Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 Perjalan Panjang Menuju Kota
Mentari pagi baru saja muncul menyembul di ufuk timur ketika mobil pick-up tua milik desa mulai bergerak perlahan meninggalkan batas Desa Sekar. Di bak belakang, telah tersusun rapi beberapa karung berisi hasil laut kering serta anyaman warga yang hendak dijual ke pasar kota, sementara di dalam kabin depan yang sempit, tiga orang duduk berhimpit di atas satu baris bangku panjang yang sama.
Teri berada di balik kemudi setir di sisi kanan, Hana terjepit di posisi tengah, sedangkan Kael duduk merapat di dekat jendela sisi kiri sambil memperhatikan hamparan pemandangan hijau yang terus berganti.
Sebenarnya, Rani sangat ingin ikut dalam perjalanan ini. Namun, berkat kelembutan Bu Ratih yang membujuknya dengan berbagai alasan, gadis kecil itu akhirnya berhasil ditenangkan untuk tetap tinggal di desa.
Meski begitu, sebelum mobil benar-benar melaju subuh tadi, Rani sempat menangis kecil sembari memeluk erat lengan jaket Kael melalui celah jendela.
Flashback on
"K-Kael..." panggil bocah itu dengan suara serak menahan tangis.
"Hm? Ada apa, Rani?" tanya Kael lembut, menolehkan kepalanya.
"C-cepat... p-pulang ya..." pinta Rani sesenggukan, menatapnya penuh harap.
Kael tidak menjawab dengan banyak kata, ia hanya mengulurkan tangannya yang besar untuk mengusap pelan puncak kepala Rani. "Iya, aku pasti langsung pulang."
"D-dan..." Rani mendadak menundukkan kepalanya, wajahnya merona malu. "J-jangan... l-lama-lama di sana..."
Sebuah senyum kecil yang sangat tulus muncul di wajah Kael melihat tingkah manja bocah itu. "Baik, tidak akan lama." Barulah setelah mendengar janji itu, Rani mau melepaskan cengkeramannya dan membiarkan mereka berangkat.
Flashback off
Beberapa jam pertama perjalanan membelah rute luar daerah itu berlangsung sangat tenang. Jalanan pesisir yang panjang dan sepi membentang luas di hadapan mereka, diiringi hembusan angin laut yang sesekali menyelinap masuk melalui celah jendela mobil yang sengaja dibuka separuh.
"Aduh..." Hana menghela napas panjang, sengaja mengeraskan suaranya demi memecah keheningan yang mulai terasa pekat.
Teri melirik sekilas melalui sudut matanya tanpa mengalihkan fokus dari jalanan tanah. "Kenapa, Dok? Ada yang tidak nyaman?"
"Bosan sekali," keluh Hana lesu, menumpu dagunya di atas dasbor mobil.
"Kita ini baru berjalan kurang lebih dua jam, Dok," sahut Teri terkekeh pelan.
"Nah, itu dia masalahnya!" seru Hana gemas. "Baru dua jam saja rasanya sudah lama sekali."
Kael yang sejak tadi memilih diam menatap keluar jendela akhirnya membuka suara. "Masih ada sisa delapan jam perjalanan lagi di depan."
Hana langsung memejamkan matanya rapat-rapat, menyandarkan punggungnya dengan pasrah. "Tolong, Kael, jangan diingatkan. Angka itu membuatku semakin lemas."
Teri tidak bisa menahan tawa kecilnya melihat tingkah sang dokter. "Padahal kemarin Dokter Hana yang terlihat paling semangat dan tidak sabar untuk berangkat ke kota."
"Itu karena aku sudah hampir setengah tahun tidak ke kota dan sudah membayangkan hal-hal yang menyenangkan," bela Hana defensif. "Dan sekarang? Punggungku rasanya mau patah terhimpit di tengah-tengah kalian."
Teri kembali tertawa. Hana yang merasa gemas akhirnya memutar posisi duduknya sedikit miring, menatap Kael di kiri dan Teri di kanan secara bergantian. "Hei, kalian tahu tidak?"
"Tahu tentang apa, Dok?" tanya Teri balik.
"Kalian berdua ini kalau diperhatikan memang sangat mirip," ujar Hana tiba-tiba dengan mata menyipit menyelidik.
Kael mengernyitkan dahi, menolehkan wajahnya sedikit ke kanan. "Kami? Mirip dari segi apa?"
"Iya, kalian berdua," angguk Hana mantap. "Sama-sama pendiam seperti patung."
"Kurasa tidak juga," sahut Kael lempeng.
"Nah, itu! Sama-sama menjawab seperlunya saja kalau ditanya," tunjuk Hana ke arah Kael.
"Itu namanya berbicara dengan normal, Dokter Hana," bela Kael lagi.
"Bukan normal, kalian itu sama-sama susah diajak mengobrol santai," cibir Hana menggeleng-gelengkan kepala.
Teri mati-matian menahan senyum di bibirnya agar tidak mengganggu konsentrasi menyetir, sementara Kael hanya bisa menghela napas pendek menghadapi protes beruntun tersebut.
"Coba kalian hitung," lanjut Hana berapi-api. "Aku sudah bicara sampai sepuluh kalimat panjang, tapi kalian berdua kompak menjawab hanya dengan satu kalimat pendek."
"Itu namanya hemat kata, Dok," sahut Teri membela diri.
"Itu namanya membosankan, tahu!" ralat Hana ketus.
Teri akhirnya meledakkan tawa renyahnya, sementara Kael hanya kembali memalingkan wajah memandang ke luar jendela untuk menyembunyikan ekspresinya. Hana yang sangat jeli langsung menunjuk pipi pria di sebelahnya itu dengan telunjuknya.
