NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Membersihkan Kandang

Pagi itu di Kota Qingyun terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun matahari sudah mulai naik. Embun pagi masih menempel pada dedaunan, menciptakan kilauan seperti berlian kecil yang memantulkan cahaya keemasan. Namun, bagi Lin Fan, keindahan alam ini hanyalah latar belakang bagi realitas pahit yang harus ia hadapi.

Ia berdiri di depan kandang kuda utama Clan Lin. Bau kotoran hewan, jerami busuk, dan keringat kuda bercampur menjadi aroma menyengat yang membuat kebanyakan orang ingin muntah. Bagi Lin Fan, ini adalah rumahnya selama tiga tahun terakhir.

"Dasar sialan," gumam Lin Fan pelan sambil menggulung lengan bajunya yang sudah compang-camping. Ia mengambil sekop kayu yang gagangnya sudah licin karena sering dipakai.

Tugasnya sederhana namun melelahkan secara fisik: membersihkan kotoran dua belas ekor kuda perang, mengganti jerami, dan memberi mereka makan. Biasanya, pekerjaan ini memakan waktu hingga siang hari karena Lin Fan tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai. Tubuhnya yang kurus sering kali gemetar saat mengangkat ember air berat.

Namun hari ini berbeda.

Lin Fan menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengingat sensasi semalam. Sensasi aliran Qi yang hangat di Dantian-nya. Meskipun alirannya sangat tipis—hanya seperti benang sutra halus—ia bisa merasakannya berdenyut pelan.

“Jika aku bisa mengalirkan sedikit Qi itu ke otot-ototku...” batinnya.

Ia fokus. Dengan susah payah, ia membayangkan energi putih kecil itu mengalir dari perut bawahnya, turun melalui kakinya, dan memperkuat otot betisnya. Rasanya aneh, seperti ada arus listrik lemah yang menggelitik saraf-sarafnya.

Ketika ia membungkuk untuk mengambil sekop, ia merasakan perbedaan. Beban tubuh terasa lebih ringan. Otot-ototnya merespons dengan cepat, tanpa rasa nyeri yang biasa ia alami di punggung bawah.

"Ayo dicoba," bisiknya.

Lin Fan mulai bekerja. Gerakannya mungkin terlihat sama lambatnya bagi pengamat luar, tetapi bagi Lin Fan, setiap gerakan terasa lebih efisien. Ia tidak lagi membuang tenaga untuk gerakan yang tidak perlu. Saat ia mengangkat sekop penuh kotoran, ia menggunakan momentum pinggulnya, dibantu oleh dorongan halus dari Qi di kakinya.

Krak.

Sekop itu terangkat dengan mudah. Lin Fan terkejut. Ia hampir kehilangan keseimbangan karena terlalu kuat mendorong.

"Ternyata benar," senyum tipis muncul di bibirnya. "Qi bukan hanya untuk serangan sihir atau terbang. Qi adalah penguat tubuh paling dasar."

Selama dua jam berikutnya, Lin Fan bekerja dengan ritme yang stabil. Keringat mengucur deras dari dahinya, tetapi bukan keringat kelelahan yang menyakitkan, melainkan keringat pembersihan. Ia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan setiap menitnya. Kotoran-kotoran yang menumpuk di pori-pori kulitnya perlahan keluar.

Saat ia sedang menyiram lantai kandang dengan air dari sumur, sebuah suara cempreng terdengar dari balik pagar.

"Wah, lihat itu. Si Sampah bahkan membersihkan kotoran pun dengan wajah serius sekali. Apakah kau berpikir jika kau membersihkan kandang dengan baik, Tuan Muda Hu akan memberimu tulang sisa?"

Lin Fan mengenali suara itu. Itu adalah Lin Xiao, seorang pemuda setingkat dengannya—atau lebih tepatnya, dulu setingkat. Lin Xiao juga memiliki bakat pas-pasan, berada di Tahap Qi Level 2, tetapi karena ia masih memiliki status "disiplin resmi" (bukan pelayan), ia merasa jauh lebih unggul dari Lin Fan.

