NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mobil sport hitam milik Reza membelah jalanan ibu kota yang basah sisa hujan sore tadi. Setelah memastikan Hani masuk ke dalam rumah peninggalan orang tuanya dengan aman, meski wanita itu tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun Reza akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sepanjang perjalanan, bayangan Hani yang menangis terguncang di pelukannya di bawah guyuran hujan pemakaman terus berputar di kepala Reza. Dadanya terasa sesak. Ada letupan emosi yang bercampur baur. Rasa pelindung yang membuncah, rasa bersalah yang belum usai, dan ketertarikan yang kini telah menjelma menjadi rasa takut kehilangan yang teramat sangat.

Begitu melangkah memasuki kediaman megah keluarga Baskara, keheningan yang dingin langsung menyambutnya. Di ruang keluarga yang luas dengan langit-langit tinggi, Narendra Baskara duduk tenang di sofa kulitnya, menyesap secangkir kopi hitam hangat sambil menatap lembaran dokumen di tangannya.

Reza melangkah melewati ruangan itu tanpa berniat menyapa, namun suara berat ayahnya seketika menghentikan pergerakannya.

"Kamu meninggalkan kerjaan kamu hanya untuk menemani gadis itu, Reza?" tanya Narendra tanpa mendongak dari dokumennya.

Reza menghentikan langkah, tubuhnya menegang. Ia berbalik, menatap ayahnya dengan sepasang mata yang menyipit tajam. "Papa memata-mataiku?"

Narendra meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan, lalu mendongak menatap putra tunggalnya yang basah kuyup dan tampak kacau. "Papa hanya memastikan penerus Baskara Group tidak melakukan tindakan bodoh yang bisa merusak citranya di luar. Dan apa yang Papa dapatkan dari laporan tim di lapangan? Kamu basah kuyup memeluk wanita itu di pemakaman."

Narendra bersedekap dada, sorot matanya menuntut jawaban. "Papa tanya kepadamu, Reza. Kamu menyukai Hani?"

"Ya! Reza menyukai Hani, Pah!" jawab Reza lantang tanpa keraguan sedikit pun. Pengakuan jujur itu menggema di ruangan yang sunyi tersebut.

Reza melangkah maju, menatap ayahnya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. "Dan Reza mohon dengan sangat kepada Papa... mulai detik ini, jangan pernah lagi mengungkit atau mempermasalahkan soal ayah Hani delapan tahun yang lalu!"

Narendra mengernyitkan dahi, terkejut dengan nada bicara putranya yang begitu berani menentangnya. "Reza, jaga bicaramu..."

"Ayah Hani sudah meninggal dunia, Pah!" potong Reza, suaranya bergetar menahan amarah dan emosi yang membumbung. "Pria yang Papa tuduh dalam dokumen investigasi tadi pagi... pria yang Papa cari-cari kesalahannya... dia meninggal sore ini karena kecelakaan tabrak lari parah. Dia pergi sebelum Hani sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali."

Mendengar kalimat itu, Narendra seketika tertegun. Genggaman tangannya pada sandaran sofa perlahan mengendur. Sorot mata keras pria paruh baya itu meredup, digantikan oleh gurat keterkejutan yang nyata. "Meninggal?"

"Iya, Pah," ucap Reza, suaranya merendah penuh penekanan yang menusuk. "Hani sebatang kara sekarang. Ibunya sudah meninggal saat dia kuliah, dan hari ini, satu-satunya orang tua yang tersisa dalam hidupnya pergi dengan cara yang tragis. Jadi, Reza minta, stop mencari tahu tentang latar belakangnya. Stop mengusik hidupnya. Biarkan Hani bekerja dengan tenang di perusahaan kita tanpa bayang-bayang ketakutan dari masa lalu orang tuanya."

Narendra terdiam seribu bahasa. Kebijaksanaan dan sisi kemanusiaannya kembali terusik. Mengingat bagaimana ketegangan yang ia ciptakan di ruang direksi tadi pagi, di mana ia menuduh Hani menyembunyikan identitas, Narendra mendadak dihantui rasa bersalah yang amat besar. Ia tidak menyangka bahwa di saat yang sama ia menghakimi gadis itu, ayah kandung si gadis sedang meregang nyawa di jalanan.

Narendra mengembuskan napas berat, lalu mengangguk pelan. "Baik. Papa tidak akan mengungkit masalah ini lagi. Latar belakang ayah Hani... kita anggap selesai malam ini. Papa akan memastikan posisinya di perusahaan tetap aman."

Reza tidak menanggapi lagi. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya di lantai atas, menyisakan Narendra yang termenung sendirian dilingkupi rasa bersalah.

...****************...

Sementara itu, di sudut kota yang lain, suasana di dalam rumah tua milik keluarga Hani terasa begitu mencekam oleh kesunyian.

Hani duduk bersandar di lantai ruang tamu yang dingin, memeluk kedua lututnya erat-erat. Rumah itu dibiarkan gelap gulita tanpa lampu yang menyala, hanya menyisakan semburat cahaya redup dari lampu jalanan yang menembus celah jendela kaca depan. Pipi wanita itu sudah sembap, dan matanya memerah karena air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir.

Isak tangis Hani terdengar lirih, memecah keheningan malam. Rasa bersalah yang teramat sangat terus-menerus merongrong dadanya hingga membuatnya sesak.

"Maafkan Hani, Ayah... maaf..." bisik Hani di sela tangisnya.

Kalimat-kalimat kasar yang ia ucapkan di ruangan Narendra tadi pagi terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak. “Saya tidak pernah peduli lagi dengannya.” Kata-kata itu berputar, menghantam logikanya dengan kejam.

Hani merasa dirinya adalah anak yang paling durhaka di dunia. Bagaimana bisa ia mengatakan hal sekejam itu di saat ayahnya sedang berjuang mempertahankan nyawanya di jalanan dengan hanya membawa selembar foto dirinya?

Pikiran-pikiran buruk itu membuat kepala Hani pening. Rasa lelah yang luar biasa mendera fisiknya, namun setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah kaku ayahnya di kamar jenazah langsung memaksa matanya terbuka lebar. Hani terjebak dalam lingkaran setan penyesalan yang menyiksa.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan rumah yang berbunyi nyaring mendadak membuyarkan lamunan kelam Hani. Ia tersentak, melirik jam dinding digital di ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu ke rumahnya selarut ini?

Hani menghapus sisa air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk bangkit berdiri. Dengan langkah lambat dan waspada, ia berjalan menuju pintu depan. Sebelum membuka slot kunci, ia mengintip sedikit melalui celah gorden jendela.

Di luar pagar rumahnya, berdiri seorang pria berjaket hijau khas pengemudi ojek yang membawa sebuah kantong plastik besar bertuliskan logo restoran bubur ayam premium yang buka dua puluh empat jam.

Hani membuka pintu sedikit, menatap bingung dari balik pagar ke arah pengemudi tersebut. "Maaf, Mas. Tapi saya tidak memesan makanan apa pun."

Pengemudi itu tersenyum ramah dari balik pagar. "Apakah benar ini kediaman Mbak Hani Adisa Putri?"

"Iya, benar. Tapi saya benar-benar tidak memesan, Mas," tegas Hani, mengira ada kesalahan alamat.

"Oh, pesanannya memang bukan dari akun Mbak, tapi ini pesanan dari orang lain," jelas pengemudi itu sambil menyerahkan kantong plastik besar yang masih terasa sangat hangat tersebut begitu Hani membukakan sedikit celah pagar.

"Di sini tertulis nama pemesannya itu Reza Baskara. Beliau juga meninggalkan pesan di aplikasi agar makanan ini dipastikan diterima langsung oleh Mbak Hani. Ini sudah dibayar non-tunai, Mbak."

Mendengar nama itu disebut, jantung Hani berdesir aneh. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup di tengah dinginnya hati yang sedang berduka. Hani menerima kantong plastik tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. "Baik, Mas. Terima kasih banyak."

Setelah pengemudi itu pergi, Hani mengunci kembali pintu pagar dan membawanya ke meja makan kecil di dalam rumah. Di dalam kantong itu, selain satu porsi besar bubur ayam hangat dan sup ayam bening, terdapat sebuah kotak kecil berisi teh chamomile hangat serta selembar memo kecil.

Hani mengambil memo itu dan membaca tulisan tangan Reza yang rapi.

Aku tahu kamu pasti tidak bisa tidur, dan aku tahu kamu belum makan apa pun sejak siang tadi. Tolong paksa dirimu untuk menelan beberapa sendok bubur ini, Hani. Minum tehnya agar kamu bisa sedikit lebih tenang. Kamu harus kuat, demi dirimu sendiri. Aku di sini, tidak akan ke mana-mana. - Reza.

Air mata Hani kembali menetes, namun kali ini bukan karena rasa bersalah pada ayahnya, melainkan karena rasa haru yang tidak bisa ia bendung.

Di saat dunianya runtuh dan semua orang menganggapnya sebatang kara, pria yang dulu paling ia benci justru menjadi orang yang paling detail memperhatikan kebutuhannya. Sikap keras dan dingin Hani malam itu benar-benar goyah oleh perhatian tulus Reza.

Hani membawa cangkir teh chamomile hangat itu menuju jendela kaca besar di ruang tamu, berniat sedikit menyembunyikan diri di balik gorden sambil menghirup kehangatan teh untuk menenangkan pikirannya yang kalut.

Ia menyibak gorden sedikit, menatap ke arah luar pagar rumahnya yang sepi. Namun, saat matanya tidak sengaja melirik ke arah seberang jalan, tepat di bawah pohon peneduh yang remang-remang, gerakan tangan Hani yang hendak menyesap tehnya mendadak membeku.

Di bawah remang-remang lampu jalanan yang berkabut, mobil sport hitam milik Reza terparkir di sana.

Bukan itu yang membuat napas Hani tercekat, melainkan sosok Reza yang terlihat sedang berdiri di samping mobilnya, membiarkan tubuhnya bersandar pada pintu mobil sambil menatap lurus ke arah jendela rumah Hani dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran. Pria itu ternyata dia kembali lagi hanya untuk berjaga di depan rumah Hani sepanjang malam.

Namun, ketakutan baru mendadak menyergap Hani ketika matanya menangkap siluet lain di dalam area gelap yang terletak hanya beberapa meter di samping posisi berdiri Reza.

Sesosok pria misterius berpakaian serba hitam dan mengenakan penutup kepala tampak sedang keluar dari kegelapan gang di samping mobil Reza, mengendap-endap mengarahkan sebuah benda logam panjang yang berkilat tajam di bawah cahaya lampu jalanan. Sebuah pisau besar, tepat ke arah punggung Reza yang sedang lengah menatap ke arah rumah Hani.

Hani membelalak horor, cangkir teh di genggamannya terlepas dan jatuh menghantam lantai rumah hingga hancur berkeping-keping.

"Reza! Awas di belakangmu!" teriak Hani histeris sambil membuka pintu rumah dan berlari keluar menuju pagar, namun suaranya tertelan oleh suara deru mesin truk besar yang tiba-tiba melintas cepat di jalan raya depan rumahnya.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!