"Nah, lihat itu! Aku menangkap basah gerakanmu!" seru Hana puas.
"Apa maksudmu?" tanya Kael, kembali berwajah lempeng.
"Kamu barusan mau tertawa, kan? Aku lihat sudut bibirmu bergerak."
"Kau salah lihat, Dok."
"Mustahil! Itu pasti sebuah senyuman. Aku ini seorang dokter, mataku sangat jeli." Hana kemudian sedikit memajukan tubuhnya menatap wajah tegap Kael dari samping. "Kael, kamu itu sebenarnya bisa bercanda tidak, sih?"
"Tidak tahu," jawab Kael singkat, mempertahankan sandiwara amnesianya dengan sempurna.
Hana langsung memukul pelan bahu kekar Kael karena gemas. "Jawaban macam apa itu? Dingin sekali!"
Namun, berkat interaksi konyol itu, untuk pertama kalinya sejak roda *pick-up* berputar, atmosfer di dalam kabin sempit itu berubah menjadi jauh lebih santai, hangat, dan mengalir alami.
Menjelang siang hari, Teri mengarahkan moncong mobil untuk berhenti di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan raya antarkota. Bangunannya tampak bersahaja, terbuat dari papan kayu tua dengan atap seng yang sudah mulai berkarat di beberapa sisi, namun aroma gurih dari pembakaran ikan di bagian depan warung benar-benar sangat menggoda selera.
"Akhirnya... kaki dan punggungku selamat!" seru Hana kegirangan, langsung melompat turun begitu pintu mobil dibuka.
Teri ikut turun menyusul, meregangkan otot-otot lengannya setelah berjam-jam memegang setir. "Saya pikir Dokter Hana tadi akan ketiduran karena kelelahan."
"Aku hampir melakukannya kalau saja perutku tidak berdemo minta diisi," sahut Hana riang.
Mereka bertiga kemudian melangkah masuk dan mengambil posisi duduk di salah satu meja kayu panjang yang kosong. Tak lama setelah Hana memesan, tiga porsi makanan hangat dengan kepulan asap yang menggugah selera tersaji di hadapan mereka.
Hana yang memang sudah didera rasa lapar sejak subuh langsung menyantap makanannya dengan amat lahap.
"Enak sekali! Ikan bakar di sini bumbunya benar-benar meresap," puji Hana di sela-sela kunyahannya.
Kael dan Teri yang duduk berhadapan hanya bisa makan dengan tenang, sesekali menggelengkan kepala melihat betapa drastisnya perubahan suasana hati dokter muda itu jika sudah berurusan dengan makanan.
"Tadi di dalam mobil katanya sudah mau mati karena perjalanan jauh yang menyiksa," sindir Kael halus tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
"Urusan perut dan urusan punggung itu berada di kompartemen yang berbeda, Pak Guru Kael," kilah Hana dengan mulut agak penuh, membuat Teri hampir tersedak air minumnya sendiri karena menahan tawa.
Seorang wanita paruh baya pemilik warung yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dari balik meja kasir perlahan berjalan mendekat seraya membawa teko berisi teh hangat tambahan. "Kalian bertiga ini sedang melakukan perjalanan jauh dari mana?"
"Kami dari Desa Sekar, Bu," jawab Hana ramah setelah menelan makanannya.
"Oh, anak-anak pesisir rupanya," wanita paruh baya itu tersenyum hangat, matanya bergantian menatap Kael dan Teri yang bertubuh tegap. "Saya perhatikan dari tadi, saya kira kalian berdua ini bersaudara kandung."
Kael dan Teri spontan saling melirik sekilas melompati meja, sementara Hana langsung meledakkan tawa renyahnya mendengar tebakan acak tersebut.
"Aduh, Ibu... kalau mereka berdua ini sampai bersaudara kandung dan tinggal di satu rumah yang sama, saya yakin rumahnya pasti akan sepi seperti kuburan," seloroh Hana sembari mengelap sudut matanya yang berair karena tertawa.
"Lho, memangnya kenapa, Neng?" tanya ibu pemilik warung itu ikut penasaran.
"Karena keduanya sama-sama irit bicara! Bisa-bisa dalam sehari tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka, hahah!" lanjut Hana berapi-api.
Teri yang sedang minum langsung terbatuk kecil karena hampir tersedak untuk kedua kalinya, sementara ibu pemilik warung ikut tertawa riuh mendengar penjelasan jujur dari Hana. Di tengah keriuhan kecil itu, hanya Kael yang tetap konsisten menyuap nasinya dengan tenang, seolah obrolan barusan sama sekali tidak menyenggol dirinya.
Setelah dirasa cukup beristirahat, perjalanan panjang kembali dilanjutkan menembus sisa jalur darat. Semakin sore, siluet gedung-gedung tinggi perkotaan mulai tampak menyembul di balik cakrawala, menandakan mereka telah memasuki wilayah urban.
Jalanan yang semula sepi kini berubah drastis menjadi padat; deretan kendaraan berlalu-lalang dari berbagai arah dan suara klakson mulai bersahutan memenuhi indra pendengaran.
Sepasang mata Hana langsung berbinar cerah menatap pemandangan riuh di luar jendela. "Akhirnya… kita benar-benar sampai juga di kota."
Bagi Kael yang aslinya berasal dari puncak peradaban dunia bawah, pemandangan kota seperti ini terasa sangat biasa dan menjemukan. Namun bagi Hana, kembali menginjakkan kaki di atas aspal kota setelah berbulan-bulan terisolasi di kedamaian Desa Sekar membawa sensasi tersendiri yang sangat berbeda.
bersambung...