Lin Fan tidak menoleh. Ia terus menuangkan air dari embernya. Srrrt... srrrt...

"Hei! Aku sedang bicara padamu!" Lin Xiao kesal karena diabaikan. Ia melompati pagar rendah kandang dan mendarat dengan gaya yang berusaha terlihat keren, meski agak goyah. "Kau berani mengacuhkanku, Lin Fan? Kau lupa posisimu?"

Lin Fan akhirnya menoleh. Matanya tenang, tidak ada ketakutan yang biasa dilihat Lin Xiao. Tatapan datar itu membuat Lin Xiao sedikit ciut nyalinya, meskipun ia tidak mengerti mengapa.

"Aku sedang bekerja, Lin Xiao," jawab Lin Fan singkat. "Jika kau punya waktu luang untuk mengganguku, sebaiknya kau pergi berlatih. Level 2-mu tidak akan naik jika kau sibuk mencari perhatian."

Wajah Lin Xiao memerah karena marah. "Berani-beraninya kau! Kau yang meridian-nya tersumbat, sampah tak berguna, berani menasihati aku? Aku akan mengajarimu sopan santun!"

Lin Xiao mengayunkan tinjunya ke arah wajah Lin Fan. Tinju itu lambat, tidak bertenaga, dan penuh celah. Bagi seseorang yang belum pernah bertarung, itu mungkin terlihat menakutkan. Tapi bagi Lin Fan, yang semalaman telah belajar merasakan aliran energi, gerakan itu terlihat seperti gerakan siput.

Insting Lin Fan berteriak. Hindari!

Tanpa berpikir panjang, Lin Fan menggeser kakinya ke samping. Gerakan itu kecil, hanya selangkah, tapi cukup. Tinju Lin Xiao menghantam udara kosong.

Karena momentum ayunannya yang terlalu kuat dan tidak mengenai sasaran, tubuh Lin Xiao terhuyung ke depan. Kakinya tersandung ember air yang baru saja diletakkan Lin Fan.

Gubrak!

Lin Xiao jatuh telungkup tepat ke dalam genangan air kotor dan kotoran kuda yang belum sepenuhnya bersih.

Hening.

Seluruh area kandang menjadi sunyi senyap. Para pelayan lain yang sedang bekerja di dekat sana menahan napas, mata mereka membelalak ketakutan. Mereka baru saja menyaksikan "Sampah Klan" menghindari serangan dan membuat seorang Disiplin Resmi jatuh ke dalam kotoran.

Lin Xiao bangkit perlahan. Wajahnya tertutup lumpur coklat dan potongan jerami. Baunya sangat buruk. Matanya menyala dengan kemarahan yang membabi buta.

"KAU...!" teriak Lin Xiao, suaranya melengking tinggi. "Kau sengaja! Kau menjegaliku! Penjaga! Panggil Penjaga!"

Dua penjaga berseragam hitam segera berlari mendekat. Mereka adalah anggota keamanan clan, setidaknya berada di Tahap Qi Level 3 atau 4. Mereka melihat Lin Xiao yang berlumuran kotoran, lalu menatap Lin Fan yang berdiri tegak dengan sekop di tangan.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya salah satu penjaga, wajahnya keras.

Lin Xiao menunjuk Lin Fan dengan jari gemetar. "Dia! Dia menyerangku! Dia menggunakan teknik curang! Tangkap dia! Pukul dia sampai dia tidak bisa bangun!"

Penjaga itu menatap Lin Fan. "Lin Fan, apakah ini benar? Kau menyerang sesama anggota klan?"

Lin Fan meletakkan sekopnya perlahan. Ia tahu, jika ia melawan sekarang, ia akan kalah telak. Level 1-nya belum cukup kuat untuk melawan Level 3, apalagi dua orang. Selain itu, Manik Gioknya adalah rahasia terbesar. Jika ia menunjukkan kemampuan berlebihan, ia akan diselidiki, dan manik itu bisa disita.

Ia harus pintar. Ia harus bermain sebagai korban, bukan penindas.

