NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memenuhi Permintaan Erhan

Dengan hati yang mantap dan kesepakatan yang sudah terjalin, Alesha pun menyetujui permintaan Erhan.

Ia memandang masa tujuh hari ke depan bukan sebagai kesempatan untuk memilih, melainkan sebagai jalan terakhir untuk menutup segala keraguan dan memberikan jawaban yang jelas bagi semua pihak.

Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjalaninya dengan jujur, tanpa berpura‑pura, meski hatinya sudah tahu ke mana arahnya sejak lama.

Hari pertama dimulai dengan ajakan makan siang di salah satu restoran mewah di pusat kota.

Tempat itu terkenal dengan hidangan internasional yang harganya selangit, suasana yang tenang, dan pelayanan yang sangat istimewa.

Begitu tiba, Erhan langsung mempersilakan Alesha duduk di kursi yang paling nyaman, memesan berbagai macam menu terbaik tanpa menanyakan apa yang sebenarnya diinginkan Alesha, dan memastikan segala kebutuhannya terpenuhi sebelum ia sempat mengucapkannya.

“Kau tahu, kita sedang berada di restoran paling berkelas di kota ini, Alesha. Aku yakin kamu pasti menyukainya,” ujar Erhan sambil tersenyum lebar, merasa telah memberikan yang terbaik.

Alesha hanya tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih, namun di dalam hatinya ia merasa sedikit kaku.

Setiap suapan makanan terasa hambar, dan suasana yang terlalu megah itu justru membuatnya merasa terasing.

Ia teringat pada momen bersama Zehar, mereka sering makan di warung sederhana milik Bu Siti atau kafe kecil yang murah meriah, di mana mereka bisa tertawa lepas, bercerita apa saja tanpa rasa sungkan, dan menikmati makanan apa adanya tanpa perlu memikirkan penampilan atau gengsi.

Berbeda dengan di sini, segala sesuatu terasa teratur, rapi, dan sempurna, namun tidak ada kehangatan yang menjalar ke dalam hati.

Hari kedua, Erhan mengajaknya menonton film di bioskop eksklusif yang hanya menyediakan kursi terbatas dan layanan pribadi.

Ruangan itu sepi, suhu udara diatur persis, dan camilan yang disajikan adalah jenis terbaik yang tidak dijual di tempat umum.

Selama film berlangsung, Erhan sesekali menyentuh tangan Alesha atau mengusap punggungnya dengan lembut, berusaha menunjukkan perhatiannya.

Namun setiap kali sentuhan itu terjadi, tubuh Alesha secara tidak sadar menegang dan menarik diri perlahan.

Ia tidak merasa nyaman, tidak merasa aman, dan lebih dari itu, ia tidak merasakan getaran yang sama seperti saat berada di dekat Zehar.

Bagi Erhan, memberikan kemewahan dan fasilitas terbaik adalah cara dia mencintai.

Ia mengira dengan memberikan segala hal yang tidak terbatas, ia bisa membuat Alesha merasa dihargai dan bahagia.

Namun ia lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa mahal sesuatu itu.

Berbeda dengan Zehar, yang mungkin tidak akan mengajak ke tempat‑tempat mewah atau membelikan barang‑barang berharga, namun selalu hadir dengan perhatian yang tulus, mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi, dan membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura‑pura.

Hari‑hari berikutnya terasa semakin berat bagi Alesha.

Erhan bahkan berencana membawa Alesha berlibur singkat ke luar negeri, ke sebuah pulau tropis yang terkenal sebagai tempat wisata para orang kaya.

Ia mengatur segala sesuatunya dengan sempurna, tiket pesawat kelas satu, akomodasi di vila pribadi dengan pemandangan laut yang indah, dan rencana perjalanan yang sudah disusun rapi agar Alesha tidak perlu memikirkan apa pun.

“Kita akan bersantai di sini selama dua hari. Semua kebutuhan sudah aku siapkan. Kamu hanya perlu menikmati waktu dan beristirahat dengan tenang dan nyaman,” kata Erhan dengan nada bangga, yakin kali ini ia bisa membuat Alesha terkesan.

Namun, justru di tempat yang seindah dan semewah itu, perasaan tidak nyaman di hati Alesha semakin memuncak.

Saat duduk di teras vila sambil memandang lautan yang luas, ia merasa seolah terjebak dalam sebuah kotak emas.

Semua yang ada di sekelilingnya terlihat indah, megah, dan mewah, namun rasanya kosong dan tidak memiliki rasa yang berbeda.

