Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI JEMPUT
"Aku pamit pulang ya, Bik."
Bi Retno mengangguk pelan, rasa khawatir masih tergambar jelas di guratan wajahnya yang renta. Ia mengantar Naya yang langkahnya kini terasa begitu berat, seolah beban di pundaknya telah menarik kakinya menempel ke lantai.
"Nggak makan dulu, Non? Sedikit saja, perut Non kosong dari tadi siang," tanya Bik Retno dengan nada memohon, tangannya menahan lengan Naya sejenak.
Naya menggeleng pelan, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu teras yang temaram. Ia membuka pintu, dan seketika udara malam yang lembap serta menusuk pori-pori kulitnya menyergap masuk. Dingin yang merayap itu seolah menyatu dengan kegelisahan di dalam dadanya. "Enggak, Bik. Terima kasih, aku sudah tidak lapar."
Bik Retno kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pelataran rumah yang gelap. "Terus, siapa yang mengantar, Non? Tidak dengan Mas Zaki, Non?"
Pertanyaan itu membuat Naya membisu. Itulah yang sebenarnya menyiksa batinnya sejak tadi. Ia menatap layar ponsel yang digenggamnya erat, pesan terakhir yang ia kirimkan, mengabari bahwa Kikan sudah tertidur pulas dan ia memutuskan untuk pergi sendiri, masih menggantung tanpa balasan. Pesan itu hanya setia ditandai dengan centang biru yang dingin, seolah menegaskan bahwa ada jarak yang tiba-tiba membentang di antara mereka.
"Non?" panggil Bik Retno, suaranya sedikit mengejutkan Naya yang sedang melamun.
Naya tersentak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak menyedihkan. "Oh... itu, Zaki sepertinya masih sibuk sekali, Bik. Mungkin ada urusan mendadak. Biar aku naik taksi online saja, lebih cepat."
"Tapi, Non, apa tidak apa-apa? Malam-malam begini," kata Bik Retno cemas, matanya menatap cemas ke arah jalanan yang sunyi.
"Aku akan baik-baik saja, Bik" tanggap Naya dengan suara yang kini berusaha ia buat sekuat mungkin, meski hatinya menjerit ketakutan. "Kalau gitu, aku pamit ya, Bik."
"Ya sudah, Non hati-hati ya."
Naya mengamgguk lalu mulai melangkah keluar ke pelataran, bayang-bayang pohon pinus tampak seperti tangan-tangan hitam yang mencoba meraihnya. Saat ia menunggu taksi di depan gerbang, ia menatap ke arah ujung jalan, berharap melihat sorot lampu motor Zaki muncul membelah kegelapan. Namun, yang ia dapati hanyalah keheningan, dan sebuah keyakinan pahit bahwa malam ini, ia harus belajar untuk kembali berjalan sendirian di tengah rasa kecewa hanya karena kali ini pemuda itu tak merespon.
Apa ini detik-detik aku harus kehilangan harapan? Batin Naya. Aku bodoh terlalu percaya dan berharap!
Tiiiiit... tiiiiit!
Suara klakson yang nyaring membelah kesunyian malam, disusul oleh sorot lampu motor yang menembus kegelapan, muncul dari balik belokan jalanan yang sepi. Cahaya itu bergerak lurus, memanjang di atas aspal, dan perlahan mendekati Naya yang sedari tadi berdiri mematung di samping gerbang.
Naya pun menoleh, matanya yang semula redup kini membulat sempurna. Sesaat kemudian, sebuah senyum lebar dan tulus terukir di bibirnya. Ia mengenal betul deru mesin itu, suara yang selalu membawa ketenangan di tengah kekacauan hidupnya.
Itu Zaki.
Zaki kemudian menepi tepat di depan Naya, menurunkan standar motornya dengan gerakan yang cekatan. Ia tidak langsung mematikan mesin, namun sosoknya yang tegap di atas motor besar itu membuat Naya merasa seolah benteng pertahanannya telah kembali.
Zaki pun membuka kaca helmnya, menatap Naya dengan sorot mata yang penuh kelegaan, seolah ia baru saja menyelesaikan maraton terpanjang dalam hidupnya. "Maaf," ucapnya singkat, suaranya sedikit parau karena sisa ketegangan yang ia bawa dari rumah tadi. "Aku terlambat."
Naya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah mendekat, memperhatikan napas Zaki yang masih terengah. "Aku pikir kamu tidak akan datang," bisik Naya bergetar pelan, suaranya tertelan desiran angin malam bercampur rasa hari yang tiba-tiba menyusup dadanya.
Zaki lalu turun dari motor, lalu melepaskan jaket kulitnya. Dengan gerakan lembut, ia menyampirkan jaket itu ke bahu Naya yang tampak kedinginan. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu pulang sendirian."
