NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Ritme Pembantaian di Lorong Sempit

Braaakkk!

Gerbang besi berat di belakang kami tertutup rapat dengan suara dentang yang menggema memekakkan telinga. Detik itu juga, atmosfer hangat Sektor Selatan Aethelgard langsung lenyap, digantikan oleh hawa dingin, lembap, dan bau busuk tanah basah yang menyengat hidung.

Berdasarkan arsip resmi yang sempat gw pelajari, tempat pengap ini bernama The Weeping Catacomb. Bukan cuma labirin bawah tanah biasa, dungeon ini adalah struktur vertikal raksasa dengan total seratus lantai yang dibagi menjadi tiga tingkatan besar. Lantai satu sampai tiga puluh adalah Tingkatan Rendah — zona bermain para petualang amatir yang mengais koin perak sambil berdoa agar tidak berpapasan dengan Shadow Creeper, monster laba-laba berwajah manusia yang hobi gantung diri di langit-langit gua untuk mengunyah kepala pemula yang lengah.

"Lorongnya makin menyempit. Ganti senjata kalian," perintah gw dingin sambil menarik dua pisau pendek dari balik jubah naga hitam gw.

Di koridor pengap selebar dua meter ini, dua pedang berat di pinggang gw cuma bakal mentok dinding batu dan bikin pergerakan gw lambat. Gw harus adaptasi penuh pakai gaya fast-kill memanfaatkan atribut kelincahan gw yang berada di angka 172. Carmelia mengangguk tanpa suara, jemari kecilnya sudah mencengkeram sepasang pisau kecil di balik jubah birunya.

Kami baru saja menapakkan kaki di lantai dua ketika hawa membunuh berdesir dari atas kepala.

Sreeekkk!

Tiga ekor Shadow Creeper meluncur jatuh dari kegelapan langit-langit gua. Wajah manusia pucat mereka menyeringai miring, memperlihatkan deretan gigi taring yang meneteskan air liur asam. Dua di antaranya langsung mengarah ke gw, sementara satu lagi mengincar Lyra di lini belakang.

Jlasss! Slasssh!

Dunia di mata gw rasanya melambat. Dengan modal kekuatan fisik 225, gw merunduk tipis, menghindari sabetan kaki berbulu tajam monster pertama, lalu memutar pergelangan tangan gw untuk menghujamkan pisau beracun pasar gelap langsung ke kerongkongan manusianya. Darah hitam menyembur, tapi zirah kulit naga gw menangkis cairan korosif itu dengan sempurna. Satu mampus. Sisa momentumnya gw pakai untuk menendang dada Shadow Creeper kedua hingga tulang dadanya amblas dan tubuhnya menghantam dinding gua sampai hancur.

"Lyra, ambil nada rendah! Debuff!" teriak gw tanpa menoleh.

"Ba—baik, Tuan!"

Suara Lyra terdengar panik. Dia refleks mengangkat biola pegasus putihnya ke bahu, tapi gerakannya terlalu kaku dan terburu-buru. Biolanya meleset dari posisinya, dan gesekan pertamanya malah mengeluarkan suara melengking sumbang yang gagal total mengacaukan saraf monster. Shadow Creeper ketiga sudah siap menancapkan taringnya ke leher Lyra.

Jleb!

Tepat sebelum monster itu menyentuh seujung rambut Lyra, Carmelia melesat dari bayangan dinding gua. Berkat sepatu sunyi yang dia pakai, pergerakannya tidak menghasilkan suara sekecil pun. Kedua pisau kecilnya menghunjam telak ke sepasang mata merah si monster, memutarnya dengan dingin hingga mahluk itu ambruk menjadi daging mati.

Gw berjalan mendekat, menatap Lyra yang wajahnya sudah sepucat kertas dengan tubuh gemetar.

"Lu terlalu lambat naruh posisi biola di bahu, Lyra. Gerakan lu kaku tau gaa?!," kata gw sedingin es. "Kalau lu buang waktu dua detik cuma buat nyari posisi nyaman di bahu dalam kondisi panik, leher lu udah putus duluan. Mulai sekarang, sambil kita jalan turun, gw mau lu latih insting menaruh biola itu ke bahu tanpa melihat. Satu gerakan instan. Satu detik, atau lu gw tinggal di lantai ini."

Mendengar kata "ditinggal", manik mata Lyra bergetar hebat. Rasa takut dibuang kembali menjadi budak murahan mengalahkan rasa takutnya pada monster. Dia menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk kuat.

"Paham, Tuan... a-a,,,aku.. bakal usahain lebih cepet lagi."

 

🎻 POV: Lyra

Angkat, kunci, turunkan. Angkat, kunci, turunkan.

Sepanjang jalan turun dari lantai tiga sampai lantai dua puluh sembilan, isi kepala aku sebenarnya sudah tidak berhenti mengomel. Tuan Yudha itu aslinya tampan, tapi kelakuannya benar-benar seperti dajjal. Dia berjalan cepat sekali seperti orang dikejar utang, sementara aku dan Carmelia harus berlari-lari di belakangnya seperti anak anjing ketinggalan induknya. Belum lagi monster-monster sialan yang mukanya jelek-jelek itu — aku geli setengah mati setiap kali zirah naga Tuan Yudha membuat darah hitam mereka menyiprat ke mana-mana. Bau busuknya mirip sekali dengan kaus kaki basah yang jamuran setahun.

Tapi ya... aku tidak akan pernah berani protes langsung, sih. Di depan dia, aku tetap cuma bisa menunduk polos sambil meremas ujung baju. Aku takut dibuang lagi ke pasar gelap. Menghadapi satu dajjal ini jauh lebih mending daripada harus kembali jadi budak rongsokan.