Ia teringat pada rumah pohon sederhana di atas bukit belakang rumah Zehar, tempat yang tidak seindah ini, tidak semegah ini, dan tidak semewah ini, namun di sanalah ia merasa paling tenang, paling aman, dan paling bahagia hanya dengan duduk berdampingan mendengarkan cerita lelaki itu.

Perhatian yang diberikan Erhan memang melimpah ruah, namun semuanya terasa berbasis pada materi dan kemampuan finansialnya.

Ia memberi karena ia mampu, namun ia tidak benar‑benar memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh hati Alesha.

Sebaliknya, Zehar yang hidup dalam kesederhanaan selalu memberikan apa yang ia miliki. Waktunya, perhatiannya, pengertiannya, dan kesetiaannya, serta hal‑hal yang tidak bisa dibeli dengan uang atau kemewahan.

Selama berjalan‑jalan di pantai yang indah itu, Erhan terus berusaha mendekatkan diri.

Ia bercerita tentang rencana masa depan yang mewah, tentang rumah besar yang akan dibangun, tentang jabatan dan kekayaan yang bisa ia berikan untuk membuat hidup Alesha semakin mudah.

Namun setiap kata yang diucapkannya justru membuat Alesha semakin tertekan.

Ia merasa seolah dirinya sedang dinilai sebagai seseorang yang harus dibahagiakan dengan harta, bukan dicintai apa adanya.

Di malam ketujuh, saat mereka duduk bersama di pinggir pantai sambil menunggu terbenamnya matahari, Alesha merasa beban di dadanya semakin berat.

Ia menyadari bahwa selama seminggu ini, semakin banyak waktu yang ia habiskan bersama Erhan, semakin jelas ia melihat perbedaannya dengan Zehar.

Kemewahan yang disajikan justru menjadi tembok yang memisahkan, bukan jembatan yang menyatukan.

Ia tidak bisa menerima perhatian yang terasa seperti hadiah mahal, karena baginya, cinta tidak bisa ditukar dengan apa pun selain ketulusan hati.

Alesha menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk menyampaikan jawaban yang pasti.

Ia tahu malam ini adalah akhir dari masa persetujuan itu, dan ia harus jujur. Baik pada Erhan, pada dirinya sendiri, maupun pada Zehar.

“Erhan…” panggilnya dengan suara lembut namun tegas.

“Terima kasih atas segala waktu, perhatian, dan kebaikan yang kamu berikan selama seminggu ini. Semua yang kamu siapkan sangat jauh dari ekspetasiku, sangat mewah, dan melebihi apa yang aku punya.”

Erhan menoleh dengan harapan yang masih tersisa di matanya.

“Lalu… apakah kamu merasa lebih nyaman sekarang? Apakah ada ruang untukku di hatimu, Alesha?”

Alesha menggeleng perlahan, matanya berkaca‑kaca namun tatapannya tetap tegas.

“Semua ini sangat berkesan, Erhan. Tapi aku tidak bisa merasa nyaman di tengah kemewahan ini. Setiap perhatian yang kamu berikan terasa seperti beban yang semakin membebani hatiku, bukan membuatnya lega. Aku sadar sekarang, bahwa apa yang aku butuhkan bukanlah segala hal yang bisa dibeli dengan uang. Aku butuh kehadiran yang membuatku menjadi diriku sendiri, kehangatan yang tidak membutuhkan tempat mewah untuk terasa nyata, dan cinta yang tulus tanpa syarat apa pun.”

Ia menatap Erhan dengan pandangan penuh rasa hormat dan rasa bersalah yang mendalam.

“Kamu memang memberikan segalanya yang terbaik menurut caramu, tapi caramu itu bukanlah cara yang bisa membuat hatiku terbuka. Semakin lama aku bersamamu, semakin aku menyadari bahwa hatiku sudah terisi penuh oleh orang yang memberiku kesederhanaan namun penuh kehangatan. Maafkan aku, Erhan. Jawabannya tetap sama seperti dulu, aku tidak bisa membuka hatiku untukmu.”

Mendengar kata‑kata itu, raut wajah Erhan perlahan berubah.

Harapan yang masih tersisa mulai memudar, digantikan oleh kekecewaan yang mendalam, namun juga rasa lega yang samar.

Ia menyadari bahwa selama seminggu ini, ia telah berusaha dengan segala kemampuannya, namun hasilnya tetap sama. Cinta memang tidak bisa dipaksa, dan tidak bisa dibeli dengan harta sekalipun.

Di tempat yang indah itu, di tengah angin pantai yang berhembus lembut, jawaban terakhir telah diberikan.

Masa tujuh hari itu telah membuktikan dengan jelas, kemewahan tidak bisa menggantikan ketulusan, dan kesederhanaan jauh lebih berharga daripada segala kemegahan yang memiliki kosong makna.

 

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!