Zaki kemudian mengambil helm cadangan dari sisi motor dan menyodorkannya kepada Naya. "Ayo. Kita pulang sekarang. Ke mana pun kamu pergi, aku akan selalu jadi orang pertama yang memastikan kamu sampai dengan aman."
Naya menerima helm itu, hatinya menghangat secara instan. "Terima kasih, Zaki," ucap Naya tulus.
"Jangan selalu mengucapkan hal itu," balas Zaki sambil menatap Naya dengan tatapan yang membuat jantung wanita itu berdegup kencang. "Ini sudah menjadi bagian dari tugasku sekarang. Bukan lagi sebagai muridmu, tapi sebagai seseorang yang akan memastikan dunia tidak akan pernah membuatmu hancur lagi."
Naya menelan saliva, bulat bola matanya berbinar sambil mengangguk pelan, lalu ia pun naik ke atas jok belakang motor Zaki. Saat tangannya melingkar di pinggang pemuda itu dengan erat, hingga ia bisa merasakan detak jantung Zaki yang berdegup kencang.
Ya. Sebuah ritme yang kini menjadi pengingat bagi Naya bahwa, di tengah dunia yang sedang memburunya, ia masih memiliki satu pelabuhan yang bisa ia percaya. Dan, mungkin itu benar dan akan selalu ada.
"Kita berangkat sekarang, Nona?" celetuk Zaki, sebuah senyum tipis tersungging di balik kaca helmnya yang kini ia naikkan.
Naya mematung. Kata 'Nona' yang meluncur dari bibir Zaki terasa seperti hembusan angin hangat di tengah malam yang dingin. Ia selalu mengenal Zaki sebagai sosok pemuda yang serius, tenang, dan terkadang penuh dengan beban misterius. Namun, di balik sikap kaku itu, ternyata ada sisi jenaka yang selama ini tersimpan rapat.
"Kok diam?" protes Zaki dengan nada bercanda yang membuat Naya tersadar dari lamunannya.
"A-aku nggak salah dengar?" Naya tergagap, wajahnya terasa panas. "Ternyata kamu bisa humoris juga, ya?"
Zaki terkekeh, suara rendahnya terdengar sangat jantan di telinga Naya. "Humoris? Memangnya benar, kan? Kamu memang seorang Nona. Kalau aku panggil kamu 'Tuan', baru kamu bisa sebut aku humoris."
Naya tertawa kecil, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya di balik punggung Zaki. "Sudahlah, lupakan. Ayo kita pergi sebelum aku berubah pikiran."
Zaki tidak langsung menjalankan motornya. Ia menoleh sedikit, menatap Naya dari balik bahunya dengan tatapan yang berubah serius namun tetap melembut. "Iya, tapi ada syaratnya."
Naya mengernyitkan dahi. "Apa?"
"Peluk aku."
PLAK!
Refleks, Naya memukul bahu Zaki dengan cukup keras. "Apaan sih?! Kamu mulai berani ya!"
Zaki tertawa tanpa dosa, sama sekali tidak merasa terganggu dengan pukulan itu. "Ya ampun... jalanan malam ini licin dan banyak tikungan tajam. Kalau kamu jatuh bagaimana? Aku cuma mau memastikan kamu aman, itu aja."
Naya mendengus, namun ia tidak bisa menolak kebenaran dari argumen Zaki. Dengan helaan napas panjang yang menyerah, ia akhirnya merapatkan tubuhnya ke punggung pemuda itu. Kedua tangannya melingkar perlahan di pinggang Zaki.
Dan, malam ini terasa berbeda. Meskipun ini bukan yang kali pertama, namun sensasi saat lengannya memeluk tubuh tegap Zaki terasa sangat nyata, sebuah kehangatan yang asing namun menenangkan. Aroma parfum maskulin yang khas, perpaduan kayu cendana dan dinginnya embun malam, menguar dari jaket Zaki, memenuhi indra penciuman Naya. Di balik jaket itu, ia bisa merasakan detak jantung Zaki yang berdegup dengan ritme yang stabil dan kuat.
"Sudah?" tanya Zaki, suaranya kini terdengar sedikit lebih dalam.
"I-Iya... sudah. Jalankan saja motornya," jawab Naya dengan suara lirih yang tertahan di balik punggung Zaki.
Zaki mengangguk pelan. Ia tidak lagi memacu motornya dengan kecepatan tinggi seperti sebelumnya. Kini, ia melaju dengan kecepatan rendah dan sangat hati-hati, memastikan bahwa setiap goncangan jalanan tidak membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
Di bawah lampu jalan yang temaram, motor itu melaju dan mulai membelah kota ketika mereka telah keluar dari area jalanan komplek, membawa dua jiwa yang sedang berusaha saling menjaga di tengah dunia yang menurut Naya tak lagi ramah. Namun, bagi Naya, pelukan itu bukan sekadar syarat keamanan, melainkan sebuah pertahanan terakhirnya melawan rasa takut yang tak sanggup ia redam sendirian.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri