Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Terungkap (1)
Bab 32
Brak.
Amplop coklat berisi copy dokumen dan beberapa lembar foto dilempar Akbar ke atas meja.
“Apa ini?”
“Itu bukti dan informasi yang kamu cari. Kirim pada Eru!” titah Akbar pada pria yang masih berdiri di depan mejanya. Pria yang yang dibayar Eru untuk mencari tahu dan mengungkap semua.
“Tidak usah sok jujur. Dulu kamu kerja denganku, sekarang bisa-bisanya melawanku karena dibayar oleh bocah.”
“Bukan melawan, saya mencari kebenaran dan Eru membutuhkan itu.”
Akbar tertawa. “Anak sekarang tahu apa. Masa lalu dikorek, padahal selama ini aku tutupi demi kebaikan semua. Buka itu dan laporkan ke Mahameru. Pekerjaanmu selesai, bayaranmu tetap.”
“Entah kenapa, saya merasa ada sesuatu setelah ini.”
Senyum terbit di wajah Akbar lalu pria itu tertawa. “Tentu saja.”
“Dan semua ini tidak Cuma-Cuma.”
Akbar tergelak. “Yang aku suka dari cara kerjamu, selalu bisa menebak dan prediksi kemana alur masalah.” Akbar menegakkan tubuhnya lalu membuka laci meja. “Amplop tadi yang harus kamu laporkan pada Eru. Yang ini ….” Ia mengeluarkan amplop lain dari laci. “Berikan pada Cinta.”
“Bukankah ini akan menyakiti mereka.”
“Biarkan saja, toh ini yang mereka inginkan.” Akbar beranjak dari kursinya, berdiri menatap keluar jendela besar di belakang kursi kerjanya. Memandang suasana Jakarta yang padat dari atas sana. “Kita lihat seberapa kacau dan terpuruknya ibu dan anak itu.”
“Kalau saya menolak.”
Akbar terkekeh lagi. “Kamu tahu konsekuensi menolak kerja sama denganku, apalagi banyak informasi yang kamu tahu.” Akbar berbalik, tangan bersedekap dan tatapan tajam. “Hubungi Eru, sampaikan dan kirim informasi itu.
***
Dunia Eru runtuh seketika. Tidak menduga informasi yang dia cari mengungkap sesuatu yang menyakitkan. Kenyataan yang baru saja terungkap menghantamnya lebih keras dari apa pun. Almarhum papinya adalah penyebab kecelakaan maut. Kecelakaan yang juga merenggut nyawa orangtua Cinta, kecelakaan yang menanamkan trauma mendalam hingga membuat gadis yang dicintainya itu menjerit histeris setiap malam.
Tangan Eru gemetar, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Bagaimana mungkin ia bisa menatap mata Cinta lagi, sementara darah orang yang menghancurkan hidup Cinta mengalir di tubuhnya? Ia bahkan berjanji menemani Cinta mengobati trauma.
Dengan langkah gontai dan tatapan kosong, Eru melangkah memasuki rumah. Mami Maura yang sudah menunggu di ruang tengah beranjak mendapati kehadiran sang putra.
“Sayang, ya ampun. Mami kangen,” ucap Maura menghampiri. “Kita ma-kan ….” Ia terdiam langsung menyadari ada yang berbeda dari putranya. Aura ceria Eru hilang, digantikan oleh raut wajah putus asa.
Maura langsung mendekat dan memeluk putranya. Pertahanan Eru runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya di pundak sang mami.
“Mih, Cinta.”
“Cinta, kenapa sayang?”
"Kenapa harus Papi?" bisik Eru di sela tangisnya yang sesak. "Papi yang bikin orangtua Cinta meninggal. Aku kehilangan papi, tapi papi yang buat Cinta menderita seumur hidup bukan sekedar kehilangan.”
Maura pun tidak bisa menahan air mata. Ia memeluk Eru semakin erat, ikut meratap bersama putranya. Hati ibu dan anak itu dipenuhi rasa duka dan bersalah yang mendalam kepada Cinta. Maura menangisi dosa masa lalu yang kini harus dipikul oleh anak-anak yang tidak bersalah
Mendapati Maura tidak terkejut meski sama-sama meratap dengan tangan menepuk punggung, Eru melepas pelukan dan menatap wajah sang mami.
“Jangan bilang mami sudah tahu.”
Maura memegang kedua pipi Eru, menatap mata putranya yang sembap dengan penuh kasih sayang seorang ibu. Ia tahu betul, jika Cinta tahu kebenarannya, hubungan mereka taruhannya. Cinta bisa saja membenci Eru.
"Eru, dengerin Mami," ucap Maura dengan suara bergetar. "Papi sudah tiada, dan kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Mami juga merasa sangat bersalah pada Cinta... tapi bukan kamu penyebab kecelakaan itu.” Maura mengusap air mata di pipi Eru. "Mami tetap mendukung kamu, merestui kamu dengan Cinta. Kalau ada orang di dunia ini yang bisa menyembuhkan trauma Cinta dan menebus kesalahan Papi, orang itu adalah kamu, Eru. Sayangi dia lebih dari kamu menyayangi dirimu sendiri.”
“Tidak mungkin mih, dia benci kita. Dia dendam dengan orang yang menyebabkan orangtuanya meninggal dan kita bagian dari orang itu. Dia akan benci aku Mih.”
“Eru, dengar! Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Bersiaplah dengan kondisi itu. wajar kalau Cinta marah dan kecewa, jangan menyerah dengan usaha dan perasaan kamu. Kalau Cinta memang cinta sama kamu, mami yakin cinta kalian akan menguatkan.”
***
Cinta tersenyum mengangkat tas bekal yang dia bawa. Di dalamnya ada 2 kotak bekal, 1 berisi nasi goreng, 1 lagi berisi salad. Ia akan nikmati bersama Eru, kekasihnya.
“Hm, semoga dia suka.” Mengaktifkan layar ponsel mengetik pesan untuk Eru
...Eru_Kerenz...
^^^Aku bawa bekal, kita sarapan bareng ya^^^
^^^😊🥰^^^
Sudah rapi dan siap berangkat. Bangun pagi sekali, lalu belanja untuk membuat sarapan. Untungnya di komplek itu ada warung sayur yang buka 24 jam. Pagi ini ia tampak ceria. Bagaimana tidak, ada seseorang yang akan mengisi hari-harinya semakin berwarna. Perjalanan kemarin memberi kesan tersendiri, ia tahu Eru bukan sekedar singgah. Di Usia yang muda, begitu dewasa dan bijaksana menyikapi segala kekurangan dari diri Cinta. Cinta yakin kalau ia sudah benar menyukai Eru. Keraguannya terjawab sudah menjadi sebuah keyakinan.
Mengenakan kemeja putih dengan setelan celana cream dan rompi warna senada. Lengkap dengan flatshoes serta rambut dikuncir ekor kuda, gaya andalan Cinta. Keluar dari kamar kosan, menggantung tas bekal di motor.
“Nggak dijemput nih.”
“Nggak dong, aku ‘kan mandiri.”
“Tumben feminim, biasanya casual banget,” ujar Aceng lagi.
“Sekali-kali feminim, biar pacar makin demen.”
Aceng terkekeh. “Langsung minta halalin aja, kayak Bang Rama. Sat set terus punya anak kembar.”
Cinta tersenyum sambil menggeleng. Menaiki motor, memakai helm dan menghidupkan mesin.
“Dah, bang Aceng,” teriak Cinta.
Tidak sampai satu jam, Cinta sudah memarkirkan motornya di parkiran basement khusus motor. Sempat mengecek pesan untuk Eru, belum dijawab bahkan belum dibaca. Melewati parkiran mobil, ada mobil berhenti. Seorang pria keluar dari pintu kemudi, memutar dan membuka pintu kabin tengah.
Langkah pelan Cinta terhenti mendapati siapa yang keluar dari mobil. Eru, Mahameru.
“Sultan beneran,” ucapnya. Eru dengan langkah percaya diri melewati pintu menuju lobby. Mobil yang mengantar sudah berlalu. “Siapa dia,” gumam Cinta. Baru akan bergegas mengejar Eru, terdengar seseorang memanggilnya.
“Mbak Cinta.”
Cinta menoleh, menatap dan coba mengingat siapa orang ini.
“Ada titipan untuk mbak.”
Oh, kurir, batin Cinta.
Pria itu menyodorkan amplop coklat, langsung diterima oleh Cinta.
“Dari siapa mas?”
“Ada di dalamnya mungkin. Saya permisi!”
Cinta mengangguk sambil membolak balik amplop. Tidak ada nama pengirimnya. “Dari siapa ya, apa pula isinya.” Sambil memegang tas bekal ia membuka amplop dan mengeluarkan isinya.
“Ini … Eru.” Mendapati lembar pertama adalah foto Eru. Beralih ke lembar-lembar berikutnya, perlahan wajah Cinta berubah serius.
aku yakin di balik semua itu ada campur tangan akbar
mana tadi cinta bilang gakan maafin yg udh nabraknya lagi wlw udh tewas, trauma yg berat berkepanjangan karena ga ditangani. Ru gimana sikap kamu ke Cinta jgn jauhi, dia harus sembuh, dan mengikhlaskan ortunya yg tewas biar mereka tenang
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