Lin Fan menundukkan kepalanya, pura-pura gemetar. "Tidak, Penjaga. Aku tidak menyerang. Aku hanya... aku hanya menghindar. Tuan Muda Lin Xiao memukulku, dan aku takut, jadi aku mundur. Tidak sengaja beliau tersandung ember."

"Bohong!" seru Lin Xiao. "Dia bergerak cepat! Mustahil sampah sepertimu bisa bergerak secepat itu!"

Penjaga itu mengerutkan kening. Ia melihat posisi ember dan jejak kaki Lin Fan. Memang, tampak seperti Lin Xiao yang kehilangan keseimbangan sendiri. Namun, status Lin Xiao lebih tinggi. Dalam Clan Lin, kebenaran seringkali ditentukan oleh siapa yang lebih berkuasa, bukan fakta.

"Lin Fan," kata penjaga itu dengan nada dingin. "Meskipun kau mengklaim itu kecelakaan, menyebabkan Tuan Muda Lin Xiao jatuh adalah kesalahanmu. Sebagai hukuman, jatah makan malammu dibatalkan. Dan kau akan membersihkan seluruh halaman depan kediaman utama sebelum matahari terbenam. Jika ada satu daun pun yang tertinggal, kau akan dipukul cambuk."

Lin Fan mengepalkan tangan di balik punggungnya, kuku-kukunya kembali menusuk telapak tangan. Hukuman yang tidak adil. Seperti biasa.

"Aku menerima hukuman," kata Lin Fan pelan.

Lin Xiao tertawa puas, meskipun wajahnya masih kotor. "Bagus. Belajarlah tempatmu, sampah. Lain kali, jangan coba-coba melawan atasanmu."

Lin Xiao berjalan pergi dengan langkah terhuyung-huyung, diikuti oleh para penjaga yang mencoba menahan tawa melihat penampilan tuannya yang mengenaskan.

Setelah mereka pergi, Lin Fan menghela napas panjang. Ia menatap genangan air kotor tempat Lin Xiao jatuh tadi. Di permukaan air yang keruh, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Wajah yang lelah, kotor, tapi matanya... matanya dingin seperti es.

"Level 2..." batin Lin Fan. "Lin Xiao membutuhkan waktu lima tahun untuk mencapai Level 2. Aku baru saja memulai hari pertamaku di Level 1, dan aku sudah bisa menghindarinya."

Ia tersenyum miring.

Perbedaan antara mereka bukan lagi bakat. Sekarang, perbedaannya adalah metode. Lin Xiao mengandalkan obat-obatan mahal dan instruktur yang malas. Lin Fan memiliki Manik Giok yang bisa memurnikan Qi-nya menjadi esensi berkualitas tinggi.

Qi Lin Fan mungkin sedikit, tapi kualitasnya murni. Qi Lin Xiao banyak, tapi kotor dan tidak stabil.

Dalam jangka panjang, Lin Fan tahu siapa yang akan menang.

Ia mengambil sekopnya kembali. Halaman depan kediaman utama sangat luas. Membersihkannya sendirian sebelum matahari terbenam adalah tugas yang mustahil bagi manusia biasa. Tapi Lin Fan bukan lagi manusia biasa sepenuhnya.

Ia duduk bersila di sudut kandang, menutup mata, dan mulai menyerap Qi dari udara pagi yang masih tersisa. Ia harus mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya. Malam ini, ia tidak akan tidur. Ia akan berlatih.

Dan besok, dia akan menemukan cara untuk mendapatkan pil pertama yang bisa mempercepat kultivasinya. Karena ia tahu satu hal: Di Clan Lin, jika kau tidak kuat, kau akan ditindas.

Lin Fan membuka matanya. Cahaya determinasi menyala di pupilnya.

"Siapkan dirimu, Lin Hu. Siapkan dirimu, Clan Lin. Sampah yang kalian buang hari ini, akan menjadi mimpi buruk kalian besok."

1
Femi Lestari
Bagus! Aku suka
Femi Lestari
seru! ceritanya ga langsung buat mc overpower, justru lebih pakai otaknya dibanding ototnya.
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!