membantu meredakan kejenuhannya setelah beberapa hari terkurung di dalam rumah," Surya melipat korannya dengan rapi, lalu memegang lengan Mike, menepuknya pelan. "Karena kamu sudah ada di sini untuk menjaganya, Kakek akan masuk ke kamar untuk beristirahat. Tubuh tua Kakek ini sudah mulai lelah."

Surya bangkit perlahan dengan bantuan tongkatnya, namun sebelum melangkah pergi, ia menatap Mike dengan pandangan penuh arti. "Bersihkan dirimu terlebih dahulu, Mike. Mandi dan gantilah pakaian kerjamu yang kaku itu sebelum kamu menemui istrimu. Jangan membawa aura penat kantor ke dekat calon cicit Kakek."

"Baik, Kek," jawab Mike patuh.

Dua puluh menit kemudian, setelah membersihkan diri dari debu ibu kota dan mengganti setelan jas formalnya dengan kaus oblong hitam santai serta celana kain senada, Mike melangkah mantap menuju taman belakang. Aroma sabun maskulin yang segar dan wangi kayu cendana yang khas menguar dari tubuh tegapnya, menyapu udara sore yang sejuk.

Di dalam gazebo, Alisha sedang asyik membolak-balik halaman sebuah buku novel bergenre romantis komedi. Sesekali, senyuman geli dan tawa kecil yang teramat jernih terdengar dari bibir ranumnya, memperlihatkan betapa ia sangat terhanyut ke dalam alur cerita buku tersebut.

*Srek.*

Suara langkah kaki Mike di atas rerumputan membuat Alisha sedikit tersentak. Ia mendongak, dan sedetik kemudian matanya berbinar bahagia saat mendapati suaminya sudah berdiri di undakan anak tangga gazebo.

"Mike! Kamu mengejutkanku," ucap Alisha sembari menutup novelnya, mengulas senyuman manis yang seketika menghilangkan seluruh rasa lelah Mike hari itu.

Mike duduk di samping Alisha, langsung melingkarkan satu lengan kekarnya di pinggang ramping istrinya, membawa tubuh Alisha ke dalam dekapan hangatnya. Ia merunduk, mengecup pelipis Alisha dengan sangat lama dan penuh khidmat. "Membaca apa sampai suamimu datang pun tidak terdengar, hm?"

"Hanya novel komedi ringan pemberian Asyifa kemarin," Alisha menyandarkan kepalanya di dada bidang Mike, menikmati detak jantung suaminya yang konstan dan menenangkan. Ia meraih seiris mangga dari piring kecil di atas meja. "Mau? Ini sangat segar, tidak terlalu asam."

Mike menerima suapan mangga dari tangan Alisha, mengunyahnya perlahan sembari mengelus permukaan perut datar istrinya yang kini menyimpan benih kehidupan mereka dengan gerakan yang teramat lembut dan protektif. "Enak. Kamu harus banyak makan buah agar vitaminnya tercukupi."

Di tengah obrolan santai yang penuh dengan keintiman itu, pandangan mata Alisha tiba-tiba teralihkan ke arah sudut barat taman dalam. Di sana, berdiri sebuah pohon mangga harumanis tua yang daunnya rimbun dan ranting-rantingnya tampak melungkur ke bawah karena dipenuhi oleh buah mangga yang lebat, besar, dan mulai mematangkan warna hijaunya yang pekat.

Alisha terdiam sesaat, mengerjapkan matanya, lalu menelan ludahnya sendiri dengan pandangan mata yang mendadak berkilat penuh dengan keinginan yang amat besar.

"Mike..." panggil Alisha, suaranya mendadak berubah menjadi manja dan agak merengek.

"Iya, Sayang? Ada apa?" Mike menunduk, menatap wajah istrinya.

"Aku... aku ingin buah mangga," ucap Alisha sembari menunjuk ke arah pohon besar di sudut taman tersebut.

Mike mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap heran ke arah piring kecil di atas meja gazebo yang masih menyisakan beberapa irisan buah mangga segar yang baru saja dimakan Alisha. "Bukankah kamu sedang makan buah mangga sekarang, Alisha? Ini pelayan baru saja memotongnya untukmu."

Alisha menggelengkan kepalanya dengan cepat, bibirnya mengerucut sebal karena merasa permintaannya tidak dipahami. "Bukan yang itu, Mike! Mangga yang di piring ini sudah dipotong sejak tadi dan rasanya sudah biasa. Aku ingin buah mangga yang itu... yang masih menggantung di atas pohon itu, yang baru dipetik dan masih ada getahnya."

Mike terkekeh rendah, mengacak rambut Alisha dengan gemas. Menurutnya, keinginan istrinya ini sangat unik. Ia kemudian menoleh ke arah salah seorang ajudan pria yang berdiri tak jauh dari koridor. "Bagas, kemari. Tolong ambilkan galah atau panjat pohon itu, petikkan tiga buah mangga yang paling besar untuk Nyonya."

"Siap, Tuan!" jawab ajudan tersebut tegas dan bersiap melangkah.

"Eh, jangan! Stop! Tidak boleh!" teriak Alisha tiba-tiba, membuat langkah kaki sang ajudan seketika membeku di tempat dengan wajah bingung.