Duk! Duk!

Aku hantamkan lagi kayu keras biola pegasus putih ini ke bahu kanan. Sakitnya luar biasa. Kulitku pasti sudah memar-memar kebiruan sekarang, dan besok pasti bentuknya tidak estetis sama sekali kalau dilihat di cermin. Tiap kali gerakanku agak lambat sedikit saja, tatapan mata Tuan Yudha langsung menusuk tajam seolah-olah ingin memutilasiku hidup-hidup.

Ih, seram sekali, padahal aku kan cuma cewek lemah yang butuh kelembutan, batinku sambil memasang muka paling memelas sedunia setiap kali dia menoleh.

Tapi di dalam hati, aku tahu dia benar. Kalau aku tidak bisa memasang biola ini dalam waktu satu detik, leherku yang berharga ini bakal putus digigit monster langit-langit tadi. Aku tidak mau mati konyol dengan cara sejelek itu. Maka dari itu, sepanjang tangga batu yang gelap dan pengap, aku terus-menerus latihan tanpa henti. Angkat, kunci, turunkan. Sampai-sampai otot bahuku rasanya seperti mau lepas dari engselnya.

Pas kami sampai di lantai dua puluh sembilan, keajaiban fungsional akhirnya terjadi. Otot bahuku mendadak hafal dengan berat biola ini. Begitu aku berniat bergerak, biolanya langsung melompat sendiri dan menempel pas di posisi chinrest-nya tanpa aku perlu melirik ke bawah sama sekali. Kurang dari setengah detik!

Aku langsung tersenyum puas di dalam hati. Tuh kan, aku emang berbakat, dasar Tuan Dajjal saja yang tidak sabaran.

Namun begitu gerbang batu raksasa Lantai Tiga Puluh terbuka di depan kami dan memperlihatkan monster tulang raksasa yang tingginya seperti rumah, senyum di hatiku langsung lenyap. Rasa takutku kembali memuncak, membuat lututku gemetaran lagi.

"Lyra, sekarang! Tunjukkin fungsi lu!" teriak Tuan Yudha dari depan.

Aku refleks menarik napas dalam, membuang semua isi pikiran blak-blakanku jauh-jauh, lalu mengunci mulutku rapat-rapat dengan ekspresi penurut. Biola putihku sudah terpasang sempurna di bahu dalam sekejap mata. Aku tidak boleh membuat dia kecewa, atau aku tidak bakal dikasih jatah makan malam nanti.

NGIIIIIIIIIIINGGGGG!!!!!!!!

Jemari kecilku menarik penggeseknya dengan kekuatan penuh, melepas gelombang suara distorsi yang langsung mengunci pergerakan si monster raksasa.

 

⚔️ POV: Yudha

Carcass Golem yang baru saja mau mengayunkan gada batunya mendadak kaku di tempat. Sendi-sendi tulang dan jalinan daging busuknya bergetar hebat, kehilangan sistem keseimbangan berat tubuhnya akibat manipulasi suara Lyra.

Bagus. Alat gw akhirnya matang.

Gw melompat tinggi, memanfaatkan tubuh Golem yang terkunci. Dengan satu ayunan dua pedang panjang berat gw, gw menebas habis lengan kanan raksasa itu hingga hancur berkeping-keping. Monster itu melolong kesakitan, mencoba mundur, tapi Carmelia sudah bergerak seperti hantu dari balik bayangan kaki si monster, memotong urat tendon belakangnya hingga si Golem ambruk berlutut.

Dari posisi udara, gw memutar tubuh dan menghujamkan pedang kanan gw sedalam mungkin, menembus tepat ke dalam inti sihir merah yang berdenyut di dada si Golem.

BOOM!

Raksasa tulang itu meledak, hancur berantakan menjadi abu abu-abu yang beterbangan di udara. Gw mendarat dengan mulus, menatap panel sistem gw yang berkedip memberikan notifikasi pasca-pembunuhan bos.

[Energi Gluttony diserap: 5%]

[Otoritas Sistem meningkat: 1.2%]

Gw menyeringai tipis. Akhirnya ada peningkatan yang lumayan setelah menelan kuaci di lantai atas. Tapi, perhatian gw mendadak teralihkan oleh sesuatu di ujung aula. Di balik reruntuhan tubuh Golem yang hancur, sebuah retakan kuno yang sangat besar menganga di lantai gua, menyajikan tangga turun menuju lantai tiga puluh satu — awal dari Tingkatan Menengah: The Rotten Garden (Taman Busuk).

Dari celah gelap itu, menguar hawa miasma hijau pekat yang membawa aroma energi spiritual yang luar biasa padat. Jauh lebih murni, lebih berat, dan lebih menggiurkan daripada energi ksatria manusia yang gw bantai di pesta topeng kemarin.

Seketika, sistem Gluttony di dalam kepala gw bergetar histeris, memicu rasa lapar yang luar biasa di dada gw. Sesuatu di lantai menengah itu menyimpan "nutrisi raksasa" yang bisa melonjakkan status gw berkali-kali lipat.

Gw menyarungkan kembali kedua pedang gw, lalu berbalik menatap Lyra yang berdiri tegas memegang biolanya dengan bahu memar, dan Carmelia yang bersiap di sampingnya.

"Lantai bawah gak bakal seramah lantai kroco ini," gw menyeringai sinis, menatap lubang miasma hijau di depan kami. "Siapin mental kalian. Kita bakal rampok habis semua isi lantai menengah."

 

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!