NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 12. Haus Belaian

"Mas diapers Ibu dan Bagas sudah habis. Aku minta uang untuk beli."

Usai memandikan Marta, Wulan menyusul Awan yang tengah menikmati kopi paginya. Wanita itu duduk di kursi makan yang berada di samping Awan. Wanita itu juga ikut menikmati secangkir teh hangatnya beserta singkong goreng yang beberapa waktu yang lalu ia buat.

Sesekali Wulan membuang napas pelan. Rasa-rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kedamaian di pagi hari seperti ini. Biasanya ia selalu melewati pagi hari dengan tergesa-gesa namun sudah beberapa hari ini ia mencoba untuk mengatur ulang ritme aktivitasnya sehingga pagi ini ia bisa menemani sang suami ngopi.

"Perasaan baru beberapa hari yang lalu kamu minta diapers ibu dan juga Bagas. Kenapa sekarang minta lagi? Memang seboros itu penggunaan diapers ibu dan juga Bagas?"

"Ya memang sudah habis Mas. Lagipula untuk apa aku berbohong? Perkara diapers saja masa iya harus mengarang cerita?"

"Padahal kamu belinya banyak kan?"

Dahi Wulan mengernyit. "Beli banyak? Memang berapa ball aku membelinya?"

"Perasaan aku ngasih uang kamu lumayan banyak Lan. Masa iya itu tidak bisa mendapatkan diapers banyak?"

"Ckkckckk... Berapa Mas yang kamu kasih? Kamu ngasih uang yang hanya cukup untuk membeli diapers Bagas dan Ibu masing-masing satu ball itupun yang isinya paling sedikit."

"Hmmmm.." Awan merogoh saku celananya. Ia keluarkan dompet dari dalam sana. Ia ambil dua lembar pecahan seratus ribuan dan ia berikan kepada Wulan. "Ini dicukup-cukupin. Kalau bisa masing-masing dapat lima ball."

"Bahkan tidak hanya lima ball Mas, ini bisa sampai berpuluh-puluh ball kalau kita yang punya pabriknya sendiri," seloroh Wulan dengan gemas sembari berdesis lirih. "Mas, aku boleh minta uang tambahan lagi tidak?"

Uhuk.. Uhuk...

Awan yang tengah menyesap kopi paginya seketika tersedak. Baru saja uang dua ratus ribu keluar dari dompet, eh sang istri malah minta lagi.

"Untuk apa lagi sih Lan? Dua ratus ribu loh sudah aku kasih. Sekarang mau minta untuk apa lagi?"

"Aku mau beli skincare Mas, agar wajahku tidak kusam seperti ini. Boleh ya."

"Beli skincare?" tanya Awan seraya menatap wajah Wulan.

"Iya Mas."

"Tidak perlu pakai skincare Lan. Lagipula untuk apa kamu memakai skincare? Sama saja. Tidak akan merubah apapun. Karena wajahmu itu sudah terlanjur kusam dan tidak menarik."

"Tapi Mas..."

"Sudah, sudah, aku mau berangkat. Nanti kesiangan."

Awan beranjak dari tempat duduknya. Ia menyeruput sisa kopi yang masih ada di dalam gelas hingga tandas tanpa bekas. Lelaki itu kemudian buru-buru berangkat ke kantor menggunakan motor seperti biasanya.

Tubuh Wulan terpaku dan membeku masih dalam posisi duduk di kursi makan. Mencoba mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Awan. Namun semakin ia resapi pernyataan itu, maka semakin ia tidak mengerti sama sekali.

Apa benar di mata Mas Awan aku sudah tidak menarik lagi?

***

"Selamat pagi Meg!"

Awan masuk ke ruang direktur dengan wajah yang begitu cerah. Meski ketika di rumah tadi ia sedikit kesal karena dimintai jatah diapers dan skincare, namun ketika tiba di kantor lelaki itu kembali bersemangat dengan mood yang begitu baik.

Ia menyapa Mega yang sudah lebih dulu tiba di kantor. Setelah menjadi wakil direktur utama, Awan memang berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Mega. Mengingat ruangan direktur ini sangat luas sehingga sanggup jika hanya sekedar untuk dijadikan tempat kerja direktur dan wakilnya.

Mega yang tengah sibuk dengan ponsel di tangan seketika ia hentikan aktivitasnya itu. Ia menoleh ke arah Awan yang sudah mendaratkan bokongnya di kursi.

"Pagi Mas, tumben pagi ini wajahmu cerah sekali. Baru dapat jatah ya?" sambut Mega dengan terkekeh pelan.

Hampir satu bulan mengenal Awan dan sering berinteraksi dengan lelaki itu, Mega seakan tidak canggung lagi untuk mengajak Awan bercanda. Begitu hal nya dengan Awan yang sama sekali tidak merasa berat hati ataupun risih. Ia justru merasa happy bisa akrab dengan Mega, sehingga membuat dua orang itu semakin hari semakin dekat.

"Jatah apa Meg?" tanya Awan sembari membuka laptop yang ada di meja kerjanya. "Jatah kopi iya sih."

"Jatah itu Mas maksudku."

"Itu apa?" Awan semakin penasaran.

Mega kembali terkekeh. "Isshhh kamu ini. Masa harus aku jelasin."

"Istriku masih belum bisa di pakai Meg, jadi tidak ada jatah."

Akhinya Awan mengerti apa yang menjadi maksud Mega. Ia menjawab asal sembari terkekeh juga. Tanpa merasa malu obrolan mereka sudah sampai ke ranah yang sangat pribadi. Terlebih obrolan itu perihal jatah biologis antara suami istri.

"Duh kasihan sekali. Nganggur dong."

Mega kembali terbahak hingga suaranya memenuhi penjuru ruangan. Jawaban yang dilontarkan oleh Mega seakan menantang Awan hingga membuat lelaki itu bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah meja kerja Mega.

"Kalau nganggur memang kenapa? Kamu mau bikin tidak nganggur lagi?" tantang Awan. Sekilas, ia melirik ke arah ponsel milik Mega. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tontonan apa yang ditonton oleh wanita ini. "Meg, kamu..."

Mega tersenyum tipis. "Kenapa Mas? Kok terkejut?"

"Kamu sering nonton film seperti ini?" tanya Awan begitu penasaran.

Mega kembali tersenyum. Ia bangun dari posisinya dan mendekat ke arah Awan. Ia menarik tangan Awan hingga kini tubuh lelaki itu terantuk di dinding dan Mega berada tepat di hadapannya.

Dengan tatapan teduh, jemari Mega menyusuri tiap lekuk wajah Awan. Di mata Mega, Awan merupakan sosok lelaki yang sangat menarik. Meskipun tidak terlalu tampan namun ada sesuatu yang membuat laki-laki ini menarik untuk selalu dipandang.

"Aku wanita normal yang juga butuh belaian Mas. Sudah lama sekali aku tidak menyalurkan hasratku. Jadi, hanya dengan menonton film seperti itu aku bisa sedikit memuaskan nafsu ya meskipun tidak terlalu puas."

Awan yang sebelumnya begitu terkejut dengan kebiasaan Mega yang sering menonton film biru, kini lelaki itu seakan merasa bahagia karena mendapatkan angin surga. Ia merasa apa yang dilakukan oleh Mega adalah satu pancingan agar ia tergoda dan menjadi satu isyarat jika Mega ingin merasakan belaian itu lagi.

Awan meraih jemari tangan Mega. Ia kecup buku-buku jemarinya dan ia masukkan ke dalam mulut. Ia mainkan jemari itu menggunakan lidah. Sangat sensual.

"Jadi yang bisa membuatmu puas seperti apa?" Awan melepaskan jemari Mega. Kini tangan kekar lelaki itu menyentuh dua bukit kembar yang nampak begitu sintal.

Perlahan, Awan menanggalkan blazzer yang dikenakan oleh Mega. Hingga kini hanya ada blouse putih ketat yang menutupi bagian atas. Tanpa banyak berpikir lagi, tangan Awan membuka kancing blouse yang dikenakan oleh Mega satu persatu dan akhirnya dua benda sintal itu terekspos jelas di depan mata Awan.

Awan seakan kesusahan menelan salivanya. Jakun lelaki itu naik turun melihat betapa sempurnanya bentuk dua benda sintal milik Mega. Nampak kencang, padat, berisi. Sangat jauh berbeda dengan yang Wulan miliki. Tanpa malu-malu lagi, Awan menghisap puting cokelat milik Mega yang seakan begitu menantang untuk segera ia lahap.

"Ahhhhhh Mas, enak sekali..."

Tubuh Mega bak melayang tinggi di udara. Merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan kini dapat ia reguk kembali. Meski baru di area dada Awan bermain-main namun itu sudah sangat membuat Mega dimabuk kepayang. Reflek, tangan Mega menyusuri bagian paha Awan dan merasakan benda yang ada di sana sudah mengeras. Satu hal yang menegaskan jika nafsu juga sudah menguasai raga lelaki itu.

"Sepertinya aku juga ingin dimanjakan," bisik Awan dengan suara sedikit parau.

Mega semakin bersemangat. Ia melepas ikat pinggang yang dipakai oleh Awan dan segera membuka resleting celananya. Ia keluarkan benda dari dalam celana yang sadari tadi sudah menegang dan mengeras itu. Dengan lembut, Mega memainkan jemarinya yang membuat Awan merem melek kenikmatan.

"Aarrgghh.. Kalau seperti ini aku sudah tidak tahan lagi."

Awan menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan ke arah pintu dan kepalanya sedikit menyembul keluar. Suasana kantor masih sangat sepi karena ini masih terlalu pagi bagi para karyawan. Hanya terlihat security yang berjaga di pos.

Usai memastikan pintu ruangan terkunci sempurna, Awan kembali menghampiri Mega. Dengan gerak cepat, ia membopong tubuh wanita itu dan ia hempaskan di atas sofa. Tak ingin membuang banyak waktu, Awan melucuti semua yang menutupi tubuh Mega. Tak hanya pakaian Mega, pakaiannya pun juga ia lucuti seluruhnya. Kini dua manusia itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Dan akhirnya seluruh adegan film biru yang beberapa saat yang lalu ditonton oleh Mega, kini ia praktekkan langsung dengan Awan yang merupakan suami orang.

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!