membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
...34: UNGKAPAN KENZIE!...
...****************...
Keesokan harinya, tepat ketika matahari pagi
mulai naik dan jarum jam menunjuk ke angka dan delapan tepat...
Sesuai dengan instruksi ketat yang diberikan, kini fajar telah menyingsing, kelima teman Kenzie—Wulan Tsuyoki, Rava, Liera, Ryujin, dan Snowy—kini telah berkumpul kembali di halaman pelatihan dengan kondisi fisik yang untungnya sudah sedikit lebih mendingan berkat istirahat beberapa jam.
Kenzie yang sudah berdiri di depan mereka dengan pakaian rapi langsung mengambil kendali penuh. Hari ini, ia tidak menyuruh mereka langsung memegang pedang kayu gravitasi, melainkan memerintahkan mereka untuk melakukan olahraga sesi pemanasan tubuh terlebih dahulu.
"Hoamm.... Sepagi ini sudah di suguhi dengan siksaan, haah." keluh ryujin yang masih mengantuk sambil menggaruk patatnya yang gatal sebangun dari tidur singkatnya.
"Diamlah jangan mengeluh. Sekarang mulailah dengan gerakan peregangan otot-otot dasar secara umum," perintah Kenzie sembari mencontohkan gerakan melenturkan lengan dan leher. Setelah beberapa menit peregangan selesai, Kenzie tersenyum licik. "Nah, sekarang kita lanjut ke menu utama olahraga pagi ini: gerakan senam lantai yoga!"
Mendengar kata "senam lantai yoga", dahi Rava dan Ryujin langsung berkerut dalam. Gerakan yang dicontohkan Kenzie selanjutnya benar-benar aneh dan mamalukan, yang di mana gerakannya meliuk-liukkan tubuh ke posisi yang tidak masuk akal, memutar pinggang hingga batas maksimal, dan melipat kaki dengan cara yang sangat tidak biasa.
Gerakan senam lantai ini sebenarnya adalah metode khusus yang dulu sering dilakukan oleh Kenzie di istana dan pelatihannya di bawah asuhan Arvendel demi melenturkan seluruh persendian tubuhnya—meskipun pada masa itu, Pak Tua Arvendel selalu menghina gerakan senam Kenzie tersebut dan menilainya sebagai gerakan konyol yang sama sekali tidak layak dan tidak terhormat untuk dilakukan oleh para pendekar beladiri tingkat tinggi.
Pada pagi yang cerah itu, Ryujin maupun Rava sebenarnya masih memiliki ganjalan pertanyaan besar yang menggantung di dalam tempurung kepala mereka mengenai kejadian semalam.
Namun, mereka sama sekali tidak memiliki celah atau waktu untuk lanjut bertanya, lantaran Kenzie terus berteriak memaksa mereka untuk fokus melakukan setiap gerakan pemanasan dan senam lantai tersebut tanpa boleh ada yang salah posisi.
Saat sesi senam lantai sedang berlangsung dengan intens, Ryujin yang tubuhnya dipaksa meliuk aneh mulai tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengoceh meluapkan kekesalan. "Aiss... yang benar saja! Gerakan macam apa ini, Kak Kenzie?! Hal yang sedang kita lakukan saat ini sudah tidak ada bedanya dengan sekumpulan cacing tanah yang sedang kepanasan di atas lumpur!" keluh Ryujin dengan posisi tubuh yang bergetar menahan tawa dan sakit.
Rava yang berada di sebelah Ryujin dengan posisi tubuh yang tidak kalah konyolnya, langsung ikut menimpali sembari meringis. "Kau benar, Ryujin! Gerakan senam lantai gila ini lebih terlihat seperti gaya seekor ular sawah yang sedang kesurupan massal! Benar-benar merusak harga diriku sebagai seorang pendekar!" sahut Rava menggerutu.
Mendengar ocehan-ocehan konyol dari dua pria tersebut, ketiga gadis yang berada di barisan mereka—Wulan, Liera, dan Snowy—hanya bisa memilih untuk diam seribu bahasa, fokus menahan rasa malu sembari terus mengikuti gerakan Kenzie dengan anggun. Rambut merah muda Wulan yang indah tampak bergerak selaras dengan liukan tubuhnya yang fleksibel.
Kenzie sendiri memilih untuk menutup telinga dan mengabaikan total seluruh sumpah serapah serta ocehan dari Rava dan Ryujin. Baginya, terserah mereka mau menyebut gerakan itu apa, toh yang melakukannya adalah mereka, bukan dirinya.
Lagipula, Kenzie sangat tahu bahwa gerakan senam lantai ini memiliki efektivitas yang teramat luar biasa di dalam pertempuran nyata; melatih kelenturan otot dan persendian hingga ke tingkat maksimal sehingga akan membuat pergerakan tubuh mereka menjadi jauh lebih lincah, gesit, dan mampu menghindari serangan musuh dari sudut-sudut yang tidak terduga.
Setelah sesi senam yang melelahkan itu akhirnya selesai dan mereka diberikan waktu lima menit untuk menegakkan tubuh, Ryujin yang sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya sejak semalam langsung melompat maju ke depan Kenzie.
"Kak Kenzie! Sekarang tidak ada alasan lagi untuk menghindar! Tolong jelaskan kelanjutan dari jawabanmu semalam! Siapa sebenarnya dua pendekar hebat yang memporak-porandakan murid jenius berbakat kelima akademi itu?!" tanya Ryujin dengan mata yang berbinar penuh tuntutan.
Rava, Wulan, Liera, dan bahkan Snowy kini ikut memusatkan pandangan mata mereka lurus ke arah Kenzie, menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh pemuda berambut perak tersebut.
Pada awalnya, berdasarkan perkiraan skenario yang ada di dalam kepala Rava dan Ryujin, mereka mengira Kenzie pasti akan kembali berkelit, mencari-cari alasan konyol, atau mencoba mengelak agar tidak perlu menceritakan hal yang sebenarnya kepada mereka.
Namun, apa yang terjadi berikutnya benar-benar melompati seluruh batas imajinasi dan tebakan mereka berdua.
Kenzie berdiri dengan tegap, melingkarkan kedua tangannya di pinggang, lalu menatap kelima temannya dengan seulas senyuman bangga yang teramat kentara. "Baiklah, karena kalian semua ada di sini, aku akan langsung mengatakannya tanpa ada yang ditutupi," ucap Kenzie dengan nada suara yang mantap. "Dua pendekar hebat yang diceritakan oleh Master Helena semalam... mereka berdua adalah adik kandungku dan teman semasa kecilnya sendiri. Pria berambut hitam dengan anting berlian itu bernama Reinzie, dan gadis berambut biru salju itu adalah Chelsea Louis. Mereka berdua adalah adik yang tumbuh dan berlatih bersama selama delapan tahun terakhir."
Deg!..
Mendengar pengakuan murni yang meluncur begitu saja dari mulut Kenzie, seluruh area halaman pelatihan seketika dilanda oleh keheningan yang teramat mencekam. Wulan Tsuyoki terperangah dengan mata melebar, Liera menutup mulutnya tidak percaya, sementara Snowy sedikit menaikkan pandangannya dengan kilatan takjub.
Pengakuan Kenzie benar-benar berada di luar seluruh skenario yang sempat dibayangkan oleh Rava dan Ryujin! Sosok monster legendaris yang saat ini tengah diburu oleh seluruh intelijen tiga kerajaan dan Institut Gerbang Langit... ternyata adalah adik kandung dari senior aneh mereka sendiri!
Sebelum kelima temannya sempat berteriak histeris atau mengajukan rentetan pertanyaan lanjutan, Kenzie langsung mengangkat satu tangannya ke udara, memasang ekspresi wajah yang teramat tegas layaknya seorang guru.
"Sekarang, setelah kalian mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, aku perintahkan kalian semua untuk menutup mulut rapat-rapat! Jangan pernah berani mengungkit atau membocorkan nama maupun fakta ini kepada siapa pun di luar sana, termasuk kepada Master Helena sekalipun! Mulai detik ini, hal ini akan menjadi rahasia mutlak di antara kita berenam. Paham?!" peringat Kenzie dengan nada suara yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
Mendengar instruksi tegas tersebut, kelima murid seperguruan itu kompak menganggukkan kepala mereka dengan patuh, sadar akan seberapa sensitif dan berbahayanya informasi tersebut jika sampai bocor ke telinga pihak kerajaan.
Di barisan depan, Ryujin dan Rava mendadak saling berpandangan satu sama lain. Detik berikutnya, kedua pemuda konyol itu langsung menegakkan dada mereka dengan angkuh sembari berkacak pinggang, memamerkan senyuman lebar yang dipenuhi oleh rasa berbangga diri yang teramat sangat tinggi.
"Hahaha! Sudah kuduga! Firasat dan kecurigaan kita berdua semalam memang terbukti seratus persen akurat, Rava!" seru Ryujin dengan tawa yang berkoar-koar penuh kemenangan.
"Tentu saja, Ryujin! Siapa dulu yang berhasil menyadarinya lebih awal? Gerak-gerik Kak Kenzie yang tersenyum bahagia dan suasana hatinya yang mendadak sangat baik saat Master Helena menceritakan pembantaian para jenius semalam sudah menjadi bukti yang sangat nyata bagi insting tajam kita!" timpal Rava dengan wajah konyolnya yang super bangga, merasa bahwa kemampuan detektif mereka berdua saat ini sudah setingkat dengan para ahli strategi legendaris dunia luar.
"Tentu saja aku yang lebih dulu menyadarinya, sebab saat kita di tempat kedua master hebat itu, saat Kaka kenzie menyebutkan adiknya, ia terlihat begitu bahagia dan wajahnya begitu damai tanpa ada beban." seruh ryujin membusungkan dada dengan bangga.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..