Secara bersamaan di area lobi depan, Kevin melangkah masuk ke dalam kediaman Menteng dengan langkah yang tergesa-gesa. Di tangannya, sebuah map dokumen penting berkulit hitam tebal berisi rincian pengetatan keamanan wisuda Alisha dan laporan intelijen terbaru mengenai pergerakan Rendy tergenggam erat. Sebagai tangan kanan yang berdedikasi, Kevin langsung berjalan menuju taman belakang setelah diberitahu oleh pelayan bahwa Mike berada di sana.

Namun, begitu Kevin melangkah melewati koridor kaca yang menghubungkan rumah utama dengan taman dalam, langkah kakinya seketika membeku sempurna. Sepasang matanya membelalak tidak percaya, dan mulutnya sedikit terbuka menyaksikan sebuah pemandangan yang teramat gila dan tidak masuk akal sedang terjadi di depan matanya.

Di sudut taman, di atas dahan pohon mangga harumanis yang tingginya hampir tiga meter dari atas tanah, tampak sesosok pria berbadan tegap dengan kaus oblong hitam sedang merayap naik dengan posisi yang sangat kaku namun penuh kehati-hatian. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mike Raharja—sang CEO bertangan dingin yang beberapa jam lalu baru saja memimpin rapat dewan direksi dengan aura tiraninya yang mencekam.

Di bawah pohon, Alisha berdiri sembari bertepuk tangan kecil dengan wajah yang dipenuhi tawa sukacita, sesekali berteriak memberikan instruksi. "Yang itu, Mike! Yang di ujung kanan, yang paling besar! Awas jangan sampai jatuh getahnya kena kausmu!"

"Ini?" teriak Mike dari atas dahan, tangannya meraih sebutir mangga besar sembari mencoba menyeimbangkan tubuh tegapnya yang terlihat sangat tidak terbiasa dengan aktivitas luar ruangan seperti ini.

"Iya, yang itu! Petik, Mike!" seru Alisha gembira.

Kevin yang berdiri di koridor kaca merasa otaknya mendadak macet selama beberapa detik. Sebuah senyuman licik dan jenaka yang teramat lebar perlahan terukir di wajah tangan kanan Mike itu. Tanpa membuang waktu lagi, Kevin merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menyalakan mode perekam video definisi tinggi.

Dengan tangan yang sengaja ditahan agar tidak gemetar karena menahan tawa yang meledak di dadanya, Kevin merekam adegan langka berdurasi tiga puluh detik yang menampilkan momen di mana Tuan CEO Terhormat Mike Raharja sedang memetik buah mangga di atas pohon dengan wajah yang tampak begitu kaku dan kesal namun penuh kepasrahan.

*Klik.*

Kevin mematikan rekamannya, lalu dengan kecepatan jemari seorang profesional, ia membuka aplikasi pesan instan dan mengirimkan video tersebut ke dalam *Group Chat* privat mereka berempat—grup rahasia yang hanya beranggotakan Mike, Alvin, Marvel, dan Kevin sendiri.

Di dalam grup, Kevin menambahkan sebuah takarir teks yang teramat provokatif:

> **Kevin:** *Breaking News! Akibat fluktuasi hormon kehamilan Nyonya Raharja, saham wibawa Tuan CEO kita sore ini resmi terjun bebas sepuluh persen di atas pohon mangga Menteng. Silakan dinikmati, para pemegang saham jomlo sekalian. 😂 [Video_01.mp4]*

>

Tak sampai satu menit, ponsel Kevin langsung bergetar beruntun di tangannya, menampilkan respons instan dari dua sahabat mereka yang lain yang tampaknya sedang tidak sibuk di kantor masing-masing.

> **Marvel:** *DEMI APA?! HAHAHAHA! Gila, ini beneran Mike?! Pria yang kemarin memotong bonus tahunanku karena telat menyerahkan laporan properti, sekarang sedang merayap di dahan pohon seperti tarzan?! Aku mau menangis karena terlalu banyak tertawa! Tolong simpan video ini, Kev! Kita jadikan ini pembuka presentasi di rapat pleno bulan depan!*

>

> **Alvin:** *Ya ampun, Mike... Hahaha! Sahabatku yang perkasa ternyata tidak berkutik menghadapi skenario ngidam calon ahli waris. Anita di sampingku sampai ikut terbahak-bahak melihatnya. Selamat menikmati peran barumu sebagai koki pemetik buah pribadi, Tuan Raharja! Kasih bonus tambahan untuk Kevin karena sudah berjasa menyebarkan dokumentasi sejarah ini!*

>

Kevin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan senyuman puas yang masih menghiasi wajahnya. Ia menarik napas panjang, merapikan letak map dokumen hitam di tangannya, lalu mulai melangkah perlahan mendekati area pohon mangga dengan langkah kaki yang dibuat se-formal mungkin, bersiap untuk menghadapi amukan atau tatapan dingin dari sang bos yang sebentar lagi akan turun membawa buah mangganya.

Di bawah siraman cahaya senja Menteng yang hangat sore itu, di tengah tawa lepas Alisha dan lelucon rahasia para sahabatnya, Mike Raharja telah membuktikan bahwa demi melindungi dan membahagiakan kehidupan kecil yang sedang bertumbuh di dalam rahim istrinya, ia siap menanggalkan seluruh keangkuhan dunianya, karena takhta tertinggi yang sesungguhnya kini bukan lagi berada di kursi kerja CEO, melainkan ada di dalam pelukan tulus keluarga kecilnya yang teramat suci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!